Rasanya seperti baru kemarin, ketika saya mencemplungkan diri masuk ke lubang sedalam dua setengah meter –yang tersusun menjadi dua tingkat– sambil menopang leher Papa dalam balutan kain putih bersih, sementara dua orang tetangga lainnya membantu menyangga bagian tubuh dan kaki Papa. Setelah membaringkan Papa untuk yang terakhir kalinya, saya beranjak naik satu tingkat ke atas. Kain hijau bertuliskan nama Allah membentang di atas saya, meneduhkan kami untuk sesaat. Membayangkan wajah Papa yang tenang dan tersenyum di hari akhirnya, entah bagaimana membuat saya sedikit lebih tenang. Di pusara yang masih basah tersebut saya mengumandangkan adzan diantara desak tangis, mengantar kepergian Papa ke perjalanan abadinya. Allahu Akbar Allahu Akbar … La Ilaha Illallah. Dimulai dari Allah, dan kembali pada Allah. Manusia. “Aku di sini saja, nungguin…