“Besok jam 8 pagi, di TIM.” Demikian simpulan dari grup WhatsApp sementara (yang didirikan layaknya BPUPKI, kalau kata Molly) yang sedang mengagendakan sebuah pertemuan akbar, dalam rangka reunian dua tahun sejak pertemuan tak sengaja dalam sebuah trip ke Krakatau. Iya, saya, Fara, Molly, Oho, dan Wandi tergabung dalam sebuah grup jalan-jalan dua tahun silam, dan sekarang sedang merencanakan sebuah perjalanan selama satu hari. Ke Puncak.

Taman Ismail Marzuki, diambil sebagai tempat berkumpul karena dianggap titik tengah dari rumah masing-masing. Saya dan Wandi di Kemanggisan, Oho di Pluit, Fara di Tanjung Barat, dan Molly di Serpong. Adil bukan?

Esoknya, saya sudah siap pukul tujuh kurang, sementara Fara dan Oho telah mengabarkan jika mereka sudah on the way. Sedangkan Wandi belum ada kabar, demikian juga Molly. Saya yang berencana berangkat bersama Wandi pun meneleponnya, dan dia mengatakan akan siap sekitar pukul setengah delapan. Kemudian saya ganti menelepon Molly pada pukul setengah delapan, dan dia mengatakan sudah di jalan. Menuju stasiun Serpong.

Kampret.

Setelah sarapan bersama di kawasan Cikini –sekitar pukul delapan lebih–, Molly mengabarkan pada kami, kalau dia ketinggalan kereta. Dan apabila naik kereta berikutnya, maka diperkirakan dia baru akan tiba pukul 09:30, di Stasiun Tanah Abang. Akhirnya keputusan diambil karena anggota sudah memenuhi kuorum, dan hasilnya: Molly ditinggal.

Maaf, bukan serta merta ditinggal, namun tepatnya, kami menuju Puncak dengan mobil dari Jakarta, sementara Molly menuju puncak dari Serpong, dengan kereta (yang mana harus oper dulu di Tanah Abang, sebelum lanjut ke Bogor). Dan nantinya kami berencana bertemu di Bogor.

Sebelumnya, saya telah menghubungi Pak Rahmat, selaku penyedia jasa paralayang di Puncak, karena saya dan beberapa kawan ingin menggunakan jasanya. Beliau bilang, bisa terbang tergantung angin, dan kira-kira pukul 09:00 – 11:00 masih bisa terbang karena angin masih sepoi-sepoi. Dan saya pun berusaha secepat kilat untuk tiba di Puncak.

Pukul sebelas, saya telah melewati Masjid Atta’awun –yang terletak di Puncak Pas– dan kemudian menelepon Pak Rahmat kembali. Pada jalur sebaliknya, terlihat rentetan kendaraan berhenti dan mengantri untuk turun dari Puncak, karena diberlakukannya sistem buka tutup jalur, sementara mobil kami bisa melenggang bebas.

“Pokoknya patokannya ada iklan Marlboro di kanan jalan, masuk ke arah Gunung Mas.” Jelas Pak Rahmat di telepon. “Gak jauh dari masjid, kira-kira 500 meter.”

Dan saya pun dengan percaya diri mengemudikan mobil, sampai kira-kira lima menit kemudian.

“Pak, saya sudah di deretan warung bandrek di kiri jalan.” Saya menelepon Pak Rahmat lagi setelah kami tak menemukan iklan Marlboro yang dimaksud.

“Wah, Mas, kalau situ sudah kelewatan Mas.” Jawabnya.

Kampret.

Dan karena sistem buka tutup jalan, kami tak bisa berputar ke arah sebaliknya.

Kampret.

P1020354

Antrian kendaraan menuruni Puncak (taken with GF 6)

Sambil menunggu jalur dibuka kembali, kami memutuskan untuk menunggu di warung tersebut sambil memesan bandrek dan batus (baso tusuk) yang kebetulan –atau sengaja– lewat di situ. Saya mengeluarkan Lumix GF6 yang sudah saya bawa dari dalam tas, dan mulai iseng memotret dengan kamera mirrorless yang telah saya kombinasikan dengan lensa micro four thirds 20 mm/F 1.7.

P1020430

Baso Tusuk (taken with GF6 & 20mm/F1.7 lens)

Setelah jalur dibuka kembali, kami pun menuruni Puncak secara perlahan –supaya tidak terlewat lagi–. Tercatat Wandi telah tiga kali turun dari mobil dan bertanya kepada warga setempat mengenai lokasi paralayang ini. Jawaban mereka sama,  “Turun saja, sebentar lagi, di kiri jalan.”.

Setelah semakin mendekat, datang SMS dari Pak Rahmat yang mengabarkan kalau Beliau sedang di bawah –bukan di lokasi terbang– dan tidak bisa naik, karena kali ini giliran jalur naik yang ditutup.

Kampret.

Pak Rahmat mengatakan, kalau kami dapat menghubungi adiknya, yang bernama “dd” –sesuai dengan apa yang tertulis di SMS– di lokasi, dan apabila angin oke, maka kami bisa terbang. Dan semangatlah kami menuju Gunung Mas, menatap iklan Marlboro (yang ternyata menghadap arah sebaliknya, sehingga tidak terlihat dari bawah), dan membayar tiket masuk sebesar lima ribu rupiah per kepala atas.

Setelah memarkir mobil, kami berjalan melewati beberapa warung tenda, sebelum menaiki beberapa anak tangga, menuju landasan paralayang.

P1020445

Panorama View (taken with Lumix GF6)

Sepi. tak ada satupun paralayang yang terbang, maupun hinggap di pohon. Saya menelepon Pak Rahmat kembali, dan Beliau memohon maaf karena hari itu tidak bisa terbang dikarenakan angin yang terlampau kencang, mencapai 32 km/jam.

Kampret.

Obrolan berikutnya berlanjut dengan permintaan Beliau supaya saya tidak kapok mengunjungi Puncak, dan berpesan supaya saya hati-hati di jalan. Ah, andai saja Pak Rahmat ini adalah seorang wanita muslimah dengan tampang bagai Asmirandah, pasti saya sudah membalas SMS-nya dengan “Jangan lupa makan Pak Rahmat, nanti matik.” Sayangnya saya tidak melakukannya karena teringat kasus Adiguna Sutowo.

Berikutnya, saya mengambil beberapa momen di situ dengan GF6 yang sedari tadi sudah mengalung manja di leher saya.

“Kita salat dulu di masjid yuk!” Ajak Fara, sambil melihat ke arah Masjid Atta’awun yang terletak tepat di bawah Gunung Mas. Dan kami pun menuju masjid dengan niat ibadah karena Allah ta’ala.

P1020484

Masjid Atta’awun

Selepas salat, giliran lapar memanggil, dan kami memutuskan untuk berhenti di sebuah warung sate –dengan botol kecap raksasa yang menempel di atapnya– yang terletak pada sebuah sudut jalan, menghadap hamparan pemandangan yang indah di bawah. Tercatat sate ayam, sate kelinci, juga sate kambing menjadi korban kebengisan kami siang itu.

P1020489

Using Appetizing Food mode on GF6

“Kalau dari Stasiun Bogor naik apa ya?” tanya Molly, ketika kami melaju ke arah Taman Safari dengan lancar, karena lajur naik sedang ditutup. Fara memberi tahu Molly, supaya menggunakan jasa ojek, karena tidak terpengaruh sistem buka tutup jalan. Dan Molly pun menjawab “Oke, sudah tahu naik apa. Angkot dua kali.”.

Scumbag Mulyono.

Kami menunggu Molly di Gerbang Taman Safari yang berbentuk sepasang gading raksasa, sebuah tempat yang mengingatkan saya kepada Papa, karena dahulu kami ke sini setelah acara wisuda saya. “Damn, angkotnya gak gerak dari tadi.” Kata Molly sambil mengirimkan lokasinya melalui WhatsApp. Saya pun kembali menyarankan –melalui Path– Molly untuk naik ojek menuju Taman Safari. Karena cukup lama menunggu, saya sempat melakukan selfie di depan gerbang tersebut.

20131226_153746_resized

Selfie with GF6

Selfie –atau memotret diri sendiri– dengan GF6 cukup mudah, hanya dengan melipat layarnya ke atas, secara otomatis kamera pun berubah menjadi kamera selfie, lengkap dengan fitur soft skin, yang dapat menghaluskan muka layaknya Camera 360, Porstex, maupun amplas kayu. Tinggal lipat, set, dan klik!

Setelah menunggu beberapa saat lagi, dan wajah cemberut mulai menghiasi wajah Fara –seperti di kisah ini— keputusan pun diambil karena kuorum sudah mencukupi, yaitu: Molly ditinggal.

P1020512

Taman Safari Indonesia, HTM: Rp. 140.000,-

Kondisi Taman Safari seperti tak berubah seperti saat terakhir kali saya mengunjunginya, masih dengan jalan beraspal yang memisahkan berbagai satwa di kiri dan kanan, dan membiarkan beberapa satwa herbivora melintas di jalan tersebut. Kami menyusurinya dengan menggunakan mobil baru Fara, dan mendapati beberapa spesies hewan yang menarik seperti kancil hingga unta. Semut hingga kuda nil. Berhubung saya menggunakan lensa fix –yang tidak bisa melakukan optical zoom— saya mencoba fitur digital zoom yang ada pada GF6 untuk membidik hewan yang terlihat jauh. Dan hasilnya, bagus!

P1020517

Taken using 4x digital zoom on GF6.

Namun sayang, ketika saya akan membidik serombongan zebra yang melintas, kamera tersebut mati karena kehabisan baterai. Kemudian tepat di depan kandang siamang, handphone saya bergetar, tanda sebuah panggilan masuk. Dari Molly.

“Gue sudah sampai di gerbang.” Ujarnya. “Terus ojeknya mana?”

“Sudah balik lagi.” Duh. Timbul sedikit perasaan bersalah pada diri saya, mengapa tidak menunggunya sejenak tadi.

Saya menganjurkan Molly supaya nebeng kendaraan lain yang masuk ke taman Safari, sementara kami diam dan menunggu di depan kandang siamang. Dan tak berapa lama, Molly mengabarkan kalau dia berhasil mendapat tumpangan. Sebuah bus taman safari, yang dinaikinya sendiri.

Scumbag Mulyono.

Tak berapa lama, nampak seorang pria ramping, mengenakan jaket berwarna oranye dan bersepatukan Pull & Bear melambaikan kedua tangannya ke arah kami. Dialah Mulyono, atau lebih dikenal dengan nama Molly. Dan setelah bersalaman singkat, kami melanjutkan kembali perjalanan dengan menyaksikan beberapa hewan buas seperti harimau, singa, dan raja singa. Sempat terpikir dalam pikiran untuk melemparkan Molly ke kandang Harimau Benggala, namun saya urungkan karena Harimau Benggala butuh makanan bergizi. Menjelang gelap, kami keluar dari Taman Safari dan mampir ke salah satu restoran ikan bakar, untuk makan malam, dan men-charge kamera (ini saya).

Di perjalanan, saya bertanya kepada Molly mengenai perjalanannya tadi.

“Tadi naik ojek berapa, Mol?”

“50.000.”

“Kok mahal?”

“Tadi aku udah nawar. Dari 60.000.” Lanjutnya. “Padahal kata orang-orang, tarif ojek biasanya 30.000.”.

Hanya Molly yang berangkat dari Serpong pukul delapan, dan tiba di Taman Safari pukul empat sore, dan hanya Molly yang naik ojek seharga 50.000 dari perempatan Ciawi ke Taman Safari.

Scumbag Mulyono.

20131226_175814_LLS_resized

Zainuddin – Mulyono – Wandi – Fara – Oho (taken with cellphone)

Walaupun tidak jadi terbang, ataupun terlambat datang, namun bersama sahabat, semua akan menjadi  senang dan tenang.

Setiba di Jakarta, saya sempat berhenti sejenak di depan Tugu Tani, dan mencoba memotret menggunakan teknik slow speed dengan GF6 yang dibantu seonggok tripod. Dan hasilnya, dapat kamu lihat di bawah ini:

This slideshow requires JavaScript.

Selain beberapa fitur yang saya sebutkan di atas, kamera ini juga memiliki banyak fitur unggulan lain yang belum sempat saya eksplor lebih jauh. Selain itu, GF6 juga dilengkapi fitur NFC dan Wi-Fi yang dapat dikoneksikan dengan telepon genggam, namun saat saya mencoba menghubungkannya dengan Samsung Galaxy S4, fitur ini tidak bekerja dengan baik. (Revisi: Ternyata masalah ada di konektor wi-fi handphone, sekarang sudah bekerja dengan baik) Saya sempat bertanya kepada Leo, yang juga menggunakan GF6, dan dia berkata bahwa fitur Wi-Fi dapat bekerja dengan baik di telepon genggamnya, Nexus 4.

Panasonic-Lumix-GF6-White

Panasonic Lumix GF6 White

Oh iya, satu fitur keren lainnya, adalah kamera ini dapat membuat timelapse movie dengan cukup mudah (karena sudah diajarkan oleh Mas Goen), tinggal masuk ke Menu — Stop Motion Animation — Set Shooting Interval — Start. Hasilnya? Simak dua buah video berikut:

Keren kan?

Saya menyarankan Lumix GF6 untuk kamu yang suka traveling, dan ingin berkreasi terhadap foto-foto yang akan kamu ambil sepanjang perjalanan. Saat ini Lumix GF6 dapat kamu dapatkan di berbagai toko kamera dengan kisaran harga lima juta rupiah berikut lensa 14-42mm. Cerita lain tentang kamera ini, bisa kamu simak di blog Mas Ary, atau Mbok Venus.

Selamat terpesona olehnya.

***

Puncak,

selain dikenal sebagai tempat menikmati cinta satu malam,

juga dikenal sebagai tempat untuk menghabiskan malam tahun baru.

Pada malam tahun baru, 

tidak ada yang namanya cinta satu malam,

namun cinta satu tahun.

Salamat tahun baru dari www.backpackstory.me.

Advertisements