Saya adalah seorang anak tunggal, yang dipisahkan oleh jarak dengan orang tua saya. Sudah sekitar 10 tahun saya merantau di Jakarta, dan selama itulah saya menjalani LDR (Long Distance Relationship, bukan Long Dick Reduction, -red) dengan mereka. Semasa saya kuliah, tercatat saya hanya beberapa kali pulang kampung dalam setahun, yaitu ketika lebaran, ketika libur semesteran, atau ketika benar-benar rindu dengan mereka. Sewaktu awal-awal bekerja di Jakarta, saya bisa menyempatkan pulang kampung sekali setiap dua bulan termasuk beberapa hari ketika lebaran maupun cuti bersama.

Namun semuanya berubah di pertengahan tahun 2009, ketika Papa dipanggil Yang Maha Kuasa. LDR tidak lagi seperti dulu. LDR terasa lebih menyeramkan daripada LDL yang tinggi sekalipun. Perasaan was-was pun muncul, bagaimana jika Mama kangen Papa, bagaimana jika Mama kenapa-kenapa di rumah karena sendirian tanpa Papa, bagaimana jika Mama berangkat kerja tapi tak ada Papa yang mengantarkan, bagaimana jika Mama pengin nge-mall di akhir pekan tapi tidak ada yang menemani, bagaimana jika saya yang semakin tua (baca: matang) tapi belum menemukan pasangan hidup juga? Oh Mama Oh Papa.

[Catatan: Kisah ini juga yang menginspirasi munculnya Mamacation]

Sejak saat itu, saya semakin rutin pulang kampung dengan intensitas yang mengalahkan penampilan Boediono di media tanah air.  Dengan mengambil waktu akhir pekan, atau Hari Libur Nasional, saya menyempatkan untuk pulang setiap bulannya. Tak lama memang, namun semoga cukup untuk bercengkerama dengan Mama, juga untuk menabur bunga di pusara Papa. Berbagai alat transportasi pun saya gunakan, mulai dari pesawat, bus malam, hingga kereta api. Dan karena sering menggunakan kereta api, banyak yang bilang kalau saya telah resmi tergabung dalam Pegawai PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad).

2013-06-08 06.43.26

Air Asia Jakarta – Semarang, yang biasa saya gunakan di Sabtu pagi, namun sekarang sudah tutup rute.

Dan cerita berikut ini, adalah salah satu pengalaman saya ketika pulang kampung menggunakan kereta api.

Cerita ini terjadi kurang lebih satu tahun silam, ketika pada sebuah long weekend saya berniat untuk pulang kampung ke Semarang. Karena waktu pengambilan keputusan yang mepet dengan Hari H, saya kehabisan tiket kereta Senja Utama kelas bisnis yang biasa saya gunakan, tiket bus hanya tersisa bus abal-abal, sementara harga tiket pesawat sangat tinggi. Saat itu, satu-satunya yang tersedia (selain saya) adalah tiket kereta api kelas eksekutif bernama Bangunkarta dan dengan terpaksa saya pun menebus tiketnya dengan biaya lebih dari tiga ratus ribu rupiah.

Sekadar informasi, Kereta Api Bangunkarta adalah kereta api eksekutif yang melayani rute Jakarta – Jombang, yang melewati dan singgah di Semarang, tempat tujuan saya. Kereta ini dijadwalkan berangkat pukul 17:45 dari Jakarta dan tiba di Semarang pukul 23:00, sebelum akhirnya merapat di Jombang pada pukul 01:00. Dan ketika kereta api tersebut berangkat tepat waktu, maka petualangan saya pun dimulai.

Bangun-Karta

Gambar diambil dari sini.

Kereta berjalan sesuai prosedur yang ditetapkan, yaitu tetap di atas rel. Tidak perlahan, tidak pula tergesa, sedang tapi pasti. Saya duduk di deretan tengah gerbong, tepat di samping seorang wanita muda yang mengenakan hijab. Saya tidak berani menyapa dia yang sedari tadi sibuk dengan telepon genggamnya, maupun menyentuhnya, karena bukan muhrim.

Kurang lebih satu jam sejak diberangkatkan, datang seorang petugas berseragam PT. KAI yang dikawal oleh dua orang berseragam polisi yang membawa senjata api. Maksud kedatangan mereka adalah untuk memeriksa tiket kereta penumpang, apakah sudah sesuai dengan kereta yang digunakan, juga untuk menanyai tujuan akhir si penumpang. Pada kereta api eksekutif, petugas akan membangunkan para penumpang apabila telah tiba di tujuan akhirnya.

“Turun mana, Pak?” Tanya si petugas kepada saya sambil melubangi tiket kereta yang saya berikan kepadanya.

“Semarang.” Jawab saya, pelan tapi pasti.

Pria tersebut mencatat tujuan akhir saya pada catatan kecil yang dibawanya. “Kalau Mbaknya, turun di mana?” Tanyanya kepada wanita di samping saya.

“Semarang, Pak.” Si wanita tersebut menjawab.

“Oh, Semarang juga, Mbak.” Ucap saya.

“Iya Mas.” Dan dia pun kembali asyik dengan gadget-nya.

Setelah pemeriksaan tiket, kali ini datang petugas yang menawarkan makanan. Kalau di kereta eksekutif, biasanya terdiri dari dua orang, seorang wanita dan seorang pria. Yang wanita bertugas menawarkan makanan dan/atau minuman, sementara yang pria bertugas mencatat pesanan penumpang. Apakah ini yang disebut emansipasi, wahai wanita?

“Mau pesan makan malam apa, Mas?” Desahnya.

Saya yang belum sempat makan malam (catatan: waktu itu saya masih kurus, sehingga masih melakukan tradisi makan malam.) karena langsung menuju stasiun sepulang kantor, melihat-lihat sejenak menunya, sebelum memutuskan untuk memesan “Nasi Bistik Sapi, ya, Mbak.”

Tak berapa lama, makanan datang. Saya bertanya berapakah harga makanannya, namun si pengantar makanan menjawab supaya dibayar nanti saja. Kemudian saya makan dengan lahap. Walau rasanya biasa saja, namun porsi makanan tersebut cukup untuk mengganjal perut selama satu jam ke depan. Karena bill yang tak kunjung datang, dan akibat perut kekenyangan yang dikombinasikan dengan kursi empuk, bental nyaman, ruangan ber-AC, dan selimut hangat, saya pun tidur, atau ketiduran. Mana yang lebih dahulu.

Ketika tidur, saya merasakan sebuah sentuhan lembut pada bahu saya. Saya membuka mata secara perlahan, dan melihat sesosok wanita cantik di hadapan saya. “Bistiknya tadi 35.000, Mas.” Ucap si wanita cantik. Saya mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari dalam dompet dan menyerahkan kepadanya. “Kembaliannya ditunggu, ya.” Saya mengangguk, dan tertidur lagi.

Kali ini, giliran lutut saya yang dicolek ketika tertidur. “Ini Mas, kembaliannya.” Ucap sebuah suara. Sambil menggerutu, saya memasukkan kembalian tersebut ke saku celana, dan tertidur lagi. Tidur saya malam itu cukup nyenyak, hingga akhirnya sebuah getaran di saku jaket jeans sebelah kanan membangunkan saya.


“Drrttt! Drrttt!” Telpon genggam yang saya pasang dalam mode getar, berdering, dan terpampang satu nama di layar handphone yang saat ini telah raib, Mom.

“Sampai mana?” Tanya Mama di ujung telepon. Saya yang baru saja bangun pun kebingungan, nge-blank. Saya melihat ke bangku sebelah, wanita berhijab tadi telah hilang. Saya melihat ke jendela, gelap, ternyata pantulan muka saya sendiri. Saya melihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul satu dini hari, di mana seharusnya pukul sebelas malam saya turun di Semarang.

Oh, Shit.

“Wah, gak tahu ini di mana.” Ucap saya panik. “Harusnya berhenti di Semarang jam sebelas tadi.” Saya berlari menuju sambungan gerbong, dengan tergesa.

“Sudah gak usah panik. Coba tanya ke petugasnya dulu.” Mama mencoba menenangkan saya. Di saat seperti ini, suara Mama lebih menenangkan dibanding bersandar di paha Angelina Jolie, sambil dipelototin Brad Pitt.

“Petugasnya di mana?”

“Coba cari ke bagian restorasi.”

“Restorasi di mana?”

“Cari ke tengah!”

Karena posisi tempat duduk yang berada di gerbong dua, saya pun berlari lagi melewati gerbong tiga, empat, lima, sebelum akhirnya tiba di gerbong restorasi dengan napas tersengal. Di sana, saya mendapati ada satu, dua, tiga petugas sedang berbincang-bincang. “Ini di mana?” Tanya saya dengan wajah pucat.

Petugas yang kaget karena kedatangan saya di tengah malam menjawab “Paron, Mas.”

“Semarang, mana?”

“Sudah lewat, Mas.”

Saya shock tak mampu berkata-kata, wajah saya menjadi lebih pucat daripada Edward Cullen, namun kulit saya tetap lebih hitam daripada Jacob Black. Setelah berhasil menenangkan diri, saya berkata “Saya harusnya turun di Semarang, Pak.”

“Wah, sudah kelewatan, Mas.” Ucapnya.

Sial. Batin saya kesal. “Lalu solusinya bagaimana? Saya jam tujuh pagi ada acara.”

“Ya turun di stasiun terdekat.”

“Lalu siapa yang tanggung jawab? Saya gak dibangunin. Dari stasiun itu naik apa? Biayanya gimana?” Cerocos saya.

“Mas, tenang dulu. Yuk ke ruangan, kita bicarakan dengan penanggung jawab.” Petugas itu menuntun saya masuk ke ruangan sempit yang hanya berisikan enam buah bangku.


Si penanggung jawab adalah seorang Jawa berkulit sawo matang, berperawakan gemuk dan mengenakan jas yang tidak dikancingkan –mungkin karena sudah tidak muat–, yang berumur kira-kira 30 tahun. Sebuah name tag tersemat di dadanya, bertuliskan “SURYANTO”. “Mas, ini sedang saya usahakan turun di stasiun terdekat, Gundi.” Dia mencoba menenangkan saya. “Mas ambil tasnya dulu, deh.”

Saya berjalan kembali menuju gerbong dua, melewati gerbong lima, empat, tiga. Mengambil tas, dan kembali lagi ke restorasi, melewati gerbong tiga, empat, lima. Setibanya kembali, saya menemukan Pak Suryanto sedang berbicara melalui telepon genggamnya, di mana sesekali nada panik terdengar. “Mas.” Dia menurunkan telepon tanpa mematikannya, dan melihat ke arah saya. “Mas bisa turun di Gundi, tapi…”

“Tapi apa, Pak?” Saya cemas.

“…tapi Gundi itu hutan, dan tak ada transport menuju Semarang. Kalaupun ada paling hanya sewa mobil/motor ke sana.”

Saya semakin cemas. “Lalu saya harus bagaimana?”

“Tenang Mas, saya sedang coba hubungi stasiun terdekat lainnya.” Jawabnya, sambil berbicara lagi melalui sambungan telepon.

“Madiun, kereta ini akan berhenti di Madiun.” Petugas kereta lain berseru.

“Tapi kan Madiun jauh banget, Pak.” Protes saya.

Pak Suryanto menurunkan teleponnya lagi “Mas, kalau turun Solo, bagaimana?” Ujarnya sambil memperhatikan catatan kecil di tangan kanannya. “Dari Solo banyak transportasi ke Semarang.”

“Iya, saya tahu kalau itu. Tapi apa bisa turun di Solo?”

“Ini sedang saya usahakan, Mas.” Dia melanjutkan lagi teleponnya, sebelum akhirnya tersenyum dan melirik saya yang jika tidak dalam situasi panik, mungkin saya sudah menyalahartikan lirikannya. “Mas, bisa turun Solo.” Ujarnya. “Sekarang siap-siap Mas.”

Saya lega.

“Lima puluh menit lagi sampai.” Tambah Pak Suryanto.

Lima puluh menit tersebut saya habiskan untuk berbincang dengan Pak Suryanto, dan dari dia saya mengetahui bahwa sebenarnya petugas sudah membangunkan semua penumpang yang turun di Semarang. Dan karena saya dikira teman si wanita berhijab –yang akan dibangunkan olehnya, tapi ternyata tidak– petugas pun melewati saya. Pak Suryanto sendiri, naik dari Semarang pada pergantian shift jaga malam itu. “Tadi sebenarnya berhenti lama lho, di Semarang.” Jelasnya. “Satu jam lebih.”

Saya dan kebiasaan tidur saya yang berlebihan.


“Mas, sebentar lagi sampai Solo.” Ucapnya beberapa saat kemudian, di atas kereta yang melambat. “Tapi sebelumnya, ini…” Dia mengeluarkan uang dari saku jasnya “…buat naik taksi. Seratus ribu.”

Saya menerima pemberiannya, setelah memastikan semuanya aman. Tak ada KPK, maupun intelejen Australia. “Ini sudah sampai stasiun Solo Jebres, Mas. Silakan.”

Sebelum turun, kami bersalaman. “Maaf ya, Mas. Atas kelalaian kami.” Ucapnya.

“Iya Pak, tidak apa-apa, kok.” Jawab saya, sambil memasukkan uang ke saku jaket sebelah kiri. “Emang ini harusnya berhenti di sini?” Tanya saya lagi.

“Enggak, Mas. Harusnya Madiun. Tapi tadi saya sudah bilang ke petugas stasiun untuk berhenti darurat.”

“Oh, ya sudah, makasih bantuannya, Pak.”

“Justru kami yang minta maaf karena lalai bangunin. Maklum tadi petugasnya orang baru.” Jelasnya.

Saya berpamitan, sebelum meloncat dari atas kereta yang telah berhenti. Kereta melanjutkan perjalanannya lagi ke stasiun berikutnya, dan saya keluar dari stasiun Jebres, tapi batal naik taksi. Dengan pertimbangan taksi akan memakan biaya 200.000 rupiah, saya memilih menggunakan becak, untuk diantarkan ke Terminal Tirtonadi. Langit Solo pukul tiga dini hari sehabis hujan, sangatlah cantik. Bulan purnama yang menyinari genangan air di aspal, berpadu dengan aroma tanah sehabis hujan. Dunia serasa milik berdua, hanya ada saya dan tukang becak.

A_O4kL_CUAAwS60.jpg-large

PO. Eka Cepat

Dari terminal, saya menggunakan bus bernama “Eka Cepat” yang dilengkapi AC dan Wi-Fi untuk pulang ke Ungaran. Dan dengan tarifnya yang hanya sebesar 20.000 rupiah, nasi bistik sapi semalam pun terbayar lunas, malah saya mendapatkan keuntungan dengan perhitungan sebagai berikut:

Uang saku            : 100.000

Nasi bistik sapi   : (35.000)

Becak                    : (15.000)

Bus                        : (20.000)

Net income          : 30.000

[Tip: Apabila ingin mendapatkan keuntungan dari naik kereta, kamu bisa meniru pengalaman saya tersebut.]

Pada saat cerita ini ditulis, kamu akan mengetahui bahwa saya adalah salah satu orang yang mendapatkan uang saku ketika naik kereta, dan bisa menghentikan kereta di stasiun di mana kereta tidak seharusnya berhenti. Sementara dunia akan mencatat Pak Suryanto sebagai pegawai PT. KAI yang baik dan bertanggung jawab.

Advertisements