Saya adalah pengguna setia kamera Fujifilm. Well, jika definisi setia menurut kamu adalah cinta sehidup semati sejak pandangan pertama, maka memang saya bukanlah yang seperti itu. Namun jika menurut kamu definisi setia adalah tidak berganti pasangan –dalam hal ini merek kamera– sejak menemukan yang tepat, maka kamu dapat menganggap saya sebagai orang yang setia. Maklum, Aquarius.

Sejak 2014, saya memang tidak berganti, atau lebih tepatnya belum tertarik untuk mencoba merek kamera lain karena telah meminang Fujifilm X-T1 sebagai kamera utama. Sebelumnya, saya sempat mencoba merek Nikon, Pentax, Samsung, dan Panasonic Lumix sebagai kamera utama, namun saat ini saya mentok di Fujifilm karena kenyamanan yang ditawarkan.

Setelah tiga tahun lebih menggunakan X-T1 yang saya namakan sebagai Fujita, saya belum mengalami kendala berarti kecuali matinya kamera karena suhu super dingin yang saya temui di Turki dan Rusia, sisanya semua baik-baik saja, –saya sangat menyukai performa kamera ini.

Review Nikon P-7000
Review Samsung NX Mini
Review Panasonic Lumix GF6
Review Fujifilm X-T1

Sekadar disclaimer, matinya kamera ketika suhu dingin bukanlah karena kamera ini lemah terhadap cuaca ekstrim –sebelumnya, kamera berfitur weather shielded ini sudah saya bawa ke mana-mana, termasuk main salju ketika Mamacation di China, dan semuanya aman, tanpa kendala. Sehingga menurut saya, penyebabnya mungkin karena faktor umur kamera dan pemakaian saya yang kurang apik sehingga muncul kendala seperti itu.

Untuk seorang travel blogger –yang lebih mengedepankan tulisan (dan masa depan) dibandingkan foto, saya merasa Fujifilm X-T1 ini sudah lebih dari cukup, hingga saya mencoba Fujifilm X-T2 pada perjalanan saya ke Afrika, eh, maksud saya Kenya dan Tanzania kemarin.

Sedikit Perubahan pada Body Kamera

Kesan pertama, biasa dimulai dari fisik. Bermula dari lirikan terhadap badan yang sintal, saya mulai meraba X-T2 pada pertemuan pertama kami. Kurang ajar memang, tapi saya harus melakukannya, supaya dapat mengenalinya lebih jauh.

Secara fisik, kamera terbitan 2016 ini tidak berbeda jauh dengan pendahulunya yang lahir dua tahun lebih awal, masih berwarna hitam pekat, dengan material magnesium alloy kokoh dengan weather seal yang mampu melindungi tubuhnya dari debu, percikan air, dan suhu hingga minus -10°C.

Kamera ini sedikit lebih berat dari pendahulunya, yaitu hadir dengan dimensi 133 x 92 x 49mm dan berat 507 gram dengan baterai dan SD Card di dalamnya, sementara X-T1 berdimensi 129 x 89.8 x 46.7mm dan berat 440 gram. Perbedaan berat ini bukanlah karena terlalu banyak makan ketika lebaran, namun bisa jadi karena dibenamkannya beberapa fitur pelengkap pada X-T2.

Yang paling mencolok di luar, tentu saja adalah adanya layar LCD yang sekarang bisa dilipat ke samping, eyecup yang lebih besar (walaupun lebih mudah kotor), perubahan pada dial ISO dan speed yang sekarang sudah dilengkapi ‘lock button’, dan hilangnya tombol ‘Record’ pada sudut kanan atas kamera. Ya, tombol yang biasa saya pakai untuk merekam video kini hilang.

Pada sisi kanan kamera, Fujifilm kini menyediakan dua buah slot untuk SD Card, cocok untuk kamu yang suka menyimpan banyak foto dan video, baik yang senonoh maupun tidak. Yang beda lagi adalah adanya socket 3.5mm untuk mikrofon eksternal (dari yang sebelumnya 2.5 mm) dan hadirnya USB 3.0 menggantikan USB 2.0 pada X-T1, semua demi kenyamanan dan kecepatan.

Karena ada perubahan dimensi kamera dari X-T1 ke X-T2, maka ada juga aksesoris kamera yang tidak dapat saya gunakan lagi, misalnya handgrip yang saya beli sejutaan beberapa tahun lalu. Untungnya grip pada X-T2 ini dibuat sedikit lebih menonjol daripada kakaknya, sehingga membuatnya semakin nyaman digenggam, seperti halnya punya kamu.

Hello Africa!

Perjumpaan saya (bersama dengan Adis dan Nugie) dengan Afrika diawali dengan sedikit drama Visa Kenya yang baru didapatkan di bandara Jomo Kenyatta International Airport padahal saya sudah mengajukan e-visa beberapa hari sebelum keberangkatan. Namun tak mengapa, yang penting bisa masuk ke Afrika untuk pertama kalinya, karena setelah melakukan perjalanan ke Afrika ini, pengalaman jalan-jalan saya ke Eropa Barat menjadi seperti tidak ada apa-apanya.

Dari bandara, kami menggunakan taksi, karena jemputan kampret yang kami pesan sebelumnya dari hotel tidak muncul. Setelah beberapa ratus meter dari bandara, saya baru mengetahui bahwa ternyata kami bisa menggunakan jasa Uber (walaupun tidak ada Go-Jek dan Grab) di Nairobi. Kampret.

Pada backpack yang saya letakkan di lantai taksi, saya mengeluarkan X-T2 dan menghidupkannya. Dibandingkan dengan X-T1, start-up time di X-T2 ini terasa lebih cepat sekian detik, lumayan juga kalau dibutuhkan cepat. Saya mulai mengarahkan kamera ke luar taksi dan memotret keadaan di sekitar. Seorang pria di dalam mobil boks mengacungkan jari tengahnya ketika mengetahui saya mengarahkan kamera kepadanya.

Saat itu, saya tak mengetahui bahwa di Afrika, kita tidak dapat bebasmembawa dan mengarahkan kamera ke manapun. Yang pertama adalah karena faktor kenyamanan objek, dan yang kedua adalah akibat faktor keamanan.

Sambil lalu, saya membidik beberapa objek yang saya lewati, dengan kamera yang dibekali sensor 24.3MP X-Trans CMOS III yang juga ada pada X-Pro2, meningkat dari X-T1 yang hanya memiliki sensor 16.3MP X-Trans CMOS II. Dengan kenaikan piksel yang sangat signifikan ini berarti foto yang dihasilkan akan semakin padat, dengan ukuran file yang tentunya akan semakin besar.

Tak masalah, karena membawa SD Card juga cukup mudah, sementara harga SD Card juga semakin murah, jadi tak perlu khawatir dengan ukuran file yang besar. Yang penting foto jadi tidak pecah kalau dicrop ke bagian kecilnya. Sama seperti dua foto di atas ini.

[DISCLAIMER: Review kamera ini disampaikan bukan dari sudut pandang seorang fotografer, melainkan dari seorang blogger yang kebetulan membawa kamera.]
Nairobi Kenya

Hal lain yang lebih terasa dari kamera ini adalah pengaturan otomatis Dynamic Range yang semakin meningkat daripada X-T1, yang membuat saya tidak perlu repot menyesuaikan highlight dan shadow secara manual, kecuali untuk beberapa kasus tertentu. Bukan, bukan kasus korupsi e-KTP yang saya maksud.

Kamera ini memiliki empat fitur metering, yaitu spot, centre-weighted, multi, and average dengan dial exposure compensation di sisi kanan atas kamera yang bisa diatur hingga -5 sampai +5 sehingga kamu dapat menyesuaikan cahaya yang kamu inginkan dalam foto yang akan kamu ambil.

Sedikit kebingungan saya alami ketika ingin mengecek hasil foto yang saya ambil sehubungan dengan dua buah SD Card yang saya gunakan. Ini bagaimana cara mengecek hasil foto yang ada pada SD Card A dan hasil foto yang ada pada SD Card B? 

Ah sudahlah, mari kita lanjut dengan…

Mencoba Lensa Fujinon XF 100-400 mm F4.5-5.6 R LM OIS WR di Nairobi National Park

Selain membawa Fujifilm X-T2, saya juga menyiapkan lensa Fujinon XF 100-400mm F4.5-5.6 R LM OIS WR untuk keperluan safari di Afrika, karena banyak sekali mahkluk-mahkluk cantik yang hanya bisa diamati dari jauh, dan tidak bisa diajak selfie bersama seperti halnya Bowo Alpenliebe.

Secara garis besar, lensa ini adalah sebuah lensa yang dikatakan sebagai ‘Super Telephoto Zoom Lens’ yang memiliki ekuivalen dengan 152-609mm pada kamera 35mm, atau secara awamnya, dikatakan lensa ini dapat memotret objek pada jarak yang sangat jauh sekalipun, walaupun tidak disarankan untuk memotret tetangga yang sedang mandi.

Secara teknis –yang saya tidak begitu paham bahasanya, lensa ini dikatakan memiliki “The high performance optical construction of 21 elements in 14 groups includes five ED lenses and one Super ED lens to help reduce chromatic aberration that often occurs in telephoto lenses. As a result, it delivers the highest image quality in its class.”

Apakah benar, lensa ini memiliki kualitas yang bagus? Maka biarkan foto-foto yang berbicara pada cerita safari di artikel ini.

Bukan, yang berikut ini bukan hasil foto lensa Fujinon XF 100-400mm F4.5-5.6 R LM OIS WR. Ini hanya contoh pose tertidur di mobil safari sambil tersenyum dengan memegang X-T2 dan lensanya yang hitam, keras, panjang, besar, dan tidak berurat.

Fujifilm X-T2

Well, walaupun terlihat sangat besar dan panjang, namun ternyata berat lensa ini kurang dari 1,4 kilogram –sehingga apabila digabung dengan X-T2 beratnya masih kurang dari dua kilogram, kombinasi yang saya rasa masih cukup nyaman untuk handheld shooting, atau memotret dengan tangan, tanpa bantuan alat seperti tripod dan monopod.

Untuk menambah kenyamanan, kamera ini juga dilengkapi image stabilization system yang menjaga kestabilan gambar, lalu ada juga linar motor yang berkolaborasi dengan autofocus yang cepat untuk memotret objek yang bergerak sangat cepat, seperti misalnya Lalu Mohammad Zohri yang baru saja merebut medali emas lari 100 meter pada Kejuaraan Dunia U-20 di Finlandia.

Dari faktor ketahanan, lensa ini dilengkapi fitur water and dust resistant, yang juga mampu bekerja baik di temperatur hingga -10°C. Bukan hanya itu, fluorine coating yang melapisinya juga dikatakan mampu melindungi lensa ini dari percikan air dan tebaran kotoran, walaupun tidak mampu melindungi lensa ini dari maling.

Semakin Terbiasa dengan X-T2 di Tarangire National Park

Dari Kenya, kami berpindah ke negara tetangganya, yaitu Tanzania, untuk melakukan hal yang biasa dilakukan juga oleh PNS dan pengguna MacBook, yaitu bersafari. Pada dasarnya, Afrika memiliki banyak sekali lokasi safari, dan Tanzania merupakan sebuah negara yang tepat untuk mendapatkan pengalaman safari tersebut.

Berhubung waktu cuti yang terbatas, saya hanya sempat mengikuti safari selama dua hari satu malam di Tanzania dengan destinasi utama Tarangire National Park dan Ngorongoro Crater. Satu hal yang sebaiknya tidak ditinggalkan ketika mengikuti safari adalah, kamera mumpuni yang dilengkapi lensa zoom jarak jauh. Seperti paduan X-T2 dan XF 100-400mm yang saya bawa ini.

Baca: Pengalaman safari di Ngorongoro Crater Tanzania

Yang saya suka dari X-T2 ini adalah adanya penambahan joystick kecil pada samping LCD yang memungkinkan saya untuk memindahkan titik fokus dengan cepat, sambil tetap membidik melalui viewfinder. Berikutnya, apabila kita berbicara tentang titik fokus, kamera ini mengalami perubahan yang sangat pesat dibandingkan X-T1, yaitu dengan bertambahnya titik fokus dari 49-point ke 91-point pada opsi ‘Zone’ yang dapat menjadi 325 titik pada opsi ‘Single Point’.

Sekitar 65% area pengambilan gambar pada kamera ini terkover dengan contrast-detect AF points sementara pada bagian pusat gambar kamera ini, sekitar 40%-nya terkover dengan phase-detect AF points, yang akan membantu kamera ini untuk memotret obyek yang bergerak. Fujifilm juga mengatakan telah memperbarui algoritma AF-C Tracking pada kamera ini untuk meningkatkan akurasi dalam memotret obyek bergerak, walaupun mungkin obyek akan diam ketika lagu dimatikan pada Kuis Dangdut.

Kesan yang didapat ketika sudah mulai menguasai X-T2 adalah kamera ini terasa lebih profesional (dipadukan dengan irama shutter sound yang empuk dan enak didengar) dan lebih cepat dibandingkan X-T1. Hal ini bukanlah tanpa alasan teknis, karena X-Processor Pro (yang juga dimiliki X-Pro2) yang ditanamkan pada X-T2 mampu meningkatkan performa autofocus menjadi hanya 0,06 detik, startup time of 0,3 detik, dan shutter lag hanya 0.045 detik.

Apabila X-T1 menawarkan shutter speed maksimal di 1/4000 detik untuk mechanical shutter, maka X-T2 memperbaruinya di angka 1/8000 detik, itu belum termasuk electronic shutter yang dapat mencapai kecepatan maksimal pada 1/32.000 detik. Sangat cepat dan sangat bermanfaat apabila intensitas cahaya terlampau tinggi.

Bajaj Tour di Arusha dengan Lensa 18-135mm

Di Arusha –kota transit untuk melakukan safari di Tanzania, kami tergiur dengan tawaran manis sopir bajaj yang membawa kami keliling kota dengan bajaj miliknya, dengan biaya hanya sekitar Rp20.000 per orang. “Oh, mungkin di sini ada gubernur baru, sehingga bajaj diizinkan beroperasi lagi.” Batin saya.

Dalam perjalanan ini, saya mengistirahatkan lensa XF 100-400mm dan hanya membawa lensa XF18-135mm F3.5-5.6 R LM OIS WR yang lebih praktis apabila digunakan di dalam kota, pada bajaj yang cukup sempit ketika ditumpangi oleh tiga orang berperut chubby seperti kami.

Perjalanan dengan bajaj siang itu cukup lancar, melewati tugu dan monumen di Arusha, kantor-kantor pemerintahan, pasar, terminal, tempat servis mobil dan motor (yang juga dijelaskan fungsinya oleh si sopir) hingga pada sebuah kesempatan si sopir memelankan laju bajaj-nya dan melintasi segerombolan orang Masai berbusana tradisional –dengan sarung yang menyelimuti tubuhnya.

Bajaj kami berhenti pada sebuah sudut, dan segerombolan Masai mendatangi kami sambil memasukkan tangannya ke dalam bajaj, menawarkan batu-batuan lokal yang kerap disebut sebagai Tanzanite. Dengan batu-batuan lokal yang datang dari kanan dan kiri bajaj, saya merasa bahwa sesaat saya berada di Pasar Akik Rawa Bening Jatinegara; namun warna kulit para penjual yang setengah memaksa, menyadarkan kami bahwa ini di Tanzania, ribuan kilo jauhnya dari Rawa Bening.

“Please buy this, Mister.” Ucap seorang pria dari sisi kanan bajaj, sambil membuka tangannya. Sementara di sisi kiri, pria lainnya berpromosi bahwa harganya lebih murah. Saya memegang X-T2 erat-erat dan berusaha menyembunyikannya di balik tas, sementara sopir bajaj kami tiba-tiba menjadi budek dan tidak mengacuhkan permintaan kami yang memohonnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.

A..pa..kah kami berhasil meninggalkan tempat itu dengan selamat? Baca ceritanya di Instagram saya.

Street Photography sambil Mengamati Kehidupan Lokal di Moshi

Salah satu cara paling efektif untuk mengamati kehidupan lokal di Afrika –sambil memotret keadaan sekitar, adalah dengan mengikuti walking tour yang tersedia, seperti misalnya yang saya ikuti di Moshi, kota terakhir yang kami kunjungi di Tanzania. Dengan mengikuti walking tour yang didampingi warga lokal, saya merasa lebih aman ketika berjalan sambil menenteng X-T2, dan mempergunakannya untuk memotret kehidupan setempat.

“This city is the entry point if you want to climb Kilimanjaro.” Ucap Aboubacar, guide kami yang memiliki kaki jenjang, setinggi ubun-ubun saya. Ya, Moshi merupakan kota terdekat dari Kilimanjaro, gunung tertinggi di Afrika, namun saya tidak sempat mendakinya, bukan karena lemah, namun karena waktu yang terbatas.

Saya pernah mengikuti walking tour di beberapa negara, dan di Afrika ini salah satu yang unik, karena lokasi-lokasi yang kami datangi adalah lokasi tempat warga beraktivitas sehari-hari seperti pasar dan taman, termasuk beristirahat sejenak untuk membeli rujak.

“This is fruit.” Aboubacar menjelaskan “You can taste mango, apple, pineapple, etc.”

YANG BEGINIAN JUGA ADA DI PASAR KEBAYORAN MALIHHHH!

Ketika mengikuti walking tour tersebut, saya hanya membawa satu lensa, yang juga merupakan salah satu lensa kesukaan saya saat ini, karena versatility-nya. Versatility di sini bukan berarti bahwa lensa ini bisa dipakai atas-bawah ataupun depan-belakang, namun lebih karena lensa XF18-135mm F3.5-5.6 R LM OIS WR mampu mengkover sebagian besar kebutuhan pemotretan yang ekuivalen di jarak lebar 27mm hingga telephoto di 206mm.

Ya walaupun ‘hanya’ memiliki aperture terbesar di F3.5, namun saya merasa bahwa lensa ini sudah cukup apabila digunakan pada siang hari dengan penerangan yang cukup. Semoga di kemudian hari saya memiliki rezeki untuk memboyong dan menjajal lensa XF16-55mm F2.8 R LM WR.

Dengan lensa XF18-135mm yang memiliki jangkauan luas dan dilapisi dengan fitur weather shield juga, saya seperti membawa beberapa lensa yang bisa digunakan pada bermacam situasi sekaligus, ya walaupun memang, lensa ini kurang tepat apabila dipakai saat malam hari, pada kondisi cahaya remang-remang dan terdengar suara lenguhan.

Kualitas Video yang Lebih Bagus Hadir di X-T2

Seperti yang sempat saya singgung di atas, salah satu penurunan atau penghilangan fitur pada X-T2 yang menurut saya sedikit mengganggu adalah dihilangkannya tombol ‘Record’ merah yang berguna untuk merekam video. Pada X-T2, kamu harus masuk ke mode ‘Movie’ dahulu, sebelum merekam video.

Iya itu saja, karena dikatakan bahwa X-T2 ini hadir sebagai jawaban Fujifilm atas kualitas video pada kamera-kamera X-series sebelumnya, yang memang tidak terlalu memuaskan, atau dapat dikatakan biasa saja. Fujifilm X-T2 hadir sebagai kamera Fuji X-series pertama yang bisa merekam video 4K UHD dengan resolusi 3840 x 2160p yang memungkinkanmu untuk merekam footage hingga 30fos dengan bit rate 100Mbps. Dengan catatan, sebelum hadir Fujifilm X-H1 yang memang dikhususkan untuk video.

Saya, sebagai pengguna video awam tentu saja tidak mengetahui apa maksud penjelasan teknis di atas; yang saya tahu ya kualitas video pada X-T2 ini lebih bagus daripada di X-T1, titik.

Sebuah kutipan yang saya ambil dari sini, mengatakan “The new processor and sensor of the X-T2 delivers better quality with more sharpness, less aliasing and moiré in 1080p as well. (While) The X-T1 is part of the older generation as far as video is concerned. Noise at high ISOs is more visible and the footage isn’t as sharp or crisp as the X-T2.”.

Kira-kira seperti itulah kata seorang profesional tentang X-T2, yang diharapkan dapat melengkapi artikel awam mengenai Fujifilm X-T2. Sebuah kamera keren, yang makin membuat saya berharap banyak akan Fujifilm X-T3 yang konon hadir pada tahun ini. Semoga pada banyak perubahan pada X-T3, ya paling tidak tombol ‘Record’ dapat dimunculkan kembali, lalu videonya bisa sebagus Fujifilm X-H1, dan juga memiliki layar LCD yang bisa dilipat fleksibel seperti Fujifilm X-T100, sehingga membantu saya apabila ingin nge-vlog seperti Menpora Malaysia Syed Saddiq ketika bertemu Presiden Jokowi, kemarin.

Bukan begitu, guys?

Advertisements