backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Gerbang Tol Salatiga

Panduan Mudik Jalur Darat Pulau Jawa 2018

arievrahman

Posted on June 14, 2018

Sebagai seorang anak yang tinggal di Ungaran dan dibesarkan oleh orang tua berdarah campuran Cirebon – Pati, saya sudah terbiasa mudik dengan menggunakan jalur darat sedari dulu. Ketika saya kecil, Papa dan Mama biasa menentukan jadwal mudik tahunan dengan cermat, misalkan tahun ini lebaran di Pati, tahun depannya Cirebon, tahun depannya lagi Pati, dan seterusnya.

Berhubung Ungaran terletak di tengah-tengah antara Cirebon dan Pati, maka kami dihadapkan oleh sebuah pilihan, untuk memilih mudik ke Cirebon atau Pati, walaupun pada suatu kesempatan, kami pernah juga mudik ke dua kota tersebut dalam satu rangkaian perjalanan yang melelahkan.

Pada masa-masa susah karena kami bukanlah keluarga Bakrie, kami mudik dengan menggunakan bus antar kota, yang menyebabkan saya terkena paru-paru basah dan kerep bengek. Barulah di pertengahan tahun 90-an, Papa mampu membeli mobil pertamanya, sebuah sedan, Honda Accord tahun 1979, seharga 8,5 juta pada masa itu, yang kami gunakan untuk mudik ke Cirebon dan mendapat musibah wiper patah karena terkena hujan badai di Brebes.

Perjalanan hidup berlanjut ketika Mama mendapatkan fasilitas mobil kantor berupa Daihatsu Zebra Espass yang waktu itu sempat kami gunakan juga untuk mudik, dan mogok di Batang karena delco atau distributor pengapiannya terciprat genangan air. Sungguhlah susah pada masa-masa itu. Baru setelah saya mulai bekerja di jakarta dan keluarga kami mulai menikmati hidup, dengan mempunyai Daihatsu Xenia yang menjadi mobil sejuta umat, Papa dipanggil Yang Kuasa.

Lebaran 2016

Lebaran di Pati (2016)

Selain kendala teknis yang kami jumpai semasa mudik tersebut, ada juga kendala non teknis yang disebabkan faktor eksternal yang tidak dapat dihindari, yaitu kemacetan. Perjalanan Ungaran – Cirebon yang biasa ditempuh selama 5 jam pernah menjadi 12 jam akibat macet di Jalur Pantai Utara, yang terkenal dengan goyangannya.

Categories: Events, Survival Kit

Tagged: Jalan Tol, JasaMarga, Jawa, mudik

35 Comments

+Read more

Istana Cipanas

10 Fakta Menarik Istana Kepresidenan Cipanas

arievrahman

Posted on June 8, 2018

Ada beberapa macam undangan yang tidak akan saya tolak apabila menerimanya,seperti misalnya undangan untuk menghadiri pernikahan sahabat dekat, undangan jalan-jalan gratis ke Australia, Turki, dan Taiwan, undangan mengikuti pemilihan model foto terbaik tanah air yang tentu saja yang tidak pernah saya dapatkan, dan yang terakhir –dan baru saja saya dapatkan, adalah undangan untuk menginap di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat.

Undangan yang sedikit mengagetkan itu datang pada pertengahan April silam, dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) sebagai badan negara yang langsung mengelola istana negara tersebut. Sebagai seorang rakyat jelata dan bukan tergabung dalam Old Money maupun OKB, undangan menginap di istana itu tentu saja tidak akan saya lewatkan.

Ya walaupun, memang, menginapnya bukan langsung di dalam bangunan utama istananya, melainkan pada paviliun-paviliun yang terdapat di komplek istana. Tapi paling tidak saya sudah selangkah lebih dekat ke istana, begitu loh sobat misqueen.

Antasena Istana Cipanas
Antasena Istana Cipanas

Paviliun yang saya tempati bernama Antasena, sebuah rumah pondokan mungil yang dibangun tahun 1916, dengan tiga buah kamar tidur nyaman bernuansa tempo doeloe dan kamar mandi di dalamnya, sebuah ruang tengah dengan satu set sofa jadul, sebuah ruang makan yang muat untuk Keluarga Cemara, dan sebuah dapur. Sebagai pemanis paviliun, beberapa buah lukisan wanita bertelanjang dada juga dipasangkan di dindingnya. Alhamdulillah.

Untuk menambah kenyamanannya, Paviliun Antasena ini juga memiliki seorang pengurus (atau bahasa kerennya sih, personal butler) yang bertugas melayani dan memenuhi semua kebutuhan tamu undangan istana, dari mulai menyiapkan kamar, membersihkan ruangan, hingga menyajikan bandrek yang sangat nikmat!

Walaupun sepertinya terlihat old school, namun siapa sangka kalau Paviliun Antasena juga dilengkapi fasilitas Free Wi-Fi di dalamnya? Sayang, saya hanya memiliki kesempatan bermalam selama dua hari di sana, coba kalau dua tahun, mungkin saya sudah membuka Warnet.

Categories: Domestic, Events, Jawa Barat

Tagged: Cipanas, Istana, Istana Cipanas, Kepresidenan

40 Comments

+Read more

KBA Kupang

KBA Kupang dan Secercah Harapan di Timur Indonesia

arievrahman

Posted on May 22, 2018

Sebutir buah pinang berwarna hijau sudah berada di tangan kiri, sementara pada meja kecil di hadapan saya sudah terdapat beberapa batang sirih dan seplastik kapur. Di samping saya, terdapat Mas Bolang yang beberapa kali berbisik “Belum ke Nusa Tenggara Timur, kalau belum merasakan makan pinang.” Sebuah ucapan yang diamini oleh Mama Joseba yang sedari tadi asyik mengunyah pinangnya, sembari mencocolkan seruas batang sirih ke kapurnya.

“Mama bisa pusing kalau gak makan pinang sehari.” Imbuh Mama Joseba. “Ayo, dicoba saja.”

Mirip Icuk Sugiarto yang ragu-ragu, saya menempatkan buah pinang pada sudut mulut, mencoba memecahnya dengan gigitan gigi geraham hingga terdengar suara “PLETOK!” pertanda buah terbelah dan memunculkan biji pinang bergetah di tengahnya. Biji itulah yang harus saya kunyah, sebelum dicampur dengan batang sirih dan kapur.

KBA Kupang

Pinang, Kapur, dan Sirih

BLAH!

Asam rasanya. Batin saya ketika mengunyah biji pinang tersebut, tak terasa beberapa kali getahnya ikut tertelan, beberapa detik sebelum Mas Bolang mengingatkan. “Getah pertamanya jangan ditelan, nanti kamu bisa mabuk.” Sebuah peringatan yang diamini juga oleh Mama Joseba. “Maaf tadi aku lupa bilang.”

Asem tenan. Buru-buru saya membuang sisa getah yang sudah bercampur air liur di mulut, sambil tetap mengunyah. Mama Joseba, yang juga masih mengunyah, memberikan seruas batang sirih dan plastik kapurnya. “Ini dicampur saja. Tapi ambil sepotong saja sirihnya.”

Categories: Domestic, Events, GMT +8, Nusa Tenggara Timur

Tagged: ASTRA, KBA Kupang, Sonraen

26 Comments

+Read more

Nou Camp Barcelona

Jalan-jalan Terus, Duit dari Mana?

arievrahman

Posted on May 11, 2018

Pertanyaan menyebalkan yang kerap saya dapat dari netizen adalah “Kamu jalan-jalan terus, duitnya dari mana?” atau “Kerjanya di mana sih? Kok enak, jalan-jalan melulu.”. Inti dari kedua pertanyaan tersebut sama, netizen penasaran tentang dari mana saya mendapatkan penghasilan untuk membiayai kegiatan traveling saya. Padahal, menurut saya, perihal penghasilan ini adalah sebuah hal yang sifatnya personal dan tabu, kok bisa-bisanya ditanyakan juga?

Jouska sempat mengatakan bahwa zaman sekarang, perihal penghasilan adalah sebuah hal yang tabu untuk dibahas, bahkan lebih tabu daripada seks. But hey, am not gonna talking about sex either.

Entah apakah hal ini lazim ditanyakan di luar Indonesia, atau memang hanya terjadi di Indonesia ketika di mana pertanyaan kepo yang sifatnya personal ini dianggap adalah pertanyaan basa-basi yang bisa berguna untuk mencairkan suasana. “Sudah menikah?” “Anaknya berapa?” “Umurnya berapa?” “Kenapa badannya gemuk?” “Kok lehernya ada merah-merahnya?” mungkin terdengar pertanyaan sepele, namun bagi yang menerima –apalagi menerimanya berulang-ulang, bisa saja itu menjadi hal yang sangat menyebalkan. Sama seperti mantan kamu, atau orang-orang yang minta folbek di Instagram pada tahun 2018.

Mungkin karena saya travel blogger yang terlihat jalan-jalan terus, maka pertanyaan paling sering saya dapatkan, tentu saja adalah “Duit dari mana?”. Berbeda misalnya apabila saya adalah bandar narkoba atau anggota ISIS, mungkin akan lain pertanyaan yang saya dapatkan.

Baca: Hal-hal yang Sering Ditanyakan ke Travel Blogger (bagian pertama)
Baca: Hal-hal yang Sering Ditanyakan ke Travel Blogger (bagian kedua)
Safari in Kenya

Safari in Kenya

Well, I was not born with silver spoon in my mouth. Keluarga saya bukanlah keluarga kaya yang mempunyai pesawat jet pribadi ataupun membeli jam tangan Vacheron Constantin setiap bulannya. Saya lahir dari pasangan orang tua PNS yang sama-sama menginginkan anaknya untuk menjadi PNS, alih-alih menjadi seorang traveler seperti sekarang. Dapat dibilang, kehidupan keluarga kami saat itu, cukup. Tidak kaya, namun tidak juga susah. Cukup, seperti PNS pada umumnya.

Cerita tentang Papa
Cerita tentang Mama

Lalu, kalau bukan lahir dari keluarga kaya dan tidak bepergian dengan menggunakan uang rakyat, dari manakah saya mendapatkan duit untuk jalan-jalan? Sekadar catatan, dari semua perjalanan yang saya lakukan, sekitar 80% saya lakukan dengan menggunakan uang pribadi, bukan karena disponsori oleh brand dan sugar auntie.

Categories: Survival Kit

Tagged: Jalan-jalan, Tips, Travel Blogger

124 Comments

+Read more

Tentang Minggu Pagi di Kota Bandung

arievrahman

Posted on April 30, 2018

Kala itu, hampir tengah malam ketika Kang Ujang mengemudikan mobilnya memasuki Bandung. Setelah perjalanan sekitar empat jam melewati jalanan yang berliku dari Banjar Patroman, akhirnya kami tiba juga di Bandung. Saya duduk di jok depan bersama Kang Ujang, sementara di jok belakang ada Abex dan Billy yang nampak sama kelelahannya dengan saya. Perjalanan darat yang apabila ditotal lamanya mencapai belasan jam ini tentu saja membuat kami kelelahan, yang kalau di saya, tanda-tandanya adalah pusing, mata merah, mengantuk, pegal-pegal, dan tidak mampu mengenali uang pecahan kecil.

Kami berangkat dari Jakarta pada Jumat malam, dan baru tiba di Banjar Patroman pada Sabtu pagi. Setelah seharian menjadi pembicara pada sebuah event, kami langsung kembali lagi ke Bandung untuk bermalam, sebelum ke Jakarta sehari kemudian, pada hari Minggu.

“Saya di Hotel Golden Flower, Kang.” Ucap saya pada Kang Ujang, setelah mobil mengantar Abex dan Billy ke hotel mereka, yang terletak di dekat stasiun. “Di Jalan Asia Afrika.”

“Siap, Kang!”

Bukan tanpa alasan saya memilih menginap di sekitar Jalan Asia Afrika, karena sudah sejak lama saya menginginkan berjalan-jalan di  Kota Bandung pada Minggu pagi. Sementara menurut saya, Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga yang terletak di dekatnya, adalah pilihan yang tepat karena menghadirkan beberapa atraksi dan kuliner yang menarik di pagi hari.

Tak berapa lama, kami sudah tiba di Golden Flower, hotel yang saya pesan pada Jumat malam melalui aplikasi Traveloka dengan menggunakan fitur Pay at Hotel, yang memungkinkan saya untuk melakukan pembayaran langsung ke hotel, alih-alih menggunakan kartu kredit dan membuat saya menambah utang lagi.

Traveloka Pay at Hotel

Sampai di hotel, ternyata saya tidak perlu membayar lagi, dan bisa langsung menju kamar. Loh kok bisa? Ya bisa, kan ada Neng yang datang duluan, dan membayar hotelnya dengan menunjukkan bukti reservasi Traveloka yang saya kirimkan padanya. Lumayan, jadi lebih irit dengan fitur Pay at Hotel, kan? Eh.

Categories: Domestic, Jawa Barat, Survival Kit

Tagged: Bandung, Braga, Traveloka

39 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • 9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya
  • 10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!

Archives

Blog Stats

  • 5,485,415 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...