Ada beberapa macam undangan yang tidak akan saya tolak apabila menerimanya,seperti misalnya undangan untuk menghadiri pernikahan sahabat dekat, undangan jalan-jalan gratis ke Australia, Turki, dan Taiwan, undangan mengikuti pemilihan model foto terbaik tanah air yang tentu saja yang tidak pernah saya dapatkan, dan yang terakhir –dan baru saja saya dapatkan, adalah undangan untuk menginap di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat.

Undangan yang sedikit mengagetkan itu datang pada pertengahan April silam, dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) sebagai badan negara yang langsung mengelola istana negara tersebut. Sebagai seorang rakyat jelata dan bukan tergabung dalam Old Money maupun OKB, undangan menginap di istana itu tentu saja tidak akan saya lewatkan.

Ya walaupun, memang, menginapnya bukan langsung di dalam bangunan utama istananya, melainkan pada paviliun-paviliun yang terdapat di komplek istana. Tapi paling tidak saya sudah selangkah lebih dekat ke istana, begitu loh sobat misqueen.

Paviliun yang saya tempati bernama Antasena, sebuah rumah pondokan mungil yang dibangun tahun 1916, dengan tiga buah kamar tidur nyaman bernuansa tempo doeloe dan kamar mandi di dalamnya, sebuah ruang tengah dengan satu set sofa jadul, sebuah ruang makan yang muat untuk Keluarga Cemara, dan sebuah dapur. Sebagai pemanis paviliun, beberapa buah lukisan wanita bertelanjang dada juga dipasangkan di dindingnya. Alhamdulillah.

Untuk menambah kenyamanannya, Paviliun Antasena ini juga memiliki seorang pengurus (atau bahasa kerennya sih, personal butler) yang bertugas melayani dan memenuhi semua kebutuhan tamu undangan istana, dari mulai menyiapkan kamar, membersihkan ruangan, hingga menyajikan bandrek yang sangat nikmat!

Walaupun sepertinya terlihat old school, namun siapa sangka kalau Paviliun Antasena juga dilengkapi fasilitas Free Wi-Fi di dalamnya? Sayang, saya hanya memiliki kesempatan bermalam selama dua hari di sana, coba kalau dua tahun, mungkin saya sudah membuka Warnet.

Istana Cipanas

Kunjungan saya ke Istana Kepresidenan Cipanas (berikutnya akan lebih sering saya sebut sebagai Istana Cipanas saja) kali ini tidak sendirian, karena ditemani oleh Tim Kemensetneg yang solid dan beberapa orang #SobatKemensetneg lainnya, yaitu Ndoro Kakung (Senior Journalist), Ijul (Instagrammer), Iqbal Ardiansyah (Instagrammer), Agus Hartomo (Instagrammer), Windy Iwandi (Foodies), dan Rizki Putri (Dewan Presidium PPI Dunia).

Acara ini dibuka dengan sesi ramah tamah sambil makan siang di Paviliun Antareja, sambil mendengarkan cerita dari Tim Kemensetneg yang diwakili oleh Pak Masrokhan selaku Asisten Deputi Humas dan Mbak Tiwi selaku Kepala Bidang Diseminasi dan Informasi mengenai tupoksi Kemensetneg juga kisah-kisah menarik yang terdapat di istana.

“Kalian memiliki waktu dua hari.” Tukas Pak Masrokhan, sebagai penutup perbincangan siang itu. “Silakan mengeksplor seluas-luasnya istana ini.”

Istana Cipanas

Well, kalau luas sih saya sudah tahu, karena dari pengamatan sekilas saja, sudah terlihat bahwa komplek istana ini sangatlah luas, dengan berbagai macam pepohonan rindang dan taman yang asri. Namun, apakah hanya itu fakta menarik di Istana Kepresidenan Cipanas? Tentu tidak.

1. Komplek Istana Cipanas Merupakan yang Terluas dan Tertua di Indonesia

Ya, kamu tidak salah membaca, karena Komplek Istana Cipanas yang terletak di kaki Gunung Gede Jawa Barat pada ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut ini adalah yang terluas di Indonesia, dengan luasnya yang mencapai 26 hektar di mana sekitar 8000 meter persegi digunakan untuk bangunan dan sisanya merupakan padang rumput, kolam, hutan lindung, kandang binatang, dan pertamanan.

Sekadar informasi, istana ini juga merupakan satu-satunya istana di Indonesia yang memiliki hutan lindung di dalam kompleknya, sebagai hutan penyangga lingkungan.

Well, memang tidak lebih luas daripada Komplek Meikarta, sih. Tapi paling tidak yang di sini adalah bangunan sesungguhnya, bukan hanya janji iklan semata.

Sejarah dimulai pada tahun 1742 (di mana Istana Bogor baru dibangun 1744 dan Istana Jakarta pada abad ke-18), ketika Gubernur Jenderal Belanda yang bernama Gustaaf William Baron Van Imhoff, yang mungkin tidak ada hubungannya dengan Ruud van Nistelrooy ataupun Marc Overmars, memulai pembangunan tempat ini. Semua bermula dari ditemukannya sumber air panas yang keluar tanpa henti dari dalam tanah oleh penduduk lokal sekitar tahun 1740.

Berhubung penduduk zaman dulu masih polos, maka penemuannya tersebut dilaporkan kepada Meneer Belanda yang bertugas mengelola wilayah Cipanas hingga Cianjur yang pada masa itu merupakan daerah perkebunan teh yang berada di bawah kekuasaan VOC, atau Vereenigde Oostindische Compagnie, atau sebut saja dengan ‘Kompeni’. Coba kalau ditemukan masa kemerdekaan, mungkin sumber air ini akan dikenal sebagai air ajaib yang muncul dari dalam tanah, dan ribuan orang akan datang mencari berkah.

Berdasar laporan tersebut, dan penelitian lebih lanjut, Belanda akhirnya membangun gedung induk di sini, supaya bisa memanfaatkan air panas secara terus-menerus. Sialan.

Baca juga cerita menarik tentang intrik dan suka-duka pembangunan istana ini

2. Bapak Presiden Jokowi Belum Pernah Bermalam di Sini

Kisah menarik juga diceritakan ketika pembangunan Istana Cipanas, yaitu di mana pada zaman dahulu pilar-pilar bangunan di sini dibangun dengan menggunakan kayu jati yang diangkut dari Pelabuhan Sunda Kelapa dengan menggunakan kuda! Boro-boro truk atau mobil bak terbuka, transportasi pada masa itu masih menggunakan kuda, dengan melewati jalur perkebunan teh yang sepi penduduk, tanpa Google Maps dan penerangan yang mumpuni. Material bangunan yang digunakan juga berasal dari Jakarta, bukan dari toko bangunan di Bogor.

Pada masa pemerintahan Belanda, istana ini digunakan untuk tempat peristirahatan para Gubernur Jenderal Belanda, antara lain Van Imhoff yang sudah saya sebutkan nama panjangnya di atas, Andreas Cornelis de Graff, Bonafacius Cornelis de Jonge, dan Tjarda van Starkenborgh – Stachouwer. Semuanya saya tidak kenal.

Semasa gedung induk dikuasai Belanda, Bung Karno sering diundang ke sini. Mungkin saja, setelah itu Bung Karno berpikir untuk menggunakan gedung ini sebagai istana, sehingga ketika Beliau menjabat, gedung ini ditetapkan sebagai salah satu Istana Kepresidenan Republik Indonesia sejak 1945.

Istana Cipanas

Setelah kemerdekaan Indonesia, fungsi istana ini tidak berubah, melainkan tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesia beserta keluarganya, juga kami, sebagai Sobat Kemensetneg.

Walaupun sudah empat kali mengunjungi tempat ini, Bapak Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) belum pernah bermalam di sini. Masih kalah lah sama saya, walaupun saya masih kalah dengan Ibu Iriana yang sudah enam kali mengunjungi istana ini.

Tercatat, dari enam buah Istana Kepresidenan di Indonesia, yaitu Istana Negara di Jakarta, Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor di Bogor, Istana Cipanas di Cipanas, Istana Tampaksiring di Bali, dan Istana Gedung Agung di Yogyakarta, hanya Istana Tampaksiring yang belum pernah dikunjungi Bapak Jokowi semasa menjabat sebagai presiden. Saya malah sudah pernah ke sana waktu study tour SD di tahun 90-an.

3. Beberapa Peristiwa Bersejarah Terjadi di Istana Ini

Walaupun Istana Cipanas pada dasarnya difungsukan sebagai tempat peristirahatan yang memiliki hawa sejuk dan pemandangan indah, namun istana ini juga pernah menjadi saksi untuk peristiwa-peristiwa bersejarah, yang berkaitan dengan kondisi politik, ekonomi, dan hubungan antar bangsa Indonesia.

Tidak, saya tidak menyebutkan tentang pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono, anak kedua dari Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), atau yang lebih akrab disapa Ibas, yang melangsungkan pernikahan dengan Siti Rubi Aliya Radjasa pada tahun 2011, yang berlangsung di sini. Pernikahan dengan tamu undangan sejumlah seribu orang itu, berlangsung dengan persiapan yang matang selama satu bulan sebelum hari H.

Anak Presiden mah bebas, mau nikah tinggal pakai istana, tidak perlu rebutan jadwal gedung setahun sebelumnya.

Pada tanggal 13 Desember 1965, istana ini mencatat peristiwa sejarah dalam perekonomian Indonesia, ketika Ruang Rapat Gedung Induk menjadi saksi Presiden Soekarno memimpin sidang kabinet bersama para menteri dan ekonom kenamaan untuk menetapkan perubahan nilai mata uang dari Rp1.000,- ke Rp1,- yang dikenal dengan istilah ‘Sanering’ atau redenominasi.

Selain itu, istana ini juga menjadi lokasi tempat pertemuan antara Pemerintah Filipina dengan Kelompok Separatis Moro National Liberation Front (MNLF, bukan MILF) yang saat itu dikomandoi oleh Nur Misuari. Pertemuan yang berlangsung pada 14-17 April 1993 atas inisiatif Bapak Presiden Soeharto tersebut, dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas yang namanya selalu ada di belakang buku saku UUD’ 45.

4. Terdapat Lukisan yang Diyakini sebagai Potret Ibu Megawati Sewaktu Kecil 

Bangunan utama komplek istana ini adalah Gedung Induk, sebuah bangunan bercat putih bernuansa Belanda dengan ukuran pintu dan jendela yang naudzubillah besarnya, yang merupakan bangunan paling megah dan merupakan representasi apabila ditanya, “Istana Cipanas itu, yang mana sih istananya?”.

Demi alasan keamanan, seperti halnya di Buckingham Palace dan Windsor Castle yang pernah saya datangi pada 2015, kami dilarang untuk mengambil gambar di dalam bangunan, juga mengambil benda-benda berharga yang berada di dalamnya. Astaghfirullah.

Ditemani oleh Pak Iwan dan tim Kemensetneg, kami memulai perjalanan menyusuri istana megah ini melewati karpet merah (yang agak lusuh) yang membentang di teras ruangan, nampak serasi dengan warna putih yang mendominasi langit-langit dan dinding, apalagi dipadukan dengan lantai marmer dan lampu kristal yang menggantung di atapnya.

Istana Cipanas

Foto hanya sebagai ilustrasi

“Yang ini adalah ruang tamu istana.” Jelas Pak Iwan, sambil bercerita akan hal-hal menarik apa sajakah yang terjadi di istana tersebut. Saya masih bengong, mengagumi ruangan tamu besar, yang bisa dipakai untuk buka puasa 4 keluarga Gen Halilintar sekaligus. Dua buah lampu ballroom berbahan kristal peninggalan Belanda dibawa sekitar 150 tahun lalu dan dipasang di kanan-kiri ruangan, sementara dua set sofa kursi kayu jati, didatangkan dari Jepara pada 1984.

Dua buah lukisan besar menghiasi ruangan tersebut, kalau tidak salah, pemandangan Gunung Gede, sementara dua lukisan kecil lainnya menjadi pelengkap ruangan. Pada lapisan di bawah karpet peninggalan Presiden Soekarno yang konon didatangkan dari Turki, terdapat lantai kayu. “Di bawah lantai ini, terdapat bunker yang dahulu digunakan sebagai tempat penyimpanan barang milik Belanda yang sudah tidak terpakai atau untuk tempat istirahat kusir Belanda. Sekarang masih berfungsi sebagai gudang barang bersejarah istana.”

Di samping ruang tamu, terdapat ruang kerja presiden, dengan meja lapang dan kursi kerja yang sepertinya sangat nyaman. Bendera merah putih berukuran besar dan foto presiden sendiri juga terdapat di sana. Saya membayangkan apa rasanya ya jadi presiden yang bekerja di ruang kerjanya, sambil ditemani oleh … fotonya sendiri. Apakah Bapak Jokowi tidak awkward?

Istana Cipanas

“Struktur bangunan ini 90% masih asli.” Pak Iwan bercerita sambil menunjukkan ruangan tengah di Gedung Induk yang lebih menakjubkan lagi dibandingkan ruang tamunya, karena di sanalah peristiwa-peristiwa penting yang telah saya sebutkan di atas berlangsung. Sekali lagi, ini bukan tentang pernikahan Ibas.

Sebuah televisi Sharp berukuran besar terdapat di sudut ruangan, menemani set meja dan kursi jati yang dibawa oleh Presiden Soeharto dari Jepara tahun 1984. Untuk menambah kemegahan, lampu kristal dari Belanda dibiarkan terpasang di langit-langit berduat dengan karpet mewah yang dibawa Presiden Megawati dari Turki. Supaya lebih manis, ditambahkan pula keramik dari Vietnam dan sepasang lukisan cat minyak bergambar Ayam Jago Cianjur dan Ikan Koki dari pelukis keturunan Cina, Lee Man Fong. Kemegahan yang membuat nyeri hati sobat misqueen tentunya.

Selain kamar tidur yang dapat digunakan presiden dan keluarganya, hal menarik lain yang menghiasi bangunan ini adalah koleksi lukisan yang terdapat di dalamnya. Semua dalam kondisi yang terawat, kecuali yang tidak. Lukisan-lukisan di sini banyak yang peninggalan Belanda, juga ada yang merupakan koleksi pribadi Presiden Soekarno. Beberapa lukisan yang menarik di sini adalah:

  • Lukisan jalan seribu pandang atau jalan tepi sawah karya Soejono D.S di tahun 1958. Lukisan ini tiga dimensi, yang apabila dilihat dari sudut manapun akan tetap sama perspektifnya –jalan tetap lurus apabila dlihat dari manapun. Oleh pelukisnya, lukisan ini diberikan langsung ke presiden pada ulang tahun ke-57 nya. Kabarnya, lukisan ini menggambarkan Jalan Kaliurang Yogyakarta di masa silam, sebelum dibanjiri oleh hotel mesum.
  • Lukisan wanita cantik berkebaya hijau, yang konon tidak ada seorangpun yang tahu siapa model lukisan tersebut, kecuali si pelukis dan presiden pertama kita. Hmm. Lukisan ini digoreskan oleh M Thamdjidin pada tahun 1965.
  • Lukisan sepasang gadis muda tanpa nama, yang dipercaya adalah anak gadis para proklamator kemerdekaan Indonesia, yaitu Megawati Soekarnoputri dan Mutia Hatta, sewaktu masih muda dahulu. Saking terpesonanya pada lukisan karya Basoeki Abdullah ini, saya sampai lupa mencari tahi lalat miliki Ibu Megawati pada lukisan tersebut, apabila memang benar ini adalah potret dirinya dahulu.

“Apabila kalian ingin bermalam di sini, bisa saja. Tinggal menjadi Presiden Republik Indonesia, atau menjadi Ibu Negaranya.”

5. Tidak Semua Orang dapat Menikmati Mandi Air Panas di Istana Cipanas

Tepat di belakang Gedung Induk, terdapat sebuah taman dengan kolam luas berada di tengahnya. Sedikit ke belakang taman, pepohonan hijau nan rindang sudah menghadang, dan dari situlah dimulai kawasan hutan lindung Komplek Istana Kepresidenan Cipanas. Tak jauh dari situ, terdapat dua buah paviliun yang di dalamnya terdapat sumber mata air, yang menjadi awal dari kisah Istana Cipanas ini.

Untuk yang belum tahu, Cipanas sendiri memiliki arti di mana Ci berarti air, dan Panas berarti hot. Yang membuat air panas di Cipanas ini beda adalah sumber mata airnya yang berasal dari tanah, sementara pada beberapa daerah lain, sumbernya berasal dari kawah belerang. Karena sumbernya berasal dari dalam tanah itulah yang mungkin membuat air panas di sini tidak terlalu berbau menyengat, apabila dibandingkan dengan kawah belerang di Ciwidey.

Pada zaman dahulu, di mana belum ada spa dan pusat kebugaran khusus pria, para Serdadu Belanda menggunakan tempat ini sebagai tempat karantina setelah berperang, dengan terapi di sumber air panas. Katanya, kalau berendam di sini, pegal-pegal bisa hilang, apalagi kalau habis berendam langsung shiatsu.

“Kalian bebas berendam selama apapun di air panas ini.” Adalah instruksi yang kami terima setelah kami diizinkan untuk mencoba berendam di paviliun air panas ini. Mungkin karena kandungan belerangnya yang tidak tinggi, airnya sangat aman untuk kulit, dan tidak membuat mengkerut. “Tapi ada satu anjuran lagi, yaitu, airnya tidak boleh dibasuh setelah mandi, karena bisa membuat awet muda, dan juga berkhasiat untuk kesehatan.”

Waduh, bisa-bisa saya yang sudah berwajah lebih muda dari Diego Costa ini bakal kelihatan seperti anak SMP setelah mandi di sini.

Pemandian Istana Cipanas

Untungnya tidak, setelah berendam tanpa busana pada kamar mandi privat yang terdapat di paviliun VIP dengan menambahkan sabun antiseptik yang saya bawa dari kamar di Paviliun Antasena, saya tidak nampak seperti anak SMP tuh. Walaupun memang, sekilas seperti lebih muda, dua hari. Dari kamar mandi privat, saya kemudian menuju kolam kecil yang berada di tengah paviliun untuk berendam bersama-sama. Kali ini dengan busana bebas sopan dan menutup aurat.

Diceritakan pula bahwa air panas dengan suhu rata-rata 43ºC yang mengandung belerang dalam jumlah lecil ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, kecuali penyakit hati, dan penyakit miskin.

Pada Komplek Istana Cipanas ini, terdapat dua paviliun pemandian air panas, yaitu yang berkelas VVIP untuk Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya, dan kelas VIP tamu penting, ehem. Paviliun pemandian yang dibangun di atas sumber air panas pada tahun 1916 ini, pernah mengalami renovasi termasuk pengecatan ulang. Dari yang beratapkan langit, sekarang menjadi acrylic.

6. Katanya, Komplek Istana Ini adalah Istana yang Angker!

Pertanyaan yang sering muncul dan ditanyakan mengenai Istana Cipanas adalah, “Katanya, istana ini angker ya, Pak?”. Pak Iwan terkekeh ketika bercerita mengenai jawaban atas pertanyaan tersebut. Wajar saja, sebagai istana tertua dan memiliki kawasan hutan lindung yang jarang dikunjungi manusia, mungkin saja istana ini memiliki kisah mistisnya sendiri.

Namun, alih-alih jawaban mistis yang saya dapat, Pak Iwan malah menjawabnya secara diplomatis. “Jadi begini, bedanya Istana Cipanas dengan Istana Bogor adalah.” Ucapannya berhenti sejenak sebelum dilanjutkan kembali “Kalau Istana Bogor digunakan untuk menambah wawasan intelektual, yang ditandai dengan banyaknya koleksi buku di sana, di Istana Cipanas tidak demikian.”

“Istana Cipanas biasa digunakan untuk melakukan hal-hal spiritual, seperti tirakat.” Lanjutnya, sambil menceritakan bahwa Presiden Soekarno sering menyendiri di sebuah ruangan yang bernama Gedung Bentol. “Ya mungkin saja karena hawanya sejuk, jadi nyaman untuk bersemedi di sana.”

Ya iya juga sih, kalau bersemedinya di kursi panas Who Wants To Be A Millionaire mungkin tidak akan mendapatkan hasil apa-apa, paling ujung-ujungnya ‘Call A Friend’. “Lalu bagaimana, Pak, apakah mistis?”

Sempat terjadi keheningan sesaat sebelum Pak Iwan menjawab kembali. “Ya, namanya gedung tua yang tidak pernah dihuni, pasti ada.” Ada apakah ini, ada mbah dukun? Ada Band? atau Ada Apa dengan Cinta? “Tapi kalian tenang saja, di Istana Cipanas hampir tiap hari ada kegiatan, sehingga (mereka) sudah familiar dengan orang-orang.”

Sebuah jawaban yang membuat bulu kuduk sedikit merinding.

7. Gedung Bentol Ternyata Hanyalah Sebuah Bangunan Kecil di Tengah Taman

"Apabila di Istana Bogor kami memiliki ikon Rusa Kokol, maka di Istana Cipanas, yang menjadi ikon adalah Pemandian Air Panas, dan Gedung Bentol."

Tanpa sempat mencari hubungan antara Rusa Kokol dan Gedung Bentol, saya mulai mendengarkan cerita menarik mengenai Gedung Bentol, sambil berjalan mendaki tangga-tangga batu menuju sebuah bangunan kecil di tengah taman yang asri. Dinding bangunan tersebut tidak dicat putih, hanya dibiarkan berwarna semen dengan batu-batuan kali berwarna campuran yang diekspos pada dindingnya. Serasi dengan lantai terasnya.

“Inilah yang disebut sebagai Gedung Bentol.” Ternyata yang disebut gedung, bukan seperti gedung yang saya bayangkan, yaitu berbentuk bangunan bertingkat laiknya Wisma 46 BNI atau Apartemen Green Pramuka, melainkan hanya sebuah bangunan kecil di tengah taman. Bangunan ini disebut bentol karena tonjolan batu kali yang terdapat pada dindingnya, sesimpel itu, bukan akibat digigit nyamuk. Gara-gara kamu malas bersih-bersih.

Di Indonesia, wajar saja penamaan tidak seperti yang dilihat, misalkan yang disebut gedung ternyata hanya bangunan kecil. Wong yang disebut Kartu Keluarga ternyata adalah sebuah surat, dan yang disebut Surat Izin Mengemudi ternyata adalah sebuah kartu, bukan? Mind blowing.

Gedung Bentol Istana Cipanas

Alkisah pada 1954, Presiden Soekarno memerintahkan dua orang arsitek, yaitu R.M. Soedarsono dan F. Silaban, untuk membuat desain studio terpencil di salah satu puncak bukit dalam lingkungan Istana Cipanas sebagai tempat merenung. Bangunan sederhana yang kemudian dibangun menggunakan bahan dasar batu kali yang ditonjolkan sebagai ragam hias, sekarang dikenal dengan nama Gedung Bentol.

Apabila sedang berada di Istana Cipanas, biasanya Presiden Soekarno datang pagi-pagi ke Gedung Bentol dengan membawa bahan-bahan untuk menulis. Mulai dari catatan ringan, hingga pidato kenegaraan lahir di sini. Sambil berpikir di dalam gedung, pelayan istana akan datang untuk menyediakan segelas kopi, teh, air, dan hidangan ringan seperti pisang rebus, singkong rebus, kacang rebus. Apabila sedang tidak puasa.

Di dalam ruangan berukuran studio tersebut, ada beberapa peninggalan Presiden Soekarno termasuk beberapa lembar pakaian yang masih dalam kondisi baik, juga sebuah foto usang yang diyakini adalah foto Bidan Srikanti, seorang bidan pertama di Indonesia yang membantu dalam proses kelahiran Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri.

Sejarah juga mencatat, kalau Presiden SBY sempat beberapa kali masuk dan berdiam di Gedung Bentol, mungkin untuk menulis lirik lagu.

8. Apabila Diizinkan, Tamu Undangan dapat Mencoba Berkuda Mengelilingi Komplek Istana

Sejak zaman pembangunan Istana Cipanas hingga pemanfaatannya beberapa ratus tahun kemudian, Belanda mempertahankan kontur tanah yang ada yaitu tetap landai pada halaman utama, dan semakin menanjak ke belakang, melewati hutan lindung, dengan kandang kuda terletak pada bagian belakang komplek.

Di antara Gedung Induk dan istal kuda, terdapat beberapa fasilitas istana yang dapat dimanfaatkan, seperti pemandian air panas, kebun tanaman herbal, kolam angsa, juga kolam renang privat yang dapat digunakan oleh keluarga Presiden dan tamu undangan yang menginap.

Apabila Istana Bogor mempunyai rusa sebagai ciri khas, Istana Cipanas memiliki kuda sebagai kebanggaan. Jumlahnya kini mencapai 18 ekor, dengan dua orang petugas yang bertugas merawat kuda-kuda tersebut.

Nama-nama kuda di Istana Cipanas juga keren-keren, bahkan beberapa lebih keren daripada nama saya, sebut saja Sari, Birma, dan Moris. Bahkan, ada juga yang bernama sama dengan mantan saya.

Sebenarnya, pada masa pemerintahan Presiden Megawati, pernah dilakukan riset mengenai kesiapan pemeliharaan rusa kokol di Istana Cipanas, namun entah mengapa rencana tersebut tidak dilanjutkan lagi hingga sekarang.

Pagi hari berikutnya, sebuah kejutan kami dapatkan ketika Tim Kemensetneg menawarkan kami untuk mencoba mengendara kuda supaya baik jalannya, mengelilingi trek yang ada pada Istana Cipanas.

Pukul tujuh pagi, di saat embun masih belum menguap dan udara masih belum terkena polusi, saya berkuda dengan menaiki salah satu kuda istana, sebut saja namanya Euis. Rute yang diambil, mulai dari istal, melewati pepohonan rimbun, dan pekarangan luas, hingga kembali lagi ke istal.

Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, tuk tik tak tik suara sepatu kuda. Di atas kuda, sesaat, walaupun tanpa bertelanjang dada, saya merasa bad assseperti Awkarin, atau Pak Prabowo.

9. Kebun Tanaman Herbal Baru Dibuka Pada Masa Pemerintahan Bapak Presiden SBY

Selain binatang, Istana Cipanas juga menjadi rumah bagi berbagai macam jenis tanaman, di mana berdasarkan penelitian hasil kerja sama dengan Kebun Raya Cibodas dan LIPI, ditemukan terdapat koleksi tanaman sebanyak 1.334 spesimen, 171 spesies, 132 marga, dan 61 suku, sedangakan di taman herbalia yang luasnya 4.161 meter persegi terdapat 433 jenis tanaman obat.

Berbicara mengenai tanaman obat, maka kita tidak dapat lepas dari peran serta Ibu Negara Ani Yudhoyono yang meresmikan kebun tanaman herbal pada 7 Januari 2013, di mana 400 jenis koleksi tanaman hias dan tanaman herbal diambil untuk dijadikan sampel.

Kebun Herbal Istana Cipanas

Karena kecintaannya pada dunia fotografi, Ibu Ani Yudhoyono juga gemar memfoto tanaman-tanaman koleksi istana ini. Salah satu fotonya yang menarik dan diletakkan di museum Istana Cipanas adalah ketika Beliau memfoto sebuah tanaman, yang dikatakan bernama … Iriana.

Catatan: Adanya kesamaan nama di sini bukanlah kesengajaan penulis.

10. Sajian Favorit di Istana Cipanas adalah Sayur Lodeh 

“Belum ke Istana Cipanas kalau belum mencoba Lodeh Khas Istana.”

Ada sebuah pujian yang masuk ketika Ibu Megawati menjabat menjadi Presiden ke-5 Republik Indonesia mengenai sajian sayur lodeh di Istana Cipanas. Beliau mengatakan bahwa lodeh ini terasa sangat familiar, tidak berubah rasanya sejak zaman Beliau masih kecil dan dibawa oleh Presiden Soekarno ke sini. Lodeh yang membangkitkan memori masa kecil seorang Megawati tersebut, adalah hal yang selalu ditanyakannya setiap berkunjung ke Istana Cipanas, lodeh yang merupakan kebanggan Istana Cipanas.

Bermula dari kegemaran Presiden Soekarno mengonsumsi sayur lodeh, Musthafa, koki Istana Kepresidenan Cipanas saat itu, mencoba menyiapkan menu sayur lodeh untuk Bung Karno dan ternyata langsung cocok dengan lidah Presiden Republik Indonesia pertama itu.

Sejak saat itu akhirnya sayur lodeh menjadi menu wajib ketika Presiden Soekarno berada di Istana Kepresidenan Cipanas. Bahkan saat Bung Karno berkantor di Istana Merdeka pun beliau memperkenalkan menu jamuan sayur lodeh ini kepada tamu-tamu negara yang berkunjung. Seiring berjalannya waktu, menu sayur lodeh menjadi menu sajian khas Istana Kepresidenan Cipanas, dengan brandyang sudah melekat yaitu “Lodeh khas Istana”.

Sayur Lodeh Istana Cipanas

Resep dari Musthafa tersebut kemudian diwariskan turun-temurun kepada penggantinya, dan sekarang memasuki generasi ke-4, rasa sajian lodeh tersebut masihlah sama dengan pendahulunya.

Sebenarnya, apa yang membedakan Lodeh khas Istana dengan sayur lodeh yang lain?

Juru Masak Istana Kepresidenan Cipanas sekarang, Nanang Sopian, memberikan sedikit resep rahasia turun-temurun dapur istana “Perbedaannya terdapat pada tidak terlalu banyak sayuran yang direbus. Santan yang dimasukkan juga disaring kembali agar sayur terlihat putih dan tidak menguning” ujar Nanang. Dia menjelaskan bahwa sayuran yang direbus hanya terdiri dari kacang panjang, rebung, trubus, petai, dan sedikit daun melinjo ditambah dengan bumbu rempah-rempah yang diiris, tidak ditumbuk, guna mempertahankan kualitas santan agar tetap berwarna putih.

Biasanya, lodeh khas Istana disajikan saat hangat ketika jamuan santap siang ditemani dengan baby fishdan daging gepuk sebagai lauknya.

Sungguh, sajian lodeh yang membuat saya ingin kembali ke Istana Cipanas suatu hari nanti.

Sumber Artikel

Terima kasih banyak diucapkan kepada Tim Kemensetneg, yang sudah mengundang kami untuk bermalam di istana. Semoga akan ada undangan-undangan berikutnya, seperti misalnya, kunjungan kenegaraan ke Istana Tampak Siring Bali, bersama Presiden Jokowi, mungkin?

Istana Cipanas

Ijul – Iqbal – Ndoro – Rizki – Windy – Hamish – Agus

Istana Cipanas terletak sekitar 103 kilometer dari ibukota Jakarta ke arah Puncak, dan dapat dicapai dalam waktu dua jam kalau tidak macet, dan tidak mampir dahulu di Puncak.

Istana Kepresidenan Cipanas

Jalan Raya Cipanas No. 105

Cipanas – Jawa Barat

Telp: (0263) 511188 Fax: (0263) 512120

Instagram: @istanacipanas

Advertisements