backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Menjajal Vivo V7+ di Taman Nasional Baluran

arievrahman

Posted on October 25, 2017

Sebelum membaca artikel ini, tahukah kamu di mana letak Taman Nasional Baluran? Banyuwangi? Situbondo? Surabaya? Ya betul, jawabannya adalah di Indonesia, atau tepatnya di wilayah Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Bagi yang sebelumnya menyangka bahwa Baluran berada di Banyuwangi, selamat kamu tidak sendirian, karena saya –yang termakan iklan pariwisata Banyuwangi akibat kampanye Pesona Indonesia dari Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya (yang kebetulan juga berasal dari Banyuwangi), juga berpikir demikian.

Taman Nasional Baluran –yang berikutnya akan saya sebut sebagai TN Baluran, adalah sebuah taman nasional seluas 250 kilometer persegi atau 50 kali lebih luas dari rencana lahan Meikarta, yang memiliki berbagai macam tipe vegetasi yang mendiaminya. Mulai dari sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, hingga hutan yang selalu hijau sepanjang tahun, walaupun mungkin tidak lebih hijau daripada rumput tetangga.

Sabana adalah padang rumput yang dipenuhi oleh semak/perdu dan diselingi beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar, misalnya palem dan akasia. Sistem biotik ini biasanya terbentuk di antara daerah tropis dan subtropis. (Sumber: Wikipedia)

Tercatat, tipe sabana adalah tipe vegetasi yang paling mendominasi TN Baluran, dengan luasnya yang mencapai 40% dari total lahan, walaupun dalam sabana yang luas ini saya tidak menemukan hewan berjenis fried chicken. Karena sabananya yang luas ini, TN Baluran juga dikenal sebagai Africa van Java, atau Benua Afrika yang ada di Pulau Jawa.

Tapi pertanyaannya, Afrika, Afrika yang mana ini? Karena tidak semua negara di Afrika memiliki bentang alam berupa Sabana, seperti misalnya Mesir dan Maroko. Afrika yang seperti foto di bawah inilah pokoknya.

Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran (taken with Vivo V7+)

Mungkin banyak orang yang salah kaprah dengan menyebutkan TN Baluran berada di Banyuwangi, karena memang perjalanan termudah dan tercepat ke TN Baluran –bagi kamu yang berada di luar Jawa Timur, adalah dengan penerbangan menuju Banyuwangi, di mana dari sana kamu dapat melanjutkan perjalanan ke TN Baluran dengan menggunakan transportasi darat, seperti mobil, bus, sepeda motor, atau berjalan bila mampu.

Categories: Domestic, GMT +7, Jawa Timur, Survival Kit

Tagged: Baluran, Jawa Timur, Situbondo, Vivo

27 Comments

+Read more

Noravank

Wisata Monastery di Armenia

arievrahman

Posted on October 22, 2017

Hari itu, saya terbangun akibat suara gaduh yang ditimbulkan para penumpang kereta di sekitar; mereka mulai membereskan tempat tidur masing-masing, dan mengembalikan seprai, bantal, dan selimut kepada seorang petugas kereta yang sedari tadi mencoba membangunkan kami semua. “Yerevan, Yerevan, Yerevan!” Serunya, sambil mengguncang-guncang kompartemen kami.

Setengah sadar, saya mencoba berdiri, namun usaha saya terhenti oleh kepala yang membentur langit-langit. Sial, saya lupa kalau sedang berada di upper berth gerbong Sleeper Train yang hanya berjarak setengah meter dari atap kereta.

Kereta mulai melambat ketika saya turun dari ‘lantai atas’ tersebut. Di luar, nampak matahari sudah naik ke atas, pertanda pagi sudah tiba. “Sudah hampir pukul tujuh ternyata.” Saya melirik jam tangan, “Akhirnya setelah perjalanan sebelas jam dari Tbilisi, termasuk dua jam berhenti karena pemeriksaan di perbatasan Georgia – Armenia, saya tiba juga di Yerevan, ibu kota Armenia.”

Baca: Panduan Mendapatkan e-Visa Armenia

Dari sini, saya dijadwalkan untuk bertemu Mr. Vahan, driver yang akan membawa saya mengelilingi Armenia dengan road trip selama tiga hari. Memang, bagi seorang karyawan seperti saya yang hanya memiliki waktu liburan super singkat, menggunakan jasa tur –dibanding menggunakan transportasi lokal yang memakan waktu lama, adalah sebuah pilihan yang tepat, walaupun tentunya lebih mahal.

Road Trip in Armenia

Seorang pria beruban–yang saya taksir berusia 50-an, memegang sebuah kertas bertuliskan “Mr. Muhammad Arif Rahman” –nama saya, menunggu di pintu kedatangan, dan langsung tergesa mengajak memasuki mobilnya –sebuah sedan Mercedes Benz yang sepertinya seumuran dengan saya, begitu saya memperkenalkan diri.

“Come come!”

Categories: Armenia, Foreign

Tagged: Armenia, Monastery, road trip

38 Comments

+Read more

Api Biru Ijen

Kisah Perburuan Api Biru di Kawah Ijen

arievrahman

Posted on October 16, 2017

“Hanya ada dua tempat di dunia ini yang memiliki blue fire, atau api biru.” Jelas seorang pria berjaket militer di hadapan kami. Bendera Indonesia tersemat rapi pada lengan kirinya. Dengan semangat, pria bertubuh gempal tersebut memberikan sedikit petuah sebelum memberangkatkan kami “Yang pertama adalah di Kawah Ijen Banyuwangi –tempat yang akan kalian daki pagi hari ini, dan yang kedua adalah di Iceland.”

Saya mengangguk –tanpa sempat membantah bahwa Rinnai juga memiliki api biru, sambil membatin betapa kerennya Indonesia ini karena memiliki si api biru, walaupun pada hari berikutnya saya mendapat informasi yang membuat Indonesia semakin keren karena ternyata api biru di Iceland hanyalah hoax belaka.

“Sebelum memulai pendakian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai keadaan alam yang mungkin muncul dalam perjalanan kalian.” Pria tersebut melanjutkan. “Yang pertama adalah kemungkinan hujan.”

Hujan? Saya sudah sedia payung sebelum hujan secara kiasan, atau realitanya adalah saya sudah membawa raincoat lipat yang pernah saya gunakan ketika mengunjungi Stonehenge dua tahun lalu.

Welcome to Kawah Ijen

“Kemudian ada juga kemungkinan munculnya ular dalam perjalanan, hati-hati yang mengenakan celana pendek. Maklum saja sedang musim hujan, siapa tahu ular tiba-tiba muncul.”

Saya, untung saja sudah memakai celana panjang, guna mengantisipasi ular keluar masuk. Salah seorang rekan seperjalanan yang memakai celana pendek, nampak sedikit panik dan langsung membeli kaus kaki panjang bermerk Nike abal-abal di penjual terdekat. Sebuah tindakan yang membuatnya terlihat menjadi seperti pemain sepakbola abal-abal dibanding pendaki gunung.

“Kami juga sudah menyiapkan senter sebagai sumber penerangan malam hari.”

Boleh lah senter, karena agak susah mengajak Pevita Pearce di situasi sekarang ini, paling cuma abangnya yang bisa diajak.

Categories: Domestic, GMT +7, Jawa Timur

Tagged: Api Biru, Banyuwangi, blue fire, Ijen, Insto

41 Comments

+Read more

Iran

Langkah-langkah Mengurus Visa on Arrival Iran

arievrahman

Posted on September 29, 2017

Awalnya, rencana saya adalah mengurus Visa Iran berjenis Double Entry, karena saya berpikir akan keluar masuk Iran sebelum menjelajahi wilayah Caucasus. Kemudian, salah seorang teman juga menyarankan untuk mengurus visa tersebut langsung ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta, dengan terlebih dahulu memberikan nomor kontak petugas yang bekerja di bagian pengurusan visa.

“Kontak saja Pak Husin nanti.” Dia berkata, “kemarin aku juga tanya-tanya ke dia kok tentang visa.”. Saya ingat, saat itu masih sekitar Bulan Februari atau Maret 2017, sementara jadwal perjalanan saya masih cukup lama, yaitu di Bulan Mei 2017. Angin surga juga datang darinya yang mengatakan bahwa pembuatan visa Iran cukup cepat, yaitu hanya sekitar beberapa hari kerja, tidak sampai dua minggu sudah jadi. Ceunah.

Berikutnya, saya langsung mengontak Pak Husin melalui nomor yang diberikannya, dan langsung mendapat penjelasan mengenai persyaratan untuk mengurus visa berjenis double entry ini. Persyaratan yang langsung saya teruskan ke Adhi, rekan perjalanan saya kali itu.

“Ternyata gak begitu ribet nih syaratnya, Dhi.” Saya menyampaikan, “nanti lah ya agak mepet ngajuinnya. Sekitar bulan April gitu. Gue masih ada beberapa trip nih. Pokoknya kita kumpulin dulu syaratnya dan isi formulirnya, nanti tinggal ke kedutaan buat daftar.”

Dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan, saya mulai mengurus segala persyaratan yang diberikan oleh Pak Husin, meletakkannya dengan rapi dalam sebuah map yang saya ambil dari kantor, dan bersiap untuk berangkat ke kedutaan. Pada sebuah hari yang cerah di pertengahan April –hari di mana saya bersiap berangkat ke kedutaan untuk mengurus Visa Iran, saya mengontak kembali Pak Husin, supaya sopan. Akan tetapi, jawaban yang saya dapat darinya membuat saya sedih.

“Maaf, ini siapa ya?” Jawabnya.

Namun, bukan itu yang sebenarnya membuat saya sedih, melainkan jawaban-jawaban atas pertanyaan saya berikutnya, mengenai pembuatan double entry visa.

Visa Iran

DHEG! Setelah semua syarat siap dalam map, dan saya sudah tinggal berangkat ke kedutaan, ternyata per bulan April, Kedutaan Besar Iran di Indonesia sudah tidak melayani pembuatan visa secara langsung, tanpa adanya surat rekomendasi dari agency terkait yang sudah disahkan Kementerian Luar Negeri di sana. Ini sama seperti kita sudah dandan rapi untuk ke rumah pacar di malam Minggu, namun ketika menelepon ke rumahnya dijawab oleh ayahnya, “Maaf, orangnya baru saja menikah, Mas telat sih.”

Prosedur barunya adalah kita harus mengirim request ke travel agency di Iran, supaya membuat rekomendasi kunjungan, yang mana surat tersebut kemudian harus disahkan oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Baru setelah itu, Kementerian Luar Negeri Iran akan mengirimkan berkas kita ke Kedutaan Besar Iran di Indonesia untuk proses pencetakan visa.

Kampret.

Categories: Foreign, Iran, Survival Kit, Visa, Visa Iran

Tagged: Iran, Visa, Visa Iran, Visa on Arrival

54 Comments

+Read more

Reunian Hemat di Singapura

arievrahman

Posted on September 17, 2017

“Mbak, kita nonton Foo Fighters, yuk!” Ajak saya ke Fara, suatu hari di bulan Juli, beberapa hari setelah kami menonton Coldplay di Paris bersama. “Si Wandy kayaknya lagi ada tiket gratisan nih.”. Sebuah ajakan yang sangat menggiurkan karena beberapa alasan, yang pertama adalah karena Foo Fighters, kedua karena gratis, dan yang ketiga adalah karena kami akan melakukan perjalanan bersama lagi setelah berbulan-bulan tidak melakukannya.

Perjalanan pertama kami secara tidak sengaja dilakukan pada tahun 2011, di mana pada saat itu saya bersama Wandy mengikuti sebuah open trip ke Cagar Alam Krakatau (iya, I know, wisata ini tidak seharusnya dilakukan tanpa izin pihak terkait) dan bertemu dengan Fara yang juga tergabung dalam rombongan.

Dari situ, bibit pertemanan kami tumbuh, dan kami yang sama-sama penyuka jalan-jalan ini menjadi sering mengagendakan perjalanan bersama. Mulai dari berwisata ke Dieng (dan mendapati salah seorang teman kesurupan), menjajal cliff jumping di Nusa Lembongan (Ini saya doang yang lompat, karena Wandy tidak bisa berenang, dan Fara masih sayang nyawa), melakukan weekend trip ke Puncak (sambil mencoba kamera baru) juga road trip ke Cirebon, hingga mengunjungi situs Gunung Padang yang misterius.

Gunung Padang

Coba tebak, apa yang misterius dari foto ini?

Sering bepergian bersama ke dalam negeri, membuat kami berencana untuk melakukan perjalanan bersama ke luar negeri suatu hari nanti. Saya dan Fara, sebelumnya pernah melakukan perjalanan bersama ke Puerto Princessa, Filipina di tahun 2013, di mana kami terjebak di penginapan karena Badai Yolanda melanda Filipina. Saat itu, Wandy tidak ikut serta karena sebuah alasan klasik, yaitu belum punya paspor.

“Hadeeeh, makanya elu bikin paspor dong, biar bisa ke luar negeri.” Pinta Fara, yang dijawab dengan keraguan oleh Wandy, ragu apakah bisa meninggalkan pacarnya di Indonesia tanpa ada drama. Setelah bertahun-tahun saya dan Fara membujuk tanpa henti, akhirnya Wandy mau juga membuat paspor pertamanya di bulan April 2017.

Sebuah bulan bersejarah yang harus dirayakan dengan bepergian bersama ke luar negeri, tepatnya ke Singapura, untuk menonton Foo Fighters.

Categories: Foreign, Kepulauan Riau, Singapore

Tagged: Batam, Foo Fighters, Singapura, Traveloka

48 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Tentang Mengurus Visa Cina

Archives

Blog Stats

  • 5,485,493 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...