backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Mamacation: Sudah Waktunya Pulang

arievrahman

Posted on May 31, 2015

Pagi itu, saya terbangun sambil menggigil. Entah karena udara Ungaran yang cukup dingin, atau karena celana kolor saya yang tiba-tiba terlepas ketika tidur. Dengan sigap, saya langsung menyambar celana kolor saya, memakainya dengan gerakan akrobatis, kemudian melakukan dua kali roll depan, sebelum mendarat dari atas kasur dengan sempurna.

Saya menemukan Mama sedang memasak di dapur, memasak hal yang sangat saya kuasai sedari SD, yaitu memasak air. Caranya cukup mudah, cuma tinggal bagaimana menjaga air yang dimasak supaya tidak gosong. Bagi seorang ibu, bangun pagi dan menyiapkan segala macam kebutuhan rumah tangga, mungkin adalah hal yang naluriah, sama seperti morning wood bagi seorang pria.

Sungguh tak ada tanda-tanda kelelahan pada Mama, padahal hari sebelumnya, Beliau telah menjemput saya di bandara, menemani saya berkeliling toko demi toko mencari kacamata, hingga menikmati makan malam romantis di The Hill’s hingga larut.

“Yuk, jalan-jalan Ma.” Ajak saya pada Mama, yang kini tinggal sendiri selepas kepergian Papa, enam tahun silam.

“Ke mana?”

“Yang dekat-dekat sini saja.” Ucap saya, sembari membayangkan berkeliling kawasan sekitar rumah, bernostalgia kenangan masa kecil saya. “Gak usah pakai sepatu, sandal jepit saja.”

“Tapi sampai jam delapan saja ya, soalnya nanti ada acara.” Jelas Mama. Saya pun menyanggupinya, dengan mengatakan bahwa rute pagi ini tidak terlalu jauh, dan tanpa sempat mendebat bahwa yang benar adalah menggunakan ‘pukul’ bukan ‘jam’.

Ungaran

Let’s walk!

Biasanya, tiap tahun saya merayakan ulang tahun Mama dengan mengajaknya melakukan mamacation, atau bepergian bersama Mama ke destinasi yang Beliau belum pernah kunjungi. Namun di tahun ini, saya memutuskan untuk pulang kampung –mengesampingkan tawaran gratis mengunjungi Ende– dan menemani Mama. 

Categories: Domestic, GMT +7, Jawa Tengah, Mamacation

Tagged: Gunung Ungaran, Mamacation, Ungaran

104 Comments

+Read more

Pesona Wisata Alam Singapura (2)

arievrahman

Posted on May 23, 2015

Saya membetulkan letak ransel di punggung saya, mengencangkan sedikit talinya supaya lebih menempel di badan. Sepertinya, membawa laptop ketika trekking di MacRitchie Resevoir adalah sebuah keputusan yang salah, namun meninggalkannya di hostel kelas bawah pastinya adalah keputusan yang lebih salah.

Ah biar bagaimanapun, pria memang selalu saja salah.

Beberapa ekor monyet turun dari pohon dan duduk di jalan setapak yang akan saya lewati, ketika saya semakin memasuki hutan lindung di MacRitchie Reservoir itu. Sementara dari belakang, terdengar derap langkah warga Singapura yang berlari memasuki hutan tersebut. Gila, di Singapura, semuanya gila lari. Gak di kota, gak di hutan, bahkan ada juga yang gak pakai baju.

[Baca kisah sebelumnya di sini]

Pada awalnya, saya tak berniat untuk memasuki hutan ini –saya hanya berniat duduk-duduk santai di pinggiran danau, sambil melamunkan hal jorok, seperti kelakuan pemerintah Myanmar terhadap kaum Rohingya– namun merekalah, para pelari lokal, yang membangkitkan gairah saya untuk menjelajah hutan ini.

MacRitchie Reservoir

Monkey!

Di awal masuk hutan terdapat peta besar yang menunjukkan lokasi MacRitchie Reservoir, sekaligus beberapa jalur berwarna penanda rute trekking yang akan ditempuh, yaitu:

  • Hijau, jarak 3 Km, estimasi waktu tempuh 1 jam, tingkat kesulitan mudah.
  • Ungu, jarak 4.8 Km, estimasi waktu tempuh 2 jam, tingkat kesulitan mudah.
  • Biru, jarak 10.3 Km, estimasi waktu tempuh 4-5 jam, tingkat kesulitan menengah ke susah.
  • Kuning, jarak 11 Km, estimasi waktu tempuh 4 jam, tingkat kesulitan menengah.
  • Merah muda, jarak 9.5 Km, estimasi waktu tempuh 4-5 jam, tingkat kesulitan susah.
  • Oranye, jarak 7 Km, estimasi waktu tempuh 3-4 jam, tingkat kesulitan menengah ke susah.

Saya menatap jam tangan, sudah pukul tiga lewat, dan sebagai pria sejati yang suka tantangan, saya bersyukur tadi memilih jalur berwarna hijau.

Hingga satu jam kemudian.

Categories: Foreign, Singapore

Tagged: alam Singapura, MacRitchie Reservoir, Pulau Ubin, Sepeda di Pulau Ubin, Trekking MacRitchie Reservoir

53 Comments

+Read more

Mencari Noorma

arievrahman

Posted on May 17, 2015

Namanya Noorma, atau setidaknya itulah nama yang saya ingat saat ini. Seorang wanita asal Amerika Selatan –Kolombia, kalau tidak salah ingat– yang saya temui di Myanmar setahun silam. Mungkin, kisah ini tidak perlu diceritakan kepada kamu, andai saja catatan yang saya simpan di handphone tidak hilang. Sebuah catatan perjalanan yang memuat pengalaman saya di Myanmar, termasuk cerita tentang orang yang saya temui, nama-nama kuil yang saya kunjungi di Bagan, juga harga cabai keriting di sana. Yang terakhir tentu saja bohong.

Ya, gara-gara catatan yang hilang tersebut, saya terpaksa menceritakan kisah ini kepada kalian. Kisah tentang seorang wanita yang saya kenal sebagai Noorma. Kalau tidak salah ingat.


Malam itu, saya sedang duduk-duduk santai bersama Eki dan Hardi di lobi Hotel Rich Queen, Mandalay, ketika seorang wanita berkulit putih, bermata belo, dan berambut ikal datang memasuki hotel sambil membawa sebatang bambu yang gosong. Di belakangnya, muncul seorang pria yang tak kalah gosongnya, menenteng helm sehingga membuatnya mirip seperti tukang ojek di Indonesia, berkulit gelap tanda terbakar matahari bercampur debu jalanan, walaupun tanpa jaket kulit Garut yang sudah tiga tahun belum dicuci.

“What is that?” Tanya Hardi ke wanita itu.

Si wanita itu mengangkat bambu gosongnya, bambu yang dipegangnya, bukan bambu milik pemuda gosong di belakangnya. “Oh this?” Dia diam sejenak, kemudian menatap si pemuda gosong, “I guess it’s a sticky rice, he showed me this kind of food.”

Oh, ketan dalam bambu. Di Pekanbaru juga ada sih. Batin saya.

“So, where have you been today?” Tanya saya membuka obrolan, yang dijawab si wanita dengan menceritakan perjalanan mereka hari itu. Ternyata tebakan saya benar, si pria adalah tukang ojek yang disewa untuk menemaninya berkeliling Mandalay hari itu, bukan terong-terongan Myanmar.

“And how about tomorrow?“

“Tomorrow I will go to Bagan.“

“Oh, really?” Saya terkesiap, karena memang besok pagi kami juga mempunyai jadwal yang sama, mengunjungi Bagan, kota dengan ribuan kuil.

Wanita itu tersenyum, memamerkan deretan giginya yang putih. “Yes, tomorrow morning.” Senyum yang membuat pemiliknya semakin menarik.

Schedule from Mandalay

Schedule from Mandalay

“Ah, same with us!” Seru kami girang, karena selain akan mempunyai teman perjalanan, kami juga kegirangan mendapati cewek di perjalanan. Maklum, namanya juga Trip Batangan. Tak lama kemudian, wanita itu pamit untuk naik di kamarnya dan bermain-main dengan bambu gosongnya, sementara kami tetap asyik bergunjing sambil menikmati wi-fi gratis di lobi.

Dan itulah awal mula perkenalan saya, dengan wanita yang saya kenal sebagai Noorma, kalau tidak salah ingat.

Categories: Foreign, Myanmar

Tagged: Bagan, Mandalay, Mount Popa, Myanmar, Nat

45 Comments

+Read more

9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya

arievrahman

Posted on May 8, 2015

Ada banyak pesona yang membuat orang datang ke Bandung. Seperti yang pernah saya tulis di sini, ada tiga hal yang membuat orang kembali ke Bandung, yaitu karena mereka ingin makan-makan, belanja-belanja, ataupun jalan-jalan. Tapi itu dulu, sebelum saya berpacaran dengan cewek Bandung yang membuat saya selalu kembali ke Bandung.

Sebenarnya, ada dua alasan utama mengapa saya memacari cewek Bandung. Yang pertama adalah karena cewek Bandung dikenal cantik-cantik, sementara yang kedua, saya ingin mematahkan mitos bahwa cewek Bandung pacarnya selalu jelek-jelek. Alhamdulillah, saya gagal mematahkan mitos tersebut.

Artikel ini, bukan tentang bagaimana cara menikmati (pacaran dengan) cewek Bandung. Namun tentang cara-cara supaya kamu dapat lebih menikmati pesona wisata di Kawasan Bandung dan sekitarnya, seperti yang saya alami ketika bergabung dengan Familiarization Trip yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia, beberapa waktu silam. Dan inilah 9 (sembilan) di antaranya.

1. Berendam Air Panas di Sari Ater

Apa yang paling nikmat dilakukan setelah penat bekerja seharian, duduk manis di dalam van selama tiga jam perjalanan dari Jakarta ke Subang, sambil menahan pipis? Jawabannya adalah berendam di kolam air panas, sambil pipis di dalam kolamnya. Apalagi jika setelah berendam, kamu masuk kamar lalu disambut oleh terapis berparas cantik dan berpakaian minim, yang bertanya, “Mau diapain lagi, Mas?”.

Tapi tidak, blog ini adalah blog syariah, jadi tidak mungkin membahas hal-hal mesum seperti itu, maupun seperti museum sex, atau sex shop.

Pemandian-Umum-di-Sari-Ater-608x400

Pacquiao, Mumun, Velysia, Fahmi, Adis, Bolang. (Photo by Lostpacker)

Malam itu saya diperkenankan menginap di Sari Ater Resort, yang terletak sekitar 30 Kilometer dari Bandung. Salah satu keuntungan menginap di sana adalah, saya memiliki unlimited access ke pemandian umum air panas Sari Ater yang buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, dan 12 bulan setahun. Sekadar informasi, apabila tidak menginap, maka pengunjung diharuskan membayar sebesar Rp30.000,- untuk tiket masuk komplek pemandian, Rp40.000,- untuk tiket masuk kolam pemandian, Rp5.000 untuk sewa loker, Rp100.000 apabila ingin dipijat oleh terapis (pria), dan Rp50.000 apabila lupa membawa handuk dan ingin membeli di sana. 

Categories: Domestic, GMT +7, Jawa Barat

Tagged: Bandros, Bandung, Ciwidey, Kementerian Pariwisata, Pesona Bandung, Sari Ater, Tangkuban Perahu, Wonderful Indonesia

69 Comments

+Read more

Apa yang Saya Lihat di Asian African Carnival?

arievrahman

Posted on April 30, 2015

Jawabannya adalah tidak ada, apabila kamu mengartikan karnaval sebagai iring-iringan marching band, beserta dengan penari-penari bebusana glamor yang dilanjutkan orang-orang berpakaian gelap berjalan di atas kuda lumping sambil dipecut oleh Christian Grey.

Hari itu Sabtu 25 April 2015, hari di mana Asian African Carnival digelar mulai pukul 13.30 di Bandung sementara saya, pada waktu yang sama masih berada di Trans Studio Mall usai menghabiskan pagi yang mendebarkan di Trans Studio Bandung.

“Yuk kita berangkat.” Ajak tim Indonesia Travel kepada saya, juga kepada rekan blogger dari negara-negara lain yang hadir di Bandung dalam rangka peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Dan tak perlu waktu lama bagi kami untuk tiba di pelataran Grand Royal Panghegar Hotel, yang merupakan titik awal petualangan kami siang hari itu.

Di sana, kami telah disambut oleh sesuatu yang tak asing lagi bagi warga Jakarta.

Bajaj KAA

Bajaj, kendaraan resmi KAA.

Berawal dari Bajaj

Ya, di rangkaian kegiatan Konferensi Asia Afrika ini, bajaj digunakan sebagai salah satu kendaraan resmi untuk mengantar tamu-tamu kehormatan. Mungkin karena bentuknya yang mungil, unik, dan mampu menyelinap melewati gang-gang kecil di Bandung.

“Nisha?” Saya memanggil Nisha Jha, yang berada pada bajaj di samping saya, “Is this thing came for your country?” Tunjuk saya ke bajaj tersebut.

“Yes, of course.” Seru wanita yang menjadi travel blogger India pertama yang mendapat undangan familiarization trip dari luar negeri tersebut, sambil menggeleng. Gelengan yang berarti ‘ya’ kalau dilakukan oleh orang India.

Bajaj, dibuat di India, digunakan di Jakarta, dan dipinjamkan ke Bandung dalam rangka peringatan KAA.

Categories: Domestic, Events, GMT +7, Jawa Barat

Tagged: #WonderfulIndonesia, AAC 2015, Asia Afrika, Bandros, Bandung, Braga, KAA

32 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Panduan Lengkap Mengurus Sendiri Visa Turis Australia
  • 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang

Archives

Blog Stats

  • 5,485,758 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...