Apa mainan favoritmu waktu balita? Apabila saya yang mendapat pertanyaan tersebut, maka jawabannya adalah balok kayu dan kreasi bangunan. Saya tidak memilih Barbie, karena kurang manly dan tidak menjawab mainan tentara dan perangkat perangnya, karena saya cinta damai dan benci kekerasan. Sebentar, kamu tahu kan mainan ini? Apabila tidak tahu, mungkin masa kecil kamu yang tidak cool atau malah kurang bahagia.

 

Mainan yang saya maksudkan ini, biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Berukuran kecil, hanya sebesar genggaman tangan anak berumur lima tahun, atau kurang. Bukan sebesar pipa galian PDAM.
  • Terdiri dari berbagai macam bentuk geometri, seperti persegi panjang, segitiga, lingkaran, juga setengah lingkaran, atau berbentuk lain seperti pilar tembok, maupun pondasi bangunan.
  • Tiap bentuknya, memiliki warna yang beraneka ragam, namun biasanya hanya warna dasar, bukan warna-warna downline seperti cyan, turquoise  maroon, maupun magenta. Tujuannya adalah untuk melatih daya ingat si kecil terhadap warna-warna yang ada.
buildingcolor2

Building Blocks, image is taken from here.

Dahulu, saya biasa menempatkan satu set mainan pemberian Papa tersebut dalam sebuah kantung kresek hitam yang sudah mulai pudar warnanya karena gesekan. Sepulang dari TK, saya biasa menumpahkan balok-balok tersebut di ubin, dan mulai menyusunnya menjadi sebuah bentuk tertentu. Rumah, istana, gedung bertingkat, menara, atau sekadar susunan puing-puing tak jelas saya bangun dengan riangnya.

Riang? Ya, namanya juga anak-anak. Belum punya yang namanya penyakit hati.

Dan sekarang ketika traveling, tak jarang saya menemukan bangunan-bangunan unik yang membawa saya kembali ke imajinasi saya sewaktu kecil, misalnya sewaktu saya menjumpai 5 (lima) bangunan unik di Osaka, Jepang, berikut ini.

1. Osaka Castle

Howay!

Howay!

Hujan rintik-rintik menyambut langkah kami (saya, Osa, dan Rico) di pintu masuk Osaka Castle, setelah keluar dari stasiun Osakajokoen pada jalur kereta JR West Osaka Loop Line. Payung transparan seharga ¥100 kami kembangkan sepanjang jalan, di mana dedaunan kuning khas musim gugur menemani pada sisi kanan dan kiri kami. Praktis, kami bertiga terlihat mirip seperti model video klip AB Three yang berjudul Kerinduan. Hanya bedanya AB Three yang di sini, berjenggot dan berjakun.

Osaka Castle disebutkan selesai dibangun pada tahun 1597 pada masa pemerintahan Toyotomi Hideyoshi (yang juga merupakan pencetusnya), yang juga meninggal pada tahun tersebut. Kastil setinggi delapan lantai di dalam dan lima lantai di luarnya ini dikelilingi parit luas yang bertugas menghalau musuh yang menyerbu dahulu. Setelah berganti kepemilikan selama beberapa kali, akhirnya kastil ini dibumi hanguskan pada masa Restorasi Meiji (1868). Bukan, bukan karena Kenshin Himura ataupun Shishio, namun karena munculnya berbagai konflik masyarakat pada saat itu. Pada tahun 1928, kastil ini direstorasi dan hancur lagi karena Perang Dunia ke-II.

Kemudian, pada tahun 1995 Pemerintah Jepang memutuskan untuk merestorasi kembali kastil ini dengan mengambil bentuk aslinya pada zaman Edo, dan pada tahun 1997 selesailah proyek tersebut. Hasilnya adalah sebuah kastil yang megah, berbalut ornamen emas pada ujung-ujung atapnya, di mana ratusan burung hinggap dan menjadikannya sebagai sarang.

2. Shitennoji Temple

DSCN8189

Shitennoji Temple

Shitennoji Temple, –yang berarti kuil empat raja langit– adalah kuil Buddha pertama dan tertua yang dikelola secara resmi di Jepang. Pertama kali dibangun pada tahun 593 berdasarkan perintah Pangeran Shotoku pada tiga orang tukang kayu asal Kerajaan Baekje di Korea, kuil ini telah mengalami beberapa kali renovasi hingga akhirnya menjadi seperti sekarang. Pangeran Shotoku sendiri adalah pangeran yang mendalami Agama Buddha di saat agama tersebut belum menyebar di Jepang. Sungguh pangeran yang anti mainstream.

Sebuah (torii) gerbang batu akan menyambut, apabila kamu masuk dari arah barat. Dan pada saat saya ke sana, gerbang tersebut menyambut dengan gagahnya, bersama hujan yang turun dengan lebat dan membuat kami berteduh di bawah the Great West Gate (Gokuraku-mon). Karena hujan tak kunjung berhenti, saya membungkus Peju dengan waterproof case dan mengambil beberapa buah foto di bawah guyuran hujan.

3. Unique Buildings at Dotonbori Street

DSCN8131

Angry chef at Dotonburi

Seorang wanita cantik menyapa Osa, ketika kami berhenti pada sebuah perempatan jalan ke arah Dotonbori, yang merupakan salah satu distrik paling ramai di Osaka.

Ndes (bisa berarti tampan), aku dipanggil-panggil nih.” Osa berucap kepada saya, sementara saya mengalihkan pandangan ke arah wanita tersebut. Seorang wanita Jepang yang berpostur cukup tinggi dan berjaket kulit, nampak percaya diri dengan rok super pendek yang dikenakan pada malam bersuhu belasan derajat celsius itu. Pahanya yang putih dan mulus, terumbar ke mana-mana, sementara salah satu tangannya memegang rokok dengan asap mengepul di bibirnya yang tipis dan berkilau karena lipgloss.

“Astaghfirullah.” saya berucap dengan jakun yang naik turun sambil membatin Subhanallah. “Yuk, buruan lari!”.

DSCN8141

Glico Man!

Wikipedia menyebutkan Dotonburi sebagai sebuah kawasan kenikmatan, di mana dulunya tempat ini berisikan banyak sekali gedung pertunjukan, yang semakin lama semakin berkurang karena pengaruh supply and demand hingga lima atraksi terakhirnya hancur karena bom akibat Perang Dunia ke-II. Sekarang, Dotonburi masih tetap sebuah kawasan kenikmatan –atau kuliner– dengan restoran-restoran dan toko-toko penuh neon berwarna-warni yang berjejer sepanjang kanal dan wanita-wanita Jepang berpakaian minim yang berseliweran.

Yang menarik dari bangunan-bangunan di sini, adalah adanya patung maskot super besar yang menempel pada tiap toko yang mencirikan isi dari toko tersebut. Misalkan, sebuah restoran memasang muka chef-nya yang galak sebagai maskot, kemudian restoran kepiting memasang sebuah kepiting raksasa sebagai penanda tokonya, sementara yang lainnya memasang sesosok ikan buntal sebagai simbol restoran seafood-nya.

Salah satu landmark di sini adalah papan neon Glico Man di ujung jalan Dotonburi, yang menggambarkan seorang pelari mengangkat kedua tangannya yang telah bebas bulu ketiak. Glico adalah sebuah merk yang dikenal sebagai produsen snack Pocky dan Pretz.

4. Tsutenkaku Tower

Tsutenkaku Tower

Tsutenkaku Tower

Secara harafiah, Tsutenkaku berarti menara yang menggapai surga. Namun kenyatannya, menara ini hanya setinggi 103 meter atau 726,8 meter lebih pendek dari Burj Khalifa. Menara yang bertuliskan HITACHI ini adalah salah satu notable sight di Osaka, di mana pada awal pembuatannya tahun 1912 terinspirasi oleh Menara Eiffel.

Dan Gustave Eiffel pun tertawa terbahak-bahak di alamnya.

Pada tahun 1943, saat Perang Dunia ke-II berlangsung, menara ini terbakar dan sebagian strukturnya rusak. Namun alih-alih direparasi, menara ini justru dipreteli, dan besi-besinya digunakan untuk perang. Pasca perang dunia, menara ini direparasi, dan Tachū Naitō (Japan’s Father of Towers, yang juga mendesain Tokyo Tower) terpilih sebagai arsiteknya.

5. Umeda Sky Building

Umeda Sky Building

Umeda Sky Building

Apabila kamu tiba di Osaka dengan menggunakan kereta luar kota, maka kamu akan dapat menyaksikan Umeda Sky Building tepat di pintu keluar utara stasiun. Bangunan setinggi 40 lantai yang menduduki urutan ke-14 bangunan tertinggi di Osaka ini cukup unik, karena terdiri dari dua gedung (rencana awalnya adalah empat) yang digabungkan menjadi satu dengan jembatan penghubung pada lantai paling atas.

Bangunan yang dari jauh terlihat mirip seperti huruf A raksasa ini dibangun dalam waktu lima tahun sejak 1988, sebagai bagian dari proyek “City of Air” Osaka. Sebetulnya, terdapat taman pada lantai dasarnya, namun ketika kami berniat mengunjunginya, sedang terdapat pekerjaan konstruksi di depan stasiun, yang membuat kami mengambil jalan memutar, sebelum akhirnya tersesat.

Umeda Sky Building. Bangunan yang megah, bangunan yang mengingatkan saya kepada masa SD saya ketika sedang asyik bermain Jenga. Satu set Jenga yang saya temukan pada sebuah rumah kosong yang ditinggali penghuninya secara misterius.

Kami mengendap-endap memasuki pagar rumah besar yang kabarnya tak berpenghuni tersebut, ilalang yang tumbuh tinggi dan semak-semak yang tak dirapikan semakin memperkuat fakta bahwa rumah terbesar di jalan yeng bersisian dengan komplek kami ini sekarang kosong. Ada yang bilang penghuninya pindah karena rumah ini berhantu, sementara gosip lain mengatakan bahwa terjadi pembunuhan di rumah ini yang tak menyisakan seorang pun penghuninya, termasuk anak tunggal si pemilik rumah.
Salah seorang kawan masa kecil saya mencoba membuka tuas pintu depan rumah tersebut, namun terkunci. Kemudian seorang kawan lainnya memanggil dari samping rumah "Sini, pintu ini tak terkunci!" serunya dengan semangat.
Ruangan tamu yang berantakan, dengan buku-buku yang berserakan di lantai menjadi pemandangan pertama kami. Sebuah piano terdiam di sudut rumah, sementara beberapa patung dan lukisan di rumah dua lantai ini menatap kami dalam bisu.
Kami kecil, mengambil barang-barang menarik yang kami temukan di sana. "Ah, toh rumah ini sudah tidak ada penghuninya, ya berarti kami tidak mencuri." Pikir kami saat itu. Ada perasaan takut dan was-was yang merasuki kami, bagaimana jika ternyata rumah tersebut masih ada yang penghuninya, atau bagaimana jika polisi datang dan menemukan kami di situ. Namun rasa penasaran dan keberanian kami mengalahkan semuanya.
Kawan-kawan saya mengambil mainan-mainan yang ditemukannya, termasuk bola golf dan boneka. Sementara saya mengambil beberapa buah buku dan majalah anak-anak, dan satu set Jenga.

Jenga (jangan tertukar dengan Tenga, walaupun pengucapannya mirip layaknya JIS dan JIL), adalah sebuah permainan yang dicetuskan oleh Leslie Scott, yang mengasah kemampuan mental dan kepandaian pemain-pemainnya. Permainan ini terdiri dari 54 blok kayu (atau dapat diganti dengan plastik) seukuran kepalan tangan orang dewasa, yang dimainkan dengan cara membentuk suatu menara. Nantinya para pemainnya bertugas mengambil tumpukan kayu dari susunan bawah dan memindahkannya ke atas, hingga membentuk sebuah menara yang semakin tinggi namun tidak seimbang. Yang kalah adalah yang pada gilirannya memindahkan balok, namun justru merubuhkan menara tersebut.

Kata Jenga, berasal dari Bahasa Swahili yang berarti “membangun”. Di Indonesia, salah satu jenis dan merk Jenga yang terkenal adalah Uno Stacko.

Itu adalah permainan Jenga yang normal. Tapi dapatkah kamu membayangkan jika Jenga dimainkan dengan menggunakan balok-balok kayu raksasa yang masing-masing baloknya seberat 272 Kg?

Perhatikan video berikut.

Pada sebuah lapangan tanah seluas dua kali lapangan American Football, terdapat lima buah mesih CAT® yang biasa digunakan untuk proyek konstruksi bangunan yaitu 320E Medium Hydraulic Excavator, TH514C Telehandler, 277D Multi Terrain Loader, M316D Wheel Excavator, dan 349E Large Excavator yang bermain Jenga dengan menggunakan 27 balok kayu raksasa dengan total berat mencapai 7,3 ton.

Hanya ada satu kata untuk The World’s Largest Board Game, yang waktu penyusunan menara awalnya memakan waktu hingga 28 jam ini, yaitu GILA!

 

Advertisements