Satu hal paling menyebalkan ketika traveling adalah keharusan untuk bangun pagi, di mana salah satu alasannya adalah karena jadwal jemputan tur yang mengharuskan saya untuk seperti itu. “We will go to Teriberka at 09.00 from Murmansk.” Kata Ivan dengan bahasa Inggris yang patah-patah, pada malam kedatangan saya di Murmansk, beberapa jam sebelumnya. “But, since your hotel is outside the city centre, we will pick you up at 08.20.”

Ya, saya memang baru tiba di Murmansk pada dini hari, di hari yang sama dengan jadwal tur ke Teriberka. Sedikitnya waktu liburan akibat jatah cuti yang terbatas, membuat saya harus pandai-pandai mengatur jadwal supaya tetap dapat mengunjungi banyak tempat sekaligus. Trik yang saya gunakan adalah dengan menggunakan penerbangan malam dari Moscow, dan lanjut memakai jasa tur di Murmansk untuk pergi ke Teriberka, wilayah paling utara dari Rusia yang langsung berbatasan dengan Samudera Arktik.

Ivan, adalah trip handler yang bertugas melayani berbagai kebutuhan saya (selain kebutuhan biologis) selama di Murmansk. Bukan, dia bukan Ivan Gunawan.

Murmansk Hotel

Pukul enam kurang, saya sudah terbangun pada penginapan yang saya pesan karena bentuknya yang lucu dan terlihat hangat di internet, yaitu sebuah hut kayu dengan kamar yang hangat di dalamnya, yang sayangnya hanya saya tempati sendiri tanpa Anna Kournikova dan Maria Sharapova yang menemani.

Entah mengapa, ketika liburan, saya selalu bisa bangun lebih pagi daripada ketika hari kerja di Jakarta.

Pukul tujuh pagi, saya sudah selesai mandi dan bersiap di kamar –yang nampak lebih cantik dengan adanya ornamen berbentuk wanita cantik di tembok, menyiapkan pakaian winter yang harapannya dapat menghangatkan saya di suhu antara -20º hingga -30º. Sambil menunggu jemputan, saya mulai melapisi tubuh saya dengan berbagai bahan yang dipercaya dapat menimbulkan kehangatan.

Well, jika kamu ingin tahu tentang pakaian winter yang saya gunakan hari itu, maka inilah rinciannya (kalau tidak, mohon diabaikan saja):

  • 🎩 Kupluk berbahan fleece pakai Polartec Columbia;
  • 🎧 Ear muff yang saya beli di Myeongdong;
  • 🧣 Neck gaiter yang dibeli di Kickstarter dan lupa merek apa;
  • 👕 Base layer memakai Uniqlo Heattech Ultra Warm;
  • 👔 Inner layer memakai fleece Uniqlo Heattech yang turtle neck plus tambahan fleece Columbia yang beli di FO Rempoa dan robek sedikit jahitannya;
  • 🧥 Jacket Parka Turbo Down 550 with Omni - Heat Technology dari Columbia, jaket yang hampir menimbulkan perpecahan rumah tangga karena harganya;
  • 🧤 Sarung tangan Uniqlo Heattech yang sepertinya kurang mahal;
  • 👖 Inner layer pakai Heattech Ultra Warm Uniqlo plus sempak yang dibeli juga di Uniqlo pas diskonan, sementara outer-nya memakai Uniqlo yang memiliki lapisan fleece di dalamnya;
  • 🧦 Kaus kaki pakai Heattech Uniqlo, yang saat itu cuma ada warna merah, biar kayak Justin Trudeau;
  • 👟 Sepatu menggunakan Columbia OutDry waterproof shoes + Techlite feature, diberikan istri ketika menikah, dan belum mampu beli lagi.

Pukul 08.20 saya sudah siap di teras kamar, mencoba tetap tegar sambil menahan dingin akibat embusan angin yang bertiup, dan pukul 08.21, sebuah Mercedes-Benz Sprinter berwarna hitam datang menjemput. Sangat tepat waktu, apabila dibandingkan dengan rencana kepulangan Habib Rizieq.

Apabila kurang tidur akibat bangun terlalu pagi ditambah sengsaranya traveling di musim dingin sudah cukup menyebalkan, tunggu hingga kamu membaca artikel ini hingga habis. Karena perjalanan yang menyebalkan baru akan dimulai dari sini.


“We will pick another guests at Azimut Hotel.” Ivan berucap dalam perjalanan pagi itu. Walaupun waktu sudah mendekati pukul sembilan pagi, namun langit masih gelap, dan tidak ada tanda-tanda akan muncul matahari. Apalagi Ramayana. “We are now in long night period, so the sun only shines 3-4 hours a day. It is been two weeks now.”

Dari penjelasan tersebut, wajar rasanya apabila kami berangkat lebih awal, karena diperlukan waktu tiga jam sekali jalan dari Murmansk untuk mencapai Teriberka, belum lagi kami harus mengejar waktu terbitnya matahari supaya perjalanan dapat lebih maksimal. Sebuah penjelasan yang juga menjawab rasa penasaran saya, akan kapankah waktu yang tepat untuk Salat Subuh di Murmansk. “About the other guests, from which country are they?”

I do not know, they are family of five. Maybe Malaysia, Thailand.” Jawabnya “Or Indonesia.

Hotel Azimut –yang bukan azimut berduri, adalah satu dari sedikit hotel papan atas yang berada di jantung kota Murmansk, dengan sebuah lapangan dan pohon natal raksasa berada di halamannya. Pukul sembilan tepat, kami sudah tiba di lobi Hotel Azimut yang megah. Hotel bagus, pasti yang menginap di sini adalah orang kaya yang bermartabat, batin saya.

“Please wait here.” Pinta Ivan, seraya melangkah masuk ke dalam lobi.

Murmansk

Setengah jam, iya tiga puluh menit, Ivan baru muncul lagi, dengan sebuah permintaan untuk menunggu. “Where are they?” Tanya saya, yang dibalasnya dengan mengangkat bahu sebelum melihat penunjuk waktu di layar telepon genggamnya.

“They ask me to wait.” Keluh Ivan. “It is crazy. It is been more than 30 minutes.”

Sebuah ungkapan kekesalan yang membuat saya berdoa dalam hati, semoga saja para tamu ini bukanlah orang Indonesia yang akan membuat malu nama bangsa.

Ketika traveling ke luar negeri, kamu membawa nama baik negara kamu. Perbuatan yang kamu lakukan, akan merepresentasikan penilaian orang terhadap negara asal kamu.

Doa saya terkabul, ketika dua puluh menit kemudian, rombongan keluarga yang ditunggu tiba sambil berbicara dalam bahasa yang terdengar seperti Kapkunkap kapkunkap sawadikap”. Orang Thailand, yang mungkin kalau tertawa terbahak-bahak akan terlihat seperti angka 5555 5555.

Syukurlah bukan orang Indonesia; dari peristiwa singkat tersebut saya jadi mengetahui bahwa orang Thailand punya budaya ngaret juga ternyata, apakah ini diadaptasi dari orang Indonesia? Astaghfirullah, saya jadi menilai sebuah bangsa karena kelakuan buruk warganya.

“Sorry for the late,” kata seorang wanita berkacamata bertubuh gempal, berambut keriting dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Di belakangnya muncul sepasang anak laki-laki dan perempuan, diikuti seorang wanita yang lebih tua, dan seorang pria berwajah bule. “it is because the kids. I am sorry.”.

What the fuck, saya membatin. Bisa-bisanya dia menyalahkan anak-anak yang umurnya belum genap sepuluh tahun tersebut. Karena menurut saya, kesalahan adalah pada orang tuanya, yang tidak bisa membimbing anak-anaknya. Ingin rasanya saya berteriak kepadanya “MLTR TERLAMBAT 25 MENIT SAJA SUDAH DITINGGAL MENIKAH, INI SATU JAM TERLAMBAT!”

Akibat kejadian itu, kami baru berangkat pukul sepuluh pagi dari Murmansk, dengan tujuan pertama adalah salah satu restoran fastfood paling utara di muka bumi, yaitu Mc Donald’s Murmanks. “Let’s buy something for lunch. Because we will have long journey today.” Ivan menyarankan sambil mengajak kami turun dari mobil.

McDonalds Murmansk

Saya duduk pada baris kedua mobil, tepat di samping wanita yang dipanggil Mama oleh si wanita berkacamata –yang berikutnya akan saya panggil sebagai Miss Sawadika, sementara Miss Sawadika berada di sampingnya. Pria bule yang ternyata adalah suaminya –berikutnya akan saya sebut sebagai Paul, duduk di jok belakang, bersama kedua anaknya.

The journey itself, indeed a long journey, literally and figuratively. Jarak antara Murmansk dan Teriberka memanglah hanya 130 kilometer, namun tumpukan salju yang menutup seluruh jalan, membuat pengemudi harus lebih berhati-hati supaya tidak terpeleset di jalanan yang licin. Suhu yang dingin, juga membuat saya harus memeluk kresek McD yang berisikan kentang goreng dan nuggets lebih erat, supaya tetap hangat.

Perjalanan tersebut dibumbui dengan riuhnya suara anak-anak yang bertengkar di jok belakang, berpadu dengan Paul dan Miss Sawadika yang mengobrol dalam bahasa Inggris sambil sesekali memarahi anaknya, bercampur lagi dengan Miss Sawadika yang mengobrol dengan ibunya menggunakan bahasa Thailand, yang membuat saya serasa berada di Chatuchak.

Miss Sawadika sendiri adalah orang yang gemar mengobrol –kalau tak mau disebut cerewet, dengan nada suara yang melengking seperti ibu-ibu di film Thailand, sementara suaminya adalah tipe lelaki yang pendiam, yang lebih suka dibentak dan diatur. Lemah. Orang paling menyenangkan dari keluarga mereka, adalah si ibu berusia 80 tahun yang kalem, tenang, berintonasi seperti orang Jawa, dan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. “I have families in the US, and I went to US several times.” Ceritanya.

Dari hasil obrolan sebelum tertidur, saya mendapat info (kalau tidak salah dengar) bahwa pasangan beda negara tersebut bertemu ketika Miss Sawadika kuliah di Amerika Serikat, sebelum akhirnya membina rumah tangga selama 10 tahun yang menghasilkan sepasang anak laki-laki dan perempuan yang lucu, kalau sedang diam. Paul sendiri, adalah seorang American berdarah Jerman dan Inggris.

Road to Teriberka

Pukul dua belas lebih, kami tiba di tujuan pertama pada hari itu, sebuah danau yang dikelilingi salju, dengan restoran yang nampak hangat berdiri di dekatnya. Sebuah bangku kayu terpatri di pinggiran danau dengan sepasang kekasih bergantian saling memfoto di sampingnya. Gonggongan anjing ikut menyambut kedatangan kami di Teriberka yang sunyi, dengan beberapa mobil beratapkan es terparkir di sekeliling kami.

Ini memang seperti ini setiap hari, atau hanya ketika musim dingin? Sebuah pertanyaan yang tidak sempat terjawab, karena kami mampir di lokasi ini hanya untuk toilet break.

Let’s go!” Ajak Ivan ketika kami sudah berkumpul semua di restoran yang memajang kulit beruang pada salah satu dindingnya. Saya sempat membeli sebuah kaus biru seharga 800 Ruble bertuliskan Teriberka – The Edge of The World –yang ternyata kekecilan, juga di restoran tersebut. “We still have more places to be visited!”.

Saya bergegas ke mobil, sementara keluarga Miss Sawadika masih sibuk berfoto di depan restoran, walaupun sudah diberikan banyak waktu sebelumnya. “Please, wait a minute!” Pinta Miss Sawadika, sementara Paul terlihat sudah lelah menghadapi istrinya. Mau terlambat berapa menit lagi ini?

“LET’S GOOO! COME OOON!” Teriak Ivan kepada mereka, sebelum melirihkan suaranya dan berbisik kepada saya. “Thank God that I have you in this group, so I am not alone here.

“Yeah, you are welcome.” Sayangnya saya sudah beristri.

Teriberka

Pertualangan berlanjut ke sebuah permukiman, dengan bangunan bertingkat berada di kanan kirinya. Yang aneh adalah, walaupun masih banyak lahan kosong, namun penduduk setempat lebih memilih tinggal di bangunan bertingkat secara bersama-sama, dibanding membuat rumah yang menempel dengan tanah.

Teriberka, adalah wilayah yang cocok untuk mewujudkan Program Hunian dengan DP 0% milik Anies - Sandi.

Pada permukiman yang lebih mirip kota mati tersebut, saya lebih banyak melihat anjing berkeliaran daripada orang-orang yang lalu lalang. Sungguh sebuah hal yang wajar, namanya juga musim dingin, wk.

Seekor anjing besar dengan mata terluka mendatangi mobil kami, dan Ivan langsung mengambil sekantung makanan anjing dari balik jok, sebelum membagikannya sebagian. Lalu di manakah Miss Sawadika? Tentu saja sudah menghilang, untuk mencari toilet, katanya.

Hadeh.

Kedatangan kami di sini, sebenarnya hanya untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan utama, yaitu sebuah semenanjung yang berbatasan langsung dengan Laut Barents di Samudera Arktik, samudera yang memisahkan Rusia dengan kutub utara.

Untuk menuju ke sana, kami tidak dapat menggunakan mobil biasa, melainkan harus berganti moda transportasi dengan menggunakan taksi lokal, yang bukan sembarang taksi, karena taksi yang dimaksud di Teriberka adalah taksi dengan menggunakan snowmobile, yang dapat berjalan lancar di antara bukit-bukit bersalju.

Tepat ketika sepasang taksi sudah siap –iya cukup menggunakan dua buah snowmobile yang ditambah semacam gerobak di belakangnya, Miss Sawadika ternyata malah sedang asyik main ke restoran, hingga Ivan harus menjemputnya kembali. Mungkin karena dipikirnya belum cukup menyita waktu perjalanan, dia pun sempat-sempatnya melakukan grup foto dengan anak-anaknya dengan snowmobile sebagai objek utama.

Masih belum puas lagi? Untuk menentukan siapa membonceng snowmobile yang mana, Miss Sawadika juga masih memerlukan waktu untuk mengatur formasinya, sebelum diputuskan bahwa saya akan berada pada satu gerobak dengan Paul, sementara dia dan ibunya, akan berada di gerobak yang lain. Lalu di mana anak-anaknya? Anak-anaknya langsung membonceng ke pengemudi snowmobile-nya, bukan di gerobak.

You know, I think life is better, when you still don’t have kids.” Keluh Paul, yang somehow mungkin saya setuju, dengan catatan jika mendapat istri yang super rempong. Cukup melihat saja, Hayati lelah, kak.

Taxi in Teriberka, is not an ordinary taxi ride. 🚤🚤🚤

A post shared by Travel Blogger | M Arif Rahman (@arievrahman) on

Perjalanan dengan taksi di Teriberka, pada awalnya saya pikir akan menyenangkan, yang membuat saya mengambil posisi duduk tepat di belakang pengemudi, namun ternyata terkena serpihan-serpihan salju yang beterbangan ke muka ketika snowmobile berjalan ternyata sangatlah menyakitkan, mungkin seperti chemical peeling rasanya. Perih sangat kak! Sayang kan perawatan yang tiap hari saya lakukan dengan Clarins Men.

Belum lagi angin yang meniupkan suhu minus dua puluh juga membuat sebagian tubuh saya menggigil kedinginan di gerobak belakang. Selimut tebal yang disediakan masih belum cukup untuk mencegah rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh. Inilah saat-saat di mana saya sangat merindukan Wedang Jahe dan rasa cemburu.

Untungnya, perjalanan ke tepian laut tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua puluh menit sekali jalan. Sebuah tebing yang ditutupi salju, dengan pantai berisikan ribuan batuan hitam menyambut kami di sana. Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di Belitung.

Barents Sea Teriberka

Arif, do you want to touch the water?” Ivan bertanya sambil mengajak saya turun mendekati laut. Ivan bercerita bahwa laut ini merupakan daerah yang terhangat di Teriberka, dengan suhu air sekitar 4º Celcius. LALU, KALAU HANGAT KENAPA GAK ADA YANG JUALAN WEDANG RONDE? “Watch your step. The snow is so thick, and the rock is slippery.”

Melihat kami turun, Miss Sawadika pun tak mau kalah. Dia memanggil Ivan dan memintanya untuk menemaninya turun, sementara Paul, ditinggalkan di atas. Ivan, yang saat itu bertugas sebagai trip handler mau tak mau harus pasrah dengan permintaan tamunya. Dengan perlahan, Ivan mendampingi Miss Sawadika berjalan –sambil sesekali memegangnya, di antara batuan yang licin, menuju laut. Hingga pada suatu titik, Miss Sawadika sedikit terpeleset, dan menarik jaket Ivan untuk menjaga keseimbangannya.

BRAK!

Ivan terpeleset ke belakang pada batuan yang licin, dengan punggung yang jatuh lebih dulu membentur batu. Karena posturnya yang tinggi dan besar, gerakan jatuhnya Ivan tersebut mirip dengan musuh yang terkena bantingan suplex dalam kejuaraan gulat. “AARGHHHH!” .

Reflek, saya mendekat dan mencoba membantunya berdiri. “Are you okay?” Tanya saya kepada pria yang masih meringis kesakitan sambil mengusap punggungnya. Miss Sawadika juga menanyakan hal yang sama kepada Ivan, entah sungguh-sungguh, atau cuma karena formalitas.

Sambil sesekali memejamkan mata, Ivan mencoba bangkit, berusaha berdiri dan terlihat tegar di depan tamu-tamunya. “Yes, I am okay.”

I am sorry.” Ucap Miss Sawadika sambil cengengesan. Setelah memastikan bahwa Ivan dan Miss Sawadika baik-baik saja, saya melangkah dengan hati-hati ke tepian Laut Barents, dan menikmati heningnya Samudera Arktik tersebut.

Ivan bercerita bahwa apabila musim panas datang, akan ada kapal yang berlayar dari Murmansk ke kutub utara, dan saya bisa ikut serta dalam perjalanan tersebut dengan membayar biaya antara $10.000 hingga $25.000 dan menikmati paket liburan ke kutub utara selama 1-2 minggu. Sebuah biaya yang lebih mulia apabila digunakan di jalan Allah.

Diceritakan pula bahwa Teriberka ini adalah lokasi yang menjadi setting film Leviathan, film yang sampai saat ini saya tidak tahu itu film apa.

Sesudah puas menikmati pantai bersuhu minus, saya kembali lagi ke atas, bersiap untuk pulang ke kota. Di atas, saya menemukan Miss Sawadika sedang membentak suaminya sambil memberikan telepon genggamnya dengan tangan kiri. Mungkin meminta untuk difotokan bersama anak dan ibunya. Setelah melihat hasilnya, Miss Sawadika, ganti meminta tolong ke saya, untuk difotokan juga. Melihat Paul yang sepertinya menderita saat itu, saya berpikir bahwa mungkin dia lebih baik menjadi pengantin bom, daripada menjadi pengantin pria dari Miss Sawadika yang kemudian disia-siakan.

I still do not understand, why he married to that lady.” Ivan berbisik kepada saya, sambil menggelengkan kepalanya.

Ya mungkin saja dahulu dia primadona kelas, yang baik hati, selalu juara, dan mendapat IP tertinggi. Siapa tahu, kan?

Murmansk Vodka

Dalam perjalanan kembali ke Murmansk, Ivan menawarkan sesuatu kepada para tamunya, sebuah minuman berwarna kecoklatan dalam botol kaca berukuran setengah liter dengan tulisan 20% di labelnya. Minuman yang tentunya bukanlah Wedang Ronde, ataupun Jahe.

To make yourself warm.” Katanya.

Yeah, I think I need one, especially, after this unforgettable trip with Miss Sawadika. Sore itu, karena hari yang sudah mulai gelap akibat banyak waktu yang terbuang percuma, kami langsung kembali ke Murmansk dan melewatkan kunjungan ke air terjun yang langsung turun ke laut, kuburan bangkai kapal di Teriberka, juga hotel iglo tempat di mana kamu dapat menyaksikan aurora langsung di depan kamar ketika malam tiba.

Sambil berusaha tetap sabar di dalam mobil, sayup-sayup saya mendengar Miss Sawadika berkata “Ivan, we are going back to Murmansk, right? The kids are tired now.”

HILIH KINTHIL.

Demi kemaslahatan umat dan mencegah emosi berkepanjangan, wajah Miss Sawadika sekeluarga sengaja tidak dimunculkan.
Advertisements