Apabila ada satu visa yang sedikit membuat saya lebih repot dari biasanya, maka itu tak lain tak bukan adalah Visa Schengen yang saya dapatkan dari Kedutaan Belanda. Bukan, bukan karena saat itu saya mengurusnya bersama Neng, dan wanita dikenal sebagaiΒ mahkluk yang merepotkan. Namun, karena saya terpaksa harus berkorespondensi langsung dengan staf kedutaan yang berlokasi di Kuala Lumpur via email, hingga mengakibatkan jadwal pengambilan visa saya menjadi mundur. Loh, kok bisa? Iya, semua karena saya gaya-gayaan tidak melampirkan surat pengantar dari kantor, yang ternyata memegang peranan penting dalam pengajuan Visa Schengen ini. Begini ceritanya. Bermula dari tiket murah ke Eropa yang saya dapatkan dari Qatar Airways –seharga empat jutaan pulang-pergi, yang akhirnya Β menjadi tiket bulan madu, karena hanya jeda beberapa hari setelah tanggal pernikahan saya…