backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Mui Ne

First Time in Vietnam (2) – Kisah Pencarian Air Terjun Para Bidadari

arievrahman

Posted on February 28, 2019

Matahari bersinar terik tepat di atas kepala atas kami, saat Jim memarkir jeepnya pada warung kelontong yang terletak di samping sebuah gang kecil. Sebuah papan petunjuk bertuliskan Fairy Stream dan anak panah kecil yang menggantung di bawahnya nampak lebih menarik daripada Jim atau warung kelontong itu sendiri. “Just go straight, and follow the path.” Jim menjelaskan. “And you will find the stream. Fairy stream.”

“Um, okay. And you don’t go with us?” Timpal saya.

“No, I wait here. And now you have …” Pria itu melirik arloji yang dikenakannya sebelum berucap “45 minutes from now.”

BANGSAT.

[Baca: First Time in Vietnam (1) – Perjumpaan dengan Mister Ly]

Part III –  Pencarian Air Terjun Para Bidadari

Fairy stream, atau air terjun para bidadari adalah salah satu objek wisata kebanggaan Mui Ne selain pantai dan gurun pasirnya yang termahsyur. Untuk mencapainya, kami harus berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer dari jalan raya ke arah yang ditunjukkan anak panah, melewati:

  1. Sungai yang dangkal dan keruh;
  2. Hamparan batuan karst yang berwarna warni indah;
  3. Semak belukar yang terkombinasi unik dengan pepohonan hijau;
  4. Pilihan 1, 2, dan 3 benar.

Di awal jalur trekking, seorang anak kecil yang fasih berbicara bahasa Inggris menawarkan jasa untuk menjadi guide kami menuju air terjun tersebut. Namun kami menolaknya, karena kami merasa dia belum cukup umur bahwa kami bisa menemukan air terjun tersebut sendiri.

Namun ternyata anggapan kami itu salah, dan kami kualat terhadap anak kecil tersebut.

Mui Ne

Sudah hampir 45 menit kami berjalan –atau tepatnya setiap sepuluh menit berjalan, ada lima menit sesi untuk foto-foto. Ulangi sebanyak tiga kali, namun air terjun tersebut belum juga menunjukkan batang airnya. Beberapa turis mancanegara lain berjalan ke arah yang berlawanan, di mana turis terakhir yang kami temui berkata “Just go straight, you almost there. Maybe around thirty minutes more.”

APA, TIGA PULUH MENIT LAGI?!!!

Categories: Foreign, Vietnam

Tagged: Fairy Stream, Mui Ne, Sand Dunes, Vietnam

30 Comments

+Read more

Mui Ne

First Time in Vietnam (1) – Perjumpaan dengan Mister Ly

arievrahman

Posted on February 24, 2019

Langit malam menyambut kedatangan kami di Tan Son Nhat International Airport, Ho Chi Minh, Vietnam. Di bandara terbesar Vietnam tersebut, secara dramatis pesawat kami mengalami keterlambatan selama kurang lebih satu jam dari jadwal normal. Tepat di ujung pintu keluar bandara, saya mendapati seorang Vietnam berpakaian kemeja necis –yang sepertinya basah oleh keringat, sedang tersenyum memamerkan giginya sambil membawa papan bertuliskan sebuah nama di sana.

 Mr. Arif, welcome to Vietnam. Saat itu tahun 2011, dan ini adalah kali pertama kali saya mendatangi Vietnam.

“Ah, pasti dialah si Mister Ly.” Batin saya. “Ly Dong-gook.”


Beberapa jam yang lalu, ratusan penumpang tampak gusar dikarenakan pesawat yang akan membawa mereka ke Ho Chi Minh dikabarkan mengalami delay yang cukup lama. Di antara kerumunan penumpang tersebut, tampak seorang pemuda masa kini dengan kumis dan jenggot yang telah dicukur rapi sibuk memencet tuts demi tuts pada telepon genggamnya.

“Waduh delay, gue harus segera ngabarin SASCO nih.” Gumam saya, kepada figuran 2, yang biasa dipanggil dengan Ahwan.

“Emang siapa SASCO?”

“Itu, jasa penyedia layanan travel yang punya mobil jemputan untuk kita. Kan kasihan kalau nungguin, kemarin gue booking untuk pukul 20.30, dan sekarang ternyata delay pesawatnya.” Saya menimpali Ahwan, sambil tetap berkonsentrasi menyusun e-mail pemberitahuan kepada SASCO, mengenai keterlambatan ini.

TING! Tak berapa lama, jawaban telah masuk ke telepon genggam saya. E-mail diterima!

Dalam e-mail balasan tersebut, dikabarkan kalau pihak SASCO telah menjadwalkan ulang mengenai penjemputan saya, dari yang semula akan dilakukan oleh Mister Tuan –yang saya tak tahu mengapa orang tuanya menamakan Tuan, karena akan menjadi redundansi jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, Tuan Tuan (dan Puan Puan), menjadi dialihkan ke Mister Ly.

PART I – Perjumpaan dengan Mister Ly

“Mister Ly?” Saya menyapa pria di hadapan saya.

Pria itu tetap tersenyum, menurunkan papan yang dipegangnya sambil menunjuk huruf demi huruf yang tertera di sana. Saya mengangguk malu, namun tetap menyodorkan tangan untuk bersalaman. Setelah itu, dia mengajak kami untuk segera menuju mobil yang telah disiapkannya.

Saigon Car Scam

“It’s a new car, only used for one kilometer.” Ucapnya, seraya membukakan pintu untuk kami, dan bagasi untuk Ahwan barang bawaan kami. Saya memperhatikan mobil tersebut, benar-benar mobil baru, fresh from the dealer. Nissan Grand Livina, dengan interior yang masih bersih dan wangi layaknya mobil baru.

“Yes, I know it from its smell.” Jawab saya yang disambut tawa renyah Mister Ly. Saya duduk pada jok depan mobil, sementara Mister Ly ada di samping kiri saya. Iya, di Vietnam, setir mobil adanya di sebelah kiri sesuai dengan ideologi negaranya. Berlawanan dengan mobil di Indonesia pada umumnya.

Categories: Foreign, Vietnam

Tagged: Ho Chi Minh, Mui Ne, SASCO, scam, Vietnam

24 Comments

+Read more

Buddha Air - Everest Flight

Apa Saja yang Kamu Dapat Pada Penerbangan Singkat Keliling Himalaya dan Melihat Everest dengan Buddha Air Seharga (Hampir) US$200, Apakah Worth It?

arievrahman

Posted on January 23, 2019

Salah satu pedoman hidup saya sebagai seorang yang YOLO dan sempat mengidolakan Justin Bieber adalah “Never Say Never”, atau jangan pernah berkata tidak terhadap segala kemungkinan untuk mencoba berbagai pengalaman baru yang mungkin akan didapat ketika melakukan perjalanan. Saya berpendapat bahwa hidup ini hanyalah satu kali, dan waktu, adalah hal paling berharga di dunia, yang tidak akan diulang kembali kecuali kamu adalah Doraemon atau duet Marty McFly dan Doc Brown.

Mencoba makan balut di Puerto Princessa, terbang naik balon udara di Bagan, hinga mengikuti Ghost Tour di York, adalah beberapa ‘Once in A Lifetime Experience’ yang pernah saya lakukan, karena penasaran, yang mungkin tidak akan terulang lagi. Karena sudah tidak penasaran, atau karena sudah tidak ada waktu lagi.

“Do you want to fly over Everest?” Sebuah pertanyaan menghampiri, pada hari pertama saya di Kathmandu. Adalah Kancha, partner bisnis saya di Nepal yang menanyakannya. “Morning flight from Kathmandu.”

Buset dah, baru hari pertama saya mendarat sambil membawa rombongan trip Whatravel, saya sudah ditawari itinerary sampingan yang menarik. “HELLAWWW, EXCUSE MEEE. What is that, once again?”

“Buddha Air flight, around one hour, flying over Himalayan mountain, to see Mount Everest.” Kancha menjelaskan sambil berbisik, seolah ini adalah sebuah misi rahasia yang harus diselesaikan saya, sebagai Ethan Hunt. “It’s like a once in a lifetime experience.” Ya benar juga sih, sudah di Nepal, tapi masa tidak melihat Everest? Sementara waktu yang kami punya hanyalah tiga malam, dan tidak mungkin juga mengikuti program trekking ke Everest Base Camp yang memakan waktu sekitar dua minggu.

everest-mountain-flight

Saya memejamkan mata sejenak, membayangkan duduk di dalam sebuah pesawat yang terbang rendah mengelilingi puncak-puncak salju sepanjang Himalaya, dan pada puncaknya yang tertinggi Colonel Sir George Everest melambaikan tangan ke saya, memanggil manja “Mz, sini mz.”

“I will ask other guests first.” Saya menjawab diplomatis, tugas sebagai trip buddy atau tour leader dari Whatravel, mengharuskan saya untuk memastikan para peserta aman dahulu, sebelum dapat melakukan kegiatan lain di luar jadwal. Tentunya sembari menawarkan peserta lain, apakah berminat terbang keliling Himalaya juga. “By the way, how much is it?“

Categories: Foreign, Nepal

Tagged: Buddha Air, Everest, Himalaya, Kathmandu, Nepal

48 Comments

+Read more

Kenya - Tanzania Border

Mendapatkan Visa On Arrival Tanzania tanpa Yellow Fever Vaccination, Bisakah?

arievrahman

Posted on December 31, 2018

“Where is your yellow fever vaccination?” Seorang petugas bertanya di balik loket imigrasi ‘Arrival’ Kenya yang terletak di Namanga Border, kota kecil yang memisahkan Kenya dan Tanzania, tepat ketika saya menyelesaikan antrean dan tiba di hadapannya. “The yellow book.” Dua telunjuknya beraksi, membentuk sebuah bidang imajiner berbentuk persegi. Matanya tajam menatap saya, yang sudah menyerahkan paspor hijau kepadanya.

Saya menggeleng. “I don’t have it.”. Aneh, kenapa baru sekarang saya diminta buku kuning, ketika saya sudah hampir meninggalkan Tanzania dan kembali lagi ke Kenya, sementara lima hari sebelumnya, ketika memasuki Tanzania dari Kenya, saya tidak diminta apa-apa. “Kalau buku kuning meningitis yang untuk umrah sih saya ada, sis.”

“Go to that counter.” Ucapnya, pedas.

-Lima Hari Sebelumnya-

“Kalian memangnya punya buku kuning vaksin?” Dinka bertanya pada malam terakhir kami di Nairobi, sebelum berencana menyeberang ke Tanzania pada pagi harinya. Saya meletakkan botol minuman di meja, saling berpandangan dengan Adis dan Nugie, yang mungkin sama kagetnya dengan saya.

“Apa itu?” Kami bertanya hampir berbarengan “Memangnya perlu, ya? Perasaan kemarin waktu masuk ke Kenya dan mendapatkan Visa Kenya, kami tidak diminta.”

Kali ini Dinka yang sudah lama tinggal di Nairobi, menatap kekasihnya. “You won’t be allowed to cross the border without that book. The Yellow Fever Vaccination.” Pria berdarah Filipina ini menegaskan. Sebuah pernyataan yang membuat kami semakin terhenyak, karena kami tidak memiliki buku kuning, atau International Certificate of Vaccination for Yellow Fever yang dimaksud.

yellow_fever_map

Yellow Fever, atau demam kuning kalau diterjemahkan, pada dasarnya adalah sebuah gejala penyakit atau infeksi yang bukan disebabkan fanatisme berlebih terhadap partai Golkar, melainkan disebarkan akibat gigitan nyamuk betina. Penyakit yang dapat menyebabkan pendarahan viral akut yang berpotensi kepada kematian ini biasanya ditunjukkan oleh berbagai tanda-tanda seperti flu, demam, warna tubuh menjadi kuning (ini mengapa disebut yellow fever), nyeri sendi, hingga muntah-muntah walaupun sedang tidak hamil.

Penyakit endemik ini banyak ditemui pada wilayah-wilayah sub-Saharan Africa and tropical South America, seperti yang ditunjukkan pada peta di atas, yang juga meliputi wilayah Kenya dan Tanzania. Salah satu situs resmi pemerintahan Tanzania menyebutkan:

“Vaccination is an entry requirement for all travelers arriving (including airport transit) from countries where there is a risk of yellow fever transmission or any disembarkation to endemic areas after 24 hours.”

“If you come from Indonesia, it’s okay if you didn’t take the vaccination.” Odin menambahkan “But, if you come from Kenya, so it’s an obligation to have it.”

Categories: Foreign, Tanzania, Visa Tanzania

Tagged: Namanga Border, Tanzania, Visa, Visa Tanzania

36 Comments

+Read more

GrabCar Jakarta

Tentang Meladeni Kemacetan dan Lalu Lintas Jakarta dengan GrabCar

arievrahman

Posted on December 29, 2018

“Besok anterin aku kontrol sebelum jam makan siang yuk!” Neng mengingatkan saya pada malam kedua sejak kepulangan saya dari perjalanan bersama para peserta trip Whatravel mengunjungi Nepal dan Bhutan. “Sudah jadwalnya nih.”. Kontrol di sini, bukanlah kontrol dada setelah menerima umpan lambung dari sepak pojok David Beckham, melainkan kontrol dokter kandungan karena masa kandungan Neng sudah hampir memasuki 28 minggu usia kehamilan, atau sekitar 196 hari sejak dibuahi oleh saya sendiri.

“Umm…” Terdapat jeda sejenak sebelum saya bisa menjawab permintaan Neng, perjalanan selama kurang lebih satu minggu ke dua negara, –termasuk mendaki Tiger’s Nest yang mengingatkan saya pada perjuangan mengunjungi Desa Wae Rebo di Flores, praktis telah membuat tubuh saya yang sudah tidak belia dan tidak (pernah) sixpack ini kelelahan. Namun, bagi saya, pantang hukumnya untuk tidak menuruti keinginan istri yang sedang hamil. Ya, daripada terkena azab suami pelit, dan jadi pailit, lebih baik saya menurut, bukan?

“Tapi besok kayaknya aku gak bawa mobil.” Ya, saya adalah salah satu diantara jutaan pengguna kendaraan pribadi di Jakarta, yang karena berbagai alasan belum mau beralih untuk menggunakan transportasi umum. “Masih capek nih, nyetir sendiri.”.

Perlahan, sebuah film tentang kemacetan Jakarta yang saya sutradarai sendiri, berputar di benak saya. Mobil berdesak-desakan, sepeda motor menyelip ruang sempit diantara mobil-mobil pribadi dan bus dalam kota, sementara para pedagang asongan ramai menjajakan aneka barang jualannya, mulai dari surat kabar, air mineral, camilan, hingga penderitaannya sendiri. Perjalanan harian dari apartemen di Cipulir Jakarta Selatan menuju kantor di Harmoni Jakarta Pusat yang sebenarnya hanya berjarak sepuluh kilometer, rata-rata saya tempuh selama satu jam untuk perjalanan pergi, dan dua jam untuk perjalanan pulang. Dengan waktu yang sama, mungkin saya dapat menulis sebuah puisi tentang kemacetan, yang mungkin lebih bagus daripada puisi karya Fadli Zon.

GrabCar Jakarta

Ilustrasi Kemacetan Jakarta

“Yahhhh.” Neng cemberut, memanyunkan bibir, yang justru membuatnya semakin menggemaskan, seperti Bobo Ho. “Lalu besok aku bagaimana, dong?”

“Ya gak papa, tetap aku temenin.” Jawab saya, berlagak kesatria, walaupun penampilan terkadang masih seperti Sudra. “Nanti aku naik Grab ke sananya. Pokoknya aman, dekat dengan Grab.”

“Benar, ya?”

Categories: DKI Jakarta, Domestic, GMT +7, Miscellaneous, Survival Kit, Transportation

Tagged: Grab, GrabCar, Jakarta

12 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • 9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya
  • 10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Suntik Vaksin Meningitis di KKP Halim Jakarta

Archives

Blog Stats

  • 5,485,392 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...