Sebutir buah pinang berwarna hijau sudah berada di tangan kiri, sementara pada meja kecil di hadapan saya sudah terdapat beberapa batang sirih dan seplastik kapur. Di samping saya, terdapat Mas Bolang yang beberapa kali berbisik “Belum ke Nusa Tenggara Timur, kalau belum merasakan makan pinang.” Sebuah ucapan yang diamini oleh Mama Joseba yang sedari tadi asyik mengunyah pinangnya, sembari mencocolkan seruas batang sirih ke kapurnya.

“Mama bisa pusing kalau gak makan pinang sehari.” Imbuh Mama Joseba. “Ayo, dicoba saja.”

Mirip Icuk Sugiarto yang ragu-ragu, saya menempatkan buah pinang pada sudut mulut, mencoba memecahnya dengan gigitan gigi geraham hingga terdengar suara “PLETOK!” pertanda buah terbelah dan memunculkan biji pinang bergetah di tengahnya. Biji itulah yang harus saya kunyah, sebelum dicampur dengan batang sirih dan kapur.

KBA Kupang

Pinang, Kapur, dan Sirih

BLAH!

Asam rasanya. Batin saya ketika mengunyah biji pinang tersebut, tak terasa beberapa kali getahnya ikut tertelan, beberapa detik sebelum Mas Bolang mengingatkan. “Getah pertamanya jangan ditelan, nanti kamu bisa mabuk.” Sebuah peringatan yang diamini juga oleh Mama Joseba. “Maaf tadi aku lupa bilang.”

Asem tenan. Buru-buru saya membuang sisa getah yang sudah bercampur air liur di mulut, sambil tetap mengunyah. Mama Joseba, yang juga masih mengunyah, memberikan seruas batang sirih dan plastik kapurnya. “Ini dicampur saja. Tapi ambil sepotong saja sirihnya.”

Saya memotong batang sirih seruas jari, mencocolnya ke kapur, dan mengunyahnya bersamaan dengan biji pinang yang sudah berada di mulut. Rasanya pedas, lebih pedas daripada ketika dia berkata “Maaf aku tidak bisa, karena kamu terlalu baik buat aku, Mas.”. Namun ketika dikunyah lama-lama, rasa di mulut ini jadi masuk akal. Sepatnya biji pinang, bercampur dengan pedasnya batang sirih, ternyata dapat dinetralisir dengan baik oleh kapur. Bukan, yang ini bukan kapur karambol atau bedak tabur Fanbo, melainkan kapur putih yang diproses dengan cara menumbuk kulit kerang dan menghaluskannya.

Campuran biji pinang dan batang sirih ini dipercaya memiliki khasiat dapat menguatkan gigi dan mencegah timbulnya penyakit mulut, walaupun efek sampingnya akan membuat gigi menjadi kecoklatan. Tapi setidaknya dapat membuat pengunyahnya menjadi lebih bahagia.

Selamat Datang di KBA Kupang

Apabila rengginang di dalam kotak Monde adalah sajian yang biasa diberikan kepada tamu di berbagai daerah, maka sekotak buah pinang, batang sirih, dan kapur adalah jamuan yang umum diberikan kepada tamu yang mengunjungi desa-desa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seperti halnya yang saya dapat ketika mengunjungi Kampung Berseri Astra (KBA) Kupang, yang terletak di Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, NTT.

Konon, kamu akan bisa lebih diterima oleh tuan rumah apabila kamu mengunyah ‘camilan’ tersebut bersama-sama, seperti yang kami lakukan dengan Mama Joseba, Kepala Sekolah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sonraen.

“Selamat datang di KBA Kupang.”

KBA Kupang

Ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi KBA, karena pada tahun sebelumnya, saya juga menyempatkan untuk mengunjungi kampung, eh Banjar Berseri Astra, yang terletak di Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali. Bagi saya, selalu ada hal-hal menarik yang saya dapatkan dari mengunjungi KBA. Apabila di Bali saya mendapatkan banyak pengetahuan mengenai lingkungan, di Kupang saya mendapatkan banyak cerita menarik seputar pendidikan.

Cerita dimulai pada tahun 2015, ketika Astra menetapkan Desa Sonraen sebagai daerah binaan baru di NTT. Dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman untuk program pendidikan di Kabupaten Kupang, Astra melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) mulai membina sepuluh Sekolah Dasar (SD) di dua Kecamatan (Kecamatan Amarasi Selatan & Kecamatan Takari), serta mengembangkan Kampung Berseri Astra (KBA) Sonraen.

Sejak November 2016 sampai September 2017, Astra telah melakukan berbagai pembinaan dan pelatihan guru serta sekolah, melakukan renovasi sekolah, penyuluhan pertanian dan kesehatan serta pemberian bantuan alat posyandu, penyediaan air bersih, serta perluasan program kewirausahaan berupa bantuan alat tenun dan ternak di Desa binaan Sonraen.

Hal itu, tentu saja sejalan dengan fokus KBA yang merupakan program kontribusi sosial Astra untuk mengembangkan kampung atau daerah tertentu secara terpadu dengan mengintegrasikan empat pilar program CSR Astra yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, dan Kewirausahaan.

Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) merupakan langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif, serta memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia. Karena pada prinsipnya, di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Mantap.

Kisah Amelia dan Metode Matematika Gasing

“Kalau kamu, kelas berapa sekarang?” Tanya Mas Bolang, kepada seorang gadis kecil yang kali ini duduk di samping Mama Joseba. Dialah Amelia Nahak, siswi SDN Sonraen, yang memiliki kisahnya sendiri.

“Kelas lima sekarang.” Jawabnya malu-malu, sembari memamerkan lesung pipit yang membuat wajahnya semakin manis.

“Jadi Amelia ini.” Mama Joseba memulai ceritanya. “Dahulu, nilai matematikanya tidak bagus, namun sejak ikut program Astra bareng Prof. Yohanes Surya di Tangerang, kini nilainya bagus. Bahkan Amelia yang juga menjadi juara olimpiade matematika tingkat Kabupaten, juga menjadi tutor sementara kalau ada guru yang berhalangan.”

KBA Kupang

“Memang bagaimana ceritanya, Ma?”

Mama Joseba melanjutkan ceritanya bahwa hal ini timbul akibat kegelisahan Astra ketika menemukan rendahnya minat guru dan siswa terhadap pelajaran matematika yang memang dirasa sukar oleh mereka. Sebuah hal yang saya iyakan, karena memang matematika jauh lebih susah daripada fall in love with people we can’t have. 

Pada tahun 2017, YPA-MDR bekerjasama dengan Surya Institute memfasilitasi pelaksanaan Program Pelatihan Matematika Metode Gasing (Gampang, Asik, dan Menyenangkan) yang dilaksanakan selama dua bulan (Maret-Mei 2017) dimana guru dan siswa binaan Astra akan dikirim untuk menimba ilmu matematika di Tangerang, di mana salah satu siswa peserta Program Pelatihan Matematika Metode Gasing Batch 1 adalah Amelia Nahak dan Gurunya Yetrin Louisa Otemusu, S.Pd, yang berasal dari SDN Sonraen. Keduanya dipilih bukan karena lebih pintar dalam matematika, melainkan sebaliknya, karena dinilai paling lemah dalam hal berhitung.

“Lalu, ini pertama kalinya kamu naik pesawat?”

“Iya.” Aku Amelia, yang akrab disapa Ela ini malu-malu.

Pada tes awal program metode matematika Gasing, Ela hanya mendapatkan nilai 16, sementara Yetrin, gurunya mendapatkan nilai 32. Setelah sekitar dua bulan berlatih, akhirnya guru dan siswa tersebut memperlihatkan progres yang luar biasa yang terlihat dari hasil tes akhir mereka, di mana Ela mendapatkan nilai 82 dan Yetrin 89. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan predikat lulusan pelatihan Matematika Metode Gasing Batch 1 Terbaik, karena lulus dengan nilai membanggakan. Mereka berdua kemudian mendapat tugas mulia, untuk mengajarkan matematika di lokasi tempatnya berasal.

“Wah, hebat ya Ela.” Puji Mas Bolang. “Kamu bisakah ajarkan kakak matematika?”

“Bisa.” Jawab Ela yakin, diiringi dengan penjelasan Mama Joseba yang mengatakan bahwa metode ini memungkinkan siswa-siswi untuk berhitung cepat dengan menggunakan imajinasi dan permainan jari. Fingering.

Dengan secarik kertas di tangan, Ela melakukan coret-coretan angka guna menjawab pertanyaan penjumlahan yang diajukan Mas Bolang. Hasilnya tentu saja tepat, dan cepat. Saya baru akan bertanya masalah integral dan perkalian akar pangkat tujuh puluh sembilan ketika suara musik mengalun di depan perpustakaan sekolah. Berikutnya para gadis-gadis lokal menari mengikuti irama, menari Tari Tenun Ikat untuk menyambut kami di sana.

KBA Kupang

Sekadar informasi, saat ini persoalan terbesar pendidikan di NTT adalah tingginya angka putus sekolah dan rendahnya hasil uji kompetensi guru sekolah di NTT. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab Indeks Pembangunan Manusia di NTT yang masih rendah yaitu 65,2 atau di bawah rata-rata nasional sebesar 69,9.

Kekurangan ini disebabkan oleh banyak hal, seperti kondisi geografis, insfrastruktur, sarana prasarana dan hal-hal yang bersifat fisik lainnya. Saat ini, para guru diharapkan terus semangat dalam mengajar para muridnya agar dapat meningkatkan kualitas manusia di Kupang.

Sumber Artikel

Berkat pelatihan tersebut, nilai Ujian Nasional untuk mata pelajaran matemarika di SDN Sonraen pun meningkat, dari yang semula 5 pada tahun 2015, menjadi 6,5 pada tahun 2017.

“Kalau sudah besar nanti, Ela cita-citanya apa?”

“Aku mau jadi guru, kakak.” Jawabnya. “Supaya bisa mengajar di sini.” Sungguh sebuah cita-cita yang sangat mulia.

Pilar Kesehatan di Desa Sonraen

Selepas siang, kami berpamitan dengan Ela dan Mama Joseba, meninggalkan SDNSonraen dan menjelajah lebih dalam lagi ke dalam KBA Kupang. Jalanan mulus tanpa lubang menghiasi perjalanan di Amarasi Selatan ini, sementara pepohonan hijau sejuk memayungi perkampungan di kanan dan kiri jalan, di mana sesekali hewan ternak terlihat menyeberang jalan.

Tentunya tanpa melintasi zebra cross dan melalui Jembatan Penyeberangan Orang yang memakan dana  milyaran rupiah.

KBA Kupang

Pada satu sisi jalan, kami berhenti di depan pekarangan sebuah rumah minimalis dengan halaman hijau dan beberapa tumbuhan perdu menghiasi. Seorang anak kecil yang bermain di halaman, nampak ketakutan dengan kehadiran kami, sementara sebuah papan informasi tergantung di dinding rumah yang temboknya sudah mengelupas tersebut.

“Posyandu Melati 3 Kampung Berseri Astra – Sonraen” sebuah pernanda bahwa rumah warga ini juga dapat dialihfungsikan sebagai Posyandu apabila dibutuhkan. Melati di sini, adalah nama sebenarnya.

Kami sempat memberikan beberapa camilan kepada anak kecil yang bermain di halaman tersebut, guna meredakan tangisnya yang ketakutan akibat kedatangan kami. Camilan di sini adalah roti yang kami beli sebelumnya, bukan pinang, sirih, dan kapur.

KBA Kupang

“Saat ini sedang tidak ada kegiatan, bro.” Jelas Mas Agrie, salah satu perwakilan dari Tim Astra yang juga ikut serta pada perjalanan ini. “Di sini, total ada empat Posyandu, yang akan mendukung pilar kesehatan di KBA Kupang.”

Sekadar informasi, untuk mewujudkan pilar kesehatan di sini, Astra telah melakukan beberapa macam kontribusi sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis, pembinaan Posyandu di beberapa lokasi, penyediaan kacamata, sosialisasi mengenai thalasemia, hingga pemberian bantuan alat-alat dan kebutuhan Posyandu.

Dalam hal pemberian bantuan, Astra tidak menyalurkan bantuan berupa dana, melainkan langsung berupa barang dan/atau layanan yang dibutuhkan oleh kampung berseri.

Kelompok Tenun Ikat Sonkiko

Perjalanan kami berlanjut ke sebuah rumah mungil yang juga dapat dialihfungsikan sebagai Posyandu Melati, namun apabila rumah sebelumnya digunakan sebagai tempat tinggal, maka rumah ini digunakan oleh Kelompok Tenun Ikat Sonkiko menjalankan kegiatan usahanya, yang juga tergabung pada kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan Sonraen.

Dalam rumah tersebut, terdapat sekitar lima mesin tenun manual yang terbuat dari kayu, dengan beberapa kain setengah jadi terikat di ujungnya. Pada tembok rumah, terdapat struktur pengurus kelompok yang ditulis pada selembar kertas karton dan direkatkan seadanya ke dinding. Kurang lebih seperti inilah struktur pengurusnya.

Kelompok Tenun Ikat Sonkiko – PKK Kelurahan Sonraen

Pembina – Lurah

Ketua – Oktofiana Masneno

Sekretaris – Dortia Masneno | Bendahara – Yasinta Yn Auberek

Anggota-anggota lain di bawahnya

Sebagai salah satu pengurus kelompok, Ibu Dortia menyambut kami di sana. Beliau berkisah bahwa kegiatan kelompok ini sudah berjalan lima tahun sebelum Astra masuk ke KBA Kupang, di mana pada dahulunya kelompok ini tergabung pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan.

“Sayang kalian tidak datang pada hari Rabu.” Tukasnya, sambil menjelaskan bahwa kelompok ini bekerja membuat kain tenun pada hari Rabu saja, sementara pada hari-hari lain, mereka bekerja seperti biasa. “Di sini kerjaan kalau tidak habis biasa diselesaikan di rumah, sebelum berkumpul kembali di hari Rabu.”

Sebelum menjadi kain, ada beberapa proses yang harus dilakukan seperti menggulung benang, mengikatnya menjadi satu, memberi warna, juga merebus bahan-bahan pewarnanya. Untuk pewarna kain, Ibu Dortia mengaku menggunakan pewarna alam, seperti misalnya dari kulit kayu dan belerang. Bantuan berupa benang juga diberikan oleh Astra, di mana pengerjaan benang ini harus dilakukan pada musim panas, karena memerlukan proses penjemuran. Bercocok tanam di musim hujan, menenun kain di musim panas, cocok!

KBA Kupang

“Kalau untuk harganya berapa, Bu?” Saya menunjuk kain-kain yang digantung di tembok. “Yang ini cakep nih, kayak ibu.”

“Kalau selendang kecil itu, mulai dari Rp100.000,-.” Ujarnya “Pengerjaannya cukup lama, bisa makan waktu satu minggu, karena harus hati-hati mengerjakannya.”

“Lalu kalau untuk pemesanannya, bagaimana?”

“Kalau kami biasanya berdasarkan pesanan. jadi kalau ada orang pesan, kami buatkan.” Tambah Ibu Dortia. “Seperti kemarin ketika Bapak Lurah ke Jakarta, dia bawa kain dari kami.”

Sungguh sebuah bisnis yang menarik, yang tentunya dapat membantu masyarakat sekitar untuk terus berkarya dan meningkatkan taraf kehidupannya. “Ya pokoknya terus ingat kami, ya, Pak. Supaya pemasaran bisa banyak.” Ibu Dortia berpesan tepat sebelum kami meninggalkan kediaman Kelompok Tenun Ikat Sonkiko.

Bapak Nikodemus yang Terus Berjuang

Lokasi terakhir yang kami kunjungi di KBA Kupang hari itu adalah sebuah Demplot Sayur dan Buah yang terletak di pekarangan SD Buraen 1, yang berjarak sekitar dua kilometer dari SDN Sonraen. Demplot, atau Demontration Plot adalah suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan, agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemontrasikan.

Secara garis besar, demplot bisa berupa Inovasi teknologi budidaya, VUB (Varietas Unggul Baru), pemupukan, dan lain-lain, yang disesuaikan dengan demografi wilayah tersebut.

Sumber Artikel

Demplot Sayur dan Buah di KBA Kupang, diinisiasi oleh Bapak Lili, pendamping Astra di Amarasi Selatan yang bertugas menyediakan perlengkapan berkebun, mengirimkan bibit sayur dan buah, termasuk memberikan penyuluhan mengenai cara bercocok tanam yang tepat, yang bekerja sama dengan Bapak Nikodemus, yang bertugas mengelola kebun sayur dan buah.

Mereka optimis, bahwa kebutuhan sayur di KBA Sonraen ini akan dapat terpenuhi yang dimulai dengan adanya demplot ini.

 

Mengenakan polo shirt hitam dan topi rotan yang unik, Bapak Nikodemus menceritakan kisah tentang demplot ini dengan penuh semangat. Tentang jenis-jenis tanaman dalam demplot yang meliputi tomat, sawi, terong, hingga timun. Tentang panen pertama yang akan diadakan esok hari setelah tiga bulan bercocok tanam, dan rencana membesarkan kebunnya.

“Dahulu di sini adalah kebun pisang.” Cerita BaPak Nikodemus “Lalu kita kasih tumbang itu pisang, sebelum dibuat menjadi demplot olah Bapak Lili.”

“Lalu rencananya kalau sudah panen, mau dijual ke mana, Pak?”

“Kita belum tahu.” Jawabnya. “Karena baru pertama kali panen, mungkin akan dijual di kota.” Kota di sini, yang dimaksud adalah Kupang, bukan Glodok.

“Kebun ini kita rawat seperti anak kecil, harus diberikan perhatian.” Tambah Pak Nikodemus “Sudah tiga bulan ini saya tidak pernah tidur siang karena selalu pulang pukul dua belas malam.” Semua demi merawat kebun, yang sebentar lagi akan menunjukkan buah perjuangan seorang Nikodemus di timur Indonesia.

Siapa sangka Bapak Nikodemus yang selalu semangat menceritakan kisahnya berkebun ini, ternyata juga seorang guru di SD Buraen 1? “Saya sudah 32 tahun mengajar, tepatnya sejak tahun 1985.” Ujarnya.

“Oh ya? Tapi Bapak terlihat masih muda.” Timpal saya seketika, sambil membayangkan masa kerja Bapak Nikodemus yang lebih lama daripada usia saya.

“Saya kelahiran 1957, dan dua tahun lagi akan pensiun.” Ceritanya bangga. “Nanti saya akan urus kebun ini, karena hasilnya bagus.”. Bapak Nikodemus juga bercerita bahwa pada zamannya dulu, dia sempat ditolak masuk SD karena tangan kanannya belum mampu memegang telinga kirinya apabila dilingkarkan di atas kepala. Sebuah hal yang tidak berlaku di masa sekarang, karena sekarang untuk masuk SD cukup dengan bisa membaca dan menulis.

KBA Kupang

Saya menutup hari itu dengan sebuah senyuman. Cerita-cerita perjuangan Mama Joseba, Amelia Nahak, Ibu Dortia, hingga Bapak Nikodemus untuk merawat tanah tempat tinggalnya telah memberikan kita secercah harapan akan timur Indonesia yang terus bangkit, karena kesejahteraan adalah hak seluruh rakyat Indonesia.

Salam.

Advertisements