Jakarta, Desember 2010

Dua orang pemuda tanggung (gantengnya, bukan ukurannya. -red) berjalan santai memasuki riuhnya ITC Fatmawati, mereka mencari sebuah toko kamera yang saat itu cukup terkenal secara on-line yang bernama Tokocamzone. Salah seorang pemuda itu, sebut saja saya (sementara pemuda lainnya, sebut saja figuran 1. -red) sedang mencari sebuah kamera yang bisa memuaskan hasrat duniawinya akan fotografi. Kriterianya jelas, yang bisa memotret di berbagai suasana, hasil fotonya bagus dan tajam, bodinya kuat dan ringkas, serta penampilannya keren.

“Ini saja, Mas.” Kata seorang pria berlogat Jawa medok penjaga Tokocamzone, kepada saya sambil mengeluarkan dua buah pilihan kamera dari etalase. “Kalau ndak Canon G12 ya Nikon P-7000.”

Apik sing endi, Mas?” Jawab saya, tak kalah medok-nya. “Bentuk dan bodinya hampir sama. Terus bedanya apa?”

“Yang satu Canon, satunya Nikon.” Ujar si penjaga yang disambut suara jangkrik di kolong etalase.

Krik krik.

“Aku serius, Mas.”

“Iya aku juga serius, Dik. Apa perlu aku kenalkan kepada kedua orang tuaku?”

Krik krik.

“Secara overall hampir sama fiturnya.” Pria penjaga toko tersebut menjelaskan yang sekaligus membuyarkan lamunan saya seketika.  “Cuma bedanya kalau Canon ada LCD yang bisa diputar-putar jadi lebih mudah kalau mau mengambil sudut foto, sementara Nikon lebih panjang zoom-nya jadi bisa lebih puas kalau nge-zoom cewek dari jauh.”

“Oke Mas, saya ambil yang Nikon!”

“…”

nikon-p7000-e1

Penampakan Nikon P-7000 (gambar diambil dari internet)

Dan itulah awal mula kehadiran Nikon P-7000, yang kemudian secara sophisticated saya namakan dengan “Peju” yang merupakan singkatan dari P-7000. Pengucapan Peju sendiri adalah “Pe” bukan seperti pada “petualangan” atau pada “perjalanan” melainkan seperti “Pe” pada “Jupe” atau pada “Julia Perez.”


Penang, Januari 2011

“Jadi mau bawa kamera siapa nih? Biar gak repot di sana nanti.” Tukas figuran 2 kepada saya, sehari sebelum kami bertolak ke Penang untuk berlibur. “Kameramu, atau kameraku?”

“Kameraku aja bro, ini ada manual mode-nya, banyak setting-nya, bisa panorama, dan bisa … nge-zoom cewek dari jauh.”

“…”

DSCN0830

Peju goes to Penang

Hari hampir gelap, ketika kami sampai di halaman Masjid Kapitan Keling. Saya memandang ke layar Peju, mengingat banyaknya peristiwa yang telah kami abadikan hari itu. Indikator baterai pun berkedip di layar, menandakan bahwa baterai sudah mau habis. Saya menekan tombol shutter setengah, mengunci fokus pada kubah masjid tersebut. Dan … KLIK!

Baterai habis, sehingga terpaksa Peju harus beristirahat di hari itu.

Penang, di awal tahun 2011 adalah saat pertama kali Peju bertualang ke luar negeri. Dan dari hasil pembicaraan saya dengan Peju, dia mengaku sangat deg-deg-an waktu pertama kali keluar Indonesia, maklum dia pergi bersama orang yang baru dikenalnya, dan saat itu dia pergi tanpa membawa paspor.


Mui Ne, Juni 2011

IMG-20110722-00313

Saya dan Peju di Mui Ne

Angin meniup lautan pasir di gurun pasir merah Mui Ne dengan kencangnya. Saat itu saya sedang memotret figuran 3, 4, dan 5 dengan berlatar belakang gurun pasir yang luas berpadu dengan awan mendung yang bergelayut manja di langit Vietnam.

“Broh, angin broh!” Teriak figuran 3, 4, dan 5 hampir bersamaan.

Terlambat, saya tidak sempat menyadari bahwa beberapa puluh butir pasir masuk dengan ganasnya ke arah lensa Peju, menembus pertahanannya dengan brutal.

Saya reflek membalik tubuh Peju, memeluknya erat, berusaha melindungi dirinya yang masih polos dari terpaan pasir dan angin yang bertiup nakal.

Setelah angin berhenti bertiup, saya menengadahkan peju ke atas, dan mendapati bahwa lens cover Peju tidak berfungsi sebagaimana mestinya, tak mau terbuka dengan lancar, dan memerlukan bantuan tangan untuk membuka lensanya secara maksimal.

Hujan mulai turun, dan saat Peju masih telentang ke atas, sebulir air menetes membasahi lensanya, entah karena hujan atau air mata.

 

Bromo, Agustus 2011

Setelah menggeliat dengan indahnya pagi tadi, kini matahari muncul tanpa malu-malu lagi, teriknya memanggang Bromo yang masih tampak tandus setelah beberapa kali erupsi. Masih puluhan anak tangga pasir lagi yang harus saya daki untuk mencapai puncak Bromo, dan Peju pun saya arahkan ke atas untuk membidik keriuhan hari itu.

KLIK! KLIK! KLIK!

Beberapa keringat mulai mengucur mulus karena panas matahari yang semakin menyengat, dan ketika saya mengarahkan kembali lensa Peju, tiba-tiba …

WHUUSSSHHH!

Angin bertiup kencang dari atas, dan membawa masuk sekawanan pasir yang berwarna hitam dan berkulit kasar ke dalam lensa Peju. Spontan, saya tak dapat melakukan apa-apa untuk melindunginya. Hari itu Peju kembali ternoda.

Saya mengangkat Peju, melihatnya diam tak bergerak, sementara pada LCD-nya tertulis “Lens Error”.

Panik, saya melakukan apapun yang saya bisa, seperti menekan tombol On/Off, mencabut baterai, hingga melakukan CPR walaupun saya tak yakin itu lubang bibir atau pantat Peju.

Namun, semua tindakan PPPK saya tak berhasil, Peju tetap diam tak bergerak. Maklum, namanya juga benda mati, bukan mahkluk hidup.

“Sudah didiamkan dulu, nanti coba diangin-anginkan di hotel siapa tahu nanti bisa lagi.” Ucap sebuah suara di samping saya, yang kemudian saya sadar bahwa ada Mama di situ, bukan figuran 6.

Ajaib, setelah diangin-anginkan di hotel di bawah kipas angin, Peju pun kembali hidup dan ceria kembali.

337868_2391003136759_3546796_o

Hasil jepretan panorama Peju

 

Ayutthaya, September 2011

Kereta malam yang membawa saya bersama figuran 3 akhirnya tiba di Ayutthaya pagi hari itu, dan tak terasa sudah lebih dari sepuluh jam perjalanan yang dingin sejak kami meninggalkan Chiang Mai yang selalu dilanda hujan. Di luar stasiun telah berjejer para supir tuk-tuk yang menawarkan jasanya, dan setelah berdiskusi sejenak akhirnya kami memutuskan menggunakan jasa salah seorang supir yang mengenakan seragam Liverpool.

Why? Because we don’t wanna walk alone.

Sesuai perjanjian, supir tersebut akan membawa kami berkeliling Ayutthaya untuk mengunjungi beberapa objek wisata yang menarik sebelum bertolak menuju Bangkok sore harinya.

Objek pertama, situasi aman terkendali. Langit mendung.

Objek kedua, selama lima menit pertama aman. Dan berikutnya hujan turun, membasahi tubuh polos Peju. Dia terdengar menggigil, mengeluarkan dengkuran dari arah slot baterai, lalu mati. Saya mengeluarkan baterai dan memory card dari slotnya masing-masing, meniupkan kehangatan ke Peju, berharap akan datang keajaiban. Namun sia-sia, Peju tetap tak berkutik.

Objek ketiga, saya memasukkan kembali baterai dan memory card Peju. Namun keajaiban belum datang, dan saya pun frustasi. Bagaimana mungkin kamera utama bisa tak berfungsi ketika sampai di objek utama Ayutthaya, yaitu Wat Mahathat yang memiliki patung kepala Buddha yang tertanam dalam akar pohon selama ratusan tahun. Pasrah, akhirnya saya menggunakan telepon genggam untuk mengabadikan objek tersebut.

IMG-20110916-00678

Saya dan Peju di Ayutthaya (gambar diambil dengan Blackberry Torch)

Objek keempat dan seterusnya, Peju tetap membisu.

Setibanya di Bangkok, Peju berfungsi kembali secara normal layaknya pria dewasa tanpa disfungsi ereksi.

Huft.

 

Jakarta, November 2011

Seorang pemuda tanggung berjalan sedikit canggung memasuki ramainya ITC Fatmawati tanpa seorang figuran pun, matanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari di mana letaknya Tokocamzone. Setelah melirik beberapa SPG handphone dan SPG racun tikus, saya akhirnya menemukan lokasi baru Tokocamzone yang ternyata pindah beberapa ubin dari lokasi lamanya.

“Mas, saya mau servis kamera saya.” Ucap saya tanpa basa-basi, mengawali jumpa kami sore itu.

“Coba keluarkan barangnya.” Sambut seorang pria pelayan Tokocamzone.

“Yakin di sini, Mas? Banyak orang loh.” Saya tersipu malu.

“Ya udah di atas saja.” Pria itu menunjuk tangga di sudut ruangan. “Di sana tempat servisnya.”

Saya pun menuju tempat servis yang ditunjukkan, dan menjelaskan maksud kedatangan saya ke situ adalah untuk servis kamera, bukan untuk meminang anak wanita si pemilik toko.

“Rusak apanya, Mas?”

“Ini kadang-kadang dia mati sendiri. Terus tutup lensanya macet, gak bisa terbuka seluruhnya. Lalu, dia sering panas.”

“Coba nyalakan.”

Saya pun menuruti instruksinya, dan menghidupkan Peju.

“Mana? Kok gak kelihatan rusak.”

“Anu, ya emang bisa, tapi kadang-kadang rusak, Mas.”

“Err …”

*hening*

“Ya sudah tinggal di sini saja, nanti dihubungi lagi kalau sudah jadi kameranya.”

Dua minggu berselang, tak ada kabar dari Mas-mas servis kamera, pun dengan para figuran. Lalu saya memberanikan diri untuk menelepon Tokocamzone. Jawaban yang saya dapat mengatakan, bahwa Peju belum siap dijemput dan mereka berjanji akan segera menghubungi saya begitu Peju sembuh.

Tiga minggu berselang, dan sebuah panggilan masuk dari Tokocamzone, mengatakan bahwa Peju sudah selesai diservis dan siap untuk diambil.

Sorenya, dengan langkah riang saya pun datang lagi ke Tokocamzone untuk menjemput Peju. Dan setelah saya cek, sepertinya tak ada perubahan apa-apa secara fisik dan psikis pada Peju.

Ah sudahlah, mungkin memang tak terlalu kelihatan perbaikan yang dilakukan. Yang penting sudah bisa dipakai lagi, karena saya berencana akan mengunjungi Macau pada bulan depan bersama Peju dan para figuran lainnya.


Bersambung

Advertisements