Pukul sembilan pagi itu, setengah jam sudah kami menunggu sehabis sarapan sandwich di Starbucks, namun kereta kami masih belum kelihatan batang lokomotifnya. Dalam itinerary perjalanan yang saya susun sebelumnya, kami seharusnya berangkat dari Amsterdam pukul 08.52 dan tiba di Antwerp dua setengah jam kemudian. Aneh, karena tak biasanya kereta di Eropa ini delay tanpa sebab yang jelas, kecuali…

Saya bergegas menuju layar informasi terdekat di Amsterdam Central guna mengecek kembali platform kereta manakah yang menuju Antwerp, sementara Neng saya tinggalkan sebentar bersama koper. “Sial!” Ternyata kekhawatiran saya benar, ternyata ada pengalihan jalur kereta (yang saya tidak ketahui karena kurang cermat mendengar pengumuman, atau karena diumumkan dengan bahasa Belanda), dan kereta yang seharusnya kami naiki sudah berangkat meninggalkan kami.

Beruntungnya, ini Amsterdam, di mana ada beberapa kereta yang mengarah ke Antwerp di jam keberangkatan yang hampir sama, dan bisa dinaiki tanpa harus membeli tiket lagi, cukup dengan tiket tanpa jam keberangkatan yang telah kami pesan sebelumnya.

“Yuk Neng, kita pindah platform.” Ajak saya sambil menggeret koper, “Yuk, Per.”


Tak berapa lama, kami telah berada dalam kereta yang mengarah ke Antwerp, dan menemukan tempat duduk kosong yang berhadap-hadapan. Namun masalah berikutnya muncul, ketika saya ingin meletakkan koper di rak koper di atas. Masalah tersebut bernama: Keterbatasan Fisik.

Iya, dengan ukuran koper yang besar, ditambah barang bawaan yang berat, saya yang bertubuh mungil namun charming ini kesusahan untuk menaikkan koper tersebut ke dalam rak. Beruntungnya lagi, ada bapak-bapak bule berbadan tegap yang merasa iba dan membantu saya menaikkan koper tersebut.

“Nuhun, Pak.” Ucap Neng, berterima kasih.

Setelah kereta melaju beberapa puluh menit, muncul mbak-mbak bule dengan keranjang makanan yang digendongnya di depan. Kalau di Brebes, mungkin mbak-mbak itu sudah berteriak “Mijon Mijon, Kua Kua.” sambil menawarkan minuman dan telur asin berwarna toska. Namun kalau di sini, mbak-mbak bule itu menyodorkan selembar menu makanan dan minuman yang dapat dipilih oleh para penumpang.

Neng memilih segelas kopi, sementara saya memilih menatap mbak-mbak bulenya, dengan pandangan om-om.Yang menarik adalah cara penuangan air panasnya. Kalau di Brebes, air panas dituang dengan termos, di sini, air panas disemprotkan melalui selang yang terhubung dengan tabung air yang digendong mbak-mbak bule di punggungnya.

Pukul sebelas lewat, kereta mulai memasuki Belgia, yang ditandai dengan hilangnya sinyal di handphone kami yang menggunakan SIM Card Belanda. “Yah, baru mau send tweet!

Tiba di Antwerp Central Station

Welcome to Antwerp.” Sambut Mbak Fabiola yang tinggal di Antwerp bersama suaminya, begitu kami tiba di Antwerp Central Station tengah hari itu. Memang, sebelumnya kami sudah saling kontak sejak saya masih di Indonesia, dan beruntungnya, Mbak Fab (saya menyingkat namanya, supaya lebih fabulous) bisa meluangkan waktunya untuk menemani kami berkeliling Antwerp di hari itu. “This is Yvan.” Ucapnya, sambil memperkenalkan suaminya, yang merupakan warga negara Belgia, atau bisa juga disebut Bulok, bule lokal.

Hi, Mas Yvan, nice to meet you.” Saya menjabat tangan Mas Yvan, sambil tetap melongo memandangi keindahan Antwerp Central Station.

This is one of the most beautiful train stations in the world.” Jelasnya, “Mungkin urutan nomor dua atau tiga gitu.”

Oh, pantas. Sejak turun dari kereta tadi saya terbengong-bengong melihat arsitektur tempat ini. Ada empat tingkat lintasan kereta di sini, dengan fungsi yang beda-beda, mulai dari kereta antar kota, hingga antar negara. Kalau di Indonesia, levelnya setara dengan bus AKAP dan AKDP, lah. Saya sendiri, meletakkan stasiun ini setara dengan Stasiun kereta api di Mumbai, dan Washington.

Antwerp Central Station

Bersama Mbak Fab dan Mas Yvan

Setelah meletakkan koper ke dalam lemari penitipan yang tersedia di stasiun, kami pun bergegas keluar dari stasiun. Tentunya dengan busana hangat yang kami miliki untuk mengatasi musim dingin. Dengan jadwal kereta Thalys menuju Paris pada pukul 16.35, praktis kami hanya memiliki waktu sekitar empat jam untuk menjelajah Antwerp.

I want to see Brabo Fountain, Grote Market, and…apa ini bacanya…” Saya mengeja huruf-huruf yang tertulis pada itinerary, “Onze Lieve Vrouwekathedraal…jenenge angel tenan, ya pokoknya itu lah. Is it possible? Can I?” Tanya saya ke Mbak Fab dan Mas Yvan.

Of course you can.” Jawab Mas Yvan, yang memang sudah lama tinggal di Antwerp. Dia berkata bahwa Antwerp itu tidak terlalu besar, dan mudah dijelajahi dengan berjalan kaki, tanpa perlu menggunakan moda transportasi lainnya.

Tepat di samping stasiun, saya melihat Antwerp Zoo yang sepertinya menarik untuk dimasuki, namun ternyata sedang tutup karena renovasi. Di pelataran stasiun, saya melihat sepasang anak muda yang sepertinya berusia belasan tahun, sedang mengamen dengan saxophone dan drum.

Bedanya pengamen di luar negeri dan di Indonesia adalah, di luar negeri, mereka dibayar untuk menyanyi/menghibur orang-orang yang lewat; sementara di Indonesia, mereka dibayar untuk berhenti menyanyi.

Menyusuri Meir

Dari stasiun, kami berjalan menyusuri De Keyserlei sepanjang beberapa ratus meter, dan menyeberangi Frankrijklei yang cukup ramai. Sebuah tank baja dengan beberapa orang tentara nampak berjaga dengan senjata laras panjangnya, sementara saya masih menyembunyikan senjata saya di dalam celana. Untuk nanti malam, di Paris.

Mbak Fab menjelaskan, bahwa peristiwa pemboman yang terjadi di Belgia dalam beberapa bulan terakhir, telah membuat kesiagaan aparat meningkat, sehingga jangan heran, apabila banyak aparat berjaga di jalanan.

Antwerp Central Station

De Keyserlei

Di belakang tank, kami mulai memasuki jalanan khusus pejalan kaki yang disebut dengan Meir, dan melihat toko-toko busana terkemuka untuk kelas menengah ngehek seperti saya berdiri di sepanjang jalan. Sebut saja H&M, Zara, Pull & Bear, Uniqlo, hingga Massimo Dutti.

“Tadinya pengin belanjain kamu.” Kata saya kepada Neng. “Tapi kita gak punya banyak waktu.” Padahal alasan sebenarnya, sih, bokek. Maklum, namanya juga habis menikah dengan biaya sendiri. Tapi kan Aquarius anaknya gengsi.

Berikutnya, Mbak Fab dan Mas Yvan mengajak kami untuk berbelok memasuki sebuah mal yang tidak nampak seperti mal, melainkan malah seperti ruang pamer galeri seni, saking artistiknya si Shopping Stadsfeestzaal ini. Namun sayang, yang dijual di atriumnya justru barang-barang perabot dan keperluan kelas menengah, yang sedang didiskon.

Ish, tentunya, kurang mahal dong buat kami.

Mencicipi Belgian Chocolate di Antwerp

Katanya, belum ke Belgia, kalau belum mencoba cokelat Belgia yang melegenda itu. Di Meir, Mbak Fab dan Mas Yvan membawa kami untuk mengunjungi The Chocolate Line, yang konon merupakan merek olahan cokelat paling terkenal di Belgia, dan bahkan dunia.

Pemiliknya, bernama Dominique Persoone, seorang pria asli Belgia kelahiran Bruges tahun 1968. “He is kind of celebrity chef in here.” Mas Yvan menjelaskan. Diceritakan pula, bahwa masa muda Dominique diisi dengan pendidikan chef di Paris –dan menemukan kecintaannya kepada semua hal yang berbau cokelat dan kokoa, sebelum kembali ke Belgia dan mendirikan The Chocolate Line pada tahun 1992.

Untung saja, Dominique Persoone tergila-gila pada cokelat, bukan narkoba, atau Rey Utami. Sekarang The Chocolate Line memiliki dua gerai besar, di Bruges dan Antwerp. Gerai di Antwerp didirikan pada sebuah bangunan megah bekas bangunan kerajaan yang dahulu pernah digunakan untuk jamuan Napoleon.

Belgian Chocolate

The Chocolate Line

Kini, The Chocolate Line dikenal karena variasi produknya yang dapat dibilang tak umum untuk produk olahan cokelat. Seperti misalnya produk olahan cokelat yang dipadukan dengan daun tembakau, wasabi, bawang goreng, hingga Coca-Cola. Selain itu, The Chocolate Line juga menyediakan produk olahan custom untuk produk cokelat. Misalnya, kamu dapat memesan produk cokelat berbentuk logo Rolling Stones, atau cokelat berbentuk tubuh polos Justin Bieber di sini.

Selain itu, yang menarik dari The Chocolate Line adalah, pengunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan olahan cokelat di sini, tanpa sensor, tanpa aling-aling. Tenang, kamu tak akan menemukan pekerja dapur yang bekerja sambil mengupil atau bermain Zuma atau Onet di sini.

“Mau beli gak?” Tanya Neng ke saya yang sedang melirik harga cokelat artisan di The Chocolate Line.

“Anu, kok gak ada cokelat jago di sini ya?”

Lepas dari jerat The Chocolate Line, kami masuk ke toko cokelat lain dengan harga yang terjangkau, yaitu Leonidas dan Godiva. Di sana, juga dijual berbagai macam jenis olahan cokelat seperti cokelat putih dengan strawberry di dalamnya, walaupun dengan penyajian yang tidak semewah The Chocolate Line.

Tapi rasanya, jangan ditanya, lebih enak dari cokelat jago! Atau Wafer Superman sekalipun. Saya dan Neng membeli seplastik cokelat beraneka rasa dan warna, untuk bekal di perjalanan. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan menjelajah gang demi gang cantik yang berada di Antwerp.

Untung saja ini Antwerp, sehingga tidak ada pemotor yang melaju di atas trotoar, Kopaja dan Metromini dengan polusi dahsyatnya, ibu-ibu dengan motor matic yang menyalakan sein kanan tapi gak belok-belok, Front Pembela Islam yang malah melecehkan Islam, dan juga tidak ada tukang pecel lele yang membuang limbah secara sembarangan di sepanjang jalan.

Langkah kami terhenti di sebuah gang, dengan barisan orang-orang yang membentuk antrian panjang di sisi kanan kami.

“Wah, ada antrian apa itu?”

Bersambung…