Pagi yang dingin itu, saya duduk pada sebuah bangku di Cemberlitas Square sambil memerhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar Column of Constantine –atau lebih dikenal sebagai Burning Column, yang merupakan sisa-sisa kejayaan bangsa Romawi di Turki. Pria-pria bersetelan rapi lewat tergesa, seorang bapak tua beruban sabar menjajakan roti simit, sementara puluhan burung dara asyik terbang dan hinggap sesuka hati mereka di lapangan.

Di belakang saya, berdiri dengan megah Atik Ali Pasha Mosque mendampingi Ali Baba Mausoleum, sementara di seberang jalan, terdapat beberapa buah bangunan dengan fungsinya masing-masing. Ada sebuah kafe yang baru buka, barber shop yang sepertinya sedang melayani pelanggan pertamanya, toko oleh-oleh Turkish Delight yang sudah siap mencari segenggam berlian dan segepok Lira, juga ada sebuah hammam yang kelihatan masih sepi pengunjung.

Sebuah hammam, hamam atau hamami dalam bahasa Turki, adalah sebuah pemandian umum, yang sebenarnya, menjadi tujuan kedatangan saya ke Cemberlitas hari itu. Ehem.

Cemberlitas Hamam

Hamam –Turkish Bath, adalah sebuah pemandian umum yang digunakan penduduk Turki dalam kehidupan sehari-harinya. Nama ‘hammam’ sendiri, berasal dari kata dalam bahasa Arab, yaitu ‘ham’ yang berarti panas, sementara dalam bahasa setempat, Hammam bisa berarti ‘spreader of warmth’. Penyebar kehangatan, ya, bukan pemberi kehangatan seperti selingkuhan.

Melalui sejumlah besar air yang dipanaskan, uap yang terbentuk dari air mendidih tersebut akan bergerak menembus lubang-lubang kecil di dinding dan langit-langit ruangan, sehingga kehangatan dapat menyebar ke seluruh penjuru hammam.

cemberlitashamami_08

Sepasang pintu cokelat berkaca dengan puluhan stiker menyambut saya ketika saya mendekat ke arah Cemberlitas Hamami. Sebuah kaligrafi di atas pintu membuat saya sedikit ragu, menebak, apakah ini mushola atau tempat mandi?Dengan sedikit rasa deg-degan, karena belum pernah mengunjungi hammam sebelumnya, saya membuka pintu utama, dan mulai masuk.

*insert SFX: pintu tua berderit.wav* 

“Assalamualaikum.”

Baca juga: Pengalaman Mandi Ramai-ramai di Onsen Jepang

Cemberlitas Hamam

Secara histori, hammam di Turki berasal dari tradisi yang berasal dari kebiasaan mandi bangsa Romawi kuno, yang membuat pemandian umum untuk digunakan bersama. Namun sebuah sumber yang pernah saya baca, menceritakan seperti ini.

Alkisah, pada zaman dahulu ada seorang pemimpin yang memerintahkan para tahanan hukuman mati untuk bekerja paksa. Namun, ternyata ada satu orang yang menolak perintah tersebut, alasannya adalah “Saya semalam habis berhubungan badan, dan belum mandi wajib. Sesuai petunjuk Rasulullah, kami, umat Islam tidak boleh bekerja dan beribadah kalau masih kotor, najis, dan belum mandi wajib.”

Tanpa sempat bertanya, semalam kamu di mana, dengan siapa, dan berbuat apa, si pemimpin tersebut akhirnya memerintahkan seluruh tahanan untuk membangun pemandian umum, yang bertujuan untuk membersihkan diri. Setelah jadi, para tahanan tersebut akhirnya saling memandikan satu sama lain, menggosok punggung teman-temannya, hingga membantu membilas bekas-bekas sabunnya.

Itulah mengapa, hammam di Turki, sering dibangun berdekatan dengan masjid. Supaya bisa bersuci sebelum beribadah. Semoga saja, adegan saling memandikan di atas, tidak membuat para tahanan baper.

Hammam, mungkin saja adalah salah satu tradisi mandi –dan memandikan, tertua di dunia, yang masih dilestarikan hingga sekarang. Sementara Cemberlitas Hamami, adalah salah satu hammam tertua yang masih digunakan hingga saat ini.

Sejarah mencatat, bahwa pada tahun 1584, seorang arsitek terkenal bernama Sinan membangun pemandian ini atas instruksi dari Nurbanu Sultan, istri dari Sultan Selim II, ibu dari Sultan Selim III, dan mungkin saja nenek dari Sultan Salim IV, buyut dari Sultan Selim V, juga moyang dari Sultan Selim selanjutnya. Dahulu, pembangunan ini direncanakan untuk mencari pemasukan amal untuk sumbangan masjid Atik Ali Pasha yang dibuka pada tahun 1497.

Orang Turki, memang berbeda dengan orang Indonesia. Sementara mereka mencari sumbangan masjid dengan membangun hammam di tahun 1500-an, orang kita saat ini masih menggunakan jaring ikan dan mempersempit jalan umum untuk meminta sumbangan. Itu saja masih belum tentu jelas kebenarannya.

Cemberlitas Hamam

Di balik pintu, saya disambut oleh seorang wanita di balik meja resepsionis yang saat itu sedang sibuk dengan komputernya. Cantik sih, tapi sedikit jutek ketika saya tanya-tanya mengenai paket dan jenis layanan apa saja yang tersedia di Cemberlitas Hamami.

Wanita itu menunjukkan dua lembar informasi mengenai paket layanan yang tersedia, yang berisikan daftar harga paket yang bisa saya eksekusi kelak. Lembar kiri menunjukkan paket standar, sementara lembar kanan menunjukkan paket ekstra plus-plus yang bisa ditambahkan. Plus-plus, bukan “plus-plus”.

Paket standarnya terdiri dari:

  • Self service, mandi sendiri: 70 Lira
  • Hamam Traditional Style, dimandikan: 115 Lira
  • Hamam Luxury Style, dimandikan plus dipijat enak: 190 Lira

Sementara paket ekstra plus-plusnya berisi tambahan layanan seperti pijat, facial treatment, manicure & pedicure, namun kebanyakan ditujukan untuk wanita.

Kini, sebuah pertanyaan besar muncul di benak saya, enaknya mandi sendiri, atau dimandikan, ya?

Cemberlitas Hamam

Pada awalnya, penggunaan hammam memang hanya ditujukan untuk pria, namun kemudian wanita yang sedang sakit ataupun akan melahirkan juga diizinkan untuk masuk ke dalam hammam, dalam waktu yang tidak bersamaan, tentunya. Hal itu juga sesuai petunjuk Muhammad yang mengatakan bahwa uap hangat yang muncul dari hammam akan menambah kesuburan.

Kemudian para wanita menjadi sedikit melunjak, dengan menjadikan hammam sebagai sarana pelarian dan sumber gosip, dibandingkan berdiam diri di rumah. Bahkan mereka menjadi punya alasan untuk mengajukan cerai apabila sang suami melarang untuk mengunjungi hammam. Ini true story, pada zaman dahulu.

Berikutnya, hammam menjadi tempat yang bebas dikunjungi oleh siapa saja, dan bahkan menjadi tempat berkumpul baik pria dan wanita dari segala kalangan. Perkembangan tersebut membuat hammam tak lagi hanya sekadar tempat untuk membersihkan badan, melainkan hammam juga kerap digunakan untuk berbagai ritual tradisional, seperti penyucian sebelum menikah, pemandian bayi di umur 40 hari, hingga melangsungkan prosesi khitan.

cemberlitashamami_11

“I will the full package.” Saya menunjuk paket paling bawah yang ada pada lembar sebelah kiri. “Hamam Luxury Style.”

Wanita itu menginput sesuatu ke dalam komputernya, dan meminta saya membayar sebesar 190 Lira untuk paket tersebut. “Can I use the credit card?”

“Sure.” Jawabnya sambil menyodorkan mesin EDC yang sudah diinputnya. “190 Lira.”

Berikutnya, wanita itu memberikan beberapa macam benda kepada saya, sebuah kotak berisikan kain untuk menggosok badan, sebuah kupon berwarna kuning untuk dimandikan, dan sebuah kupon berwarna merah untuk dipijat.

“Please go upstair.” Ujarnya lagi.

Cemberlitas Hamam

Sebuah hamam, biasanya memiliki ruangan kedatangan yang megah, yang kerap disebut sebagai camekan atau ‘warm room’. Ruangan ini memiliki fungsi seperti ‘locker room’ pada sebuah kolam renang, atau spa khusus pria dewasa. Di sini, kamu akan menelanjangi diri sendiri sebelum bersiap merasakan pengalaman hammam yang sesungguhnya.

Untuk alasan privasi, beberapa hammam, memiliki ruang ganti privat yang dapat digunakan pengunjung untuk berganti baju. Nantinya di sana, pengunjung akan diberikan pestemal –kain kotak-kotak untuk menutup tubuh nan polos, yang lebih mirip serbet atau taplak meja, juga sandal karet atau kayu yang digunakan untuk memasuki hammam.

Cemberlitas Hamam

Berhubung Cemberlitas Hamami memiliki pintu masuk yang terpisah antara pria dan wanita, maka saat itu, saya hanya berpikir positif ketika diarahkan naik melalui tangga kayu, menuju lantai dua yang memiliki suasana mirip kostan di Jakarta, dengan kamar-kamar sempit yang remang dan banyaknya jemuran yang tergantung di sana-sini. “Oh, mungkin ruangan mewahnya ada di bagian wanita.”

Di lantai dua, saya disambut oleh seorang pria tua beruban yang mengenakan kemeja rapi. Dia memberikan saya sebuah kunci dan menggiring saya untuk menuju sebuah kamar. “Come come!” Serunya. Berikutnya dia menyalakan saklar lampu kamar tersebut sembari memberikan selembar pestamal sebelum memberikan isyarat kepada saya untuk segera berganti pakaian. “Change change!”.

Babak berikutnya dari prosesi hammam ini adalah seorang ‘tellak’ atau terapis mandi akan membawamu untuk memasuki ruang utama yang disebut dengan ‘hararet’. Ruangan ini biasanya berbentuk kubah dengan jendela-jendela kecil berlubang yang memungkinkan cahaya untuk masuk.

Di tengah ruangan, terletak göbek taşı, atau ‘belly stone’, sebuah panggung yang dibuat dari pualam. Karakteristik belly stone ini adalah hangat sementara ruangannya sendiri panas dan penuh uap. Ya, mirip-mirip dengan ruang ‘steam’ kalau di tempat spa begitu hawanya.

Interior dari sebuah hammam, biasanya dibuat sangat mewah, sejalan dengan hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Muslim yang mengatakan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman.

Cemberlitas Hamam

Setelah melucuti seluruh pakaian yang menempel, dan hanya menyisakan tubuh polos tanpa sehelai benang, saya menyarungkan pestamal untuk menutupi Kevin dan mengenakan sandal karet murahan yang disediakan. Berikutnya, dengan percaya diri, saya turun ke lantai satu, tempat di mana si terapis mandi telah menunggu.

Yang membedakan Cemberlitas Hamami ini dengan Alexis adalah,  terapis akan disesuaikan dengan jenis kelaminmu, pria dengan pria, wanita dengan wanita, tidak bisa bersilangan. Selain itu, kamu juga tidak dapat memilih siapa terapismu, misal kamu tidak dapat memilih terapis yang berkulit putih, berdada bidang, atau berwajah mirip Bella Sophie.

Kebetulan, waktu itu, saya mendapat terapis seorang pria berumur 30-40an, dengan rambut hitam, brewok tipis, dan perut sedikit buncit. Rahangnya yang tegas dan brewok tipisnya, sedikit mengingatkan saya dengan Jeremy Thomas.  Berikutnya, Jeremy Thomas membawa saya masuk ke dalam hararet, berdua. Saya hanya mengenakan pestamal dan sandal karet, begitu pula dia.

Aduh, semoga tidak terjadi hal-hal yang diinginkan nanti.

Setelah memasuki hararet, tellak akan memintamu untuk membasuh seluruh badan dengan air panas dari pancuran, sebelum memintamu untuk berbaring di belly stone. Ketika ‘dipanaskan’ di sana, perlahan kamu akan mulai berkeringat dan pori-pori di kulitmu akan terbuka, guna menyerap energi yang dipancarkan oleh hammam. 

Setelah beberapa saat, si tellak akan datang untuk memijatmu manja, dan membilasmu dengan sabun tradisional, —biasanya terbuat dari pasta zaitun, sambil menggosok tubuhmu dengan kain tipis. 

Setelah melalui proses tersebut, daki-daki dan sel kulit mati di tubuhmu akan terangkat, dan kemudian akan dibilas oleh si tellak. 

Çemberlitas Haman baño turquo

Di dalam hararet, saya melihat dua orang pria sedang berada di sana. Seorang pria tua sedikit bungkuk yang sedang mandi di pancuran, serta seorang pria Timur Tengah tinggi, besar, berkepala botak, sedang berbaring di atas belly stone. Inilah jenis pria yang mampu membuat minder Kevin, dan siapa saja yang melihatnya.

Jeremy Thomas meminta saya masuk ke dalam sebuah ruangan di samping kanan belly stone, di mana di dalamnya terdapat beberapa bak pancuran dengan dua kerannya, juga mangkuk tembaga yang terapung di dalamnya. Dia membuka kedua keran tersebut secara bersamaan, pada satu keran keluar air panas, sementara pada keran lainnya keluar air dingin. Sambil memberikan mangkuk yang berguna sebagai gayung tersebut, pria itu mengatur racikan airnya supaya suhunya pas dengan saya.

Sesaat saya berpikir, jangan-jangan lagu ‘Hot & Cold’ milik Katy Perry terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah hammam, atau dari dispenser Miyako.

Setelah membilas tubuh, saya berpindah ke belly stone sesuai instruksi Jeremy Thomas, dan mulai dimandikan. Namun, jangan bayangkan bahwa proses ini akan berlangsung romantis, intim, dan syahdu, karena terkadang kenyataan tak seindah angan-angan.

Seperti ini misalnya.

cemberlitashamami_16

Angan-angan (sumber: http://www.cemberlitashamami.com)

Apabila kamu ingin mengetahui dengan detail proses memandikan yang sesaat membuat saya seperti mayat, akan saya ceritakan sebagai berikut. Inilah pertama kalinya saya dimandikan oleh seorang pria, setelah Papa saya sewaktu kecil.

  1. Saya diminta tengkurap, dan adegan dimulai dengan Jeremy Thomas mulai menggosok punggung saya dengan menggunakan kain yang tadi saya dapat dari resepsionis. Tekstur kainnya kasar, berada di tengah-tengah antara handuk dan amplas, sehingga cocok untuk membersihkan daki di tubuh saya yang sudah menumpuk sejak lahir.
  2. Setelahnya, saya diminta untuk telentang, supaya Jeremy Thomas dapat menggosok dada dan bagian depan tubuh saya dengan leluasa. Semuanya dilakukan dengan sopan, tanpa pura-pura menyingkap pestamal yang saya kenakan.
  3. Tengkurap sudah, telentang sudah, berikutnya Jeremy Thomas meminta saya untuk duduk di tepian belly stone, dan membilas tubuh saya dengan sebaskom ember berisi air dingin.
  4. Berakhir? Belum. Karena hammam baru akan memasuki adegan utamanya ketika Jeremy Thomas menyiapkan busa-busa sabun yang dihasilkannya dari proses mencampur ekstrak sabun dengan air panas yang terdapat di hammam. Busa-busa sabun ini nantinya akan diusapkan ke seluruh penjuru tubuh saya, tanpa terkecuali.
  5. Saya diminta tengkurap; Jeremy Thomas menyabuni punggung dan kaki bagian belakang saya. Kemudian saya diminta telentang; Jeremy Thomas menyabuni dada dan kaki depan saya, kecuali kaki tengah. Pada saat Jeremy Thomas menarik tangan saya untuk disabuni, tanpa sadar jemari saya menyentuh dadanya yang berbulu dan basah karena busa. Sungguh pengalaman yang apaan sih, ewwww.
  6. Setelah seluruh tubuh penuh busa, saya diminta duduk lagi di tepian belly stone, dan Jeremy Thomas membilas lembut tubuh saya dengan air panas. Berikutnya, dia mengusap rambut saya sembari menggosokkan sampo di kepala saya. Sambil memijat, dia sekaligus mengeramasi saya, hingga penuh busa, sebelum dibilas lagi dengan menggunakan air dingin. Bagai anak kecil yang polos, saya menuruti semua instruksi Jeremy Thomas dengan baik. Sungguh, saat itu adalah saat di mana saya merasa sangat bersih, suci, namun banyak dosa.

Walaupun sedikit geli, namun perasaan ketika dimandikan, digosok daki-dakinya hingga bersih, dikeramasi, dibilas, sungguh membuat saya sesaat menjadi Raja Turki, atau tahanan pada masa-masa itu. Taking bath like a boss!

Ilustrasi berikutnya ditunjukkan pada foto di bawah ini, saat saya dan teman saya, Alex, mencoba hammam yang terdapat pada hotel yang kami tempati di Cappadocia. Menariknya, terapisnya di sini adalah wanita, yang berasal dari … Bali!

Bayangkan, jauh-jauh ke Turki ketemunya orang Bali pula.

Sebenarnya, bagian terakhir dari hammam adalah bilasan yang dilakukan di dalam ruang pancuran, di mana kamu akan digosok dengan kain yang disebut kese dan dibilas dengan air dingin. Setelahnya, kamu dapat memilih untuk mengeringkan badan dengan handuk, beristirahat di soğukluk, atau ‘cool room’, atau bisa juga memilih untuk berbaring di atas belly stone lagi, sambil membayangkan hal-hal apa yang baru saja terjadi.

Atau, apabila hammam tersebut, menyediakan paket lain, seperti pijat misalnya, kamu juga dapat menikmatinya. Karena akan sangat nikmat apabila dipijat ketika rileks, dan hammam yang baru saja dilakukan, akan membuat tubuh sangat, sangat rileks, dan tenang.

cemberlitashamami_12

“Problem?” Tanya Jeremy Thomas kepada saya di akhir sesi. Akhirnya, dia bersuara juga, setelah selama ini lebih sering diam dan kerja, kerja, kerja.

Saya menggeleng, “No, it’s all good.” 

Dia tersenyum, dan menunjukkan sebuah nomor di balik pestamalnya kepada saya “Number 20.” Sambil berkedip, dia berkata perlahan “Outside, tip.” Oh, ternyata itu nomor punggungnya, dan dia meminta tip nanti. Cukstaw ya Bang, saya kira Abang tulus ikhlas pakai perasaan, ternyata oh ternyata.

Memang, dari hasil riset yang sudah saya lakukan, tip adalah sebuah hal yang umum dalam beberapa bidang jasa di Turki. Untuk hammam, saya tidak masalah, karena hammam adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan dan dapat memberikan banyak manfaat untuk tubuh.

cemberlitashamami_10

Beberapa manfaat hammam, di antaranya adalah:

  • Mengurangi stress, membuat tubuh rileks dan tenang. Cocok untuk anak ahensi digital.
  • Menjaga kulit supaya tetap muda dan segar. Cocok untuk ibu-ibu perawatan.
  • Menambah hormon kebahagiaan. Cocok untuk bapak-bapak berperut buncit dengan berbagai macam masalah rumah tangganya.
  • Mengurangi hidung mampat karena sinus. Cocok untuk penderita sinus dan temannya, yang sama-sama menderita juga.
  • Menambah leukosit yang dapat menguatkan sistem kekebalan tubuh. Cocok untuk kamu yang sering masuk angin.

Sesi terakhir yang saya dapat hari itu adalah body massage yang dilakukan oleh seorang pria, yang rambut berubannya mengingatkan saya dengan Richard Gere. Walaupun penampakannya cukup senior dengan perutnya yang membuncit, namun ternyata tenaga yang dipunyainya sangat kuat.

Sebelum prosesi pijat-memijat dilakukan, saya diminta berganti pestamal, sebelum tengkurap di kasur pijat yang memiliki bagian berlubang untuk meletakkan kepala. Basa-basi sejenak dilakukan dengan memperkenalkan nomor punggungya, yaitu 32, sambil bertanya asal negara saya. Setelahnya, dia mulai memijat dari kaki, punggung, tangan, dan kepala, tanpa petik mangga.

Terakhir, Richard Gere memberikan krim muka ke saya, mungkin supaya terlihat awet muda. Setelahnya, saya diminta untuk relaksasi di belly stone, sebelum membilas tubuh saya di bawah shower normal yang terdapat di Cemberlitas Hamami.

Pengalaman saya mencoba hammam berakhir ketika saya kembali ke dalam ruang ganti, menanggalkan pestamal  dan handuk, dan mengenakan kembali pakaian normal yang saya kenakan ketika masuk.

Di lantai bawah ruangan, telah menanti Jeremy Thomas yang telah berganti pakaian dengan kemeja dan sarung serta Richard Gere dengan senyuman penuh kodenya. Saya yang mengetahui dengan pasti kode tersebut membuka dompet dan memberikan selembar 50 Lira kepada Jeremy Thomas. “For two.” ucap saya sambil menunjuk Richard Gere.

“Thank you so much.” sambut mereka dengan senyum.

“Can we take a photo, together?” Tanya saya, mengarahkan kamera saku ke mereka.

“Sure!”

Cemberlitas Hamam

Bersama Jeremy Thomas dan Richard Gere dari Cemberlitas Hamami

Catatan:
  • Cemberlitas Hamami buka setiap harinya mulai pukul enam pagi hingga tengah malam, dan melayani tamunya, pria dan wanita, dalam ruangan yang berbeda.
  • Berhubung tidak etis untuk mengambil foto di dalam hammam, maka beberapa foto di sini diambil dari situs resminya, yaitu: www.cemberlitashamami.com.
  • Untuk menuju Istanbul, kamu dapat menggunakan Turkish Airlines yang melayani penerbangan Jakarta-Istanbul setiap hari dengan jadwal penerbangan pukul 20.45, sehingga tidak perlu memotong jam kerja kantor.
  • Saat tulisan ini dibuat, kurs 1 Turkish Lira adalah sebesar 3.576 Rupiah.
Advertisements