Hampir dua tahun berselang sejak saya menulis artikel tentang Cappadocia dengan status bersambung selayaknya sinetron Tersanjung, dan belum menyelesaikan tulisannya. Kali ini, saya kembali lagi untuk melanjutkan artikel tersebut, karena pantang rasanya bagi seorang Aquarius untuk tidak menyelesaikan apa yang telah dia mulai. Bukan, ini bukan berbicara tentang kisah cinta, melainkan tentang once in a lifetime journey, to a beautiful place, called Cappadocia.

Sedikit flashback, perjalanan ini saya lakukan di penghujung 2016 bersamaan dengan undangan media trip dari Turkish Airlines yang membawa saya ke Istanbul dan Cappadocia, selama lima hari. Di Istanbul, saya tidak memiliki banyak waktu, hanya sempat main ke sekitaran Blue Mosque, termasuk mencoba dimandikan pria di hammam. Namun, di Cappadocia, saya memiliki lebih banyak waktu, dan bisa melakukan banyak sekali hal-hal terpuji di sana.

Baca: 40 Hal Seru yang Dapat Dilakukan di Cappadocia (Bagian Pertama)

Berikut, saya tuliskan lanjutan kisahnya.

21. Bertualang di Goreme Open Air Museum

Alkisah, lebih dari 2,5 juta tahun yang lalu, terbentuklah formasi batu-batuan lunak di Cappadocia akibat abu dan lava yang tumpah pasca erupsi yang melanda Gunung Erciyes. Berikutnya, batu-batuan tersebut sedikit demi sedikit mengalami erosi karena angin dan air, yang meninggalkan batuan keras di puncaknya.

Penduduk sekitar, tak mau tinggal diam melihat pleuang tersebut. Ya, daripada menunggu rumah DP 0% yang masih tidak jelas, mereka kemudian memahat sendiri tempat tinggalnya di dalam batu-batuan lunak tersebut, termasuk membuat gereja dan sekolah keagamaan di dalam goa yang dibuat sendiri.

Iya, pada zaman dahulu, penduduk Cappadocia adalah penganut Kristen Orthodox, hingga pada tahun 1923, mereka diusir oleh pemerintahan Islam di Turki, yang membuat mereka meninggalkan sebagian wilayah huniannya, yang sekarang menjadi Goreme Open Air Museum.

Source 1
Source 2

Sekarang, Goreme Open Air Museum telah menjadi satu dari dua destinasi UNESCO World Heritage List di Turki (sejak 1984) dan menjadi rumah dari peninggalan gereja yang dipahat dalam gua batu dengan lukisan-lukisan fresco yang warnanya tetap dibiarkan (atau dirawat) menyerupai aslinya.

Saking bagus perawatannya, kami tidak diizinkan untuk mengambil foto di dalam gereja-gereja yang ada di Goreme Open Air Museum, baik di St. Barbara Church, Apple Church (bukan, ini bukan iChurch buatan mendiang Steve Jobs), maupun Snake Church.

Ya sudah lah, kalau tidak diizinkan untuk foto, lebih baik saya duduk-duduk saja sambil …

22. Menikmati Teh Lokal

Ya, Turki adalah salah satu negara yang dikenal oleh teh lokalnya yang cukup nikmat. Biasanya, teh ini berasal dari provinsi Rize di wilayah timur Laut Hitam, yang memiliki iklim sedang, dengan curah hujan tinggi dan tanah yang subur. Teh dari sini, bisanya diproses menjadi teh hitam.

Namun, walaupun lebih banyak teh hitam, saya lebih menyukai Teh Turki dengan rasa apel.

Turkish Tea
Catatan: Turkish Tea, biasanya disajikan dalam sebuah teko yang disebut sebagai çaydanlık, yang kemudian dituang ke dalam gelas-gelas kecil yang seksi, seperti perut saya pada foto di atas.

Seyogyanya, teh ini akan lebih nikmat apabila diminum sambil…

23. Nongkrong Bersama Warga Lokal

Warga lokal di Cappadocia, biasa terlihat nongkrong di emperan-emperan toko dan warung kecil (mungkin karena tidak ada Circle K dan Warunk Upnormal di sana) sambil bercengkerama mengenai hal-hal apa saja, yang kalau di Indonesia, mungkin mereka akan membicarakan topik-topik hangat seperti masuknya keluarga Cendana ke percaturan politik tanah air, darimana asal uang Pak Dendy dan Bu Dendy, hingga mengapa Habib Rizieq tidak pulang-pulang ke tanah air.

Cappadocia

Mereka biasanya akan memanggilmu untuk datang dan ngeteh bersama, namun kalau beruntung, mereka mungkin akan memintamu untuk…

24. Berkunjung ke Rumah Warga Lokal

Tidak, yang ini saya tidak diundang untuk datang berkunjung, melainkan memang jadwal kunjungan ini sudah ada dalam itinerary yang disiapkan sebelumnya. Walaupun banyak penduduk Cappadocia yang sudah menempati rumah modern seperti yang kamu tempati sekarang, namun beberapa di antara mereka, masih tinggal pada rumah yang terletak di dalam batu, seperti misalnya dedek-dedek gemez yang satu ini.

Tenang, dedek ini sudah Islam, jadi tidak perlu khawatir untuk menghalalkannya, kalau dia mau.

Cappadocia
Catatan: Apabila berkunjung ke rumah warga lokal seperti ini, biasanya mereka akan menawarkan barang jualan mereka, seperti kain, kerudung, suvenir, namun bukan anak mereka. Apabila suka, bisa dibeli, karena yang dijual di sini biasanya dibuat sendiri dan tidak dijual di toko lain. Harganya pun bersahabat, seperti Meikarta.

25. Menatap Kota Cappadocia dari Ketinggian

Ada beberapa tempat di Cappadocia, di mana kamu bisa menatap seisi kota dari ketinggian seperti di bawah ini, namun kalau kamu tanya, saya sendiri lupa apa nama tempat ini, wk. Yang jelas tempat ini dekat dengan taman kota.

Sungguh penjelasan yang sangat tidak berguna, bukan?

Cappadocia

26. Mengunjungi Monk Valley 

Selain membentuk Goreme Open Air Museum, erupsi dan erosi yang terjadi pada masa lampau tersebut juga membentuk sebuah fenomena alam yang kini dikenal dengan nama Monk Valley. Terletak di Pasabag, di antara perjalanan dari Goreme ke Zelve, kini Monk Valley dikenal karena bentuk batu-batuannya yang unik, menyerupai cerobong-cerobong dan jamur, yang tidak hanya berdiri sendirian, melainkan bisa berdempetan satu sama lain, dengan bentuk yang serupa.

Bagi saya sendiri, batu-batuan di Monk Valley ini bentuknya lebih mirip dengan penis yang sudah disunat.

Source 3

Lalu dari manakah nama Monk Valley? Kalau menurut sumber di atas, wilayah ini disebut Monk Valley berdasarkan ukiran-ukiran yang terdapat pada goa-goa batu di sini, yang dahulunya merupakan lokasi pertapaan dari murid-murid biarawan (monk) pengikut St. Simon. Konon, mereka dulu lebih memilih mengasingkan diri di sini –memahat batuan setinggi belasan meter untuk dijadikan tempat tinggal, daripada bergaul dengan dunia luar.

Zaman sekarang, mana bisa? Fear of Missing Out, cuy!

27. Menikmati Ice Cream Turki

Di Monk Valley –juga di beberapa tempat lain di Cappadocia, kamu juga dapat menikmati es krim a la Turki yang legendaris itu. Legendarisnya adalah bukan karena rasa dan varian yang disajikan, melainkan karena adanya atraksi seperti ‘sulap’ yang dilakukan abang-abang penjual es krim tersebut.

Penjual es krim biasanya memainkan stik yang digunakannya untuk mengaduk dan memindahkan es krim ke dalam cone (atau cup) sebagai ‘senjata utama’. Dia akan berakrobat mengayun-ayunkan stik tersebut, mengambil es krim-nya, dan berusaha melemparkan ke pembeli, memutarbalikkan stik dengan es krim di ujungnya –dengan berpura-puranya es krim tersebut akan tumpah padahal tidak, atau seperti yang saya alami ketika si penjual tersebut berusaha menusukkan stik ke arah selangkangan saya.

Sungguh biadab memang, tapi saya beli.

Turkish Ice Cream

Selain sedang ingin makan es krim, yang membuat saya membeli es krim di Monk Valley adalah karena penjualnya selalu berteriak “INDONESIA INDONESIA!” yang diulanginya berkali-kali hingga membuat saya jengah juga kasihan. Sebuah teriakan yang diikuti oleh pekikan “MERDEKA MERDEKA!”

Situ Bung Tomo, Bang?

28. Menaiki Unta

Selain es krim, beberapa atraksi wisata di Cappadocia juga menyajikan atraksi tambahan berupa unta, yang bisa kamu jadikan objek foto, baik dengan cara diajak foto bersama, dinaiki sambil jalan-jalan sebentar, maupun dibelai-belai. Asalkan tidak disembelih di tempat dan dijadikan steak unta.

Cappadocia
Catatan: Ada tarif tersendiri apabila kamu ingin 'bermain' dengan unta ini. Sebaiknya ditanyakan lebih dahulu kepada penjaganya, daripada tiba-tiba kamu diminta membayar dengan harga mahal.

29. Mendatangi Camel Rock 

Berbicara tentang unta, ada satu formasi batuan unik lain yang terdapat di Cappadocia, yaitu yang disebut sebagai Camel Rock. Alasannya, tentu saja karena batuan ini menyerupai bentuk unta yang sedang duduk, dengan kepala kecilnya dan punuk-punuk di punggungnya.

Konon, akibat ulah pengunjung yang kurang bertanggung jawab terhadap Camel Rock ini, kini area Camel Rock ditutupi dengan pagar kayu, guna mencegah pengunjung masuk dan menuliskan namanya di Camel Rock. Malu kan, kalau di Camel Rock tiba-tiba ditemukan tulisan “Joko, cah Kla-X”.

Camel Rock Cappadocia

Bagi saya pribadi, daripada Camel, saya lebih tertarik dengan Camel Toe. If you know what I mean. Well, okay, di Camel Rock kamu dapat melakukan beberapa macam pose foto dengan berbagai variasi, misalnya pose membelai unta hingga memberi makan unta seperti pada foto di atas.

Kalau masih kurang, kamu dapat juga…

30. Berfoto di Tengah Jalan

Cappadocia

Ya, mengapa tidak. Jalanan di depan Camel Rock relatif sepi apabila kamu membandingkannya dengan jalanan di Jakarta, maupun di Nairobi. Kamu dapat duduk di tengah jalan, sambil berpose membaca buku, ataupun kayang di sana. Yang perlu diingat, tetaplah hati-hati, karena namanya juga jalan raya, bisa saja ada kendaraan yang melaju kencang tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya.

Keterangan: Foto di atas diambil oleh Alexander Thian, dengan lensa mahalnya.

31. Mencicipi Baklava 

Untuk yang belum tahu, baklava adalah cemilan manis khas Turki, bukan aksesoris penutup kepala yang sering dipakai oleh perampok bank di film-film Hollywood. Bahan dasarnya adalah kacang (bisa kacang apa saja, kecuali kacang Dua Kelinci, karena tidak ada di Turki), yang dibungkus oleh lapisan pastry yang disebut filo, sebelum direkatkan dengan menggunakan gula cair, sirup, atau madu. Baklava yang sudah ada sejak zaman Ottoman ini, kemudian dikenal sebagai Turkish dessert, yang hampir selalu ada di setiap sajian menu makanan Turki.

Baklava
Catatan: Baklava banyak dijual seantero Turki, namun ketika mengunjungi Cappadocia, saya menyempatkan membeli sebungkus baklava di Mado, yang mahal.

32. Menjelajah Cardak Underground City

Dikisahkan kembali, penduduk zaman dahulu, selain membuat tempat tinggal dari batu-batu lunak di atas permukaan tanah, mereka juga membuat kota-kota di bawah permukaan tanah, dengan cara yang sama tentunya –manual dengan peralatan yang sederhana, tanpa adanya excavator Caterpillar yang keren itu.

Semua bermula dari abad ke-8 hingga ke-7 sebelum masehi, di mana gua-gua di bawah tanah dibuat oleh kaum Phyrgian, yang kemudian dilanjut oleh orang-orang Yunani yang mengembara hingga ke Turki. Penduduknya, yang kemudian menjadi penganut agama Kristen, melanjutkan pembangunan tersebut dengan menambahkan gereja di bawah tanah, dapur-dapur, juga menggunakan kunci pintu seperti yang ditunjukkan di bawah ini.

Underground City Cappadocia
Source 4

Kota-kota bawah tanah –di mana salah satunya adalah Cardak, menjadi pusat persembunyian kaum Kristen ketika Turki jatuh ke tangan Ottoman, hingga akhirnya pada tahun 1923, tempat tinggal mereka diketahui yang menyebabkan mereka menjadi terusir dari sana.

Kemudian sejak saat itu, Cardak dan beberapa kota bawah tanah lain (konon ada beberapa kota yang masih belum ditemukan hingga saat ini) ditinggalkan, dan menjadi objek wisata yang patut dikunjungi apabila kamu bepergian ke Cappadocia.

Selain berwisata ke dalam tanah, kamu juga dapat…

33. Melakukan Mannequin Challenge

I know it’s a lame, but heeeeey, we made that video on 2016, guys! So please appreciate.

Oke, apabila melakukan Mannequin Challenge is so last year, maka kamu pasti tidak akan melewatkan waktumu untuk…

34. Bermain dengan Anak-anak Setempat

Cappadocia

Ya, anak-anak di Turki sungguhlah sangat menggemaskan, kulitnya yang putih bersih, pipinya yang montok dan bersemu merah ketika diterpa cahaya matahari, pasti akan membuatmu ingin… segera punya anak dengan wanita Turki.

Tapi, berhubung kamu sedang di Cappadocia, akan sangat sayang apabila kamu tidak…

35. Menginap di Underground Hotel

Mengingat Cappadocia adalah kota ajaib yang pembangunannya berawal dari gua-gua di atas dan bawah tanah, maka sekarang ini banyak sekali ditemukan hotel yang mengambil desain seperti rumah-rumah pada gua zaman dahulu, tentunya dengan berbagai fasilitas masa kini seperti AC, televisi kabel, penghangat udara, hingga Wi-Fi gratis.

Walaupun tidak disediakan teman menginap di dalam kamar.

Cappadocia Underground Hotel

Apabila beruntung, maka hotel yang kamu punyai juga akan menawarkan paket…

36. Relaksasi dengan Hamam 

Hamam, adalah cara mandi dan relaksasi khas Turki, di mana kamu akan ‘dimandikan’ sampai bersih oleh para petugas yang berjaga, di mana pada umumnya, pria akan dimandikan oleh pria, dan wanita akan dimandikan oleh wanita. Walaupun pada beberapa kasus, seperti hotel yang kami tinggali di Cappadocia, mereka hanya memiliki terapis wanita untuk ‘memandikan’ tamunya.

Menariknya lagi, para terapis wanita di hotel kami bukanlah orang asli Turki, melainkan didatangkan langsung dari … *drum roll* … Bali.

Hammam Cappadocia
Catatan: Adegan di atas diperankan oleh model. Sebut saja namanya aMrazing.

Okelah, hamam mungkin biasa di Turki, lalu bagaimana dengan…

37. Berendam Lumpur di Katpatuka

Ini adalah salah satu pengalaman baru yang saya temukan di Cappadocia waktu itu, berendam lumpur! Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa saya akan melakukan salah satu hal paling menjijikkan di dunia setelah menjilat upil sendiri. Namun hal tersebut berubah setelah saya berendam di Katpatuka.

Ketika datang, saya diminta untuk menanggalkan busana, dan hanya mengenakan celana renang –atau bikini apabila kamu adalah seorang wanita, sebelum melakukan foot therapy dengan mencelupkan kaki ke dalam akuarium yang berisi ikan-ikan kecil yang akan menggigiti kulit mati di kaki saya.

Setelahnya, saya diminta untuk berendam di kolam air panas supaya tubuh dapat beradaptasi dengan kolam lumpur dan juga untuk melancarkan aliran darah. Kemudian setelah puas berendam di air panas, barulah atraksi utama dimulai, yaitu berendam di kolam lumpur seperti kerbau dan babi.

Katpatuka Mud Bath

Awalnya jijik dan geli, namun setelah saya mencelupkan kaki ke dalam kolam lumpur, ternyata hangat dan nyaman! Berikutnya giliran badan bagian atas yang saya celupkan, hingga sebatas leher, lalu, muka. Tak terasa, seluruh badan sudah rata dengan lumpur. Ternyata berendam seperti kerbau dan babi sungguhlah menyenangkan, apabila dilakukan di lumpur yang bersih, tanpa adanya ikan lele di sana.

Catatan: Walaupun terlihat menjijikkan, namun mandi lumpur dipercaya akan membuat kulitmu lebih sehat, dan lebih halus, seperti ikan lele.

Acara malam itu dilanjutkan dengan lomba menangkap belut dan menanam padi membersihkan diri di shower yang telah disediakan, dan kembali ke hotel. Walaupun sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk…

38. Menikmati Malam yang Sepi

Night at Cappadocia

Ya, Cappadocia (di bagian tertentu) sungguhlah sepi di malam hari selepas pukul sembilan malam. Saat kami ke sana, tidak ada seorangpun di jalan, kecuali kami, yang sedang menikmati malam dan mengendap-endap untuk…

39. Membeli Camilan di Minimarket

Ternyata, walaupun malam sudah larut tanpa tahu siapa yang mengaduk, masih ada satu-dua toko yang buka, di mana salah satunya adalah minimarket yang menjual berbagai cemilan, minuman olahan, dan penganan ringan yang hanya dijual di Turki. Beberapa di antaranya adalah kacang-kacangan, snack chiki-chikian lokal, teh dalam kemasan, juga cokelat batangan.

Cappadocia
Tambahan: Tenang, di minimarket ini, kamu tidak akan ditanya "Mau isi pulsanya sekalian?" ketika akan membayar di kasir.

40. Menonton Pertunjukan Spektakuler Zelve Mapping

Salah satu hal paling menakjubkan yang saya saksikan di Cappadocia waktu itu adalah pertunjukan mapping (atau permainan cahaya, video, dan suara) yang ditembakkan oleh beberapa proyektor dan beberapa pengeras suara ke tebing-tebing unik yang terdapat di Cappadocia, tepatnya di Cappadocia Zelve Valley Open Air Museum.

Zelve Mapping ini sendiri menyajikan tayangan perkembangan bumi dan umat manusia di Turki, khususnya yang tinggal di Cappadocia, sejak lima milyar tahun yang lalu, hingga masa kini. Diproduksi oleh Fikirbaz Zenger dan diarahkan oleh Ferdi Alıcı (dua-duanya saya tidak tahu siapa, pertunjukan Zelve Mapping yang diberi judul ‘Revolution of Topography’ telah dinobatkan sebagai “The world’s largest mountain surface mapping”. Paham?

Zelve Mapping Cappadocia
Source 5

Kalau masih bingung dengan penjelasan di atas, kamu dapat menyaksikan seperti apakah Zelve Mapping di akun Instagram mereka, atau kalau sedang memiliki rezeki lebih, kamu dapat juga langsung mengunjungi Cappadocia seperti kami, tentunya setelah menyisihkan sebagian harta untuk anak yatim dan mereka yang membutuhkan.

Masha Allah.


Cappadocia with Turkish Airlines
Catatan: Untuk menuju Cappadocia, kamu dapat menggunakan Turkish Airlines yang melayani penerbangan Jakarta-Istanbul setiap hari dengan jadwal penerbangan pukul 20.45 kalau belum berubah, dan lanjut dengan penerbangan lokalnya ke Kayseri atau Nevsehir yang terletak di wilayah Cappadocia.
Advertisements