backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Togean by Fiki J Bhayangkara

Serba-Serbi Bertamasya ke Togean

arievrahman

Posted on September 26, 2018

Saya sudah mendengar lama tentang nama Kepulauan Togean, baik dari media daring, obrolan di media sosial, maupun dari kawan-kawan yang sudah pernah mengunjungi taman nasional yang terletak di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah tersebut. Dari cerita-cerita yang pernah didengar, saya mendapatkan tiga hal menarik tentang Togean, yaitu alamnya cantik,  (namun) aksesnya susah, (juga) sinyalnya jelek.

Benarkah demikian? Jawabannya, ya dan tidak.

Perkara alamnya cantik, tentu saja benar. Taman Nasional Kepulauan Togean yang memiliki luas daratan sekitar 755,4 km² dan terdiri dari kurang lebih 66 pulau besar dan kecil yang masuk ke dalam zona transisi garis Wallace dan Weber ini dikenal kaya akan terumbu karang dengan berbagai biota laut yang langka dan dilindungi. Selain itu, akibat pembentukan yang disebabkan aktivitas vulkanis, banyak pulau di daerah Togean yang ditutupi oleh vegetasi subur dan rimbun, serta dikelilingi oleh formasi bukit karang. Batu karang dan pantai yang ada di sana inilah yang kemudian menyediakan tempat bagi beberapa binatang laut untuk tinggal dan berkembang biak, seperti misalnya kura-kura hijau yang tidak di dalam perahu.

Pulau Papan Togean

Lalu bagaimana dengan akses transportasi dan kendala komunikasi yang saya sebutkan di atas? Perkara transportasi, nanti akan saya kemukakan di bawah, namun untuk komunikasi seluler antar pulau yang susah, hal tersebut benar adanya. Karena sampai saat ini, jaringan telepon belum bisa menjangkau semua pulau di Togean –paling hanya Pulau Wakai yang memiliki jaringan bagus dan sinyal internet karena dibangunnya BTS di sana, sementara sisanya masih mengkhawatirkan.

Ada pulau-pulau yang sama sekali tidak mendapat sinyal, dan ada pulau-pulau yang beruntung memiliki bukit cukup tinggi, sehingga penduduknya dapat memanjat bukit tertinggi hanya untuk mencari sinyal telepon. Seperti Arjuna mencari cinta.

Kalau sudah siap, saya akan mulai bahasan tentang aspek utama untuk tamasya ke Togean, yang meliputi transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Baru setelah itu kita berlanjut ke hal-hal yang bisa dilakukan di Togean, selain mempertanyakan kenapa namanya Togean, bukan Tocilan, tentunya.

Categories: Domestic, GMT +8, Sulawesi Tengah

Tagged: Ampana, Bandara Tanjung Api, Sulawesi, Togean

27 Comments

+Read more

Safari Nairobi

Balada Pencarian Tiket Pesawat Murah Paling Memorable

arievrahman

Posted on August 16, 2018

Berhubung nama blog ini mengandung kata ‘Backpack’, saya kerap sekali diasosiasikan sebagai seorang ‘Backpacker’ yang kalau jalan-jalan selalu menggunakan tiket murah. Sebuah anggapan yang sangat meremehkan saya, padahal kenyataannya, memang iya. Seperti yang pernah saya ulas pada artikel mengenai budget ini, transportasi, pada umumnya, dan tiket pesawat pada khususnya, merupakan salah satu komponen terbesar yang sangat mempengaruhi biaya perjalanan.

Saya mengakui, bahwa hingga saat ini, tiket pesawat merupakan komponen terbesar biaya yang besarnya bisa mencapai lebih dari 70% dari biaya perjalanan secara keseluruhan. Memang, dibutuhkan sedikit strategi dan sejumput keberuntungan untuk mendapatkan tiket pesawat dengan harga yang cukup murah, namun begitu mendapatkannya, semua pengorbanan tersebut akan terbayar lunas. Kalau memang jadi berangkat.

Tercatat, ada banyak sekali tiket murah yang pernah saya dapatkan, namun hanya ada beberapa yang memorable, seperti halnya cinta pertama. Sebentar, cinta pertama, kok ada beberapa?

Ah sudahlah, mari kita berbincang tentang pencarian tiket murah saja.

1. Belitung – Sriwijaya Air – 2010

Salah satu pencarian tiket domestik paling murah yang saya ingat adalah ketika mendapatkan tiket ke Bandara Tanjung Pandan, Belitung, sekitar tahun 2010, dua tahun sebelum blog ini dimulai. Saat itu saya belum terlalu ketagihan jalan-jalan, bahkan pembelian tiket ke Belitung inipun hanya karena ikut-ikutan teman kampus.

“Cuma 480.000 PP pakai Sriwijaya Air.” Katanya. “Kalau pakai kartu BNI.”

What? Bisa liburan ke pantai cuma kurang dari lima ratus ribu tiketnya? Sebuah penawaran yang cukup menarik, bukan? Terlebih saat itu Belitung sedang naik daun, akibat novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dan makin ngetop setelah kunjungan saya ke sana.

Belitung

Memang, tiketnya cukup murah apabila dibandingkan ke Raja Ampat yang belum terkenal saat itu. Namun untuk mendapatkan tiket tersebut cukuplah repot, karena saya harus mendatangi kantor penjualan tiket Sriwijaya Air di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat, dan harus menggunakan Kartu BNI, yang mana saya saat itu tidak memilikinya.

Alhasil, saya harus meminjam kartu milik teman supaya bisa membeli tiketnya, dan ketika sudah dapat tiketnya, saya masih harus membayar hutang ke teman saya. Huft.

Categories: Survival Kit

Tagged: PayLater, Tiket Murah, Traveloka

41 Comments

+Read more

Empat Jam Sightseeing di Antwerp (Bagian Kedua)

arievrahman

Posted on August 12, 2018

Awan kelabu menggelayut di langit-langit Antwerp ketika kami melanjutkan perjalanan siang itu. Walaupun sudah di penghujung Februari yang berarti bahwa musim dingin akan segera berakhir, namun matahari sepertinya masih malu-malu menyapa. Suhu yang dingin –mungkin berkisar belasan derajat Celcius, membuat saya dan Neng tetap mengenakan jaket supaya tidak masuk angin dan biduran; sementara Mbak Fab yang sudah menjadi warga lokal sana, nampak biasa saja dengan stocking tipis yang dikenakannya.

Dari Meir, kami berbelok menyusuri gang demi gang di pusat kota Antwerp dengan berbagai macam toko di sisi kanan dan kirinya. Pada suatu titik, kami berhenti di belakang antrean panjang pada emperan sebuah toko bernama Goosens, yang ternyata menjual roti dan sejenisnya.

“Mau coba?” Mbak Feb menawarkan, sambil bercerita bahwa Goosens ini adalah toko roti yang cukup terkenal di Antwerp, sehingga seringkali dipenuhi pengunjung, walaupun saya tidak menemukan adanya abang Go-Jek yang ikut mengantre. Antrean panjang tersebut mungkin memang karena kualitas rotinya yang baik, bukan karena kasirnya cuma satu, seperti di BreadTalk.

“Nanti di Indonesia kita bikin Dapur Gladies seperti ini, ya Neng.”

Baca: Empat Jam Sightseeing di Antwerp (Bagian Pertama)

Menjelajah Gang-gang Kota Antwerp

Walaupun saya menyebutkannya sebagai gang, namun jangan kamu bayangkan kalau gang ini seperti yang kamu temui di  Mampang Prapatan atau Pecinan Glodok, karena di Antwerp gang tersebut sangat lebar –mungkin hingga lima meter, ter-paving dengan baik dan rapi –tidak berlubang seperti jalanan menuju Ujung Genteng dulu, dan tentu saja tidak ada pengendara motor yang melewati gang tersebut dengan zig-zag dan membunyikan klakson secara ugal-ugalan mirip voorijder pejabat yang meminta jalan.

Di Antwerp, gang seperti ini memang dikhususkan untuk pejalan kaki, juga untuk pesepeda, walaupun memang saya tidak melihat adanya jalur hijau khusus dengan obstacle berupa tiang listrik dan kontainer seperti di Jakarta.

Antwerp

Antrean Makaroni Ngehe?

Selain toko roti, ternyata gang-gang tersebut juga menjadi rumah untuk beberapa butik kelas dunia, bahkan toko kristal ternama –Swarovski juga memiliki gerainya di sini. Walaupun sedang berbulan madu, namun saya tidak mengajak Neng untuk masuk ke Swarovski, alasannya tentu saja adalah “Halah, yang begini di Indonesia juga ada.” walaupun tentu saja alasan sebenarnya adalah ketidakmampuan secara ekonomis.

Ya wajar saja, namanya juga baru menikah. Harta benda dan harga diri pun ikut ludes demi membiayai acara (dan ‘pencapaian’) paling prestisius menurut Warga Negara Indonesia itu.

Categories: Belgium, Foreign

Tagged: Antwerp, Belgium

19 Comments

+Read more

Paris

Huru-Hara Mengurus Visa Schengen di TLScontact untuk Kedutaan Besar Perancis

arievrahman

Posted on July 29, 2018

Jangan suka mepet kalau mengurus visa! Sebuah anjuran yang memang sebaiknya saya terapkan ke diri saya sendiri. Namun bagaimana jika kasusnya adalah bahwa paspor saya baru available di awal Juni 2017 setelah Caucasus Trip yang berakhir di pertengahan Mei dan harus mengurus Visa Jepang di akhir Mei, sedangkan saya harus terbang ke Perancis pada 13 Juli 2017? Sementara bulan Juni-Juli tahun 2017 adalah high season —musimnya liburan, di mana orang-orang menghabiskan jatah cutinya untuk liburan musim panas, ditambah dengan adanya liburan lebaran dan cuti bersama di akhir Juni.

Untuk memperkeruh keadaan, saya –bersama dengan Neng dan Mama, juga merupakan kaum yang memanfaatkan liburan lebaran tersebut guna mengunjungi Jepang pada tanggal 26 Juni 2017. Praktis, saya hanya memiliki waktu kurang lebih 20 hari kalender untuk mendapatkan Visa Schengen ini.

CATATAN: Kamu dapat mengajukan Visa Schengen paling cepat 90 hari sebelum tanggal keberangkatan kamu ke Eropa.

Hey, bukankah ada yang bilang kalau Visa Schengen di Kedutaan Besar Perancis 2×24 jam? Ah itu mah hanya jargon masa lalu, di saat masih sedikit orang yang mengajukan Visa Schengen melalui Kedutaan Perancis. Kalau sekarang –atau tepatnya pada saat saya mengurus visa ini tahun 2017 silam, waktu rata-rata yang dibutuhkan aplikan adalah dua minggu, atau sekitar 10 (sepuluh) hari kerja. Itupun kalau tidak sedang high season.

Lalu bagaimana solusinya untuk kasus saya? Berhubung tidak punya kenalan orang dalam yang bisa menguruskan visa, maka mau tak mau saya harus mengurus sendiri, melalui TLScontact –badan yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar Perancis (dan juga Swiss) untuk memroses permohonan Visa Schengen yang akan masuk melalui negaranya.

Visa Perancis TLS

Untuk mendapatkan Visa Schengen yang berlaku di 25 negara Eropa, kamu dapat memilih untuk mengurus di perwakilan negara kedatangan, atau perwakilan negara terlama yang akan kamu kunjungi di Eropa kelak. Berhubung tiket yang saya pegang adalah tiket pergi-pulang (bukan pulang-pergi) ke dan dari Perancis, maka mau tak mau saya harus mengurus visanya melalui TLScontact.

Categories: Foreign, France, Survival Kit, Visa, Visa Schengen

Tagged: Perancis, TLScontact, Visa Schengen

136 Comments

+Read more

Safari Ngorongoro

Mencoba Fujifilm X-T2 di Afrika

arievrahman

Posted on July 15, 2018

Saya adalah pengguna setia kamera Fujifilm. Well, jika definisi setia menurut kamu adalah cinta sehidup semati sejak pandangan pertama, maka memang saya bukanlah yang seperti itu. Namun jika menurut kamu definisi setia adalah tidak berganti pasangan –dalam hal ini merek kamera– sejak menemukan yang tepat, maka kamu dapat menganggap saya sebagai orang yang setia. Maklum, Aquarius.

Sejak 2014, saya memang tidak berganti, atau lebih tepatnya belum tertarik untuk mencoba merek kamera lain karena telah meminang Fujifilm X-T1 sebagai kamera utama. Sebelumnya, saya sempat mencoba merek Nikon, Pentax, Samsung, dan Panasonic Lumix sebagai kamera utama, namun saat ini saya mentok di Fujifilm karena kenyamanan yang ditawarkan.

Setelah tiga tahun lebih menggunakan X-T1 yang saya namakan sebagai Fujita, saya belum mengalami kendala berarti kecuali matinya kamera karena suhu super dingin yang saya temui di Turki dan Rusia, sisanya semua baik-baik saja, –saya sangat menyukai performa kamera ini.

Review Nikon P-7000
Review Samsung NX Mini
Review Panasonic Lumix GF6
Review Fujifilm X-T1

Sekadar disclaimer, matinya kamera ketika suhu dingin bukanlah karena kamera ini lemah terhadap cuaca ekstrim –sebelumnya, kamera berfitur weather shielded ini sudah saya bawa ke mana-mana, termasuk main salju ketika Mamacation di China, dan semuanya aman, tanpa kendala. Sehingga menurut saya, penyebabnya mungkin karena faktor umur kamera dan pemakaian saya yang kurang apik sehingga muncul kendala seperti itu.

Untuk seorang travel blogger –yang lebih mengedepankan tulisan (dan masa depan) dibandingkan foto, saya merasa Fujifilm X-T1 ini sudah lebih dari cukup, hingga saya mencoba Fujifilm X-T2 pada perjalanan saya ke Afrika, eh, maksud saya Kenya dan Tanzania kemarin.

Sedikit Perubahan pada Body Kamera

Kesan pertama, biasa dimulai dari fisik. Bermula dari lirikan terhadap badan yang sintal, saya mulai meraba X-T2 pada pertemuan pertama kami. Kurang ajar memang, tapi saya harus melakukannya, supaya dapat mengenalinya lebih jauh.

Secara fisik, kamera terbitan 2016 ini tidak berbeda jauh dengan pendahulunya yang lahir dua tahun lebih awal, masih berwarna hitam pekat, dengan material magnesium alloy kokoh dengan weather seal yang mampu melindungi tubuhnya dari debu, percikan air, dan suhu hingga minus -10°C.

Kamera ini sedikit lebih berat dari pendahulunya, yaitu hadir dengan dimensi 133 x 92 x 49mm dan berat 507 gram dengan baterai dan SD Card di dalamnya, sementara X-T1 berdimensi 129 x 89.8 x 46.7mm dan berat 440 gram. Perbedaan berat ini bukanlah karena terlalu banyak makan ketika lebaran, namun bisa jadi karena dibenamkannya beberapa fitur pelengkap pada X-T2.

Fujifilm X-T2
Fujifilm X-T2
Fujifilm X-T2

Yang paling mencolok di luar, tentu saja adalah adanya layar LCD yang sekarang bisa dilipat ke samping, eyecup yang lebih besar (walaupun lebih mudah kotor), perubahan pada dial ISO dan speed yang sekarang sudah dilengkapi ‘lock button’, dan hilangnya tombol ‘Record’ pada sudut kanan atas kamera. Ya, tombol yang biasa saya pakai untuk merekam video kini hilang.

Categories: Foreign, Kenya, Survival Kit, Tanzania

Tagged: Afrika, Fujifilm, Fujifilm XT2, XT2

29 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • 10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara
  • 9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)

Archives

Blog Stats

  • 5,485,408 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...