Pagi itu, saya terbangun sambil menggigil. Entah karena udara Ungaran yang cukup dingin, atau karena celana kolor saya yang tiba-tiba terlepas ketika tidur. Dengan sigap, saya langsung menyambar celana kolor saya, memakainya dengan gerakan akrobatis, kemudian melakukan dua kali roll depan, sebelum mendarat dari atas kasur dengan sempurna.
Saya menemukan Mama sedang memasak di dapur, memasak hal yang sangat saya kuasai sedari SD, yaitu memasak air. Caranya cukup mudah, cuma tinggal bagaimana menjaga air yang dimasak supaya tidak gosong. Bagi seorang ibu, bangun pagi dan menyiapkan segala macam kebutuhan rumah tangga, mungkin adalah hal yang naluriah, sama seperti morning wood bagi seorang pria.
Sungguh tak ada tanda-tanda kelelahan pada Mama, padahal hari sebelumnya, Beliau telah menjemput saya di bandara, menemani saya berkeliling toko demi toko mencari kacamata, hingga menikmati makan malam romantis di The Hill’s hingga larut.
“Yuk, jalan-jalan Ma.” Ajak saya pada Mama, yang kini tinggal sendiri selepas kepergian Papa, enam tahun silam.
“Ke mana?”
“Yang dekat-dekat sini saja.” Ucap saya, sembari membayangkan berkeliling kawasan sekitar rumah, bernostalgia kenangan masa kecil saya. “Gak usah pakai sepatu, sandal jepit saja.”
“Tapi sampai jam delapan saja ya, soalnya nanti ada acara.” Jelas Mama. Saya pun menyanggupinya, dengan mengatakan bahwa rute pagi ini tidak terlalu jauh, dan tanpa sempat mendebat bahwa yang benar adalah menggunakan ‘pukul’ bukan ‘jam’.
Biasanya, tiap tahun saya merayakan ulang tahun Mama dengan mengajaknya melakukan mamacation, atau bepergian bersama Mama ke destinasi yang Beliau belum pernah kunjungi. Namun di tahun ini, saya memutuskan untuk pulang kampung –mengesampingkan tawaran gratis mengunjungi Ende– dan menemani Mama.
Tagged: Gunung Ungaran, Mamacation, Ungaran





