backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Bukber Adaro

Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim dan Obrolan Singkat dengan Seorang Boy Thohir

arievrahman

Posted on May 24, 2019

Saya adalah anak yatim, dan tahun ini memasuki tahun kesepuluh sejak Papa meninggalkan saya –si anak tunggalnya, dan Mama. Menjadi anak yatim, bukan berarti akhir dari dunia, melainkan awal dari sebuah perjalanan yang baru, awal di mana kita harus dapat melanjutkan hidup dengan berpegang pada kekuatan diri sendiri, tanpa mengandalkan pemberian seorang ayah yang telah tiada.

Kehilangan seorang ayah pada usia 20-an (usia saya, bukan usia papa saya), telah memberikan saya banyak sekali pelajaran dalam hidup. Mulai dari pelajaran tentang sabar dan ikhlas, pelajaran untuk menghargai apapun yang saya miliki (sebelum akhirnya hilang), hingga pelajaran tentang bagaimana hidup secara mandiri tanpa harus mengandalkan orang lain.

Orang bilang, masa-masa itu dinamakan Quarter-Life Crisis, sebuah periode kehidupan yang acap terjadi pada manusia yang berumur sekitar seperempat abad. Periode di mana kita akan mengalami hal-hal yang dapat mengubah hidup kita, hal-hal yang dapat menentukan arah kehidupan kita, hal-hal yang seharusnya dapat membuat kita kuat untuk menjalani hidup dan tidak berakhir tragis seperti beberapa anggota 27 Club yang bunuh diri dan overdosis.

Baca cerita saya tentang ayah, apabila kuat: Kepingan Kenangan tentang Papa

Saya, mungkin salah satu anak yatim yang cukup beruntung, karena ditinggal ayah di saat saya sudah memiliki modal untuk menjalani hidup. Ya, kehilangan tersebut telah membuat saya belajar untuk terbiasa mencari satu alasan untuk bersyukur, dibanding seribu alasan untuk bersedih. Saat itu, saya telah lulus kuliah dan diterima bekerja pada bidang yang sesuai doa dan harapan orang tua. Namun, bayangkan apabila saya kehilangan ayah pada usia dini, seperti 1000 anak yatim yang saya temui pada perhelatan acara buka puasa bersama yang diadakan oleh PT Adaro Energy Tbk (selanjutnya akan disebut sebagai Adaro Energy), Jumat, 17 Mei 2019, silam.

Bukber Adaro

Seribu (atau kurang lebihnya seribu, karena saya tidak sempat menghitung saat itu) anak yatim tersebut didatangkan dari berbagai yayasan dan panti asuhan, dengan cara dijemput menggunakan puluhan bus sewaan selepas zuhur, diberikan kaus bergambar Rizky Febian untuk dipakai ketika acara, kemudian diajak buka puasa bersama di Kuningan City Ballroom, Jakarta.

#BukberAdaro merupakan acara rutin yang diadakan Adaro Energy setiap tahunnya, sebagai bentuk tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Setiap Ramadan, ribuan anak-anak dan ratusan karyawan Adaro Energy akan dikumpulkan untuk merayakan buka puasa bersama, dan menikmati sajian makanan dan hiburan yang disediakan di sana. Tentunya secara gratis, tidak seperti acara meet and greet anak-anak TikTok.

Categories: Events

Tagged: Adaro, Anak Yatim, Boy Thohir, Bukber, Rizky Febian

11 Comments

+Read more

Car in Uzbekistan

Cerita tentang Mobil di Uzbekistan dan tentang Kebutuhan untuk Ganti Mobil

arievrahman

Posted on May 17, 2019

Dengan senyumnya yang lebar dan rambutnya yang klimis, seorang pria berbaju putih menyambut kami di halaman parkir hotel GrandART, Tashkent, Uzbekistan, malam itu. “I am Mumin.” Ucapnya, sambil mengulurkan tangannya. Saya menyambut jabatannya yang erat, sambil memperkenalkan diri. Setelah berbasa-basi singkat, Mumin mempersilakan saya, Neng, dan Mama untuk masuk ke dalam mobilnya yang juga berwarna putih, seperti kesucian saya. “I am so sorry, for what happened yesterday. I hope you guys were okay.”.

Mumin, adalah seorang direktur dari sebuah perusahaan travel yang kami pakai jasanya selama di Uzbekistan. Malam itu, dia meminta maaf secara personal mengenai kejadian tidak mengenakkan yang menimpa kami dua hari sebelumnya, di mana salah satu hotel yang kami tempati di Samarkand, lupa membangunkan kami pada pukul tiga pagi, untuk makan sahur. Sebuah hal, yang menurutnya cukup fatal, sehingga mengharuskannya untuk turun langsung, menemui tamu-tamunya. Sementara, kami saat itu sudah biasa-biasa saja, sebenarnya.

Saat itu adalah Bulan Ramadan, bulan di mana seluruh umat muslim diwajibkan untuk berpuasa, tidak terkecuali kami yang sedang bepergian, minus Neng yang sedang berhalangan. Kala itu, berpuasa di Uzbekistan, adalah sebuah tantangan tersendiri bagi para pejalan, karena jatuh tepat pada musim panas dengan temperatur yang kerap melebihi 35º Celsius. Belum lagi jarak antara subuh dan magrib yang terlampau lama, di mana subuh sudah dimulai pada pukul tiga pagi, sedangkan magrib baru tiba lewat pukul delapan malam.

“We will go to my friend’s restaurant.” Mumin mengemudikan Chevrolet Lacetti miliknya, ke arah jalan raya di sisi kiri hotel. Pria necis dengan wajah tampan menurut ukuran orang Indonesia ini, akan mengajak kami untuk berbuka puasa malam itu. Walaupun dikatakan malam, saat itu matahari masih bersinar terang, sedang asyik-asyiknya menunggu untuk terbenam. “Do you like Uzbekistan food?”

“Yes, definitely.” Siapa yang tidak suka dengan daging-dagingan kambing muda berbumbu rempah, yang dibenamkan ke dalam nasi goreng bernama pulov dengan kepulan asapnya yang menjulang harum, yang langsung menusuk rongga-rongga hidung, hingga membuatnya lembap seketika. Mendengar Uzbekistan food, membuat saya menelan ludah seketika. Untung tidak bikin batal, karena masih ludah sendiri.

“Mister Mumin.” Saya mengemukakan pertanyaan yang membuat saya penasaran sepanjang perjalanan lima hari keliling Uzbekistan kemarin. “Why people here, like to buy white car?”

Car in Uzbekistan

“Haha!” Gelaknya, mungkin berpikir bahwa pertanyaan yang saya lempar adalah sebuah pertanyaan yang konyol. “It’s because of the weather!” Ternyata, yang konyol adalah jawabannya. Konyol tapi make sense, karena menurut penduduk di Uzbekistan, yang cuacanya sering sekali panas seperti Senk Lotta, warna putih dapat lebih melindungi mereka dari panas, dibanding warna-warna yang gelap. Katanya, kalau mobil gelap, maka panas matahari akan cepat terserap, namun kalau mobil berwarna putih, panasnya akan dipantulkan kembali.

“Sehingga mataharinya yang jadi kepanasan?” Hehehe, hehehe, hehehe, mau ke mana guys?

Categories: Miscellaneous, Survival Kit, Transportation, Uzbekistan

Tagged: ASTRA, Chevrolet, Mobil Bekas, Pilihan Expert, Seva.id, Tashkent, Uzbekistan

24 Comments

+Read more

Phallus Village Bhutan

Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan

arievrahman

Posted on April 29, 2019

Suatu malam, Ani bermimpi. Dia tersesat pada sebuah tempat yang nampak asing baginya, di mana semua hal yang ada di sana belum pernah dilihatnya. “Pokoknya gelap tempatnya, dan banyak banget gituan yang tergantung.” Gituan yang dimaksud oleh Ani adalah penis, atau dalam bahasa yang lebih sopan dan supaya tidak terkena blokir internet sehat, disebut sebagai phallus. “Ukurannya beda-beda, ada yang kecil, ada yang gede banget! Bentuknya juga beda-beda.”

“Ah, tapi masa itu yang bikin latah, Mpok?” Saya bertanya, masih ragu dengan jawabannya. “Bentuk beda-beda itu, ada yang sunat, dan ada yang engga?”

“Iya betul, Mas Arif.” Jawabnya sambil tertawa. “Pokoknya habis mimpi itu, sekarang saya jadi suka latah nyebut kont…eh konci.”

Saya mencoba tak percaya dengan jawabannya, namun ternyata Yuli, anaknya juga mengalami mimpi yang serupa, dan membuatnya latah menyebut alat kelamin pria, apabila sedang kaget. Kalau satu orang, mungkin saya akan merasa cerita itu adalah mengada-ada, tapi kalau sudah dua orang yang mengalami mimpi bertemu kontol dan menjadi latah, masa saya harus tetap tak percaya?

Berbulan-bulan, saya memikirkan cerita tersebut (ceritanya, bukan phallusnya), cerita tentang suatu tempat misterius dengan banyak sekali phallus beraneka macam rupa dan ukuran. Apakah ada tempat tersebut? Sebuah hal yang belum terjawab, hingga pada suatu hari, saya mendatangi sebuah desa yang mungkin menjadi tempat di mana Ani dan Yuli terbangun dalam mimpinya.

Sebuah desa kecil di Bhutan bernama Sobsokha, atau yang lebih dikenal dengan Chimi Lhakhang Village.

Phallus Village Bhutan

Tidak ada tugu selamat datang, papan penanda nama, ataupun baliho pemilihan kepala desa dengan calonnya yang tersenyum girang pada tempat yang kami datangi sore itu. Jalanan tanah berdebu, sedikit berbatu, dan tak beraspal menyambut kami di desa tersebut, dengan sebuah rumah tingkat berada di sisi kiri –yang berdiri berjajar bersama rumah lainnya, beserta souvenir shop yang sudah bersiap mau tutup di seberangnya. Walaupun masih pukul empat sore, namun hari itu adalah awal musim dingin, yang berarti malam akan datang lebih cepat. Di kejauhan, beberapa anak kecil nampak bermain riang dengan anjingnya.

Sekilas, rumah dan toko tersebut tampak biasa saja, hanya rumah tingkat dengan tangga kayu di luar dan tembok mulai mengelupas serta sebuah toko suvenir dengan barang dagangan yang ditata di terasnya. Namun yang membuatnya beda adalah lukisan yang terdapat pada dinding rumah tersebut, juga macam barang dagangan yang dijual pada toko di seberangnya. Pada dinding rumah, terdapat lukisan phallus sebesar ukuran orang dewasa (lukisan phallus-nya yang ukurannya sebesar orang dewasa, bukan hanya sebesar phallus orang dewasa), sementara pada toko tersebut dijual beraneka suvenir berbentuk phallus, mulai dari magnet kulkas, lukisan, hingga pajangan yang nyaman digenggam.

Categories: Bhutan, Foreign

Tagged: Bhutan, Chimi Lhakhang, Divine Madman, Drukpa Kunley, Phallus, Punakha

45 Comments

+Read more

rumakreasi

Dengan Ditemani XL GO IZI, Ini Dia Hal-hal Yang Biasa Dilakukan Travel Blogger Ketika Sedang Tidak Jalan-jalan!

arievrahman

Posted on April 4, 2019

Serba salah memang jadi travel blogger. Ketika sedang sering jalan-jalan, ditanya “Jalan-jalan terus, duit dari mana?” sementara ketika sedang tidak jalan-jalan ada saja yang bertanya, “Kok gak jalan-jalan lagi sih, Bang? Katanya travel blogger. Cemen ah.”. Jadi begini, Bambang, tidak selamanya, travel blogger itu jalan-jalan terus, karena ada kalanya mereka berdiam diri di rumah, beristirahat, internetan pakai XL GO IZI, dan melakukan hal-hal lain, seperti orang kebanyakan.

Ada kalanya, seorang travel blogger memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia perjalanan, demi sesuatu yang lebih mulia, seperti misalnya membangun kehidupan berumah tangga, menabung demi masa depan, merencanakan kelahiran anak, ataupun karena sedang berhemat.

Halah, bilang saja lu sedang miskin, Bang. Bukan, bukan miskin, tapi memang sedang ada keperluan penting yang mengakibatkan tidak bisa ke mana-mana, yang juga mengakibatkan tabungan terkuras. Iye, itu miskin namanya, Bang.

Oke, saya akui, memang saya sedang tidak dapat ke mana-mana dalam beberapa bulan terakhir, dan mungkin juga untuk beberapa bulan ke depan. Tapi bukan karena miskin, atau miskin bukan menjadi satu-satunya alasan, melainkan karena saya baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Prabu panerus Kabecikan yang lahir pada 22 Maret 2019 kemarin. Alhamdulillah.

Prabu Panerus Kabecikan

Tidak jalan-jalan, bukan berarti saya hanya diam saja di rumah dan melakukan pekerjaan rumah seperti anak sekolahan. Saya masih punya pekerjaan kantoran tetap dan beberapa bisnis serta kesibukan yang dapat dijalankan secara bersamaan. Namun, berhubung saya masih dalam paternity leave (iya, enak kan kantor saya) selama satu bulan, maka kesibukan saya lebih banyak diwarnai oleh kegiatan-kegiatan yang bisa saya lakukan di rumah dan sekitarnya.

Merapikan Rumah

Sejak Neng hamil besar, saya merasa bahwa apartemen kami menjadi terlalu kecil. Ruangan berukuran kurang 40m² dengan banyak barang yang berasal dari mana-mana sepertinya bukanlah suatu habitat yang tepat untuk hidup dan membina keluarga. Buku-buku di lantai bersama dengan goodie bag dari berbagai event, dokumen-dokumen penting di atas meja kerja bercampur dengan puluhan botol oil essentials, pakaian Neng di atas kasur dengan Neng di bawah kasur, uang suami di dompet istri dan diutangi klien, sementara remote TV entah ke mana, adalah gambaran singkat keadaan apartemen kami saat itu. Sungguh, apabila Marie Kondo melihat kondisi apartemen kami, mungkin dia akan langsung minta pensiun dini.

Categories: Survival Kit

Tagged: modem, Wi-Fi, XL GO IZI, XL Pass

20 Comments

+Read more

Bhutan

Kaleidoskop 2018: Sedikit Tapi Berkualitas

arievrahman

Posted on March 31, 2019

Kualitas atau kuantitas? Sedikit tapi berkualitas, atau banyak tapi tidak berkualitas? Kalau ditanya pertanyaan tersebut, pasti jawaban terbanyak adalah banyak dan berkualitas. Bangsat memang. Memang, kalau bisa banyak dan berkualitas, mengapa harus sedikit? Tapi kan dunia tidak selamanya adalah film Cinderella, karena ada kalanya kita menjadi Tom Hansen di 500 Days of Summer, kan?

Berbeda dengan tahun 2017 di mana saya men-challenge diri sendiri untuk pergi ke luar negeri setiap bulan dengan memertaruhkan karier sebagai travel blogger, tahun 2018 silam saya justru mengurangi tempo tersebut. Inginnya sih pergi sedikit saja namun berkualitas, sebuah alasan yang didukung oleh jatah cuti yang sedikit dan minimnya uang di tabungan setelah 2017 yang menguras semuanya. Sedih? Memang. Tapi inilah fakta bahwa seorang travel blogger tidak selamanya selalu hidup enak dan jalan-jalan terus seperti akun Instagram Do You Travel.

Selain kisah sedih yang saya alami sebagai travel blogger yang jarang jalan-jalan, tahun 2018 juga diwarnai dengan banyaknya insiden memilukan baik yang terjadi di tingkat nasional seperti meledaknya bom Surabaya akibat serangan teroris yang mengatasnamakan agama, gempa dan tsunami di Palu yang membuat rumah-rumah rata dengan tanah, hingga jatuhnya pesawat Lion Air rute Jakarta-Pangkal Pinang di perairan Karawang, Jawa Barat pada Senin, 29 Oktober 2018 yang juga membuat saya kehilangan seorang teman baik.

Di luar negeri, tahun 2018 juga ditandai dengan beberapa peristiwa yang kurang mengenakkan, seperti berita pembunuhan Jamal Khashoggi di Kedutaan Besar Arab Saudi, krisis Venezuela yang semakin parah, hingga skandal Perdana Menteri Malaysia Najib Razak atas hilangnya dana sebesar US$4,5 miliar pada kasus 1Malaysia Development Berhad.

Angka US$4,5 miliar tentu saja bukanlah jumlah yang sedikit, karena apabila saya mendapatkan uang halal dengan besaran seperti itu, pasti 2018 tidak menjadi tahun yang membosankan bagi perjalanan saya.

Januari: Halo Ambon!

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya memulai 2018 dengan merayakannya dari balkon apartemen sambil sayup-sayup mendengarkan suara petasan dan kembang api yang terbang di udara sebagai pengantar tidur menikmati pergantian tahun. Ada alasan khusus mengapa saya memilih menghabiskan malam tahun baru di Jakarta, yaitu karena alasan finansial.

Ambon

Kabar baiknya, pada bulan ini saya mendapat kesempatan untuk menambah daftar provinsi yang sudah saya kunjungi di Indonesia, dengan mengunjungi Ambon pada akhir pekan, yang merupakan ibukota provinsi Maluku, dengan cara mendarat pada Bandara Pattimura, dengan pesawat udara –bukan pesawat telepon tentunya.

Categories: Events

Tagged: 2018, Kaleidoskop

28 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • 10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara
  • 9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Suntik Vaksin Meningitis di KKP Halim Jakarta

Archives

Blog Stats

  • 5,485,389 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...