“Hi!” Seorang pria bertubuh tambun menyapa kami, tepat di depan loket penjualan tiket masuk ke Registan, sebuah alun-alun kuno yang menjadi jantung kota Samarkand, dulu. Apabila ini adalah acara outing kantor, saya pasti akan menjawab seruan pria tersebut dengan ‘halo’ yang mungkin akan dijawabnya kembali dengan ‘halo-halo-hai’. Namun di sini, kasusnya berbeda. Ini baru hari kedua kami di Uzbekistan, dan sepertinya masih terlalu dini untuk dapat percaya dengan orang lokal –ditambah pengalaman patah hati saya yang sudah berkali-kali membuat saya tidak mudah percaya dengan orang asing. Sebuah topi putih dikenakan pria tersebut, menemani kacamata hitam yang menyembunyikan biji matanya. Sekilas, penampilan sang pria terlihat seperti seorang caddy di lapangan golf dengan polo-shirt yang dikenakannya. Namun, ini pria buncit, bukan seorang wanita bertubuh aduhai. “Where are you from?”…