Yo aku melu to!” Rengek Mama ketika saya memberi tahu bahwa besok saya akan mengikuti walking tour perayaan imlek di Kawasan Petak Sembilan, Jakarta. Dan saat itu, kebetulan, Mama memang akan pergi ke Jakarta untuk mengunjungi anak semata wayangnya. “Mosok aku dewekan ning omah?

Iyo, yowes melu wae.” Jawab saya mengiyakan, sebelum dikutuk menjadi batu akik. “Acarane esuk lho.

Terdengar jeda sejenak dari sambungan telepon di ujung sana, sebelum muncul suara yang sudah akrab di telinga selama lebih dari 20 tahun, “Jadi besok aku pakai baju merah ya? Terus kembaran, kita?”

Kali ini giliran saya yang mengheningkan cipta.


Petak Sembilan, sebenarnya bukan barang baru buat saya, karena saya pernah melakukan kunjungan ke sana bersama seorang panda lokal tahun lalu. Namun bagi Mama, yang tidak tinggal di Jakarta, kunjungan ke Petak Sembilan –apalagi bertepatan dengan imlek–, merupakan sesuatu yang menarik. “Aku yo pengin nonton piye nek imlekan ning Jakarta.”.

And another Mamacation begins.

Setelah menempuh perjalanan romantis dengan sepeda motor selama 40 menit yang diiringi rintik hujan dari daerah Kebayoran, tibalah kami di starting point acara tur pagi itu, yaitu Museum Bank Mandiri. Di sana telah menunggu beberapa kawan (beserta dua kotak kue cubit), yang memang telah mengikat janji untuk mengikuti acara tersebut bersama. Sebut saja Firsta, Vindhya, dan Wira.

Berikutnya dilakukan briefing singkat, sebelum kami dilepas bersama seorang pemandu lokal yang akan membawa kami menjelajah Petak Sembilan dan sekitarnya.

Konon, bahwasanya nama Petak Sembilan berasal dari rumah-rumah penduduk zaman dahulu yang tersusun pada petak-petak yang berjumlah sembilan.

Dimulai dari jalan raya di samping Museum Bank Mandiri, kami menyusuri jalan dengan graffiti di tepi flyover yang telah disesaki para penjual beraneka macam barang kebutuhan sehari-hari, dari buah-buahan, pakaian dalam, walaupun tak ditemukan penjual buah-buahan dalam pakaian dalam.

Kawasan Cagar Budaya

“Ini sudah masuk kawasan cagar budaya dan tidak boleh direnovasi, harusnya, namun beberapa rumah sudah direnovasi.” Jelas cici pemandu perjalanan kami (berikutnya akan disebut sebagai ‘cici’ saja, bukan ‘cici’ banget).

Petak Sembilan

Rumah yang telah direnovasi di Petak Sembilan

Cici kemudian menunjuk deretan ruko di seberang jalan “Itu adalah bangunan tahun 1900-an, di mana di depannya ada arcade yang tujuan awalnya digunakan untuk jalan tempat orang lewat, namun sekarang lebih banyak dipakai sebagai lokasi berjualan.” Saya maklum, karena bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa kreatif yang pandai mencari peluang bisnis dan lapangan pekerjaan. 

Di mana ada macet, di situ ada penjual Aqua. Di mana ada tikungan, di situ ada polisi cepek. Di mana ada anggaran Pemda DKI, di situ ada Nuri Shaden, eh maksud saya, ada anggota DPRD. Go Ahok!

“Karena imlek, maka toko-toko banyak yang tutup.” Jelasnya lagi. “Daerah sini juga dikenal sebagai kawasan pasar pagi lama, yang menjual barang berdasarkan musim. Misalkan pada musim sekolah, jual alat tulis. Musim imlek, jual pernak-pernik imlek. Musim tahun baru, jual berbagai macam barang kebutuhan.”

Dalam hati kecil saya membatin, lalu apakah yang dijual oleh pasar perniagaan yang kini telah dipindah ke Mangga Dua ini pada saat musim kawin?

Imlek

Cici mengatakan bahwa pada saat hari pertama imlek, orang Tionghoa gak boleh buka toko, dan hari ketiga baru boleh. “Kalau mau buka, ya harus buka hari kedua, ketiga, dan seterusnya, tapi gak boleh buka hari keempat.”.

Empat, disebut juga Si dalam bahasa Mandarin, yang berarti kematian.

Lebih lanjut lagi, cici mengatakan bahwa bagi etnis Tionghoa, pada saat imlek harus hujan, karena hujan melambangkan rezeki.

Lampion Petak Sembilan

Merah-merah di Petak Sembilan

Selain hujan, rezeki juga dilambangkan dengan warna merah. Oleh karena itu, warna merah selalu menghiasi perayaan imlek di manapun, karena identik dengan kemakmuran.

“Imlek gak boleh pakai baju putih, karena di Tionghoa, putih melambangkan kematian.” Ucap Cici, “Kalau ada yang nikah, pakainya angpau merah, jangan putih. Karena itu tidak sopan.” Pungkasnya.

Kawasan Pintu Kecil

“Yuk sekarang kita menyeberang!” Seru Cici sambil menggiring rombongan, ke sebuah gang sempit dengan pintu kecil di ujung gang. Dua orang pria yang mirip mamang-mamang penjaga malam, membukakan pintu tersebut.

“Pintu ini dibuat setelah tahun 1998.” Cici kemudian menjelaskan bahwa sebelum tahun 1998, etnis Tionghoa tak boleh merayakan imlek, dan baru boleh pada saat masa pemerintahan Gus Dur.

Rombongan kami berhenti di depan sebuah rumah tingkat dengan pagar tinggi runcing dengan tiga buah pintu besar di terasnya. Mamang penjaga pintu sempat berseru bahwa ini Rumah Si Pitung, namun Cici justru menyebutkan bahwa inilah rumah seorang juragan tembakau.

Hmm, atau jangan-jangan Si Pitung dulunya adalah juragan tembakau?

Pintu Petak Sembilan

Pintu khas Tionghoa

Tiga pintu itu melambangkan tiga fase kehidupan yang paling berarti bagi bangsa Tionghoa, yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. “Bangunan ini merupakan perpaduan dari bangunan Tionghoa dan Eropa, Atap khas Tionghoa, dan lantai khas Eropa.”.

Cici melanjutkan bahwa ciri khas rumah Tionghoa lainnya adalah terdapatnya cermin di atas pintu.

Cermin di atas pintu tujuannya adalah untuk mengantisipasi niat jahat yang akan masuk ke rumah, dan mementalkannya.

Petak Sembilan

Cermin di atas pintu, salah satu ciri khas rumah keluarga Tionghoa.

“Bedanya yang bulat sama yang segi delapan apa, Ci?” Tanya salah seorang di rombongan. Cici terkekeh, “Kayaknya sama aja deh, hehehe.”.

Berikutnya, Cici menggembalakan kami ke sebuah rumah tinggi di gang sempit itu. Kalau orang bilang, rumah tersebut berada pada posisi tusuk sate. “Rumah di posisi tusuk sate ini tidak disukai oleh orang Tionghoa, ada yang tahu kenapa?”.

Kami semua bertatapan, mencari tahu jawabannya, sebelum akhirnya menyerah. “Karena kalau ada mobil bisa nabrak. Hehehe.” Jawab si Cici.

Seluruh anggota rombongan mengheningkan cipta, dan sayup-sayup lagu gugur bunga bergema. Disebutkan bahwa menurut orang Tionghoa, rumah pada posisi tusuk sate ini akan mendatangkan ketidakberuntungan. Dan salah satu cara menanggulanginya adalah, memasang guci di atas genting. Mereka berharap hal-hal yang tidak baik akan masuk ke dalam guci, alih-alih ke rumah.

Petak Sembilan

Rumah dengan guci di atapnya.

Di ujung gang, Cici menjelaskan bahwa dahulu di sini bernama Jalan Kongsi, alasannya adalah karena satu rumah dipakai beramai-ramai untuk berbisnis. “Kita dapat mengetahui bahwa ini adalah rumah Tionghoa, berdasarkan atapnya yang berbentuk pelana kuda.” Cici kembali bercerita “Namun di daerah sini, beberapa orang sudah merubahnya menjadi ruko.”.

Hmm, mengubah Ci, bukan merubah.

Rumah Keluarga Souw

Apabila rumah Tionghoa medioker beratapkan pelana kuda, maka keluarga kaya Tionghoa biasanya memilih bentuk sayap burung walet. Ada yang bilang dikarenakan dahulu burung walet adalah salah satu sumber obat-obatan Tionghoa, dan merupakan pangsa bisnis yang menguntungkan.

Dan salah satu rumah bersayap walet tersebut adalah rumah Kelurga Souw.

“Pada zaman Belanda, sekitar tahun 1600-an, keluarga ini adalah keluarga paling kaya.” Cici kembali menjelaskan pada kami. “Apabila dilihat dari samping, maka akan terlihat rumah ini panjang dan terbagi menjadi beberapa bagian. Rumah, tanaman, rumah, tanaman, rumah, tanaman.”.

Omahe sampek kono!” Seru Mama, yang baru muncul kembali pada cerita ini. Iya, rumah di samping ini memang didesain memanjang ke belakang, bahkan sampai kali, kalau kata Cici. Walaupun saya tidak tahu kali apakah yang dimaksud. Bisa jadi Kalijodo, atau malah Kalibodri.

Rumah Keluarga Souw

Rumah Keluarga Souw, dengan bentuk atap sayap burung walet.

Orang Tionghoa, memang suka menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpul keluarga maka jangan heran apabila rumah mereka luas atau justru tinggi, “Nah, kalau yang ini rumah keluarga kaya, maka yang ini biasa saja.” Ucap Cici sambil menunjuk sebuah rumah tinggi yang tak jauh dari situ. “Rumah itu tadinya dua lantai awalnya, namun semakin bertambah anak, semakin bertambah pula tingginya.”. Pertumbuhan ke atas, bukan ke samping.

Dikisahkan pula bahwa ada dua orang generasi keluarga Souw yang terkenal, yaitu Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Mereka pulalah yang berperan pada pembangunan Vihara Dharma Bhakti dan Toa Se Bio.

Jalan di depan rumah Keluarga Souw dahulu dikenal dengan nama Patekoan, yang berarti delapan cangkir teh. Kisahnya berawal dari seorang kapiten yang mempunyai pedang panjang bernama Gan Djie dan istrinya. Dahulu pada masa-masa sebelum ada Indomaret dan warung-warung kecil, banyak orang-orang lalu lalang di depan rumahnya dan kehausan, dan oleh pasangan tersebut, disediakanlah delapan cangkir teh untuk mereka.

Setelah 1965 warga Indonesia harus mengganti nama-nama berbau Tionghoa menjadi yang lebih Indonesia dan kekinian, sehingga nama Jalan Patekoan ikut berubah nama menjadi Jalan Perniagaan.

Vihara Toa Se Bio

Berjalan sejenak dari Jalan Perniagaan, kami pun sampai di Vihara Toa Se Bio. Sebelum tiba, Cici telah menceritakan beberapa hal mengenai vihara ini, karena di dalam vihara tidak boleh memakai TOA yang akan mengganggu kekhusyukan umat yang sedang beribadah.

Dikatakannya, klenteng ini mempunyai tempat lilin yang berbentuk pagoda dan tertulis nama-nama keluarga. Biasanya satu keluarga mempunyai tempat lilin khusus yang disewa. Nantinya lilin-lilin tersebut akan didoakan oleh pihak vihara. Selain itu, vihara ini juga memiliki tempat menaruh hio dari tahun 1700-an.

Salah satu pesan Cici sebelum kami memasuki vihara ini adalah jangan mengganggu umat yang mau ibadah karena vihara tidak terlalu besar. Dan kalau mau foto agak lama ya di tempat abunya yang lebih lapang, namun kalau itu juga penuh, maka pindahlah.

Ketika saya sedang asyik memotret diantara kerumunan orang yang akan memasuki vihara, tiba-tiba Mama menarik ujung kaus saya, dan berseru “Rif, itu kan…”.

Berikutnya sesosok bayangan dari masa lalu melintas.

Di vihara ini, warna merah bertebaran sejauh mata memandang. Lampion, lilin-lilin raksasa, pilar bangunan, jilbab Mama, dan kaus saya, semuanya merah. Kami semua merayakan kemeriahan imlek.

It’s a Wonderful Imlek, indeed.

Karena vihara yang penuh sesak dengan orang ditambah asap dupa yang sering mampir di wajah innocent saya, saya memutuskan tak menghabiskan banyak waktu di dalam vihara. Kondisi tersebut masih ditambah dengan Cici yang sepertinya terburu-buru memanggil semua rombongan untuk segera bergegas menuju lokasi berikutnya.

Gereja Maria de Fatima

Tak jauh dari situ, ada sebuah gereja yang bernama Maria de Fatima. Dikisahkan oleh Cici, bahwa dahulu Maria pernah muncul menampakkan diri kepada tiga orang gembala yaitu Fransisco Jacinta, dan Lucia, di Fatima, sebuah daerah di Yerusalem. Oleh karena itu gereja ini dinamakan Maria de Fatima.

Dulunya, gereja ini adalah rumah dengan atap berukir sayap burung walet milik seorang kapiten bermarga Chu yang mempunyai empat kata mutiara, yang kalau diartikan berbunyi rezeki, umur panjang, kemakmuran, dan kedamaian. Pada tahun 1949, rumah ini beralih kepemilikan kepada para pastor berordo Jesuit yang datang dari Tiongkok.  Mereka kemudian membeli rumah ini dan menjadikannya gereja. Di depan gereja ini terdapat patung singa batu, sebagai penjaga.

Gereja Maria de Fatima

Di depan Gereja Maria de Fatima

“Yuk masuk!” Ajak Cici sembari membuka pintu kecil di belakang patung singa batu. Kami segera mengikutinya dengan tenang hingga tiba pada sebuah altar. Yang unik dari altar ini adalah adanya perpaduan gereja dengan sentuhan imlek dengan warna merah dan kuning mendominasi.

“Gereja bersetting imlek ini, gak ditemukan di gereja lain.” Ujar Cici.

Gereja Maria de Fatima

Altar pada Gereja Maria de Fatima

Setelah puas, kami berpindah ke bagian belakang gereja, di mana terdapat ruangan-ruangan lama yang masih terawat dengan baik. Jendela-jendela kayu bernuansa Tiongkok berwarna kuning tersebut nampak keren, apabila dijadikan objek foto, seperti di bawah ini.

Gereja Maria de Fatima

Mamacation di Gereja Maria de Fatima

Pada sebuah jendela yang terbuka, Mama sempat melihat seorang wanita yang sedang menyiapkan makanan. Menariknya, sang wanita tersebut bekerja sambil mengenakan jilbab. Sebuah pemandangan syahdu, yang mengingatkan bahwa kita harus hidup berdampingan antar agama.

Inilah potret kecil Indonesia yang seharusnya.

Vihara Dharma Bhakti

Karena keasyikan mengambil foto di halaman belakang gereja, saya sudah tidak menemukan Cici lagi ketika keluar dari gereja. Namun saya teringat pesannya yaitu “Habis ini kita akan mengunjungi Vihara Dharma Bhakti.”. Vihara terbesar yang ada di Petak Sembilan.

Dari teman saya Dwika, saya mengetahui bahwa Vihara Dharma Bhakti (atau dalam logat lokal: Cing Te Yen), adalah salah satu vihara paling tua yang paling sering masuk TV di Jakarta. Lokasinya besar, karena bentuknya seperti kompleks mini. Di dalamnya ada pelataran luas yang sering dijadikan tempat tidur para tunawisma, dan ada rumah abu, rumah sembahyang, dan lain sebagainya.

Viharanya sendiri terletak paling belakang, di mana pada bagian dalamnya terdapat banyak patung dewa seperti Buddha tertawa dan Dewi Kwan Im dan altar-altarnya.

Vihara Dharma Bhakti

Sembahyang di Vihara Dharma Bhakti

Ratusan tunawisma (baik yang asli, maupun yang KW) nampak menggelepar meminta belas kasihan pengunjung ketika kami tiba di vihara ini. Kami segera memasuki bangunan pertama yang terletak di sisi kiri kami, dan meninggalkan mereka di luar.

Di dalam bangunan tersebut telah penuh dengan orang-orang yang sedang sembahyang dengan khusyuk dengan hio di tangan, sementara di sampingnya terdapat beberapa fotografer yang lalu lalang, termasuk satu dua orang kru televisi yang sedang mengadakan liputan. Beberapa keluarga Tionghoa yang datang untuk beribadah nampak sesekali bercengkerama dengan anaknya yang masih kecil, semantara beberapa orang tua menghabiskan waktunya untuk mendermakan jasanya di vihara ini.

Menurut Dwika, selaku perwakilan panda lokal Petak Sembilan, tempat ini sangat ramai pada waktu Ce It (tanggal 1 tiap bulan dalam penanggalan Imlek/Lunar) dan Cap Go (tanggal 15).

Pada tanggal-tanggal tersebut, bagi pengunjung yang mempunyai penyakit asma sebaiknya tidak mendekat, karena asap hio akan sangat banyak dan terasa menyesakkan bagai kenangan.

Dari keterangan yang saya dapatkan, ada satu titik yang istimewa di vihara ini, yaitu pada bagian tengah belakang, di mana titik tersebut tidak boleh difoto. Konon katanya, tempat tersebut adalah tempat bersemayamnya dewa pelindung vihara, sehingga tak boleh difoto.

Tepat ketika kami akan keluar dari vihara ini, hujan turun dengan derasnya, pertanda rezeki akan datang di hari imlek yang meriah. Di pintu keluar, saya mendapati Cici sedang mengumpulkan rombongannya, sambil melindungi diri dari hujan.

Selamat merayakan imlek, semuanya!

UPDATE

Vihara Dharma Bhakti kebakaran

Vihara Dharma Bhakti kebakaran (sumber: MetroTV News)

Sehari sebelum artikel ini ditulis, kebakaran hebat melanda Vihara Dharma Bhakti yang merupakan salah satu #PesonaIndonesia dan menghanguskan sebagian besar bangunannya. Mari kita berdoa bersama supaya keadaaan segera pulih dan vihara dapat kembali beraktivitas sebagaimana mestinya.
Al-Fatihah.
Advertisements