Sebutir buah pinang berwarna hijau sudah berada di tangan kiri, sementara pada meja kecil di hadapan saya sudah terdapat beberapa batang sirih dan seplastik kapur. Di samping saya, terdapat Mas Bolang yang beberapa kali berbisik “Belum ke Nusa Tenggara Timur, kalau belum merasakan makan pinang.” Sebuah ucapan yang diamini oleh Mama Joseba yang sedari tadi asyik mengunyah pinangnya, sembari mencocolkan seruas batang sirih ke kapurnya. “Mama bisa pusing kalau gak makan pinang sehari.” Imbuh Mama Joseba. “Ayo, dicoba saja.” Mirip Icuk Sugiarto yang ragu-ragu, saya menempatkan buah pinang pada sudut mulut, mencoba memecahnya dengan gigitan gigi geraham hingga terdengar suara “PLETOK!” pertanda buah terbelah dan memunculkan biji pinang bergetah di tengahnya. Biji itulah yang harus saya kunyah, sebelum dicampur dengan batang sirih dan kapur.…