Dengan senyumnya yang lebar dan rambutnya yang klimis, seorang pria berbaju putih menyambut kami di halaman parkir hotel GrandART, Tashkent, Uzbekistan, malam itu. “I am Mumin.” Ucapnya, sambil mengulurkan tangannya. Saya menyambut jabatannya yang erat, sambil memperkenalkan diri. Setelah berbasa-basi singkat, Mumin mempersilakan saya, Neng, dan Mama untuk masuk ke dalam mobilnya yang juga berwarna putih, seperti kesucian saya. “I am so sorry, for what happened yesterday. I hope you guys were okay.”. Mumin, adalah seorang direktur dari sebuah perusahaan travel yang kami pakai jasanya selama di Uzbekistan. Malam itu, dia meminta maaf secara personal mengenai kejadian tidak mengenakkan yang menimpa kami dua hari sebelumnya, di mana salah satu hotel yang kami tempati di Samarkand, lupa membangunkan kami pada pukul tiga pagi, untuk makan…