Salah satu pedoman hidup saya sebagai seorang yang YOLO dan sempat mengidolakan Justin Bieber adalah “Never Say Never”, atau jangan pernah berkata tidak terhadap segala kemungkinan untuk mencoba berbagai pengalaman baru yang mungkin akan didapat ketika melakukan perjalanan. Saya berpendapat bahwa hidup ini hanyalah satu kali, dan waktu, adalah hal paling berharga di dunia, yang tidak akan diulang kembali kecuali kamu adalah Doraemon atau duet Marty McFly dan Doc Brown.

Mencoba makan balut di Puerto Princessa, terbang naik balon udara di Bagan, hinga mengikuti Ghost Tour di York, adalah beberapa ‘Once in A Lifetime Experience’ yang pernah saya lakukan, karena penasaran, yang mungkin tidak akan terulang lagi. Karena sudah tidak penasaran, atau karena sudah tidak ada waktu lagi.

Do you want to fly over Everest?” Sebuah pertanyaan menghampiri, pada hari pertama saya di Kathmandu. Adalah Kancha, partner bisnis saya di Nepal yang menanyakannya. “Morning flight from Kathmandu.”

Buset dah, baru hari pertama saya mendarat sambil membawa rombongan trip Whatravel, saya sudah ditawari itinerary sampingan yang menarik. “HELLAWWW, EXCUSE MEEE. What is that, once again?”

“Buddha Air flight, around one hour, flying over Himalayan mountain, to see Mount Everest.” Kancha menjelaskan sambil berbisik, seolah ini adalah sebuah misi rahasia yang harus diselesaikan saya, sebagai Ethan Hunt. “It’s like a once in a lifetime experience.” Ya benar juga sih, sudah di Nepal, tapi masa tidak melihat Everest? Sementara waktu yang kami punya hanyalah tiga malam, dan tidak mungkin juga mengikuti program trekking ke Everest Base Camp yang memakan waktu sekitar dua minggu.

everest-mountain-flight

Saya memejamkan mata sejenak, membayangkan duduk di dalam sebuah pesawat yang terbang rendah mengelilingi puncak-puncak salju sepanjang Himalaya, dan pada puncaknya yang tertinggi Colonel Sir George Everest melambaikan tangan ke saya, memanggil manja “Mz, sini mz.”

I will ask other guests first.” Saya menjawab diplomatis, tugas sebagai trip buddy atau tour leader dari Whatravel, mengharuskan saya untuk memastikan para peserta aman dahulu, sebelum dapat melakukan kegiatan lain di luar jadwal. Tentunya sembari menawarkan peserta lain, apakah berminat terbang keliling Himalaya juga. “By the way, how much is it?

“The price is $198” BANGSSS…sebagai pria yang tidak berpenghasilan tetap 30 juta per bulan, jumlah tersebut sangatlah banyak, dan cukup untuk membiayai kehidupan anak kostan selama sebulan di Jogja. Harga tersebut adalah dalam US Dollar, bukan Zimbabwe. “But for you and your group, I give you $195 –$3 commission for my company, I give it to you.” 

“Kapan lagi, man?” Sebuah suara gaib muncul dari dalam sanubari. “Mumpung lagi di Nepal, belum tentu kan balik ke sini lagi tahun depan, apalagi sudah mau punya anak, emangnya nanti dibolehin jalan-jalan sama istri? Kalaupun dibolehin, emang tahan sama omongan netizen yang akan bilang ‘Sudah punya anak kok ditinggal-tinggal terus anaknya?’ Kalau penasaran, nanti kucing-kucing di Nepal akan mati loh, kasihan kan kucing-kucing tak berdosa itu.”

ARGGGHHHH!

Print Out E-Ticket

Saya mulai memantapkan keyakinan dengan melakukan riset online mengenai Buddha Air, dan salah satu informasi yang saya dapatkan adalah tentang kecelakaan pesawat ini pada tahun 2011. Untuk rute Everest. Sama seperti rute yang ditawarkan Kancha. Holy…field. 

Saya mencoba berpikir positif, karena sejatinya, pesawat terbang adalah moda transportasi paling aman di dunia, di mana hanya ada satu kali kecelakaan setiap 1,2 juta penerbangan. Berbeda dengan kecelakaan mobil yang bisa timbul sekali dalam 5.000 perjalanan. Walaupun memang, untuk kecelakaan mobil, tidak semuanya menyebabkan kematian; diserempet tukang ojek misalnya.

Tanpa bercerita mengenai kecelakaan pesawat ini, saya mulai menawarkan pengalaman sekali seumur hidup ini kepada para peserta trip Whatravel, dan menemukan enam orang pemberani yang mau ikut serta.

e ticket Buddha Air

I already have your ticket for tomorrow’s flight.” Kancha mengabarkan kepada saya, sehari sebelum jadwal penerbangan Buddha Air yang sudah kami sepakati bersama. “You will fly 6.30 tomorrow.“.

“But we haven’t paid the tickets.” Saya, sebagai orang Jawa yang suka tidak enakan, merasa bersalah, karena belum mengumpulkan dana dari para peserta. “Is it okay?

“No problem, my company will take care of this. As long as everybody is happy.” Kancha, sebagai orang Nepal tulen, lebih tidak enak lagi apabila membiarkan tamunya tidak bahagia. “Don’t worry, namaste. I will pick you up at 5AM tomorrow.”

Orang Nepal 1 - 0 Orang Jawa

Terbang dari Terminal Domestik Tribhuvan International Airport

Sebuah mobil Mahindra berjenis SUV menjemput kami pagi itu, sekitar pukul 05.20 atau lebih terlambat beberapa menit dari jadwal penjemputan. Tidak masalah, orang Indonesia sudah terbiasa dengan orang-orang yang terlambat datang ketika janjian. Dengan  tubuh yang masih mengantuk akibat berkeliling Thamel pada malam sebelumnya, saya memasuki mobil gagah tersebut, bersama dengan Pak Akhid, Pak Zul, Ibu Jenny, Mbak Anita, Mbak Sally, dan Mbak Vinda.

Di jok paling belakang mobil, saya tertidur sejenak ketika mendengarkan ‘Om Chanting Meditation’ yang diputar sepanjang perjalananan, hingga kami tiba di Terminal Domestik Tribhuvan International Airport, lokasi di mana kami akan berangkat pagi itu.

“Don’t forget your passport!” Kancha mengingatkan kami sembari membagikan e-ticket yang sudah dicetaknya kemarin. “You will fly from here.”

“Aduh!” Dari barisan belakang terdengar sebuah pekikan. “Pasporku ketinggalan di hotel!” Sebuah pekikan dari Mbak Sally.

Terminal Domestik Kathmandu Nepal

“Aku bawanya KTP.” Ucap Mbak Sally. “Bisa gak?” Saya membuka tas, mengeluarkan fotokopi paspor semua peserta trip Whatravel dan menyerahkannya ke Mbak Sally.

“Don’t worry.” Kancha mencoba menenangkan kami, sembari melihat dokumen yang kini berada di tangan Mbak Sally, sebuah KTP dan selembar fotokopi paspornya. “I think it’s enough for domestic flight. Namaste.”

How about the payment?” Saya berbisik kepada Kancha, supaya tidak malu didengar yang lainnya.

It’s okay, you can pay later after the flight.” Jawabnya. “Your happiness is the priority now. Namaste.

Dasar orang Nepal, namaste-namaste melulu, saya sebagai orang Jawa kan makin tidak enak, masa terbang dulu baru bayar.

Tiket Fisik yang Ditulis Manual dan Penantian di Ruang Tunggu Terminal Domestik Tribhuvan International Airport

Setumpuk paspor telah siap di tangan saya, bersama dengan sebuah KTP dan fotokopi paspor milik Mbak Sally ketika saya mengantre untuk menukar cetakan e-ticket dari Kancha dengan tiket resmi yang akan digunakan pada salah satu penerbangan tersingkat dan termahal (selain penerbangan pulang-pergi dari dan ke Bhutan) yang pernah saya lakukan. Dipikir-pikir, gokil juga, bisa naik pesawat terbang di luar negeri pakai KTP.

Dengan harga tiket yang mendekati tiga juta Rupiah untuk pengalaman terbang kurang dari satu jam, wajar saya berharap banyak pada bentuk fisik tiket yang akan saya dapatkan. Karena dengan harga tersebut, harusnya saya mendapatkan tiket seukuran kertas A3 yang dipigura, bertanda tangan resmi dari pimpinan Buddha Air dengan tinta emas, yang dihiasi glitter-glitter merah muda dan ungu yang menghiasi tepian kertasnya.

Maka sungguh terkejutlah saya, ketika mendapatkan tiket seperti di bawah ini.

Tiket Fisik Buddha Air

Selembar tiket yang dicetak di atas karton glossy berada di tangan saya, pada bagian depan tiket terdapat kolom isian ‘Name’, ‘Flight No.’, ‘Seat No.’, ‘Destination’, ‘Date’, ‘Gate No’, ‘Boarding Time’ dengan membiarkan sebagian besar kolom kosong, dengan isian yang diisi secara manual dengan spidol pada ‘Flight No.’, stiker nomor tempat duduk pada ‘Seat No.’, dan stempel tanggal pada bagian ‘Date’ yang sungguh tidak merepresentasikan penerbangan seharga hampir tiga juta Rupiah.

Pada bagian belakang, terdapat detil kontak Buddha Air dengan foto pemandangan sebuah kota di waktu malam, dan seorang pria yang sedang melakukan sesuatu hal yang saya tidak tahu apakah namanya itu, yang jelas bukanlah sebuah hal yang tercela. Setelah tiket di tangan, berikutnya kami masuk ke ruang tunggu untuk menanti penerbangan once in a lifetime ini.

Surprisingly, ruang tunggu keberangkatan Terminal Domestik Tribhuvan International Airport telah cukup ramai pagi itu, di mana sebagian penumpang yang ada di sana ingin terbang mengelilingi Himalaya, sebagian lain ingin terbang ke Lukla untuk kemudian mendaki Everest Base Camp, dan sebagian sisanya adalah kru dan karyawan yang bertugas di bandara.

Penerbangan mengelilingi Himalaya, yang ditunjukkan dengan tulisan destinasi ‘Mountain’ pada layar keberangkatan dimulai paling pagi pada pukul 06.00, dengan beberapa pesawat yang terbang setiap harinya. Sambil menanti Gate 1 dibuka, saya duduk pada salah satu sudut ruangan yang baru saja selesai dipel dan meninggalkan aroma karbol di sana, sementara beberapa teman yang lainnya, lebih memilih duduk di tangah-tengah ruang tunggu yang lebih kering.

Secara sekilas, ruang tunggu ini sedikit kumuh apabila dibandingkan dengan terminal internasional pada bandara yang sama, tapi tidak masalah, walaupun ruangannya kumuh, tapi kan kami trendy.

Jemputan Minibus Tua dan Pengalaman Terbang dengan Beechcraft 1900D

Sepuluh menit lebih lama daripada jadwal boarding yang tertera pada layar monitor, kami diminta maju ke counter dengan membawa tiket fisik yang biaya pembuatannya tidak sampai satu Dollar itu. Sekitar pukul 06.30, kami dijemput sebuah minibus tua berwarna putih dengan logo Buddha Air menghiasi badan minibus tersebut. Di dalam minibus tersebut, kami duduk berhadapan seperti di angkot OK OTrip Jakarta, yang sekarang sudah berganti namanya menjadi Jak Lingko.

Dengan biaya yang mahal, saya sih berharapnya dijemput dengan Mercy Sprinter, Alphard, atau Harley Davidson seperti yang pernah saya tunggangi di Sydney beberapa waktu silam. Tapi tidak apa-apa, hitung-hitung pengalaman menaiki Kopaja dengan posisi tempat duduk mirip angkot, di Nepal.

Pesawat terbang yang akan kami gunakan, ternyata terparkir tak jauh dari Gate 1, dan sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, walaupun memang demi alasan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesempurnaan, disarankan menggunakan minibus yang sudah disediakan. Sebuah pesawat mini sudah menanti kami ketika sopir minibus meminta kami turun dengan hati-hati, dalam bahasa Nepal.

Adalah Beechcraft 1900D, yang merupakan sebuah pesawat mungil berkapasitas 19 penumpang dengan twin engine turboprop dan fixed-wing, yang diproduksi oleh Beechcraft, sebuah perusahaan aviasi yang berdiri tahun 1932 dan bermarkas di Kansas, Amerika Serikat. Akibat mengalami kebangkrutan, kepemilikan perusahaan ini sempat bergeser dari Beech Aircraft Corporation, ke Raytheon, ke Hawker Beechcraft, sebelum akhirnya diakusisi oleh Textron Aviation pada 2014. Sebuah hal yang tidak terjadi pada Adam Air.

Beechcraft 1900D sendiri, mulai diproduksi pada 1982 hingga 2002, dengan jumlah yang digunakan saat ini mencapai 695 unit di seluruh dunia, termasuk yang digunakan oleh Kepolisian Nasional Indonesia. Kalau kamu ingin tahu, harga per unit pesawat ini pada tahun 2001 adalah sekitar US$ 5.000.000 atau sangat murah apabila dibandingkan dengan uang rakyat yang dikorupsi oleh Joseph Estrada dan Slobodan Milosevic sewaktu menjabat sebagai presiden.

Dengan jarak tempuh maksimal yang hanya mencapai 600 mil atau sekitar 970 kilometer, pesawat ini cocok digunakan pada bandara-bandara yang hanya memiliki runway yang pendek, seperti yang banyak terdapat di daerah-daerah pegunungan. Saat ini Beechcraft 1900D kerap digunakan sebagai pesawat untuk kepentingan pribadi, komersil, dan juga militer. Juga untuk kepentingan selfie seperti di bawah ini.

Buddha Air - Everest Flight

Proses migrasi dari minibus ke pesawat terbang berlangsung cukup cepat, ya karena hanya ada 18 orang yang turut serta pada penerbangan ini dan tidak ada yang membawa koper, kardus, serta durian di dalam kabin, walaupun mendapat jatah bagasi gratis sebanyak 25 Kg. Tanpa perlu menunggu penuh (19 orang) seperti halnya angkot atau APV jurusan Bogor – Jakarta, pesawat kami memulai penerbangannya pada pukul 06.45. Kini, perasaan saya berkecaampur, antara semangat menikmati pemandangan, atau malah takut tertidur sepanjang penerbangan. Kapan lagi kan tidur hampir sejam, bayarnya hampir US$200?

Now, we are ready for Everest Experience, flying to the top of the world!

Jaminan Window Seat dan Sunrise di Kathmandu*

Salah satu hal menyenangkan yang dijamin oleh Buddha Air pada penerbangan ini adalah jaminan bahwa semua orang mendapatkan Window Seat! Tidak ada middle seat atau aisle seat pada pesawat mungil dengan susunan kursi 1 – 1, tanpa bangku kayu dipasang melintang di tengah untuk penumpang tambahan di sini. Semua duduk di dekat jendela, pada kursi yang tingkat kenyamanannya, biasa saja, tidak bisa berbaring seperti di Premiere XXI, dan tidak bisa memijat seperti di panti pijat XXX.

Saya sendiri, mendapat kursi nomor 8C atau di posisi sayap kanan, seperti yang pernah ditempati oleh David Beckham sewaktu masih aktif bermain sepakbola. Kursi saya terletak dua baris dari belakang, di mana enam orang pemberani lainnya, menempati kursi di samping dan depan saya, sementara dua orang bule –pria dan wanita duduk di kursi paling belakang. Dua orang bule yang pada awal penerbangan tidak saling mengenal.

Saya mulai mengenakan seatbelt ketika dua orang bule di belakang saling berkenalan dan memulai pembicaraan basa-basinya, seperti berapa lama di Nepal, tinggal di mana di kathmandu, kenapa mau terbang naik Buddha Air, hingga kenapa kok polisi lalu lintas lebih banyak terlihat di jalanan pada saat tanggal tua dan di akhir bulan.

Secara sekilas, pesawat ini cukup sempit, dan bagi kamu yang tidak suka berada di ruang sempit, mungkin akan merasa tidak nyaman di dalam pesawat. Namun bagi saya yang introvert dan mendapat tempat duduk di pojok, pesawat ini adalah rumah yang memberikan kenyamanan, walaupun tidak ada toilet dan sarana hiburan di dalamnya.

Setelah pemanasan, selama beberapa menit, pesawat kami mulai lepas landas dengan pemandangan matahari terbit di kejauhan. Matahari terbit di tengah uaca yang bagus pada pagi hari itu, menjadi awal perjalanan yang menyenangkan bagi kami semua. Sekadar informasi, apabila cuaca diperkirakan akan buruk, maka pesawat ini tidak akan berangkat, demi alasan keselamatan.

Buddha Air - Everest Flight

Begitu mengudara, Kathmandu mulai terlihat begitu kecil, menyisakan atap-atap bangunan yang rapat dan kotor, dan beberapa menit kemudian, pemandangan mulai berganti menjadi langit biru, dan pegunungan bersalju. Di belakang, obrolan terdengar semakin intens dan serius, karena sudah menyangkut curhat hal-hal yang personal.

Apakah ini berarti from shoulder to carry on to someone to ride on? Astaghfirullah semoga ini tidak benar, semoga saya cuma suudzon, seperti Fadli Zon.

Permen, Brosur, dan Jendela yang Kotor yang Menyajikan Pemandangan Himalaya

Sebelum terbang, seorang pramugari berkulit sawo matang dengan rambut yang diikat ke belakang menyampaikan sekilas mengenai petunjuk keselamatan dan tata cara yang berlaku dalam pesawat, termasuk membagikan beberapa amenities kepada para penumpang yang budiman dan budiwoman.

Beberapa di sini, adalah beberapa butir permen, dan sebuah brosur mengenai rute terbang pesawat kami hari itu, apa saja nama puncak-puncak Himalaya yang akan kami lalui, berapa ketinggiannya, semua tersaji pada brosur tersebut.

Saya sempat berharap akan disajikan makanan berat pada penerbangan kali itu, karena penerbangan mahal yang dilakukan pada pagi hari, sudah sewajarnya memberikan makanan nikmat seperti Lamb Chop atau Alaskan King Crab, atau setidaknya camilan seperti kacang dan arem-arem. Namun harapan hanya tinggal harapan, karena selama penerbangan, hanya dua butir permen yang saya dapatkan. Tahu gitu kan saya mengambil dua karung tadi.

Tak ada hiburan sama sekali pada penerbangan tersebut, tidak ada majalah, tidak ada film lucah, tidak ada musik, tidak ada Wi-Fi gratis, dan tidak ada jaminan uang kembali apabila kamu tidak menyukai penerbangan satu arah tersebut. Satu-satunya hiburan yang disediakan adalah pemandangan Himalaya yang menawan, di balik jendela pesawatnya yang kotor.

Well, bersama dengan percakapan penuh gombalan di kursi belakang saya tentunya.

Selain jendelanya yang kotor, karena mungkin sudah lama tidak mampir ke Shell untuk dibersihkan, hal yang patut disayangkan pada penerbangan ini adalah tidak adanya announcement, atau pemberitahuan mengenai posisi pesawat ini dan informasi tentang puncak-puncak gunung yang dilewati pada kiri-kanan pesawat, sehingga jadinya kami hanya menebak-nebak, oh itu gunung A, itu gunung B, itu gunung kembar, dan seterusnya.

Sungguh, Buddha Air ini harus belajar banyak dari Citilink untuk masalah memberikan informasi dengan cara yang jayus namun menyenangkan. Coba kirim beberapa orang pramugari ke Indonesia untuk belajar, maka sepulangnya dari sana, mereka akan dapat memberikan informasi kurang lebihnya seperti ini:

Buah Manggis, Buah Leci, Buah Kentang, Buah Duku,

Pagi manis, sesaat lagi, kita terbang dari Kathmandu.

Makan buah bikin batuk, apalagi kalau minum es,

Tolong jangan mengantuk, kita akan tiba di Everest.
Buddha Air - Everest Flight

Tenang saja, minimnya fasilitas dan pelayanan di dalam kabin tidak membuat keseruan terbang bersama Buddha Air ini menjadi berkurang, kok. Pemandangan spektakuler sudah kami nikmati sejak awal penerbangan, mulai memandangi Kathmandu dari ketinggian, menyaksikan sungai awan yang mengalir di antara puncak-puncak gunung, puncak-puncak gunung yang tertutup salju abadi yang mungkin tidak akan mencair dengan gombalan, dan yang paling utama, menatap Mount Everest yang merupakan titik tertinggi yang ada di bumi ini, tidak peduli kamu adalah kaum bumi bulat ataupun bumi datar.

Sejujurnya, saya pun tidak tahu yang mana yang Mount Everest, karena di atas, semua terlihat sama. Mungkin kalau I Nyoman Nuarta datang dan memahat tulisan EVEREST ataupun wajah Colonel Sir George Everest di puncaknya –sama seperti yang dilakukan Gutzon Borglum di Mount Rushmore dengan memahat empat wajah Presiden Amerika, baru saya bisa tahu kalau itu adalah Everest.

Untungnya, saat itu saya datang ke kokpit pesawat, dan ditunjukkan mana yang dimaksud dengan Mount Everest.

Pilot yang Ramah dan Pramugari yang Jutek

Ya, yang menjadi pengalaman paling seru dari penerbangan singkat ini adalah ketika tiap-tiap penumpang diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam kokpit pesawat, dan bercengkerama dengan pilot juga co-pilot yang bertugas pada penerbangan kali itu, walaupun tidak diberikan kesempatan untuk duduk dan memegang kemudi pesawat.

Setelah menanti beberapa lama, akhirnya tiba giliran saya untuk mendekat ke depan dan memasuki ruang pilot pesawat. Ini adalah pengalaman pertama saya, setelah lebih dari tiga puluh tahun lamanya saya hanya bisa lebih dekat dengan pesawat televisi. Pramugari sawo matang memberikan isyarat tangan kepada saya untuk melongok ke dalam kokpit, dan di dalamnya saya mendapati pemandangan yang luar biasa.

Look at your left side man.” Ucap co-pilot berkepala plontos kepada saya, tangannya menunjuk ke arah sebuah puncak gunung di sebelah kiri, tepat di hadapan sang pilot, sementara pantulan cahaya matahari menerpa perlahan melalui kacamata Oakley miliknya. “That’s Everest. Pretty, huh?

Sang pilot –seorang beretnis India bertubuh gempal masih asyik mengendarai pesawat supaya baik jalannya, mungkin tidak mendengar percakapan kami, karena telinganya tertutup headphones over-ear Bose, yang entah apa yang didengarkannya. Mungkin percakapan di bandara, atau lagu Macarena. Tangan kanan sang pilot berada di tuas transmisi pesawat, dengan sarung tangan Callaway yang masih mengilap. Dengan penampilan seperti itu, sang pilot lebih terlihat sebagai anak golf yang sedang mendengarkan lagu hip-hop atau sebaliknya, anak hip-hop yang sedang belajar bermain golf, daripada seorang pilot.

“You are lucky, the sky is very clear today.” Saya memperhatikan pemandangan yang tersaji dari dalam kokpit, tanpa sempat bertanya mengapa ruangan ini dinamakan ‘cockpit’, sementara ‘cock’ berarti zakar dan ‘pit’ berarti lubang. “So we will pass those snow-capped mountains, and go back to Kathmandu.”

Yes, indeed we are lucky, because the sky is very clear. Clear Top Ten.

Pada penerbangan tersebut, setiap penumpang mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kokpit secara bergantian, dengan durasi kunjungan selama kurang lebih dua menit, tanpa perpanjangan waktu. Sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan pada penerbangan Jakarta – Singapura dengan menggunakan Lion Air. Selain itu, penumpang juga diperbolehkan mengambil foto sebanyak-banyaknya pada ruang kendali tersebut. Pengalaman memandang Mount Everest yang terasa begitu dekat walupun masih berada sekitar 20 mil, dari dalam kokpit pesawat, mungkin merupakan pengalaman yang tidak akan saya lupakan, sampai saya lupa.

“Um, sorry.” Saya menyerahkan kamera kepada pramugari sawo matang yang sedari tadi mengamati gerak-gerik saya di dalam kokpit. “Could you take the photo of me with these two guys?” Ya, mumpung di sini, bayar mahal-mahal, masa gak ada foto dalam kokpit.

Si pramugari memandang saya dengan tatapan memicing “Sorry, sir.” Ucapnya “We have other passengers waiting for their chance to get into the cockpit.” 

Sebuah jawaban yang tidak saya sangka, keluar dari mulutnya. “You will have your chance later, after all the passengers get the chance to go inside the cockpit.” Berikutnya, saya diminta segera kembali ke tempat duduk.

Saya hampir berkata-kata kasar kepadanya, namun saya teringat ucapan Mama, kalau di daerah yang asing jangan berbuat yang macam-macam. Karena di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Walaupun saat itu saya sedang tidak menginjak bumi.

Janji, hanya tinggal janji, karena hingga pesawat mendarat kurang lebih setengah jam kemudian, saya tidak juga dipanggil kembali ke kokpit untuk berfoto bersama si pramugari, eh, bersama si pilot dan co-pilot maksudnya. Dasar wanita, dan mulut manisnya. Entah untuk keberapa kali saya terperdaya olehnya.

Setelah kurang lebih satu jam penerbangan sejak take-off, kami mendarat mulus kembali di Terminal Domestik Tribhuvan International Airport. Sebuah penerbangan yang tidak akan terlupakan sampai kapan pun, karena mahal. Sebelum turun dari pesawat, si pramugari, sempat memberikan sebuah kenang-kenangan kepada kami, berupa…

Sertifikat Terbang bersama Buddha Air

Ya, masing-masing dari kami diberikan selembar sertifikat kosong sebagai bentuk apresiasi dan pengingat karena telah terbang bersama Buddha Air. Pada sertifikat yang terbuat dari karton glossy berukuran A4 tersebut tertulis bahwa Mr/Ms. <tulis nama kamu sendiri di sini> telah mendapatkan pengalaman sekali seumur hidup terbang bersama Buddha Air untuk mengunjungi Mount Everest,dan ditandatangani secara digital oleh 3B (bukan Brain, Beauty, and Behaviour, melainkan Birendra Bahadur Basnet) selaku Managing Director Buddha Air.

Penerbangan yang mungkin hanya akan dilakukan sekali seumur hidup, tentu saja karena mahal dan cuma sebentar. Pada bagian atas sertifikat terdapat sebuah quote asyik yang berbunyi.

“I did not climb Mt. Everest… but touched it with my heart!”

Sebuah quote yang membuat saya merasa seperti Ari Lasso yang menyentuh dia tepat di hatinya. Aw!

Malang terjadi beberapa minggu setelahnya, ketika sertifikat seharga hampir tiga juta rupiah tersebut tidak sengaja digunakan sebagai tatakan untuk piring dan gelas yang telah selesai dicuci oleh Mama.

“Walah, aku ora ngerti, tak pikir kertas ora kanggo!” Saya menjerit dan menangis dalam hati.

Apakah Penerbangan ini Worth It?

Ada beberapa hal yang mungkin dapat kamu lakukan sekali seumur hidup, dan apabila impianmu adalah melihat dunia dari balik kokpit pesawat, maka ini adalah penerbangan yang cocok untukmu. Namun apabila kamu merasa hidupmu sia-sia dan tak berguna, maka jangan sekali-kali mengikuti penerbangan ini, dan meminta pilot untuk membuka pintu pesawat.

Tidak peduli kamu duduk di sisi mana pada pesawat, karena setiap penumpang akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk melihat Himalaya pada penerbangan ini, karena pesawat akan terbang secara memutar, sehingga semua penumpang akan melihat sisi pegunungan secara bergantian, walaupun memang posisi duduk yang agak di belakang, mungkin akan memberikan daya pandang lebih luas, karena tidak terganggu dengan sayap pesawat.

Untuk seorang aviation geek, yang mungkin bukanlah saya, pengalaman terbang dengan pesawat Beechcraft 1900D ini mungkin akan jadi pengalaman langka yang tak terlupakan, apalagi apabila kamu bisa masuk ke dalam kokpitnya, melihat langsung pilot bekerja, dan bercengkerama langsung dengan para petugas yang bekerja hari itu.

Kathmandu Domestic Airport

Bagi saya, penerbangan ini tidak terlalu terasa spesial sebelum membayar, dan menjadi sangat spesial setelah membayar. Karena mahal. Namun, apalah arti harta yang nantinya bisa dicari lagi? Karena bagaimanapun juga, pengalaman adalah hal paling berharga di dunia ini setelah keluarga. Keluarga Cemara.

Jujur saja, pengalaman menatap Himalaya sudah saya dapatkan pada penerbangan sebelumnya, yaitu ketika terbang dari Paro, Bhutan, menuju Kathmandu, Nepal, dengan kondisi kaca jendela yang lebih bersih, dan dapat disaksikan sambil menikmati sajian santap siang roti keju yang nikmat dari Bhutan Airlines.

Flight Paro - Kathmandu

Lantas, apakah menurut kamu penerbangan singkat keliling Himalaya dan melihat Everest dengan Buddha Air seharga hampir US$200 ini worth it?

Silakan dinilai sendiri, karena bagaimanapun juga, waktu dan pengalaman adalah hal yang tak akan dapat terulang lagi. Dan ingatlah, kalau YOLO, You Only Lived Once, hidup ini hanya sekali, kecuali kamu diberikan kesempatan untuk reinkarnasi, dan terlahir kembali, entah sebagai apa. Bubuk mesiu mungkin.

Namaste.

Advertisements