Apakah kamu berencana membuat travel blog? Berminat mengais rezeki dengan menjadi travel blogger bibit unggul? Atau malah kagum dengan salah satu travel blogger yang mana adalah bukan saya? Apabila jawabanmu adalah iya, maka selamat, kamu sudah berada pada jalur yang benar, pada salah satu artikel terpenting blog ini yang InsyaAllah akan memberikan pencerahan untukmu.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kamu punya mimpi?

Kalau punya dan kamu ingin cepat kaya, kebetulan saya sedang merintis bisnis MLM Young Living bernama Young & Glad. Namun kalau mimpimu menjadi seorang travel blogger yang (ingin kaya namun) tidak kaya-kaya seperti foto di bawah (foto di bawah ini adalah foto sebelum kaya (dan belum kaya-kaya sampai sekarang) –red), mungkin kamu harus membaca artikel ini dari awal sampai habis, jika mampu.

Siem Reap

Sejarah kehidupan travel blogging saya, sebenarnya bermula secara tidak sengaja, ketika saya menemukan bahwa ternyata saya menikmati proses menulis dan mampu menjadikan proses ini sebagai sebuah ‘pelarian’ dari rutinitas pekerjaan kantor. Diawali dari membuat akun Twitter di 2009 dan bergabung dengan komunitas menulis pendek bernama Fiksimini, saya belajar bagaimana sebuah tulisan pendek (hanya 140 karakter saat itu) dapat memberikan cerita yang fantastis. Kurang lebih seperti ini fiksimini yang pernah saya buat:

SEJAK BERCERAI. Aku dan Ibu mendapat rumah, sedangkan Bapak yang memegang kuncinya.

MILESTONE. Seribu tahun sejak Vitamin A ditemukan, cinta masih saja buta.

KELUARGA KAMI TERHARU. Setelah sekian lama menuntut ilmu, Ayah akhirnya memperoleh gelar. Almarhum.

Sebuah cara bercerita sederhana yang sebenarnya hanya terdiri dari tiga bagian, judul, set-up, dan punchline —seperti Six Word Stories kalau di luar negeri. Dari fiksimini yang singkat, saya mengembangkan tantangan menulis ini menjadi puisi dan cerita pendek di Tumblr sembari menulis beberapa cerita pendek fiksi penuh kegalauan yang juga untuk diterbitkan di buku berkelas internasional menurut penduduk Nigeria.

Ketika mulai ketagihan jalan-jalan di tahun 2011, sebuah tantangan baru muncul di benak saya –yang ternyata menyukai proses menulis ini (dan mungkin bisa stres sendiri kalau sudah beberapa minggu tidak menulis), “Bagaimana kalau saya gabungkan hobi jalan-jalan ini dengan kecintaan saya terhadap dunia tulis-menulis?”

Baca Juga: Awal Mula Backpackstory

BOOM! Inilah kisah saya. Bismillahirrohmanirrohim. Sebuah thread.

Mulailah dengan Niat

Ada sebuah pertanyaan yang beberapa kali ditanyakan ke saya, yaitu, “Kak, aku ingin jadi travel blogger, supaya bisa jalan-jalan kayak kakak (atau supaya bisa dapat duit), bagaimana caranya ya?”

Sebuah pertanyaan yang biasanya saya jawab dengan senyuman, sambil membatin dalam hati ‘Kamu gak akan bisa jadi travel blogger, kalau niat awalmu supaya bisa jalan-jalan gratis, atau supaya bisa cepat kaya seperti Casey Neistat.’.

Ariev Rahman Backpackstory

Saya memulai menulis travel blog ini karena kesukaan saya dengan dunia perjalanan dan kecintaan saya terhadap dunia tulis-menulis, sambil meniatkan diri untuk berbagi, supaya dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.

“Mulailah menulis, karena kamu suka menulis, bukan karena ingin jalan-jalan gratis. Niatkan tulisan kamu untuk berbagi mengenai pengalaman jalan-jalan dan memberikan informasi kepada mereka yang membutuhkan.” Adalah jawaban yang biasa saya berikan kepada mereka yang bertanya “Apabila nanti ada penghasilan masuk, berarti itu adalah bonus niat baik yang kamu jalankan.”

Masha Allah ya Akhi.

Memilih Nama Blog

“Gue sih sudah ada niat untuk menulis travel blog, namun saya kebingungan menentukan nama blognya.” Kata penanya yang lain. “Abang ada saran?”

Memilih nama, memang sesuatu yang cukup tricky, karena akan digunakan selamanya (kalau bisa). Terlebih untuk seorang Aquarius seperti saya, yang tidak bisa mengerjakan sesuatu apabila ada bagian yang terlewat di awal. Pokoknya harus urut, nama dulu, konten kemudian.

Nama Backpackstory, etimologinya sederhana, karena cuma berasal dari kata ‘backpack’ dan ‘story’. Kata ‘backpack’ dipilih karena saya kerap bepergian dengan menggunakan tas punggung (bukan koper atau karung), dan ‘story’ karena saya suka bercerita dalam tulisan dan ingin mengembangkan tulisan berjenis narasi.

Backpackstory

Ada dua metode yang dapat kamu pilih dalam menentukan nama blog, yang pertama, kamu dapat menggunakan nama kamu (inisial, atau bahkan nama panggilanmu) sebagai nama blog, atau dapat menggunakan paduan kata-kata tertentu seperti yang saya gunakan pada Backpackstory.

Saya tidak memilih menggunakan nama sendiri (M Arif Rahman) karena nama saya sangat pasaran dan takut salah kira sebagai Arif Rahman Hakim pahlawan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat, bukan Restoran Sunda –red), Arief Muhammad Poconggg (ingat, g-nya ada 3), Arif Rahman yang merupakan seorang aktor dan mempunyai halaman Wikipedia sendiri namun saya tidak tahu siapa dia, ataupun Arief Rachman yang seorang praktisi pendidikan.

Metode kedua dapat juga kamu gunakan, apabila kamu mempunyai ciri khas yang unik apabila dibandingkan dengan travel blogger lain. Misalnya kamu dapat menggunakan nama ‘Rich Traveler’ apabila kamu cuma hidup dengan berjalan-jalan menghabiskan uang tanpa perlu bekerja lembur bagai kuda, ‘Backpacker Tampan’ apabila kamu seorang backpacker yang merasa mempunyai wajah tampan menurut ibumu, hingga ‘Turis Berkancut’ apabila kamu adalah seorang turis yang suka jalan-jalan hanya dengan mengenakan celana dalam saja.

Be yourself; everyone else is already taken.” —Oscar Wilde

Travel Blogger yang sukses menggunakan nama sendiri atau panggilan di antaranya adalah Marischka Prudence, Farchan Noor Rachman, dan Wira Nurmansyah. Sementara travel blogger lain yang tersohor dengan nama blog yang menggunakan paduan kata tertentu antara lain adalah Trinity Traveler, Bowie Holiday, dan juga Fahmi Catperku.

Well, apapun nama yang kamu pilih, sebaiknya dapat merepresentasikan diri kamu ataupun ciri khas blog kamu dengan baik. Belum punya ciri khas blog? Mari kita beranjak ke bagian selanjutnya.

Menentukan Karakteristik dan Branding

Sejak awal, saya memang berkomitmen untuk menuliskan artikel berupa cerita perjalanan (yang mungkin lebih panjang daripada blog perjalanan pada umumnya), juga dengan menggunakan kata ganti orang ‘saya’ dan ‘kamu’. Tujuannya, adalah untuk membuat pembaca lebih dekat, sekaligus membawa mereka masuk ke dalam cerita, Insha Allah, kalau mereka mau.

Sebenarnya, hanya ada tiga karakteristik utama yang saya tanamkan pada tulisan-tulisan blog ini yang juga menjadi unique selling points blog ini, yaitu:

  1. Tulisan berjenis narasi (sebisa mungkin)
  2. Sepanjang lebih dari 1000 kata (supaya terkesan serius)
  3. Mengandung unsur komedi (at least, I try)

Kamu dapat juga menentukan karakteristik utama dari blog kamu, sesuai dengan gayamu sendiri. Namun kalau ingin outstanding, dan kamu merasa tidak bisa lebih bagus dari yang lain, maka kamu harus lebih ‘gila’. Gila di sini bukan berarti harus melakukan hal-hal di luar kebiasaan yang diterima akal sehat, namun mungkin bisa diimplementasikan kepada frekuensi menulis kamu, cara travelingmu yang unik, ataupun gaya tulisanmu yang seperti Vice Indonesia.

Salah satu contoh travel blogger ‘berbeda’ yang sangat inspiratif, adalah almarhum Cumi Lebay yang membuat dunia travel blogging di Indonesia semakin hangat dan berwarna. Rest in Peace, Mas Toro.

Backpackstory

Apabila kamu mengikuti perjalanan saya dari awal, maka kamu akan tahu bahwa saya pernah menggunakan tagline ‘Fun Side of Traveling’ pada awal sepak terjang saya di dunia travel blogging, sebelum akhirnya menemukan fakta bahwa tidak selamanya traveling itu memiliki ‘fun side’.

Tagline itu kemudian berubah menjadi ‘A Serious Travel Blog’, yang berarti sebuah blog perjalanan yang selalu menyajikan informasi secara serius dan sesuai kenyataan, dengan dibalut oleh candaan yang tak kalah serius. Dari nama dan tagline, berikutnya saya membuat logo yang dapat mewakili ‘brand’ Backpackstory ini.

Backpackstory

Logo yang saya gunakan saat ini dibuat oleh kawan saya Yulian, yang pada 2013 masih murah ratecard-nya. Dia berhasil merancang sebuah logo sesuai permintaan saya. Logo yang bergambar seorang pria alim sedang bermain laptop di atas sebuah bola dunia, sementara di punggungnya menggendong sebuah tas.

Secara filosofis, logo tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Seorang pria, menunjukkan bahwa penulis blog ini adalah seorang pria yang (saat itu) masih sendiri.
  • Tas di punggung, menunjukkan kebiasaan penulis ketika bepergian, yaitu menggunakan tas punggung. Bukan karena miskin, tapi karena pilihan.
  • Laptop, menunjukkan alat utama yang digunakan penulis untuk bercerita adalah sebuah laptop, bukan melalui RRI dan Dunia dalam Berita.
  • Tangan di laptop, menunjukkan bahwa si penulis sedang bercerita melalui blognya, sementara sebelah tangannya yang tak nampak menunjukkan bahwa penulis sedang menggaruk ketiak.
  • Bola dunia, menunjukkan posisi blog ini sebagai blog perjalanan, bukan toko buku Sinar Dunia.
  • Jejak kaki, menunjukkan langkah si penulis, dari berjalan-jalan untuk menikmati dunia, kemudian beristirahat dengan posisi duduk untuk menulis, sebelum menyebarkannya ke seluruh dunia. Apabila dunia mau.
  • Warna biru, dipilih penulis karena ceria dan dipercaya mampu membawa aura tenang, bukan karena penulis berdarah biru.

Setelah melewati perjalanan enam tahun lebih, kini blog ini dikenal sebagai blog perjalanan serius yang menyajikan guyonan-guyonan garing, dan dikelola oleh seorang pegawai kantoran yang sudah beristri. Belum punya branding? Jangan khawatir dan tetaplah menulis, karena sama seperti Roma, branding tidak dapat dibangun dalam semalam. Ini kan bukan Candi Roro Jonggrang.

Perihal Hosting dan Domain Blog

Pertanyaan lain yang juga kerap muncul adalah, “Saya baru mau mulai menulis nih, Kak, enaknya di Blogspot atau WordPress, ya?” Sebenarnya apapun platform yang kamu gunakan, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap tulisan kamu, karena sebenarnya isi lebih penting daripada bungkusnya, kan? Semua kembali ke masalah selera, dan kenyamanan ketika menulis.

Saya menggunakan WordPress karena menyukai tampilannya yang clean, rapi, dan terkesan lebih serius untuk menulis. Sementara teman saya, Adis Takdos, dia tetap setia dengan Blogspot yang sudah membesarkan namanya. Secara garis besar, Blogspot lebih mudah untuk diutak-utik tampilannya juga (katanya) lebih mudah terindeks Google, karena memang Blogspot merupakan bagian dari raksasa teknologi tersebut. Namun, saya tidak terlalu memerlukan fitur tersebut, dan lebih mengutamakan kenyamanan ketika menulis, hence, WordPress.

“Enaknya pakai blog yang gratisan, atau yang bayar, atuh, Kang?”

Backpackstory Awal

Mau hosting gratisan, ataupun berbayar, semua kembali ke kamu. Apakah sudah siap serius untuk konsisten ngeblog apabila menggunakan hosting dan domain yang berbayar? Atau masih mau main-main saja dengan yang gratisan? Memang, sekilas domain berbayar tanpa embel-embel WordPress atau Blogspot dot com di belakang nama blog akan terdengar profesional, namun bukan berarti yang gratisan tidak punya konten yang berkualitas. Coba saja buka blog Chika Stuff kalau tidak percaya.

Di penghujung 2013, saya memutuskan untuk berkomitmen secara serius, terhadap blog ini. Niat tersebut saya wujudkan dengan membuat tagline baru sebagai positioning untuk blog saya, mencari desain logo untuk branding, juga membeli domain pribadi beserta premium theme yang lebih cocok untuk blog dengan kebanyakan isi berupa ‘travel story’. Dari header yang alay seperti di atas, blog saya terlahir kembali dengan tampilan yang bersih dan hati yang suci seperti pemiliknya.

Saat ini, saya berlangganan domain di namecheap seharga sekitar $21 per tahun dan melakukan mapping ke WordPress dengan biaya $13, sementara untuk hosting, saya masih menggunakan hosting gratisan dari WordPress dot com. Lumayan, masih ada space untuk menyimpan foto sampai dengan 4 Gb.

Bagaimana Memulai Menulis?

“Oke, Om. Saya sudah punya blog, lalu, apa yang harus saya lakukan?” Dengan mempunyai blog, berarti kamu sudah separuh jalan untuk menjadi travel blogger, sekarang tinggal mengisi blog tersebut dengan tulisan perjalanan.

“Ya berarti tinggal mulai menulis, bukan?”

“Tapi saya gak pede dengan tulisan saya, Pak.” Timpal yang lainnya, sialan saya dipanggil Pak, padahal sudah potong kumis. “Ada tipsnya?”

Wah, maaf, saya tidak memberikan tip kecuali servis kamu bagus, tapi kalau kamu bertanya tentang saran, maka saran yang dapat saya berikan adalah “Jangan pernah takut untuk menulis, mulai saja.”. Kalau mau mudah, mulailah menulis dari hal-hal yang kamu sukai, atau yang saat itu terlintas di pikiran kamu.

Saya biasa membawa laptop ketika traveling, dan menulis ketika ada waktu luang di tengah perjalanan. Namun lebih sering lagi, saya menulis setelah perjalanan di sela-sela kesibukan kantor, jam istirahat, atau sepulang kantor.

Blogging Tools

Sekadar informasi, blog ini saya buat di penghujung 2011, namun blog tersebut tetap kosong pada awal tahun 2012, hingga pada bulan Maret 2012, saya memutuskan untuk mengunggah artikel pertama di blog. Tentu saja, artikel tersebut adalah artikel yang sangat alay, yang bahkan saya sendiri malu untuk membacanya kembali. Rasanya ingin segera tutup akun begitu membacanya kembali.

Tapi hey, menulis itu adalah proses pendewasaan. Jangan pernah takut untuk menjadi alay, karena kita semua pernah mengalami siklus tersebut. Menulis chat dengan huRuF b3s4r k3ciL, pacaran di atas flyover, juga mengunggah artikel pertama di blog adalah hal-hal yang dapat mendewasakan kita. Hal-hal yang membuat kita belajar dari masa lalu, dan bertambah dewasa dari pengalaman memalukan tersebut.

Kalau perlu contoh lain, cobalah baca buku Trinity: The Naked Traveler edisi pertama, lalu bandingkan dengan buku terakhirnya, niscaya kamu akan dapat menemukan contoh pendewasaan dalam menulis. Tulisan akan terus berkembang seiring dengan waktu, hingga kamu merasa nyaman dengan gaya menulismu, sehingga dapat berkata dengan bangga “Ini jenis tulisan yang gue banget.”.

Banyaklah membaca, jadilah terinspirasi, mulailah menulis.

Banyak Jalan-jalan, Banyak Nulis!

“Bisa gak sih gan, jadi travel blogger, tapi gak jalan-jalan?”

Jawabannya ya bisa-bisa saja, gan! tapi kamu tidak akan menghasilkan konten yang berkualitas berdasar pengalaman pribadi kalau hanya ‘traveling without moving’ alias hanya mencari materi dan informasi di internet, lalu mengunggahnya di blog kamu. Ada banyak blog perjalanan yang seperti itu (yang saya tidak mau menyebutkan namanya), namun saya pribadi tidak menyebut itu sebagai travel blog.

Karena menurut saya, travel blog itu adalah sebuah blog perjalanan, yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi pemiliknya. Ada personal experience pemiliknya yang menjadi daya tarik tersendiri sebuah travel blog, yang membedakannya dengan travel blog yang lain.

Semua peristiwa di dunia unik, hanya terjadi satu kali, karena waktu tidak akan terulang kembali. Tinggal bagaimana kamu mengemas peristiwa tersebut, menjadi sebuah tulisan yang menarik.

Kayang Washington

“Apakah saya harus jalan-jalan ke luar negeri supaya dapat menulis travel blog, kisanak?”

Oh, tentu tidak. Kamu dapat memulai dari yang terdekat, yaitu kotamu sendiri. Yang terdekat, seharusnya tidak menjadi yang terlupakan, karena masih banyak sisi menarik kotamu yang mungkin dapat kamu perbincangkan. Untuk kota tempat tinggal, yaitu Jakarta tercinta, saya pernah menulis tentang Petak Sembilan, Gang Gloria, Museum Nasional, Kuliner Bendungan Hilir, Legenda Restoran Padang Sederhana, hingga keeksotisan Pulau Macan. Tempat boleh sama, namun pengalaman dan cara berceritalah yang akan membedakan kamu dengan travel blogger lain.

Tentang pergi ke luar negeri, lakukanlah apabila mampu, karena selain akan memperkaya pengalaman dan ceritamu, pergi ke luar negeri –mengunjungi sebuah tempat yang berbicara bahasa asing di telingamu, akan menambah wawasan dan dapat mengubah cara pandangmu terhadap dunia.

Ingat Selalu 2 (Dua) Kon

“Oke, Paduka. Sekarang saya sudah siap jalan-jalan dan menulis. Tapi bagaimana kuncinya, supaya saya bisa jadi travel blogger bibit unggul?”

Jawaban saya, terhadap pertanyaan semacam ini yang sering diajukan ketika talkshow, adalah sama.

"Ingat selalu 2 (dua) kon."
Dua Kon

Bukan, bukan kon yang saya temukan di Museum Sex Amsterdam di atas. Melainkan KONTEN dan KONSISTENSI. Baru setelah dua ‘kon’ tersebut terpenuhi, kamu boleh juga menambahkan ‘kon’ yang lain. Kondisi finansial mencukupi, misalnya.

KONTEN

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Januari 1996, seorang kaya yang lebih kaya dari Sandiaga Uno bernama Bill Gates menulis sebuah esai yang berjudul “Content is King” yang diunggahnya di situs perusahaan miliknya, yaitu Microsoft. Gates, yang baru saja membayarkan utang-utang Nigeria sebesar 76 Juta US Dollar itu mengatakan “One of the exciting things about the Internet is that anyone with a PC and a modem can publish whatever content they can create.”.

Intinya, dia memprediksi akan terjadi bahwa akan terjadi perubahan besar di dunia pemasaran akibat internet, dan arus uang akan bergeser ke siapa saja yang dapat membuat konten yang menarik. Kita, tidak perlu bicara tentang uang terlebih dahulu, karena hanya merupakan titipan Ilahi semata.

Yang penting, bagaimana cara membuat sebuah konten yang menarik, yang akan membuat pembaca menyukai tulisanmu. Baca ulang tulisanmu, posisikan dirimu sebagai pembaca, lalu tanyalah dirimu “Apakah saya menyukai tulisan semacam ini?”.

KONSISTENSI

Konten yang menarik, tidak akan ada artinya apabila tidak ada konsistensi yang tertanam di dalam perilakumu. Saya tidak tahu siapa yang pertama kali mengatakan “Consistency is The Key” walaupun yang benar adalah “Kunci is The Key.” namun benar bahwa, konsistensi inilah yang menjadi kunci bagaimana seorang travel blogger dapat bertahan hidup di dunia digital yang dikatakan sebagai Disruptive Era ini.

Konten yang baik, akan membuat pembaca menyukai tulisanmu. Konsistensi yang teguh, akan membuat pembaca kembali ke blog kamu, guna mencari konten yang membuatnya berseri-seri kembali ketika membacanya.

Menulislah untuk Dirimu Sendiri

Memang terdengar klise, namun kamu sebaiknya menulis untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, sebelum berusaha memuaskan pembacamu juga 265 juta rakyat Indonesia lainnya. Bagaimana kamu dapat memuaskan banyak orang, kalau kamu tidak berusaha memuaskan dirimu sendiri.

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya menulis karena saya menganggap bahwa tulisan ini adalah sebentuk ‘pelarian’ dari kesibukan sehari-hari, sebuah metode untuk meredakan stres, serupa sanctuary yang dapat membawa ketenangan batin. Berakar dari sana, selanjutnya saya berusaha membuat tulisan yang dapat menghibur dan bermanfaat bagi banyak orang, seperti panduan mengurus visa, misalnya. Setelahnya, apabila ada penghasilan masuk, berarti bonus dan alhamdulillah masih ada yang peduli dengan nasib travel blogger seperti saya.

Kendala blogger zaman sekarang biasanya hanya menulis ketika ada tujuan lain di luar menuntaskan dahaga menulis, seperti misalnya hanya menulis untuk mengikuti kuis, hanya menulis ketika dibayar, atau hanya menulis ketika berada di bawah tekanan. Jangan.

Travel Blogging Wae Rebo

Secara garis besar, ada beberapa fungsi dasar tulisan pada travel blog, yaitu:

  1. Sebagai pengingat (diary), bagi penulisnya.
  2. Sebagai panduan perjalanan, untuk pejalan lainnya.
  3. Sebagai media informasi, bagi siapa saja yang membutuhkan.

Ada orang bijak mengatakan (Bukan, bukan Biksu Tong) “Membacalah supaya kamu mengenal dunia, dan menulislah supaya kamu dikenal dunia.”. Saya sendiri sependapat dengan ungkapan tersebut, walaupun tidak berharap akan dikenal dunia seperti Donald Trump. Ada satu ungkapan pribadi yang senantiasa saya bagikan mengenai dunia penulisan ini, yaitu:

Jangan pernah takut untuk menulis. Teruslah menulis, karena kamu tidak akan pernah tahu ke mana tulisan itu akan membawamu kelak.

Hidup Sebagai Travel Blogger dan Menjadikan Blog Sebagai Sumber Penghasilan

“Terakhir nih, Tuan Muda.” Alhamdulillah,akhirnya. “Okelah kita tidak akan pernah tahu ke mana tulisan itu akan membawa kita. Namun bisakah tulisan kita –sebagai travel blogger, memberikan penghasilan yang layak, sehingga kita dapat menjadikan blog sebagai sumber penghasilan utama?”

Hmm, sebuah pertanyaan yang mudah ditanyakan, namun susah untuk dijawab. Karena standar hidup tiap orang sangat berbeda, ada yang cukup hidup dengan sejuta per bulan, ada yang terima suap milyaran dari Meikarta. Semua tak sama, seperti Padi. Namun apabila ditanyakan ke saya, jawabannya adalah hidup sebagai travel blogger saja tidak akan cukup untuk membiayai kehidupan sebuah keluarga di Jakarta, yang mendambakan mempunyai rumah nyaman di Bintaro.

Maklum, travel blogger gak bisa ambil KPR di bank.

Saya tidak menjadikan penghasilan dari kegiatan travel blogging ini sebagai penghasilan utama, karena selain jumlahnya yang tidak terlalu banyak apabila dibandingkan standar hidup di Jakarta, penghasilan tersebut juga bukan menjadi penghasilan rutin yang bisa saya terima tiap bulan.

Kilas balik ke belakang, saya baru bisa mendapatkan penghasilan dari aktivitas ngeblog ini sekitar dua tahun setelah Backpackstory berdiri, di mana ada sebuah brand yang memercayakan produknya untuk diulas di blog sederhana ini. Namun perlu diingat bahwa ngeblog ini harusnya adalah untuk bersenang-senang, bukan untuk mencari penghasilan utama. Sekadar informasi, blog ini juga mendapatkan penghasilan dari WordAds, namun jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar $20 sebulan, masih kurang untuk berlangganan Indihome paket komplit.

Blogging is supposedly for fun, not for money.
Baca: Jalan-jalan terus, duit dari mana?
Safe Blogging

Saya berada di sini, sebagai travel blogger yang mendapatkan penghasilan tambahan, mengunjungi banyak negara, menjadi pembicara di berbagai acara, semua karena menulis. Saya percaya, bahwa sebuah tulisan dapat mengubah dunia. Walaupun bukan dunia yang besar seperti di lagu Emilia “Big Big World”, namun setidaknya dapat mengubah dunia kamu, atau siapapun yang membutuhkan blog ini kelak.

In the end, life is not about who you are, it is about who do you want yourself to be remembered as, when you are gone.

Salam serius dari pemilik blog serius Backpackstory.

Omong-omong, ajakan MLM Young Living saya di atas juga serius, loh.

Advertisements