Ada banyak pesona yang membuat orang datang ke Bandung. Seperti yang pernah saya tulis di sini, ada tiga hal yang membuat orang kembali ke Bandung, yaitu karena mereka ingin makan-makan, belanja-belanja, ataupun jalan-jalan. Tapi itu dulu, sebelum saya berpacaran dengan cewek Bandung yang membuat saya selalu kembali ke Bandung.

Sebenarnya, ada dua alasan utama mengapa saya memacari cewek Bandung. Yang pertama adalah karena cewek Bandung dikenal cantik-cantik, sementara yang kedua, saya ingin mematahkan mitos bahwa cewek Bandung pacarnya selalu jelek-jelek. Alhamdulillah, saya gagal mematahkan mitos tersebut.

Artikel ini, bukan tentang bagaimana cara menikmati (pacaran dengan) cewek Bandung. Namun tentang cara-cara supaya kamu dapat lebih menikmati pesona wisata di Kawasan Bandung dan sekitarnya, seperti yang saya alami ketika bergabung dengan Familiarization Trip yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia, beberapa waktu silam. Dan inilah 9 (sembilan) di antaranya.

1. Berendam Air Panas di Sari Ater

Apa yang paling nikmat dilakukan setelah penat bekerja seharian, duduk manis di dalam van selama tiga jam perjalanan dari Jakarta ke Subang, sambil menahan pipis? Jawabannya adalah berendam di kolam air panas, sambil pipis di dalam kolamnya. Apalagi jika setelah berendam, kamu masuk kamar lalu disambut oleh terapis berparas cantik dan berpakaian minim, yang bertanya, “Mau diapain lagi, Mas?”.

Tapi tidak, blog ini adalah blog syariah, jadi tidak mungkin membahas hal-hal mesum seperti itu, maupun seperti museum sex, atau sex shop.

Pemandian-Umum-di-Sari-Ater-608x400

Pacquiao, Mumun, Velysia, Fahmi, Adis, Bolang. (Photo by Lostpacker)

Malam itu saya diperkenankan menginap di Sari Ater Resort, yang terletak sekitar 30 Kilometer dari Bandung. Salah satu keuntungan menginap di sana adalah, saya memiliki unlimited access ke pemandian umum air panas Sari Ater yang buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, dan 12 bulan setahun. Sekadar informasi, apabila tidak menginap, maka pengunjung diharuskan membayar sebesar Rp30.000,- untuk tiket masuk komplek pemandian, Rp40.000,- untuk tiket masuk kolam pemandian, Rp5.000 untuk sewa loker, Rp100.000 apabila ingin dipijat oleh terapis (pria), dan Rp50.000 apabila lupa membawa handuk dan ingin membeli di sana. 

Karena letaknya yang dekat dengan mata air belerang, salah satu hal yang patut menjadi perhatian oleh pengelola Sari Ater Resort adalah, air keran kamar mandi yang masih terasa asam karena belerang.

2. Mendengarkan Legenda Tangkuban Perahu

Alkisah, pada zaman dahulu tinggallah seorang putri raja di Jawa Barat yang bernama Dayang Sumbi, bersama anaknya yang bernama Sangkuriang dan seekor anjing bernama Tumang, yang adalah titisan dewa, juga ayah dari Sangkuriang. Sebuah keluarga yang complicated.

Suatu hari, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang berburu di hutan. Namun dalam perjalanannya, Sangkuriang tak menemukan binatang buruan di hutan. Karena takut dimarahi oleh sang ibu, akhirnya Sangkuriang menyembelih Tumang, dan membawa dagingnya untuk Dayang Sumbi. Tumang, dicintai Dayang Sumbi dan disembelih oleh Sangkuriang, yang tidak lain adalah anaknya sendiri.

Mengetahui hal itu, Dayang Sumbi marah besar, dan mengusir Sangkuriang dari rumah setelah sebelumnya memukul kepala Sangkuriang dengan centong nasi. “PLETAK!” Begitu bunyinya.

Sundanese turban

Sundanese turban

Tahun berlalu, Sangkuriang akhirnya kembali ke asalnya. Di sana, dia menjumpai wanita yang sangat cantik, yang karena saking cantiknya, membuat Sangkuriang langsung melamar wanita itu. Dan karena terpesona pula oleh ketampanan si pemuda, yang  mengingatkannya pada Chris Evans, wanita itu spontan menerimanya. Seorang wanita bernama Dayang Sumbi, yang dikaruniai kecantikan abadi oleh dewa, seperti Titiek Puspa.

Suatu hari, Sangkuriang pamit berburu di hutan. Dan di sinilah drama selanjutnya dimulai. Ketika Dayang Sumbi merapikan ikat kepala Sangkuriang, dia menemukan bekas luka di kepala pemuda itu. Bekas luka yang mirip centong nasi. Dayang Sumbi memperhatikan lagi wajah si pemuda, dan dia terhenyak, ternyata si pemuda lebih mirip anaknya, daripada Chris Evans.

Mengetahui hal ini, Dayang Sumbi mengajukan dua permohonan kepada Sangkuriang, apabila ingin tetap inses dan melamarnya. Permohonan pertama adalah membendung Sungai Citarum, sementara yang kedua adalah membuat sampan besar untuk menyeberangi sungai itu. Semuanya harus diselesaikan sebelum pagi datang, dan Senin harga naik.

"Wanita, mahkluk yang selalu merepotkan pria sedari dulu."

Singkat cerita, perjuangan Sangkuriang berhasil digagalkan Dayang Sumbi dengan kecurangannya. Sangkuriang yang marah akhirnya menjebol bendungan yang dibuatnya, kemudian menendang sampan raksasa tersebut hingga terbalik dan membentuk sebuah gunung yang kini dikenal dengan Gunung Tangkuban Perahu. Sangkuriang menjadi jomblo, sampan menjadi gunung, dan Malin Kundang tetap menjadi batu.

Tangkuban Perahu

Wonderful Indonesia!

Demikianlah kisah yang diceritakan oleh Pak Cucu, sesaat sebelum kami memasuki area Tangkuban Perahu, yang pagi itu cukup dingin dengan angin yang menusuk hingga ke tulang.

3. Berbelanja di Lembang Floating Market

Dari arah Tangkuban Perahu menuju Bandung, sungguh tidak sah rasanya apabila tidak mampir sejenak di Lembang yang memang berada pada satu jalur perjalanan. Di sana, terdapat beberapa spot untuk wisata dan kuliner, di mana salah satunya adalah Lembang Floating Market.

Setelah makan siang bersama di salah satu saung yang terdapat di Lembang Floating Market, dimulailah petualangan kami yang sebenarnya. Menaiki perahu dayung, bermodal koin sebagai pengganti mata uang, dan berbelanja barang-barang yang dijual oleh para pedagang dalam perahu. Barang yang dijual di sini beragam, walaupun kebanyakan makanan, mulai dari arum manis, tahu goreng, hingga olahan pisang tanduk, yang panjang, besar, dan tidak berbulu.

Walaupun mungkin belum setenar dan sekeren Damnoen Saduak, yang memang merupakan pasar terapung alamiah, namun it’s good if you give Lembang Floating Market a try.

4. Menikmati Pertunjukan di Saung Angklung Udjo

Sedikit di tepian Kota Bandung, yaitu Kawasan Padasuka, terdapat sebuah saung (atau lebih tepatnya disebut sebagai gedung, karena ukurannya yang besar) tempat pertunjukan alat musik tradisional Sunda yang bernama angklung. Angklung ini terbuat dari bambu, dan pada zaman dahulu lazim digunakan untuk upacara keagamaan guna memanggil Dewi Sri yang merupakan Dewi Kesuburan supaya turun ke bumi.

Saung Angklung Udjo, lahir pada tahun 1966 karena kecintaan seorang Udjo Ngalagena –terhadap istrinya Uum Sumiati juga– terhadap kesenian dan budaya Sunda, atau angklung pada khususnya. Walaupun kini Beliau sudah tiada, bukan berarti aktivitas di saung ini terhenti, karena masih ada anak-anaknya yang terus melanjutkan perjuangan seorang Udjo Ngalagena sampai saat ini.

” What You Are, What Job You Have Choosen, Do It Well, Do It With Love, Without Love, You Are Dead Before You Die “ -- Udjo Ngalagena

Pementasan di Saung Angklung Udjo diadakan setiap harinya mulai pukul 15.30 dengan menampilkan beberapa pertunjukan budaya seperti Wayang Golek, Helaran, Tari-tarian tradisional, sebelum pertunjukan musik angklung yang spektakuler dimulai.

Salah satu hal menarik di sini adalah ketika muncul anak-anak kecil yang membagikan angklung untuk para pengunjung yang nantinya akan diajak bermain angklung bersama. Saat itu saya hampir menangis bahagia ketika nada-nada yang berasal dari angklung tersebut menyanyikan lagu kesukaan saya, All My Loving dari The Beatles.

5. Bermain di Trans Studio

Bandung tak hanya punya sesuatu yang tradisional, karena mereka juga mempunyai sebuah taman hiburan modern yang menyenangkan. Namanya Trans Studio, yang terletak di dalam Trans Studio Mall. Akan sangat dianjurkan untuk menikmati tempat ini seharian penuh, namun apabila kamu hanya memiliki sedikit waktu, maka inilah empat atraksi pilihan saya:

  1. Marvel Super Heroes 4D The Rides, di mana kamu akan masuk ke dalam suatu tempat gelap dengan bangku-bangku seperti di bioskop, yang akan bergerak mengikuti adegan laga dalam film 4D yang bercerita tentang perjuangan The Avengers melawan Dr. Doom, di Bali. Ya di Bali, yang membuatnya menjadi film Marvel pertama dengan kearifan lokal.
  2. Yamaha Racing Coaster, yang merupakan roller coaster berkecepatan tinggi yang mampu berakselerasi dengan kecepatan 120 km/jam dalam waktu 3,5 detik, yang akan membawamu meluncur secepat Valentino Rossi, di ketinggian 50 meter termasuk dengan manuver mundur. Dipersembahkan oleh Yamaha.
  3. Indosat Galaxy Vertigo, sebuah kincir raksasa yang membawa para penunggangnya berputar-putar 360° di ketinggian. Sebuah wahana yang telah membuat Sutiknyo tidak mau naik untuk kedua kalinya. Dipersembahkan oleh Indosat.

    Trans Studio Bandung

    Vertigo. by Indosat.

  4. Dunia Lain, yang merupakan wahana dan atraksi terseram di sini. Pengunjung akan dibawa dengan sebuah kereta bermuatan 4 orang, memasuki lorong gelap dengan hantu-hantu di sekeliling, yang mungkin bisa membuatmu tersesat dan tak bisa bangkit lagi apabila turun dari kereta. Namun walaupun digadang-gadang sebagai wahana terseram, saya merasa wahana ini masih kalah seram dibandingkan dengan Wisata Horor Kota Bandung.

6. Menjelajah Kawah Putih Ciwidey

Terletak sejauh dua jam perjalanan dari kota ke arah selatan, terdapat sebuah objek wisata menarik lainnya bernama Kawah Putih Ciwidey. Tempat ini merupakan sebuah kawah yang terbentuk karena aktivitas belerang yang kebangetan, namun menimbulkan akibat yang menawan. Supaya lebih efektif dan efisien, kamu bisa membaca artikel terdahulu mengenai kunjungan saya ke tempat ini.

Ini adalah kunjungan ketiga saya ke tempat ini, namun kali ini terasa sedikit berbeda karena (kadar belerang yang sedang tinggi sehingga menyesakkan dada, juga) saya ditemani oleh para travel blogger internasional yang luar biasa ini.

This slideshow requires JavaScript.

Pada perjalanan pulang, Pak Cucu bercerita tentang kejadian mistis di tempat ini. Tentang seorang turis yang tiba-tiba menghilang setelah memasuki toilet umumnya, dan tentang seorang turis asal Malaysia yang mendapati sebuah penampakan pada foto yang diambilnya. Hal yang mungkin saja wajar terjadi, karena memang daerah ini dikenal sebagai daerah yang sangat angker pada zaman dahulu.

7. Beristirahat di Kebun Teh Walini

Setelah lelah menghirup aroma belerang dan berjalan-jalan di Kawah Putih Ciwidey, kami langsung diarak menuju Kebun Teh Walini yang terletak sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil modifikasi yang disebut dengan ontang-anting.

Ternyata, hal tersebut adalah hal yang tepat, karena Kebun Teh Walini dengan hamparan karpet hijaunya merupakan spot yang tepat untuk beristirahat dan menghirup aroma dedaunan yang segar. Plus, tempat ini sangatlah Instagramable!

I'm the queen of the hill! #travel #PesonaBandung #WonderfulIndonesia

A post shared by M Arif Rahman (@arievrahman) on

Teh Walini sendiri adalah salah satu merk teh yang diproduksi oleh PT Perkebunan Nusantara VIII yang telah diperkenalkan di Jawa Barat sejak tahun 2003 dan telah memenuhi sertifikasi standar pertanian organik internasional. Salah satu keunggulan Teh Walini dibandingkan dengan merk lain adalah teh ini terbuat dari bahan baku berkualitas ekspor hasil olahan para pakar teh di Indonesia.

Walini Tea Plantation

With Dawn from Singapore, Juwon from Korea, and Unidentified Fat Object from Indonesia

8. Mencicipi Sajian di RM Sindang Reret

Kembali menuju Bandung, tak ada salahnya apabila mampir sejenak untuk makan siang sembari menikmati suasana pedesaan yang asri. Hal itulah yang menjadi unggulan dari Rumah Makan Sindang Reret Ciwidey, yang menyajikan suasana pedesaan lengkap dengan gubug, sawah, dan patung kerbau.

Memasuki rumah makan, sederet wanita cantik berpakaian lokal sudah menyambut kami dengan es cincau sebagai welcome drink. Di saung yang lain, terdapat beberapa orang memainkan musik tradisional Sunda, sementara di tengah lapangan dapat digunakan untuk ajang bermain permainan tradisional seperti egrang dan bakiak.

Tak perlu menunggu lama bagi kami, ketika para wanita cantik tadi muncul kembali dengan membawa rantang berisikan makanan. Saat itu pikiran saya langsung berkelana ke masa lalu, masa di mana seorang petani yang lelah setelah bekerja seharian di sawah, mendatangi gubug di tengah sawah untuk beristirahat. Diiringi angin sepoi-sepoi, sang istri datang dengan menaiki kerbau sambil membawakan rantang berisikan makanan. Hal yang terjadi selanjutnya adalah si petani menggelar tikar di gubug tersebut, lalu menikmati istrinya. Maksud saya, makanan yang dibawakan istrinya.

Adapun menu makanan kami siang itu sangatlah internasional, yaitu dengan menu-menu antara lain sebagai berikut:

  1. Traditional sundanese rice with special herb cooked in casserole;
  2. Carp fish spicy sauce;
  3. Mixed vegetables with peanut sauce;
  4. Saute red bean with chilli sauce;
  5. Corn fritters.

Bingung apa saja yang kami makan? Coba cocokkan menu di atas dengan jawaban berikut: A. Arem-arem kacang endul | B. Gurame goreng filet bumbu pecak | C. Nasi liwet | D. Perkedel jagung | E. Karedok

9. Berkeliling Kota dengan Bandros

Salah satu cara baru berkeliling Bandung, selain dengan mengikuti maraton adalah dengan menggunakan Bandros, yang merupakan kepanjangan dari Bandung Tour on The Bus. Bus dua tingkat yang diresmikan Walikota Bandung, Ridwan kamil pada malam tahun baru 2014 ini memang dirancang sebagai salah satu moda alternatif unggulan bagi para turis untuk menikmati Bandung.

Pada lantai atas Bandros, terdapat kursi-kursi besi bergaya klasik, sementara pada lantai bawahnya terdapat beberapa kursi bulat, kursi panjang, juga sebuah balkon untuk tempat berdiri sambil melambaikan tangan dengan gaya Miss Universe ke warga Bandung yang selalu antusias setiap Bandros lewat. Secara total, Bandros dapat memuat hingga 30 orang sekali angkut. Cukup untuk membawa serombongan pemain Persija Jakarta beserta official keliling Bandung sambil diarak warga lokal.

Bandros!

I’m on the top of Bandros!

Pada kesempatan kemarin, saya berkesempatan menjajal Bandros mulai dari Trans Studio Hotel yang memproklamirkan dirinya sebagai hotel bintang 6, menuju Gedung Sate, dan berakhir di Jalan Riau untuk berbelanja. Sungguh pengalaman menaiki Bandros ini adalah sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan. Apalagi ketika saya beserta penumpang di lantai atas serentak menunduk ketika bus melewati pohon yang bercabang menjulur ke arah jalan, atau kabel telepon yang melintang tepat di atas kami.

“WATCH OUT FOR THE BRANCH!” Teriak sang pemandu wisata sore itu, berkali-kali.


 

Indonesia Travel Familiarization Trip

(((BLOGGER & SOCIAL MEDIA STARS)))

Secara pribadi, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kementerian Pariwisata dan tim yang telah sukses menyelenggarakan Familiarization Trip #PesonaBandung, juga atas pengalaman tak terlupakan selama beberapa hari di Bandung.

Indonesia Travel Familiarization Trip

This is us. Collaged by Velysia.

Para peserta, dari kiri ke kanan, atas ke bawah:

Ima Zahra, Rijal Fahmi,Kartina Ika Sari, Anirudh Singh, Kounila Keo, Anis Ibrahim, Teh U Mei, Dawn Yang, Stephanie Dandan, Rachel Jones, Ju Won Park, Nisha Jha, Aleah Phils, Ehdison Dimen, Gael Hilotin, Adis Takdos, Zayn Malik, Murni Indohoy, Velysia Zhang, Tekno Bolang.

Sebagai penutup, selamat menikmati video ini dari Lostpacker. Sebuah video tentang Bandung, kota dengan ribuan pesona.

Advertisements