Rasanya seperti baru kemarin, ketika saya mencemplungkan diri masuk ke lubang sedalam dua setengah meter –yang tersusun menjadi dua tingkat– sambil menopang leher Papa dalam balutan kain putih bersih, sementara dua orang tetangga lainnya membantu menyangga bagian tubuh dan kaki Papa. Setelah membaringkan Papa untuk yang terakhir kalinya, saya beranjak naik satu tingkat ke atas. Kain hijau bertuliskan nama Allah membentang di atas saya, meneduhkan kami untuk sesaat. Membayangkan wajah Papa yang tenang dan tersenyum di hari akhirnya, entah bagaimana membuat saya sedikit lebih tenang. Di pusara yang masih basah tersebut saya mengumandangkan adzan diantara desak tangis, mengantar kepergian Papa ke perjalanan abadinya. Allahu Akbar Allahu AkbarLa Ilaha Illallah. Dimulai dari Allah, dan kembali pada Allah.

Manusia.

“Aku di sini saja, nungguin Ibuk.” Ucap Papa, dalam sebuah piknik keluarga beberapa bulan sebelum kepergiannya. Ibu, adalah panggilan untuk ibu dari Mama, atau mertua Papa, nenek saya.

Saya tak tahu, apakah itu adalah alasan sebenarnya, atau mungkin saja Papa memang sudah merasa tidak kuat berjalan mendaki bukit-bukit yang memisahkan candi-candi di Komplek Candi Gedong Songo Kabupaten Semarang. Saya bersama Mama juga beberapa saudara yang lain, termasuk Rico, pun mulai menjelajah Candi Gedong Songo, termasuk menyempatkan mampir di kolam mata air belerang untuk membasuh kulit. Setibanya kembali, saya mendapati Papa yang sedang berbincang sambil bercanda bersama Ibuk. Semua rasanya seperti baru kemarin.

IMG_0866

Piknik Keluarga

Tahun sebelumnya, keluarga saya bersama keluarga Rico dan Ibuk, memutuskan untuk berlibur di Kawasan Wisata Umbul Sidomukti Kabupaten Semarang. Kawasan yang terletak di kaki Gunung Ungaran ini memiliki sejumlah hiburan yang komplit termasuk bagi orang yang menyukai tantangan dan petualangan, seperti Si Bolang, Dora, dan saya. Mulai dari wahana flying fox yang menghubungkan dua bukit dengan jurang setinggi 70 meter di bawahnya, marine bridge menyeberangi tangga tali di atas jurang, hingga ATV dan trekking melintasi sawah-sawah yang saat itu tumbuh hijau dan segar. Kembali, Papa tidak ikut mencoba flying fox dan marine bridge, dan memutuskan untuk menonton dari kejauhan. “Aku di sini saja, sama Ibuk.” Jawab Papa, si menantu kesayangan Ibuk.

IMG_0284

My family, in full team.

Rasanya seperti baru kemarin, ketika di awal tahun 2007 –saat itu saya masih magang pada sebuah instansi di Semarang– kami sekeluarga memutuskan untuk pergi mengunjungi sebuah pemancingan dan menikmati makan siang bersama. Papa seperti biasa, memesan karedok kesukaannya. Sementara saya seperti biasa, menghabiskan karedok pesanan Papa. Dan Mama seperti biasa, membayar karedok yang dipesan Papa dan dihabiskan oleh saya. Kami adalah keluarga kecil yang bahagia.

DSC02443

Saya dan Papa, rukun :3

Beberapa bulan sebelumnya, Papa, Mama, Ibuk, datang ke Jakarta dalam rangka wisuda saya. Saya, adalah cucu pertama Ibuk, juga merupakan anak pertama (dan satu-satunya) dari Papa dan Mama. Air muka bahagia terpancar dari wajah mereka ketika melihat saya mengenakan toga (dan celana yang literally) kebesaran, diwisuda bersama ribuan orang lainnya. Saya tak tahu pasti, tapi saya merasakan bahwa itu adalah momen yang membahagiakan untuk Papa dan Mama. Dengan prestasi dan wajah yang pas-pasan, saya bersyukur dan bangga dapat membahagiakan orang tua, termasuk orang tua dari orang tua saya. Orangtua-ception.

Acara sehabis wisuda adalah touring, ya, Papa yang waktu itu membawa mobil Xenia merah kesayangannya –mobil pertama yang berhasil dibelinya dalam keadaan baru, bukan bekas– memutuskan untuk menempuh jalur lain menuju Semarang, sekaligus berwisata bersama. Rute kali itu adalah Jakarta – Puncak – Bandung, sebelum akhirnya kembali ke Semarang. Tentunya tidak dalam sehari penuh, namun singgah di beberapa tempat untuk menginap dan menikmati pesona yang disajikan tempat tersebut. Seperti misalnya Taman Safari, Taman Bunga Nusantara, hingga beberapa Factory Outlet di Bandung. Sungguh perjalanan yang akan selalu diingat seumur hidup.

DSC01034

Ciyeee ~

DSC01170

Berdiri berdasarkan tinggi badan.

Papa sendiri, bukan merupakan orang yang hobi jalan-jalan, namun penugasan dari kantor seringkali membuatnya bepergian ke beberapa tempat. Tugasnya sebagai peneliti, adalah menulis, atau membuat report tentang kunjungannya ke lokasi-lokasi penugasannya. Lain dengan Mama yang memang suka jalan-jalan, dan kerap mengajak Papa untuk bepergian setiap akhir pekan. Alasannya, karena sudah penat dengan hari-hari kerja, masa weekend kok di rumah juga. Kombinasi Papa yang suka menulis, dan Mama yang suka jalan-jalan, telah menghasilkan anak yang rajin mengaji, semasa di TPA.

40356_141879349168369_6607628_n-2

:’)

Rasanya seperti baru kemarin, saat Papa berpamitan di bandara dan terbang ke Thailand untuk bertugas selama enam bulan pada tahun 1995. Sungguh senang rasanya ketika mendapatkan kartu pos yang dikirimkan Papa dari sana, dan rasanya girang bukan kepalang ketika pada suatu malam Papa menelepon via sambungan internasional (dahulu belum ada Skype, dan kalau pun sudah ada, belum ada sambungan internet di Ungaran), dan mengabarkan keadaannya selama bertugas di sana. Mendengar suara orang yang dicintai setelah terpisahkan beberapa bulan lamanya, merupakan kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Ketika pulang, Papa juga bercerita bahwa Beliau sempat mampir ke Singapura dalam rangka berlibur di sela-sela kunjungan dinasnya tersebut. Beliau membawa brosur Sentosa Island dan Jurong Bird Park, yang membuat saya hanya bisa terkagum-kagum melihatnya. Beberapa tahun kemudian, saya menetapkan Singapura sebagai negara yang akan saya kunjungi pertama kali setelah mendapatkan paspor. Dan bukan Orchard Road, Raffles Place, atau Geylang yang menjadi tujuan wajib saya kala itu, melainkan Jurong Bird Park. Saya percaya bahwa setiap perjalanan akan meninggalkan kepingan kenangan, yang akan menuntun kita kembali pada perjalanan tersebut. Dan saat itu, saya sedang mengumpulkan kepingan kenangan Papa yang tertinggal di Jurong Bird Park.

Sekadar informasi, kunjungan pertama ke Singapura inilah, yang membuat saya menjadi kecanduan traveling.

IMG_3993

From Jurong Bird Park with love

Lain lagi cerita ketika Papa mengunjungi Jepang, pada tahun 2.000-an. Saya yang menyukai sepak bola, meminta Beliau untuk membelikan jersey Yokohama Marinos, klub lokal di kota tempat Papa bertugas waktu itu. Namun Papa yang hanya membawa uang pas-pasan tidak membelikan titipan saya, dengan alasan ekonomi. Dan alih-alih membelikan jersey, Papa membelikan saya kaus hitam bertuliskan I Tokyo “Ini kaus paling murah yang Papa temukan di Jepang.” Ucapnya.

Kaus tersebut sempat menjadi kaus wajib yang selalu saya bawa ketika traveling, karena berisikan semangat dan kepingan kenangan akan Papa. Namun pada perjalanannya, kaus tersebut lama-lama menjadi belel karena banyak disikat dengan deterjen, dan menjadi berlubang kecil karena terlalu sering disetrika dengan suhu yang panas, hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak memakainya lagi, dan menyimpannya di dalam lemari. Namun kabar baiknya, kaus tersebut telah pergi ke tampatnya berasal, yaitu Tokyo. Tempat yang sama di mana Papa pernah berada dulu.

[PS: Baca kisah lengkapnya pada buku The Journeys 3 yang terbit bulan ini]

Foto

Left: Papa in Asakusa, Tokyo |  Right: Cumi-cumi | Apa hubungannya? Baca di The Journeys 3.

DSCN8742

Me in Asakusa, Tokyo.

Pernah juga pada suatu masa di mana Papa berlibur bersama Mama ke Bromo, ya, tentu saja Mama yang mengajak Beliau berlibur bersama teman-teman kantornya. Saya yang tidak ikut waktu itu hanya bisa mendengar kisah romantisnya, dan mendapat oleh-oleh selembar syal berwarna hitam putih bertuliskan “Bromo”. Beruntung, saya bisa mencicipi Bromo saat liburan lebaran beberapa tahun kemudian –walau tanpa Papa–, sementara syal bertuliskan “Bromo” tersebut menjadi teman baik saya ketika menghadapi musim dingin di Macau.

39096_141886682500969_6711353_n

Memory of Papa & Mama

Rasanya seperti baru kemarin, ketika Papa memergoki saya bolos latihan marching band sewaktu SD, dan menemukan saya bermain arcade game di sudut pesing alun-alun Ungaran. Papa tanpa suara, dengan muka yang merah karena marah, langsung menyeret saya pulang, dan mengurung saya di kamar mandi. Saya menangis meraung, meminta maaf atas kesalahan saya. Papa yang keras, adalah orang yang membuat saya menangis sewaktu kecil, sekaligus membuat saya bersyukur bahwa berkat kedisiplinan dia, saya bisa menjadi seperti saat ini.

Rasanya seperti baru kemarin, ketika saya menemukan sebuah kaset usang di dalam laci meja kerja Papa dan memutarnya di tape merk Aiwa, yang telah menjadi penunggu rumah selama belasan tahun. Suara dalam kaset tersebut, membawa saya kembali ke masa ketika saya baru saja pindah ke Ungaran dan merayakan ulang tahun saya yang ketiga. Ya, suara tersebut adalah suara Papa –yang direkamnya sendiri– ketika mengadakan pesta ulang tahun di rumah mungil kami, dan mengundang para tetangga datang dalam pesta kecil kami. “Selamat ulang tahun, Arif.” Ucap suara parau dalam kaset tersebut, yang disambut sorak sorai dan tepuk tangan yang meriah.

Rasanya seperti baru kemarin, ketika saya menemukan sebuah buku tua dalam tumpukan buku-buku yang tersusun rapi di lemari buku milik Papa. Sebuah buku yang menuliskan catatan kehidupan saya selama beberapa tahun. Sebuah buku yang ditulis dengan tulisan tangan yang rapi, dengan hurufnya yang bersambung, tulisan tangan Papa.

Umur tiga tahun, mulai bisa mengeja Bismillah, dengan Bis Lah Him Bis Lah Him.

Umur satu tahun, telah mulai berdiri dan belajar berjalan.

Telah lahir seorang bayi laki-laki dalam keadaan sehat, dengan berat dan tinggi sebagai berikut … di RS Panti Rukmi Pati. 

Bayi tersebut kami namakan Muhammad Arif Rahman yang berarti …

40356_141879355835035_1652002_n-2

Hey Dad, are you doing good now?

Rasanya seperti baru kemarin,

ketika seorang pria menyenandungkan adzan di Rumah Sakit Panti Rukmi Pati,

sebagai tanda telah ditiupkannya ruh ke dalam raga seorang manusia,

pria yang kemudian saya panggil sebagai Papa.

Selamat ulang tahun, Pa.

***

For me, people are not dead.

They just transformed from reality to memory.

In memoriam of my beloved father,

Mulyara Rasdani

9 December 1955 – 9 June 2009

***

Advertisements