backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Mansudae Hill Pyongyang

10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara

arievrahman

Posted on October 30, 2019

Beragam komentar datang ketika orang-orang mengetahui bahwa saya baru saja kembali dari mengunjungi Korea Utara, dengan selamat –dengan ginjal yang masih utuh dan semua organ tubuh berfungsi dengan baik tentunya. Mulai dari yang menyanjung keberanian saya traveling ke Korea Utara, bertanya-tanya apa alasan saya mengunjungi negara tersebut –dari ratusan negara yang ada di dunia, hingga yang mengatakan saya sebagai antek komunis!

“Ngapain sih kamu ke Korea Utara?” Tanyanya. “Mau cari mati?” Imbuhnya lagi. Ya tentu tidak dong, kalau cari mati, mending saya ke Suriah sekalian, berpahala. Alasan terbesar saya mengunjungi Korea Utara (sambil membawa tamu agung dari Whatravel indonesia) adalah karena saya penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang negara mungil namun adidaya ini. Negara yang hampir selalu menjadi headline berita internasional, setiap kali ada peristiwa yang terjadi, ataupun melibatkan pihak-pihak Korea Utara.

Seperti misalnya, peristiwa di bawah ini.

Kim Jong Un The Pyongyang Times

“Our leaders like to do nuclear test.” Pemandu wisata kami berujar ketika saya melihat halaman utama The Pyongyang Times kala itu. Berdasarkan intonasi suara dan mimik wajah yang memperkuat ceritanya, saya menangkap kesan bahwa ini adalah hal biasa di sana, dan wajar apabila Yang Mulia Paduka Kim Jong Un gemar melakukannya, seakan-akan lokasi uji coba roket nuklir adalah Disneyland untuknya. “We do not use it for the war, just for precaution.“

PRECAUTION. BHAIQQQ YANG MULIAAAA! Saya mencoba tetap berpikir positif, walaupun dosa-dosa saya tetap negatif. Kadang kala, kita takut dengan apa yang tidak kita ketahui. Namun, semua penjelasan yang saya dapatkan di sana berhasil membuat segalanya terasa wajar dan make sense.

Datang ke Korea Utara, sebaiknya dilakukan dengan menggunakan prinsip gelas kosong yang belum terisi. Janganlah kamu datang dengan membawa propaganda yang pernah kamu dengar sebelumnya atau asumsi yang kamu pikirkan sendiri, karena kamu tidak akan mendapatkan apa-apa di sana selain kejulidan dan prasangka buruk.

Korea Utara, memiliki kisahnya sendiri, kisah yang mungkin berbeda dengan apa yang pernah kamu dengar di media manapun. Berikut ini adalah 10 (sepuluh) hal yang mungkin kamu ketahui tentang Korea Utara, yang mungkin saja benar, atau bisa saja malah benar sekali.

[DISCLAIMER: Hal-hal yang saya sampaikan di bawah ini bersumber dari informasi dan pengamatan terbatas yang saya dapatkan langsung di sana. Pendapat yang diungkapkan bersifat personal, tidak mewakili Yang Mulia Paduka Kim Jong Un, dan tidak bertujuan untuk mendukung/menyerang pihak tertentu.]

1. Korea Utara adalah Negara Komunis yang Tidak Mengenal Tuhan

Apa itu komunis? Kalau menurutmu komunis adalah paham negara di mana kekuasaan dikuasai oleh satu pihak (partai politik), dengan pemerataan kesejahteraan ke seluruh rakyat, maka Korea Utara dapat dikatakan sebagai negara tersebut. Namun apabila menurutmu komunis adalah sebutan untuk perbuatan keji yang tidak berlandaskan kemanusiaan, maka itu bukanlah Korea Utara, sekarang.

Pada periode tahun 20-an, ketika Semenanjung Korea berada di bawah kekuasaan Jepang, paham komunis, atau juga dikenal sebagai Marxist-Leninist state, masuk dari Rusia dan merambah ke bagian utara semenanjung, dan merasuki semangat perjuangan warga Korea ke pintu gerbang kemerdekaan. Namun, ternyata paham komunisme dan sosialis yang masuk saat itu belum cukup kuat untuk menggerakkan perjuangan kemerdakaan, dan alih-alih menyatukan, paham yang masuk saat itu malah membuat mereka tercerai berai dengan banyaknya kelompok yang berebut kekuasaan, dengan propaganda dan omong kosong semata. Familiar dengan hal ini?

Categories: Foreign, North Korea

Tagged: Kim Jong Un, North Korea, Pyongyang

34 Comments

+Read more

Datang Senang Pulang Kenyang

Datang Senang Pulang Kenyang: Sebuah Proyek Video Kuliner

arievrahman

Posted on September 29, 2019

Saat ini, saya mungkin adalah salah satu kreator konten di YouTube yang memiliki subscribers sedikit, namun mendapatkan badge verifikasi dari YouTube. Bukan, hal ini bukan karena saya keren, memiliki konten islami, atau ada main belakang dengan orang di YouTube; melainkan karena saya pernah memiliki sebuah proyek bersama dengan Google, tepatnya pada platform Google+ di tahun 2014 silam. Sebuah proyek yang membuat semua kanal saya yang berkaitan dengan Google, termasuk YouTube, menjadi terverifikasi.

Pada tahun 2014, saya mendapatkan mandat dari Google untuk mengunjungi destinasi pilihan di Indonesia, dengan diberikan budget tertentu, –beberapa juta Rupiah tepatnya. Nantinya hasil dari aktivitas tersebut, harus diunggah ke akun media sosial yang saya miliki, terutama Google+. Iya, platform yang baru saja tutup usia tahun ini karena tidak berkembang, setelah sekitar delapan tahun menemani kita semua di dunia media sosial ini.

Saat itu, saya yang merupakan seorang karyawan dengan jatah cuti terbatas terpaksa memutar otak, memikirkan bagaimana cara supaya tetap bisa jalan-jalan kece di Indonesia dengan keterbatasan cuti tersebut. Apabila para influencer lain memutuskan mengunjungi destinasi seksi di Indonesia selama berhari-hari, namun tidak dengan saya yang hanya bisa pergi di akhir pekan. Hingga akhirnya, tercetuslah sebuah ide, “Bagaimana kalau saya mengunjungi ujung-ujung Indonesia, yaitu Sabang dan Merauke, dalam tempo dua minggu, atau dua kali akhir pekan?”

Mengapa Bisa Mendapatkan Lencana Terverifikasi dari YouTube?

Sebuah ide yang mendapat persetujuan dari Google Indonesia, yang kemudian memberangkatkan saya ke ujung barat dan timur Indonesia dengan sebuah misi berupa Pencarian Tugu Kembaran Sabang-Merauke, sebuah misi yang ternyata gagal saya lakukan (gagal mencari tugunya, bukan gagal berangkat), sebuah misi yang membuat akun YouTube saya menjadi terverifikasi hingga saat artikel ini ditulis, dan berharap YouTube tidak khilaf dan mencabut badge tersebut.

Backpackstory Merauke

Waktu berlalu, tahun dan presiden juga turut berganti; saya yang pada awalnya meremehkan YouTube sebagai sebuah media sosial menjadi menyesal karena tidak menekuninya sedari dulu, padahal sudah ada modal yang sangat penting yaitu Verified Badge. Sungguh, apabila saya sudah bermain video sejak 2014, mungkin saat ini saya sudah bersanding dengan Atta Halilintar ataupun Ria Ricis. Namun mungkin memang ini adalah jalan Allah supaya saya tidak menjadi riya dan takabur apabila bergelimang harta.

Categories: Culinary, Domestic

Tagged: Datang Senang Pulang Kenyang, kuliner, YouTube

18 Comments

+Read more

Baluran

Ada Apa dengan Milenial dan Tren Turisme Saat Ini?

arievrahman

Posted on August 16, 2019

Saya masih ingat ketika pertama kali traveling ke Belitung sembilan tahun silam, di mana tahun itu, adalah tahun di mana teknologi belumlah semaju saat ini. Saya yang pergi bersama lima orang kawan lainnya mendatangi kantor Sriwijaya Air yang terletak di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat, untuk membeli tiket dengan harga promosi yang informasi mengenai promonya kami dapatkan dari mulut ke mulut. Bukan, mulut ke mulut ini bukan berarti sedang berciuman, melainkan informasi yang disebarkan melalui perantara orang ke orang. Kami juga belum tahu ada apa saja di Belitung, namun hasrat ke Belitung saat itu sangatlah menggebu-gebu. Karena apa? Karena buku fiksi karangan Andrea Hirata!

Pada tahun yang sama, saya juga traveling ke luar negeri untuk pertama kalinya, tepatnya ke Singapura, di mana akhir dari perjalanan tersebut merupakan awal mula saya menjadi seorang pencandu jalan-jalan. Apa yang membuat saya pergi ke Singapura? Tentunya bukan karena Instagram ataupun membaca blog orang. Melainkan karena mengetahui adanya seorang teman dekat yang tiba-tiba merencanakan untuk pergi ke sana, yang membuat naluri orang Indonesia saya terusik untuk bertanya “KAMU PERGI KOK GAK NGAJAK-NGAJAK AKU?” Lalu, boom! Saya langsung pergi ke Lion Air Tower untuk membeli tiket penerbangannya. Sebelum pergi, saya menyempatkan untuk membeli sebuah buku fenomenal yang berjudul “500 RIBU KELILING SINGAPURA” sebagai bahan belajar dan petunjuk selama di Singapura kelak.

Tapi itu dulu, sebelum teknologi berkembang pesat seperti sekarang. Zaman sekarang, traveling sangatlah mudah, hanya melalui genggaman, semua dapat dilakukan. Mulai dari memesan tiket penerbangan, mencari informasi perjalanan, hingga mengunggah foto-foto liburan untuk dapat dinikmati dan menjadi inspirasi bagi para pejalan lainnya. Dapat dibilang, saat ini kita sedang memasuki era Millennial Tourism.

Trip Flores

Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan Millennial Tourism itu? Kementerian Pariwisata Indonesia (Kemenpar) menyebutkan bahwa Millennial Tourism adalah pariwisata untuk generasi milenial yang menuntut penggunaan digital (digital experience) dalam segala aspek mulai dari inspirasi (mendapat ide berlibur), melakukan riset dan perencanaan liburan, mem-booking pesawat dan hotel, ketika berada di airport, sampai tiba di destinasi dan menikmatinya (untuk kemudian selfie). Sejalan dengan program strategis Kemenpar, Millennial Tourism diharapkan dapat menjadi pendorong atas meningkatnya target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun ini sebanyak 20 juta wisatawan asing, di mana diproyeksikan bahwa 50% di antaranya adalah milenial.

Semoga sih, bukan milenial yang menjadi begpacker ya!

Categories: Domestic, Survival Kit

Tagged: Kemenpar, milenial, Millennial, Tourism

26 Comments

+Read more

Kayang in Nepal

Mendarat di Kathmandu dan Masuk dengan Visa On Arrival Nepal

arievrahman

Posted on July 30, 2019

Selain Rusia, negara lain yang sedang naik daun pada beberapa tahun terakhir bagi para traveler Indonesia, adalah Nepal. Sebuah negara mungil, apabila dibandingkan dengan dua negara yang mengapitnya secara sandwich –atas bawah, yaitu China dan India. Fenomena Nepal ini, mungkin didasarkan dengan banyaknya tiket murah untuk menuju ke sana, biaya hidup yang sangat murah apabila dibandingkan dengan Los Angeles, juga mungkin karena bertumbuhnya tren bahwa pendaki gunung adalah manusia paling keren di muka bumi ini (sementara Nepal terkenal dengan gunung tertinggi di dunia) –seperti misalnya Fiersa Besari.

Hoek. Saya mah tahun lalu ke Nepal karena sekalian transit menuju Bhutan, salah satu negara termahal di dunia bagi turis dengan minimum daily spending sebesar US$200 untuk low season dan US$250 untuk high season. Asyik kan? Gratis pula, karena sedang kerja membawa rombongan Whatravel.

Kira-kira, seperti inilah suasana Tribhuvan International Airport, satu-satunya bandara internasional di Nepal, yang berlokasi di Kathmandu, ibukota Nepal yang belum ada rencana untuk dipindahkan, walaupun pada tahun yang sama (2018) sudah terjadi pemilihan umum, yang menetapkan juara bertahan Ibu Bidhya Devi Bhandari sebagai presiden kembali. Langit cerah, bendera segitiga kembar berwarna merah yang melambai tertiup angin seakan menyambut kami di Nepal, dengan dihiasi senyum-senyum manis dan tawa bahagia para rombongan Whatravel.

Welcome to Nepal

Wajah bahagia sedikit berubah menjadi masam ketika memasuki bandara, langit biru cerah yang lega berubah menjadi ruangan berdinding bata dengan penataan interior a la zaman dahulu yang remang dan sedikit pengap, belum lagi ditambah ramainya mantan penumpang pesawat yang berbondong-bondong masuk untuk lanjut ke bagian imigrasi.

Sayangnya, sejauh mata memandang, tidak ditemukan adanya Fiersa Besari di sana.

Tribhuvan International Airport
Tribhuvan International Airport

Untungnya, bagi Warga Negara Indonesia, tidak diperlukan pengurusan visa sebelum keberangkatan, melainkan bisa menggunakan fasilitas Visa On Arrival (VOA) yang tersedia di bandara kedatangan ini. Namun, sebelum mendapatkan VOA, kamu diharuskan untuk…

Categories: Foreign, Nepal, Survival Kit, Visa, Visa Nepal

Tagged: Kathmandu, Nepal, Visa, Visa Nepal

17 Comments

+Read more

Samarkand

Mamacation: Pengalaman Puasa Ketika Musim Panas di Uzbekistan

arievrahman

Posted on June 8, 2019

“Hi!” Seorang pria bertubuh tambun menyapa kami, tepat di depan loket penjualan tiket masuk ke Registan, sebuah alun-alun kuno yang menjadi jantung kota Samarkand, dulu. Apabila ini adalah acara outing kantor, saya pasti akan menjawab seruan pria tersebut dengan ‘halo’ yang mungkin akan dijawabnya kembali dengan ‘halo-halo-hai’. Namun di sini, kasusnya berbeda. Ini baru hari kedua kami di Uzbekistan, dan sepertinya masih terlalu dini untuk dapat percaya dengan orang lokal –ditambah pengalaman patah hati saya yang sudah berkali-kali membuat saya tidak mudah percaya dengan orang asing.

Sebuah topi putih dikenakan pria tersebut, menemani kacamata hitam yang menyembunyikan biji matanya. Sekilas, penampilan sang pria terlihat seperti seorang caddy di lapangan golf dengan polo-shirt yang dikenakannya. Namun, ini pria buncit, bukan seorang wanita bertubuh aduhai.

“Where are you from?” Lanjutnya, sambil melebarkan senyuman. Uzbekistan adalah negara dengan hampir 80% penduduknya beragama Islam, dan baginya, mungkin, melihat tiga orang asing yang memiliki komposisi di mana seorang pria berkulit sawo matang menemani dua orang wanita yang mengenakan hijab berwarna merah muda, adalah sebuah oase tersendiri.

Saya tak mengacuhkan ucapannya, dan tetap bergerak maju ke arah loket penjualan tiket. Di belakang, –mungkin karena kurang koordinasi dan tidak sempatnya saya melakukan kontak fisik juga batin, Mama menjawab pertanyaan pria tersebut, dengan jawaban “Indonesia.“.

Sial. Mana Mama tidak terlalu paham bahasa Inggris pula, berarti kan saya atau Neng, yang harus meladeni obrolan selanjutnya. Obrolan yang tidak akan bisa dijawab hanya dengan ‘hai-hai-halo’.

Samarkand Uzbekistan

Hari itu adalah bulan Ramadan, sekitar seminggu sebelum Idulfitri berlangsung. Karena adanya hari libur yang cukup lama, saya memutuskan untuk mengajak Mama dan Neng berlibur secara impulsif ke Uzbekistan. Ada tiga alasan utama, yang pertama karena Uzbekistan bebas visa bagi pemegang paspor hijau Indonesia, yang kedua karena harga tiket yang masih masuk akal saat itu –kurang dari sepuluh juta Rupiah untuk perjalanan pulang pergi, dan yang paling utama adalah destinasi ini masih anti-mainstream untuk dijadikan tempat berlibur orang Indonesia, sehingga dapat menambah kebanggan tersendiri sebagai seorang traveler.

“Indonesia? I know the ambassador of Indonesia for Uzbekistan.” Tanggapnya. Sial, ternyata nama Indonesia tidak asing di sini, atau setidaknya di telinganya. Saya menyelesaikan pembelian tiket masuk, dengan membayar biaya sebesar 30.000 Som (1 Som kurang lebih senilai dengan 1.700 Rupiah) atau sekitar 50.000 Rupiah per orangnya, sebelum kembali ke rombongan. “Do you need tour guide, here?“

Pada siang terik di awal musim panas, di mana suhu dapat mencapai 40ºC, kami sudah berencana untuk mengitari Registan dengan kecepatan lambat, supaya niat puasa yang sudah diucapkan sedari sahur pada pukul tiga pagi tadi tidak menjadi sia-sia. Ya, kamu tidak salah membaca, di Uzbekistan saat itu, puasa berlangsung sekitar tujuh belas jam, yaitu dimulai pukul tiga pagi, dan ditutup pukul delapan malam.

AAAAAKKKKKKKK!

Categories: Foreign, Mamacation, Uzbekistan

Tagged: Mamacation, puasa, Ramadan, Samarkand, Uzbekistan

27 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • 10 Hal yang Mungkin Kamu Ketahui tentang Korea Utara
  • 9 Cara Menikmati Bandung dan Sekitarnya
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)

Archives

Blog Stats

  • 5,485,386 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...