Ada tiga usulan ketika saya menanyakan ke beberapa kawan tentang apa saja hal yang bisa saya lakukan di Pekanbaru, usulan yang pertama adalah makan, lalu makan, dan makan. Memang, bagi banyak kalangan, Pekanbaru dikenal sebagai surganya kuliner –selain tempat yang terkena bencana asap beberapa waktu lalu, maupun sebagai pusat industri di Propinsi Riau.

Sesaat setelah Tiger Air Mandala mendarat di Bandara Sultan Syarif Qasim II, saya langsung berkata kepada Mas Kurnia, driver yang akan menemani saya selama perjalanan ini “Ke Rumah Makan Cuik!” alih-alih “To the Bat Cave!“. Rumah Makan Cuik adalah satu diantara banyak rekomendasi yang saya dapatkan mengenai tempat kuliner di Pekanbaru, dan rumah makan kecil yang terkenal dengan gulai baung, ayam kampung goreng, dan udang gorengnya ini sudah tutup pada saat saya tiba di pelatarannya.

Sial.

Tak habis akal, saya menelepon Mbak Hesty yang memang tinggal di Pekanbaru, tujuannya, ya apa lagi selain mencarikan solusi untuk mengisi perut yang memang sudah kelaparan sejak berangkat dari Jakarta tadi. Dan dia menyarankan untuk mengunjungi…

Lontong Ceker Longsor

Tak lama setelah itu, mobil sudah berhenti di sebuah warung kecil di tepian Jalan Sam Ratulangi. Letak warungnya sedikit menjorok ke bawah dari sisi jalan, sementara sebuah spanduk partai yang juga digunakan sebagai penanda warung ini terpampang rapi di depan. Sebuah spanduk bertuliskan “Lontong Ceker ‘Buk Ar’ LONGSOR” yang ditulis dengan font mirip Curlz MT, sementara di bawahnya terpampang foto seorang calon legislatif PPP yang membentuk simbol hati dengan kedua tangannya. Seorang pria berjenggot dan berkumis yang sok imut, yang mengatakan “Indahnya Kebersamaan”.

Saya memesan tiga porsi lontong ceker lengkap kepada sang ibu penjual, satu untuk saya, satu untuk Mas Kurnia, dan satu lagi untuk Agung, videographer yang ikut bersama saya di perjalanan kali ini.

Lontong Ceker Buk Ar Longsor

Lontong Ceker Buk Ar Longsor

Berikutnya, sepiring lontong ceker pun tersaji. Terdiri dari lontong yang dipotong dadu, disiram kuah gulai, yang dicampur mie kuning. Di tepiannya diletakkan beberapa potong cakar ayam yang makin menggoda dengan balutan saus merahnya, sementara kerupuk merah diremas dan ditabur sebagai topping. Masih belum cukup, saya mengambil kerupuk jengkol yang tersedia di toples, dan rasanya, wow, pahit. Namun enak. Itu adalah pertama kali saya memakan jengkol lagi setelah peristiwa icip-icip sayur jengkol di Pasar Ungaran ketika SD justru membuat saya mulas dan trauma terhadap jengkol.

Sebagai pelengkap, disajikan pula segelas cincau hitam, yang menambah kesempurnaan menu pertama yang saya nikmati di Pekanbaru.

Miso Sei Rempah Rajawali

“Makan lagi, yuk!” Ucap saya ke Agung dan Mas Kurnia, yang hanya dibalas dengan penolakan halus. Mungkin karena sudah kenyang, atau mungkin karena saya yang terlalu baik untuk mereka. Namun, penolakan tersebut tidak menghentikan niatan saya untuk mencicipi kuliner Pekanbaru berikutnya, yaitu Miso Sei Rempah di Jalan Rajawali.

Berbeda dengan warung ceker sebelumnya yang tidak begitu penuh, kedai miso ini cukup penuh ketika kami tiba di sana. Belasan sepeda motor terparkir di halamannya, sementara beberapa mobil parkir rapi di seberangnya. Dan saking ramainya, kami terpaksa harus berbagi meja dengan pengunjung yang lain.

Miso Sei Rempah Rajawali

Miso Sei Rempah Rajawali

Saya memesan menu paling komplit yang ada di kedai tersebut. Yaitu miso rempah dengan bakso juga hati dan ampela ayam. Rasa kuahnya segar, mirip sup yang kaya dengan aroma rempah. Sementara di mangkuknya sendiri terdapat banyak harta karun seperti bihun, daging ayam, hati dan ampela ayam, hingga kerupuk merah sebagai topping-nya.

Pelayan kedainya tersebut adalah seorang blasteran, Sumatera dan Jawa, yang berbicara Bahasa Jawa dengan logat Sumatera. Unity in diversity.

Ikan Bakar Cendana

Jam makan malam, saya dan Agung bergegas keluar dari Hotel Ibis Pekanbaru, dan  mencari hidangan malam yang dimiliki oleh Pekanbaru. Saya menelepon Mbak Hesty kembali untuk menanyakan lokasi pasti dari Pondok Ikan Bakar Cendana yang terkenal. Bahkan konon, Ikan Bakar Cendana ini adalah kesukaan dari musisi EndahNRhesa.

Lokasinya adalah di Jalan Riau, namun tepatnya ada di Jalan Riau ujung Tampan, yang untuk mencapainya kami harus melewati ruko-ruko gelap mirip di kawasan Mangga Besar Jakarta, minus wanita penggodanya. Pondok ini menempel pada salah satu ruko, dengan spanduk bertuliskan “Pondok Ikan Bakar Cendana” di depannya, yang diperkuat dengan asap mengebul yang menyebarkan aroma harum ikan-ikan yang dibakar di situ.

Ikan Bakar Cendana

Ikan Bakar Cendana

Kami memesan seporsi Ikan Senangin –yang dikatakan favorit di sana, bersama dengan seporsi cumi bakar, dan sepiring cah kangkung. Yang membuat rasanya istimewa adalah ikan segar yang langsung dibakar dengan olahan bumbu kuning, yang paduan pedas dan asinnya pas di lidah, hingga membuat saya pengin menambah sepiring nasi lagi. Ups!

Fifa Pondok Durian

Sebagai pencuci mulut malam itu, saya memilih durian dibandingkan kiwi dan aprikot. Berikutnya, Mas Kurnia membawa kami ke sebuah pondok kecil yang terdapat di sisi Jalan Sudirman bernama Fifa Pondok Durian.

Fifa Pondok Durian

Fifa Pondok Durian

Saya memesan sebutir durian ukuran sedang (tentunya setelah menawar terlebih dahulu), dikarenakan hanya saya dan mas Kurnia yang makan –itupun hanya sedikit, sementara Agung mengaku tidak menyukai durian. Sungguh hidupnya sia-sia. Merasa masih kurang, saya memesan sepiring ketan untuk dimakan bersama durian, dan ternyata rasanya cukup unik.

Malam itu, saya pulang ke hotel dengan perut penuh dan perasaan bahagia.

Rumah Makan Pondok Danau

Pagi harinya, kami tak sempat sarapan di hotel karena jadwal perjalanan hari itu adalah mengunjungi Candi Muara Takus yang terletak sekitar 135 Km dari Kota Pekanbaru, dan kami tak mau kehilangan banyak waktu hari itu. Maka jadilah, kami melewati sarapan pagi, langsung ke Candi Muara Takus (foto-fotonya dapat dilihat di sini), dan brunch pada perjalanan pulangnya.

Ketika melewati Bangkinang, Mas Kurnia membelokkan mobilnya pada sebuah rumah makan dengan halaman yang sangat luas, dengan sebuah danau di sisi kanannya. Rumah Makan Pondok Danau Bangkinang.

“Rumah makan ini, sering digunakan oleh pejabat-pejabat daerah setempat.” Jelas Mas Kurnia, yang disusul dengan kedatangan beberapa mobil berplat merah, di hari Sabtu.

Pondok Danau Bangkinang

Rumah Makan Pondok Danau Bangkinang

Kami duduk di sebuah meja panjang, dan pelayan datang dengan membawakan bermacam-macam makanan Khas Minang di lengannya yang kekar dan berurat. Ada gulai otak, ayam pop, baung asam pedas, hingga lobster air tawar yang kemudian tersedia di meja. Belum sayuran dan sambal yang tentunya akan menambah cita rasa makanan tersebut. Selain itu, nasi yang disajikan dalam balutan daun pisang juga menambah selera makan saya siang itu.

Untuk minuman, saya memesan segelas es jeruk madu, yang memang merupakan minuman spesial Rumah Makan Pondok Danau Bangkinang ini. Rasanya? Jangan ditanya, segar sekali, apalagi kalau untuk membatalkan Puasa Ramadhan.

Cemilan khas Kampar

Bangkinang, adalah ibukota dari Kabupaten Kampar, yang terletak 60 Km dari Pekanbaru. Saat perjalanan pulang ke Pekanbaru, ketika perut sudah kenyang namun mulut masih masam, saya meminta Mas Kurnia untuk berhenti pada salah satu toko oleh-oleh Khas Kampar. Dan oleh-olehnya kali ini berupa cemilan.

Bertumpuk-tumpuk lopek bugi tersusun dalam wadah daun pisang berbentuk segitiga, sementara di sampingnya terdapat beberapa cemilan lain yang menggugah selera seperti puding jagung, yang kemudian berhasil saya boyong pulang. Lopek Bugi ini terbuat dari adonan tepung berwarna hitam, di mana di dalamnya terdapat parutan kelapa yang berbaur dengan gula putih. Sementara puding jagung, berbentuk segi empat dengan taburan beberapa biji jagung manis di tengahnya.

Oleh-oleh Khas Kampar

Cemilan Khas Kampar

Saya sempat berbincang dengan mbak penjaga toko, yang ternyata adalah orang Jawa Timur yang telah menetap lama di Kampar bersama dengan suaminya. Saya sempat menanyakan apa sih alasan kok lebih betah tinggal di Sumatera daripada di Jawa? Dan jawabannya adalah “Di sini cari uang lebih gampang, Mas.” Jelasnya sambil bercerita bahwa dagangan lopek buginya selalu habis tiap hari.

Setelah tiba di Pekanbaru, saya mampir sejenak di tempat kawan lama saya yang kini menetap di pekanbaru, Evi. Dan di sana saya disuguhi cemilan lainnya, yaitu lempok durian.

Sate Rusa Era 51

Setelah dari tempat Evi, saya menyempatkan diri untuk mampir ke restoran yang membuat saya penasaran sejak diberitahu akan adanya menu makanan ini. Namanya Warung Era 51, yang menyajikan berbagai olahan daging rusa. Warung ini terletak di Jalan Kaharudin Nasution, tepat di simpang bandara.

Sate Rusa Era 51

Sate Rusa Era 51

Pada saat itu, saya memesan seporsi sate rusa dan sepiring dendeng rusa. Satenya hanya terdiri dari lima tusuk, lengkap dengan timun dan tomat, serta bumbu kacang sebagai pelengkap. Sementara dendengnya, hadir lebih menarik dengan warna yang mengkilap. Untuk daging rusa sendiri, feel-nya hampir seperti daging kerbau, yaitu sedikit alot, bertekstur padat, dan lebih “manis” rasa dagingnya.

Bihun Bebek A Hwa

Salah satu rekomendasi kuliner lain yang masuk ke saya adalah Bihun Bebek Lin’s yang terletak di Jalan Sam Ratulangi (bisa dibaca di sini), namun ketika kami tiba di rumah makan tersebut malam harinya –setelah membeli beberapa potong pancake durian, rumah makan tersebut telah tutup.

Kami sempat bertanya, pada salah seorang yang kami temui di Jalan Sam Ratulangi tentang keberadaan bihun bebek lain di Pekanbaru, dan dia menyarankan untuk mencari Bihun bebek A Hwa (kalau tidak salah dengar, atau setidaknya itu nama yang saya dengar) di daerah pecinan, atau di Jalan HOS Cokroaminoto.

Setelah Mas Kurnia memarkir mobilnya di pecinan, tidak tampak satupun warung bertuliskan bihun bebek di sana, hanya beberapa penjaja minuman, juga sebuah kedai kopi dengan satu etalase yang memajang mie dan bihun di depannya. Kedai Kopi Sahabat namanya.

Kedai Kopi Sahabat

Bihun Bebek A Hwa

“Ada bihun bebek?” Tanya saya, yang dibalas dengan anggukan koko yang sedang sibuk menyajikan mie pesanan pelanggannya. Berikutnya, dia meminta kami masuk dan duduk di tempat yang kosong.

Tak perlu menunggu waktu lama, semangkuk bihun bebek telah tersedia di hadapan saya, lengkap dengan sambalnya. Saya makan dengan lahap, ditemani segelas es kopi susu, sambil mendengarkan perbincangan yang terjadi di sekitar saya. Alih-alih menguping, saya malah kebingungan mencerna banyaknya percakapan dalam Bahasa Tionghoa yang muncul. Duh!

Rumah Makan Cuik

Hari terakhir di Pekanbaru, kami sarapan di hotel, karena bangun kesiangan sehingga tidak sempat mampir mencicipi Kopi di Kimteng, sementara saya masih ada jadwal berbagi di Akademi Berbagi Pekanbaru pada pukul sembilan pagi.

Lepas acara Akademi Berbagi, saya bersama Evi dan Erny bergegas menuju Rumah Makan Cuik, yang belum beruntung saya datangi di hari pertama, karena sudah tutup karena masakan yang disajikan telah habis. Rumah makan mungil ini terletak di jalan Yos Sudarso Rumbai sebelum pertigaan Jalan Khayangan, dan beruntungya, ketika kami ke sana semua masakan masih tersedia lengkap.

Lantai kayu berderit ketika kami melangkah masuk ke dalam rumah makan sebelum duduk melingkari meja di tengah ruangan. Berikutnya berpiring-piring hidangan pun disajikan di meja. Tercatat ada gulai baung, ayam kampung goreng, dan udang goreng yang datang bersama dengan sambal merah dan sambal hijaunya. Dan detik selanjutnya, kami menghajar semua makanan tersebut tanpa ampun.

Rumah Makan Cuik, sebenarnya sudah berdiri sejak 20 tahun lalu, namun baru menempati lokasi sekarang sejak 2009. Pemiliknya adalah seorang ibu paruh baya, yang selalu tersenyum dan tampil khas tanpa mengenakan alas kaki. Untuk rasa makanan? Rumah Makan Padang Sederhana pun lewat.

Sore harinya, saya langsung terbang kembali ke Jakarta bersama dengan dua kotak bolu kemojo yang saya beli di Pasar Bawah. Sampai jumpa lagi Pekanbaru.

Apabila saya boleh memilih bagaimana cara mati yang paling nikmat, 
maka saya memilih untuk mati kekenyangan di Pekanbaru.

Artikel ini didedikasikan untuk Tiger Air Mandala yang telah membawa saya ke Pekanbaru, yang secara resmi telah berhenti beroperasi di Indonesia sejak tanggal 1 Juli 2014.

So long Tiger Air Mandala. Farewell. 

Thanks, Agung, for the video, I really like it.

For more Pekanbaru photos, visit my Instagram and Facebook Page.

Advertisements