Saya masih ingat ketika pertama kali traveling ke Belitung sembilan tahun silam, di mana tahun itu, adalah tahun di mana teknologi belumlah semaju saat ini. Saya yang pergi bersama lima orang kawan lainnya mendatangi kantor Sriwijaya Air yang terletak di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat, untuk membeli tiket dengan harga promosi yang informasi mengenai promonya kami dapatkan dari mulut ke mulut. Bukan, mulut ke mulut ini bukan berarti sedang berciuman, melainkan informasi yang disebarkan melalui perantara orang ke orang. Kami juga belum tahu ada apa saja di Belitung, namun hasrat ke Belitung saat itu sangatlah menggebu-gebu. Karena apa? Karena buku fiksi karangan Andrea Hirata! Pada tahun yang sama, saya juga traveling ke luar negeri untuk pertama kalinya, tepatnya ke Singapura, di mana akhir dari perjalanan tersebut merupakan…