backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Sigofi Ngolo, Ritual Bersih Laut a la Jailolo

arievrahman

Posted on September 26, 2014

Saya menggapai ponsel yang terletak di lantai dan mematikan alarm yang berbunyi nyaring. Sudah pukul 05:30 pagi, yang berarti setengah jam sebelum Sigofi Ngolo dijadwalkan berlangsung. Bergegas saya menuju kamar mandi, meninggalkan Mas Yudas yang masih terlelap di ranjang yang sama akibat pertempuran semalam, sementara rintik hujan masih terdengar garang dari luar homestay yang kami tempati.

Setelah siap, saya menuju teras homestay, menunggu bus yang biasa digunakan untuk menjemput tim media Festival Teluk Jailolo. Langit masih gelap, dengan gerimis yang tak kunjung reda. “Belum ada kabar.” Ujar salah satu rekan media lain yang tinggal satu atap bersama saya tanpa ikatan pernikahan.

“Jadi kita menunggu kabar nih?” Sahut saya sebelum kembali ke kamar. Entah mengapa, paduan hawa dingin dan hujan pagi hari, selalu membuat kasur menjadi lebih cantik dari biasanya. Dan saya merebahkan badan, berniat hanya meluruskan punggung yang penat setelah peristiwa mengejar sunset yang gagal hari kemarin, dan hasilnya saya sukses, tertidur pulas.

Pukul 07:30, saya terbangun. Dengan pendangan yang masih kabur, saya meraba-raba sekitar, dan menemukan Mas Yudas yang sama-sama tertidur. Sial, jangan-jangan kita berdua sama-sama sudah ditinggal bus. Kembali dengan tergesa saya menuju teras, kali ini hujan sudah berhenti, menyisakan tanah yang basah. Namun sepertinya tak ada waktu untuk menikmati aromanya.

“Acaranya diundur, Mas.” Celetuk rekan media yang duduk di ruang tamu. “Ini kita lagi nunggu bus.”.

Oh, syukurlah. Ternyata late birds still get the worms.

Persiapan Sigofi Ngolo

Kora-kora Sigofi Ngolo

Belasan perahu yang telah dihias, atau yang dalam bahasa setempat disebut sebagai kora-kora, sudah bersiap berangkat ketika saya dan rombongan media Festival Teluk Jailolo tiba di lokasi keberangkatan Sigofi Ngolo. Berdasarkan informasi yang saya kutip dari sini, kora-kora tersebut berasal dari daerah-daerah yang mengakui kedaulatan Kesultanan Jailolo. Menurut kepala Dinas Pariwisata Halmahera Barat Fenny Kita, pada zaman dahulu saat Raja Jailolo meninggal, daerah-daerah yang dahulu menjadi kekuasaan Kesultanan Jailolo menjadi pecah. Namun, setelah Sultan Jailolo kembali kedatuannya pada tahun 2003, daerah-daerah yang dahulu memisah, kembali bergabung secara adat.

Terlihat juga penduduk setempat yang tampak antusias mengikuti festival ini dengan pakaian adatnya. Namun tak berapa lama, hujan turun lagi.

“Ini hujan baru akan berhenti kalau Sultan datang.” Celetuk salah seorang warga lokal kepada saya, yang sibuk bersembunyi di balik jas hujan. Oke, kemarin hujan berhenti setelah merebus batu, dan sekarang katanya hujan akan berhenti jika Sang Sultan datang. Baiklah.

Categories: Domestic, Maluku Utara

Tagged: Festival Teluk Jailolo, Jailolo, Pulau Babua, Sigofi Ngolo, Sultan Jailolo

32 Comments

+Read more

Sebulan Bersama Fujifilm X-T1

arievrahman

Posted on September 7, 2014

Sebulan yang lalu, saya bukanlah siapa-siapa. Saya bukan artis yang kabar perceraiannya selalu dinanti, bukan pula pujangga yang pandai merangkai kata. Saya hanyalah seseorang yang kebetulan suka jalan-jalan, dan sedang ada rezeki untuk mengajak kencan si seksi Fujifilm X-T1 (selanjutnya akan disebut sebagai X-T1). Sebelumnya, saya pernah menggunakan Nikon P-7000, Pentax Q-10 (hasil fotonya dapat dilihat di sini), juga Panasonic Lumix GF6 sebagai kamera utama.

Bukan, bukan saya tak setia, atau karena saya terlalu baik. Namun saya merasa bahwa ini waktu yang tepat untuk naik kelas, setelah berkutat dengan kamera selama beberapa tahun, ini saatnya saya melakukan sesuatu yang lebih serius.

Pada paket pembeliannya yang terlihat sangat classy, X-T1 hadir dengan lensa kit 18-55mm dengan diafragma (F) 2.8, sebuah hal yang cukup keren untuk ukuran lensa kit. Kesan pertama yang saya dapatkan setelah melihat, meraba, dan menerawang kamera ini adalah it’s big, black, and complicated. Bagaimana tidak? Alih-alih memiliki mode Manual, Aperture Priority, Shooting Priority, Program, maupun Auto sebagaimana kamera sebelumnya, X-T1 malah menyematkan dial-dial rumit yang belum pernah saya gagahi sebelumnya.

Dalam waktu sebulan menjamah X-T1, saya mulai merasakan perubahan pada diri saya (bukan, bukan perubahan yang ditandai dengan jakun membesar, suara parau, atau tumbuhnya bulu dada, kok), melalui beberapa peristiwa-peristiwa berikut.

Kencan Pertama pada Museum di Tengah Kebun

Sehari setelah mendapatkan X-T1, dengan undangan dari Yuli, saya langsung mengajaknya kencan bersama pacar ke Museum di Tengah Kebun yang terletak di Jalan Kemang Timur 66 Jakarta Selatan. Di Jakarta, mungkin tidak banyak yang tahu keberadaan museum ini, karena plangnya yang cukup kecil, dan terletak di dalam sebuah rumah. Namun, siapa sangka bahwa museum yang menempati lahan seluas 4.200 m² (terdiri dari kebun seluas 3.500 m² dan bangunan seluas 700 m²) ini, memiliki koleksi ribuan barang-barang fantastis?

Semua bermula pada tahun 1976, ketika seorang bisnisman nyentrik di bidang periklanan, Syafril Djalil yang menyukai sejarah ingin memiliki rumah dengan halaman yang luas sebagai tempat tinggal sekaligus untuk menyimpan barang-barang yang ditemukannya dalam 26 kali perjalanannya mengelilingi bumi. Dan itulah awal mula terbentuknya museum ini, kata Mirza Djalil, keponakan sekaligus pengelola museum ini.

Teman saya, Alex –yang juga pengguna Fujifilm, menyarankan untuk mengeset Film Simulation X-T1 pada mode Velvia (vivid) “Pakai ini deh, lu gak bakalan menyesal.” Ujarnya. Dan saya pun mengikutinya dengan sedikit utak-utik dial –guna mengeset aperture, shutter speed, dan ISO–, walaupun dalam hati saya sedikit menyesal karena merasa bahwa hasil foto pada mode Velvia terlalu vibrant dan mencolok mata.

Museum di Tengah Kebun
Plang Museum di Tengah Kebun.
Pengunjung Museum di Tengah Kebun.
Satu grup pengunjung Museum di Tengah Kebun.
Koleksi museum di tengah kebun
Beberapa barang koleksi Museum di Tengah Kebun.
Landscape of Museum di Tengah Kebun

Museum di Tengah Kebun

Sekadar informasi, untuk memasuki museum ini tidak bisa sembarang waktu, karena museum hanya buka hari Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu dengan dua kloter kunjungan yaitu 09.45 – 12.00 dan 12.45 – 14.30. Untuk reservasi berkunjung Museum di Tengah Kebun, kamu dapat menghubungi: 021-7196907 / 0877-8238-7666. Informasi dan cerita lain, dapat dibaca di blog Satya Winnie.

Wah, Foto Kamu Bagus!

Categories: Domestic, Events, Survival Kit

Tagged: 17 Agustus, Fujifilm XT1, Fujinon XF 35mm, Gathot Subroto, Museum di Tengah Kebun, Pulau Bidadari, TravelSale, Umbul Sidomukti

54 Comments

+Read more

Visa Amerika
Visa Amerika Serikat

Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika

arievrahman

Posted on August 31, 2014

Wanita berseragam itu meletakkan traffic cone tepat di depan saya, sementara sebelah tangannya menghadang supaya saya tidak melangkah lagi. “Tunggu dulu.” Pintanya. Beberapa saat kemudian, petugas berseragam lainnya maju dan menanyakan kelengkapan dokumen yang saya bawa. Saya menunjukkan dokumen-dokumen yang saya bawa di dalam map padanya, dan dia mengangguk.

“Bawa laptop?” Tanyanya lagi. Kali ini giliran saya yang mengangguk. “Laptopnya, dimasukkan ke dalam tas. Handphone dimatikan, dan dimasukkan juga ke dalam tas. Nanti semuanya dititipkan di pintu masuk.”

“Siap!” Jawab saya. Tak berapa lama, traffic cone tersebut dipindahkan, dan si wanita berseragam sebelumnya mempersilakan saya untuk maju.

“Langsung masuk lewat pintu itu ya.” Ucapnya dengan senyum. Setelah mengantre selama setengah jam, saya meraih tuas pintu di hadapan saya dengan semangat, tuas pintu yang akan membawa saya masuk ke dalam Kedutaan Besar Amerika Serikat.


Mengurus Visa non-imigran Amerika Serikat (selanjutnya akan disebut sebagai Visa Amerika), mungkin adalah sebuah proses mengurus visa terpanjang yang pernah saya lakukan. Dari segi biaya, biayanya jauh lebih mahal daripada Visa Jepang. Dari sisi waktu, pengurusannya lebih lama daripada Visa India. Sementara dari faktor kepraktisan, Visa Amerika membutuhkan proses yang lebih berliku dibandingkan mengurus Visa Myanmar yang dapat diwakilkan.

Walaupun terdengar susah, namun bukan berarti Visa Amerika mustahil didapatkan, karena berdasarkan data yang saya peroleh di sini, 90% warganegara Indonesia memenuhi syarat untuk mendapatkan visa non-imigran. Sebuah fakta yang makin menguatkan pendapat saya bahwa, apabila kamu melakukan langkah-langkah yang tepat, maka Visa Amerika bisa kamu dapatkan.

Categories: Survival Kit, United States of America, Visa, Visa Amerika

Tagged: Amerika Serikat, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Visa Amerika

584 Comments

+Read more

Tiga Perjalanan yang Mengubah Hidup

arievrahman

Posted on August 24, 2014

Perjalanan, bukanlah sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Perjalanan, adalah rangkaian peristiwa yang membawa kita bertemu dengan sisi lain dari diri kita sesungguhnya, yang muncul ketika berbenturan dengan situasi yang dialami. Lebih dalam lagi, perjalanan, adalah proses pendewasaan, di mana seorang manusia akan ditempa dengan tantangan yang ditemui selama berjalan, yang akan mengubah hidupnya menjadi lebih berarti.

Bagi saya, setidaknya ada tiga peristiwa perjalanan yang telah mengubah hidup saya. Bukan, bukan peristiwa membersihkan karang gigi singa di Tanzania, memanen kopi di Sao Paulo, maupun mandi beramai-ramai di Jepang, melainkan:

1. Perjalanan Pertama ke Luar Negeri

Semuanya berawal karena patah hati akibat wanita pujaan justru memilih bersama dengan pria lain, yang lebih mapan dan lebih tampan. Saya yang dalam kondisi terpuruk dan ingin mengiris nadi dengan berlian (namun gagal, karena tidak mampu membeli sebongkah berlian), langsung mengekor kawan saya yang baru saja mengurus paspor perdananya. Tak tanggung-tanggung, saya langsung mengurus paspor ke calo, yang selesai dalam waktu satu hari kerja, kemudian membeli tiket untuk keberangkatan dua minggu lagi.

Tujuannya, Singapura. Mana lagi?

Itulah perjalanan ke luar negeri perdana saya, bersama seorang kawan yang juga baru pertama kali. Sebut saja namanya Ainul. Itulah kali pertama kami merasakan menginap di hostel, berinteraksi dengan penduduk asing, dan juga berjalan kaki belasan kilometer, yang tentu saja tidak mungkin kami lakukan di Jakarta.

Ketika di Sentosa Island, Ainul meminta tolong kepada seorang turis untuk memfoto kami berdua di depan patung Merlion raksasa “Mister, would you mind to take our photo?” Pintanya, yang dibalas dengan anggukan. Sesaat setelah pria tersebut mengambil gambar, Ainul pun berterima kasih dengan “Thank you ya, Mister.” sebelum kemudian mendengar si mister berbicara dengan Bahasa Jawa kepada temannya. Jauh-jauh ke Singapura, ternyata Orang Indonesia juga. Culture Shock.

Perjalanan pertama di tahun 2010, tidak membuat kami kapok, justru ketika mendapat tiket murah Air Asia pada tahun berikutnya, kami makin semangat. Hasilnya, kami berhasil mengunjungi Malaysia dan Macau di tahun-tahun berikutnya. Tentu saja dengan Air Asia.

Putrajaya

Saya dan Ainul, di Putrajaya, Malaysia. Bukan di Abbey Road, kok.

Perjalanan pertama yang mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan, bahwa dunia bukanlah sekadar kubikel kantor, melainkan sebuah permainan Jumanji yang harus ditaklukkan.

2. Lika-liku Mengumpulkan Kepingan Kenangan Papa

Categories: Events, Japan, Mamacation, Uncategorized

Tagged: Air Asia, kepingan kenangan, Mamacation, pertama ke luar negeri

117 Comments

+Read more

Mamacation: Mereka yang Kami Temui di Brunei

arievrahman

Posted on August 14, 2014

Setelah kurang lebih enam jam terombang-ambing dalam feri –termasuk transit di Pulau Labuan guna menjalani pengecekan imigrasi, tibalah kami di Dermaga Serasa. Di sini, seharusnya kami masih harus menjalani proses imigrasi kedatangan di Brunei Darussalam. Namun apa yang kami (maksud saya Mama) lakukan adalah, berfoto (saya yang memfoto) dahulu setelah turun dari feri, menuju imigrasi, dan kemudian berfoto kembali di bawah plang “Welcome to Brunei”.

Salah seorang kawan saya, Eki si Backpacker Batak, pernah mengatakan bahwa “Begitu turun feri, langsung lah kau cari itu busnya yang ke kota.” yang saya timpali dengan nada setuju “Jangan sampai telat kau, itu busnya cuma ada sekali.”

Bodat!

Saking asyiknya foto-foto (bergantian, Mama yang memfoto saya), satu-satunya bus yang terlihat dari pintu keluar dermaga pun sudah berjalan tanpa dosa, meninggalkan kami yang berjalan dalam slow motion. Tak adegan sinetron, di mana kami harus berteriak sambil menangis, “Kamu tega Mas Bram, meninggalkan anak dan istrimu di sini!”, yang ada hanyalah penyesalan, mengapa kami lebih memilih foto-foto berdua, dibanding mengajak petugas imigrasi untuk foto bersama.

Dan di saat itulah muncul seorang lelaki berwajah sangar.

Mister X si Pengemudi Taksi Gelap

“Taksi?” Seorang pria mendekati kami. Tubuhnya tidak tinggi –sedikit lebih pendek dari saya dan lebih gempal, perutnya buncit, dengan beberapa kancing kemeja bagian atasnya dibiarkan terbuka. Sedikit bulu dada menyembul dari sela-sela kaus dalamnya, memperkuat kesan sangar yang muncul dari kulit gelap dan codet di pipinya. “Ke kota.” Tambahnya lagi.

Saya memalingkan muka, pura-pura tidak mendengar, padahal takut. Bagaimana jika dia bukan orang baik-baik, kan jadi tidak bisa ditolak dengan kalimat “Maaf, kamu terlalu baik buat aku, Mas.”.

“Sudah tak ada bus ke kota.” Jelasnya dengan logat Melayu yang kental. “Yang tadi itu bus terakhir.”.

Kami tak mengacuhkannya, dan sambil berdiskusi dalam bisikan, Mama menyarankan supaya saya bertanya ke petugas dermaga mengenai cara lain ke kota, Bandar Seri Begawan.

“Naik bus.” Jawab si petugas tegas. “Tapi sudah tidak ada lagi.”

“Lalu, ada lagi kapan?” Cerocos saya, tanpa mempedulikan Mister X yang menguntit kami terus.

“Dua jam lagi.”

Bodat!

“Jadi gimana, mau pakai taksi?” Goda Mister X, dengan suara gemulai, mirip Mongol si stand-up comedian.

Categories: Brunei Darussalam, Culinary, Foreign, Mamacation, Transportation

Tagged: Bandar Seri Begawan, Brunei, Dermaga Serasa, Istana Nurul Iman, Kampung Ayer, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin, Soto Brunei, Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah

47 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Panduan Lengkap Mengurus Sendiri Visa Turis Australia
  • 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang

Archives

Blog Stats

  • 5,485,786 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...