Saya adalah anak yatim, dan tahun ini memasuki tahun kesepuluh sejak Papa meninggalkan saya –si anak tunggalnya, dan Mama. Menjadi anak yatim, bukan berarti akhir dari dunia, melainkan awal dari sebuah perjalanan yang baru, awal di mana kita harus dapat melanjutkan hidup dengan berpegang pada kekuatan diri sendiri, tanpa mengandalkan pemberian seorang ayah yang telah tiada. Kehilangan seorang ayah pada usia 20-an (usia saya, bukan usia papa saya), telah memberikan saya banyak sekali pelajaran dalam hidup. Mulai dari pelajaran tentang sabar dan ikhlas, pelajaran untuk menghargai apapun yang saya miliki (sebelum akhirnya hilang), hingga pelajaran tentang bagaimana hidup secara mandiri tanpa harus mengandalkan orang lain. Orang bilang, masa-masa itu dinamakan Quarter-Life Crisis, sebuah periode kehidupan yang acap terjadi pada manusia yang berumur sekitar seperempat…