backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Para Pencari Senja di Jailolo

arievrahman

Posted on June 27, 2014

“Of course, sunset. Sunrise is overrated.” Jawab Matthew, ketika saya menanyakan manakah yang lebih dia suka, antara sunset atau sunrise. Dan apabila saya menambahkan satu variabel lagi, yaitu wanita Indonesia, mungkin jawaban Matthew akan berbeda. Memang, untuk melihat sunrise, kita harus bangun lebih pagi, meninggalkan kenikmatan duniawi, memakai pakaian hangat, sebelum menuju spot sunrise, seperti yang saya lakukan di Bromo. Sedangkan untuk menikmati sunset, tak perlulah bangun pagi, cukup tahu di mana lokasi sunset-nya, lalu tinggal berangkat menuju ke sana pada sore hari, dengan pakaian seadanya.

Namun ternyata tidak demikian halnya dengan sunset di Jailolo, yang untuk mendapatkannya membutuhkan lebih dari perjuangan dan doa anak saleh.

Kamis – Hari Pertama

Pukul lima sore. Saya bersama rombongan media Festival Teluk Jailolo telah tiba di pemandian air panas Desa Gamtala, yang merupakan starting point untuk menuju pantai Lako Ake Lamo –yang dikisahkan memiliki sunset yang menawan. Untuk mencapai pantai tersebut, kita harus menyusuri sungai dengan hutan mangrove di kanan kirinya menggunakan perahu kecil yang memang disediakan untuk umum.

Hari itu adalah hari pertama saya di Jailolo, setelah terbang dini hari dari Jakarta menuju Ternate dan disambut sunrise yang mewah melalui jendela pesawat, saya berharap keberuntungan dapat membawa saya menyaksikan sunset yang spektakuler di Jailolo. Dan berbicara keberuntungan, sore itu hujan turun mengguyur Gamtala. Deras.

Kami berteduh di sebuah pondok, merapat sambil menghangatkan badan, sementara tak jauh di sana ada warga lokal yang sedang merebus batu-batu kecil “Itu supaya hujan segera reda.” Ucap seseorang diantara kami, tentang kepercayaan lokal warga setempat itu. Saya hanya membatin, tak mau menyangkal kepercayaan tersebut. Tak lama kemudian hujan mulai reda, entah karena rebusan batu tersebut, atau karena ada yang diam-diam melempar celana dalam ke atap pondok.

Menyusuri hutan mangrove di Gamtala.

Menyusuri hutan mangrove di Gamtala.

Hujan belum sepenuhnya habis ketika dua buah perahu membawa kami menyusuri sungai yang lebarnya tak lebih dari tiga meter itu. Airnya jernih dan hangat, walaupun endapan lumpur membuatnya terlihat gelap. Beraneka tanaman tumbuh di pinggiran sungai –dan lebih banyak lagi ke dalam, berpadu dengan suara aneka burung dan serangga yang mengalun nyaring. Kami sedang khusyuk mendengarkan ucapan si pemandu tentang asal usul sungai itu, ketika hujan mulai turun lagi.

Categories: Domestic, Maluku Utara

Tagged: Festival Teluk Jailolo, Gamtala, Jailolo, Marimbati, Saria, sunset

45 Comments

+Read more

Hotel Kapsul, Film Porno, dan Lelaki Tengah Malam.

arievrahman

Posted on June 13, 2014


[RATING 17++ NOT SUITABLE FOR UNDERAGE READERS]

 

Hari telah berganti, saat bus malam yang membawa kami dari Matsumoto memasuki pekatnya malam Shinjuku. Keasyikan menikmati musim gugur di Toyama, telah membuat kami lupa waktu dan kehabisan bus sore yang menuju Tokyo. Saya segera turun dari bus, disusul Osa, dan Rico kemudian, meninggalkan sang supir bus yang sedang bekerja mengendali bus supaya baik jalannya.

Setelah mengambil barang-barang yang dititipkan dalam locker stasiun sehari sebelumnya, kami segera berkumpul di sebuah halte di sudut jalan. Faktor kelelahan setelah trekking di siang hari termasuk mencicipi onsen tertinggi di Jepang, membuat kami memutuskan untuk menggunakan taksi, dibandingkan berjalan kaki mencari alamat yang disebutkan dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama lima menit dari stasiun Shinjuku.

Sebuah taksi lewat, Toyota Crown tahun lama, namun penuh. Kami menunggu lagi.

Sebuah taksi lewat, Toyota Prius yang masih mengkilap. Sepertinya mahal, dan uang kami sudah menipis setelah mengunjungi Toyama. Kami menunggu lagi.

Sebuah taksi lewat. Nissan Cedric yang tak kelihatan baru, dan tak ada penumpang di dalamnya. Osa memberhentikan taksi tersebut, dan memberi tahu destinasi yang ingin kita tuju dalam Bahasa Inggris. Sebuah hotel yang bernama Shinjuku Green Plaza. Si supir taksi menatap kami bertiga dengan memicingkan sebelah matanya.

“Shinjuku… Guriinn Praaaza?” Tanyanya, yang kami jawab dengan anggukan. Namun alih-alih membuka pintu dan membiarkan kami naik, si supir justru menunjuk ke sebuah lokasi yang terletak di belakangnya. “Wok!” Serunya, sambil membuat isyarat berjalan kaki dengan kedua jari tangannya.

Kami bengong, kehabisan kata-kata. Mungkin saja si supir taksi menolak kami karena kami orang asing, mungkin saja karena kami berkeringat dan bau, mungkin saja karena Shinjuku Green Plaza letaknya sangat dekat, dan mungkin juga kombinasi ketiganya.

Dengan muka kusut, dan rambut tak beraturan seperti Nicolas Saputra, kami menyeret kaki –dengan backpack seberat lebih dari 10 Kg di punggung, menuju arah yang ditunjukkan si supir taksi tadi. Kami adalah para lelaki tengah malam, yang tak tahu arah.

Sebuah bangunan yang tak mentereng, menyambut kami di sisi kanan jalan. Setelah sempat bertanya kepada beberapa orang tentang alamat ini, akhirnya kami menemukannya. Tulisan Shinjuku Green Plaza samar tertutup gelapnya malam, dan kiranya menyerupai hotel, bangunan ini lebih seperti ruko di kawasan Glodok. Jam tangan saya menunjukkan pukul satu dini hari, saat kami masuk ke dalam lift yang membawa kami ke ruang resepsionis berada. Ya, resepsionis untuk pria berada di lantai 4 (sedangkan untuk wanita di lantai 9 –mungkin ini yang disebut hotel syariah), sementara untuk mencapainya, kami harus menggunakan lift yang berada di basement. Turun dulu pakai tangga, sebelum naik lagi dengan lift. Aneh.

Pada isian pemesanan online, saya sempat mengatakan akan tiba sekitar pukul sepuluh malam. Dan nyatanya, justru saya baru masuk gedung pukul satu dini hari. Sempat khawatir apabila ternyata resepsionis telah tutup, namun saya justru mendapatkan hal yang mengejutkan ketika pintu lift terbuka.

Antrian para lelaki tengah malam.

Barisan para lelaki tengah malam.

Categories: Accommodation, Foreign, Japan

Tagged: Film porno Jepang, Hotel kapsul Jepang, JAV, Jepang, pijat, Shinjuku, Shinjuku Green Plaza, spa, Tokyo

138 Comments

+Read more

Pecah Tidak Selamanya Berarti Membeli

arievrahman

Posted on June 8, 2014

PRANG!

Akuarium bulat tempat ikan koki hidup seorang diri jatuh ke lantai, pecahan kacanya berserakan di lantai, sementara air yang semula mengisi akuarium membasahi kaki saya beserta dengan si ikan koki yang megap-megap di lantai minta CPR, “Wes tak kandhani kok ngeyel! (sudah aku bilang gak percaya, sih!)” Jerit Mama kepada saya, yang memaksakan diri membawa akuarium ikan koki yang masih penuh air ke kamar mandi untuk dibersihkan, dibandingkan mengurasnya terlebih dahulu.

Itu adalah Hari Minggu, hari di mana kami biasa merawat binatang peliharaan di rumah. Menguras akuarium, membersihkan kandang burung (burung bersayap, bukan burung Papa. -red), hingga mengusap-usap patil ikan lele supaya dia merasa nyaman. Kejadian saya memecahkan perabotan yang terbuat dari kaca pun bukan yang pertama. Mulai dari piring, akuarium, hingga guci-guci keramik yang dibeli Papa sehabis kunjungan kerja di Jambi. Dan bahkan apabila Mama saya adalah Nia Daniaty, mungkin sudah ratusan gelas-gelas kaca yang menjadi korban.

Di sini, pecah bukan berarti membeli.

Pecah merupakan sebuah pelajaran, supaya kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

Saya berjingkat perlahan memasuki ruang pamer Museum Nasional Indonesia bagian keramik, yang letaknya agak sedikit tersembunyi, yaitu di sebuah ruangan di sudut taman arca. Sudah belasan tahun berlalu sejak terakhir kali saya memecahkan barang-barang kaca serta keramik, dan sekarang saya sudah semakin pintar dalam hal tidak memecahkan barang-barang tersebut, termasuk yang berada di museum nasional ini.

Dengan bermodalkan tiket seharga lima ribu rupiah –yang tentu saja lebih murah daripada harga smartphone kamu, saya serasa berjalan mundur ke masa lalu di mana ratusan keramik berusia ratusan tahun menyapa saya. Ada yang berasal dari Cina, Jepang, Thailand, Vietnam, hingga Myanmar/Laos. Semuanya dalam kondisi mulus –walaupun bukan BNIB, dan kebanyakan tersimpan dalam lemari kaca.

Sejarah keramik di Indonesia cukup panjang, dimulai dengan 

Categories: DKI Jakarta, Domestic

Tagged: Caterpillar, China, China Shop, Keramik, Museum Nasional, Porselen

31 Comments

+Read more

Pada Suatu Siang di Pecinan

arievrahman

Posted on June 3, 2014

Fara memarkir mobilnya di depan sebuah hotel yang tampak cukup usang, menggantikan sebuah mobil yang meninggalkan tempatnya. “See? Gue mah orangnya parkirgenic.” Ucapnya, memuji diri sendiri. Kasihan.

Di akhir pekan, memang susah untuk mencari parkir di daerah Jembatan Lima, Glodok. Saking susahnya, banyak mobil-mobil yang parkir secara paralel di sepanjang jalan, menutup lajur jalan sehingga hanya cukup dilalui oleh satu mobil.

Saya dan Fara kemudian turun dari mobil, menuju arah Hotel Fortuna. Andaikan ini bukanlah travel blog syariah, mungkin kami sudah masuk hotel dan melakukan adegan panas, seperti memesan mie rebus. Namun Fara yang berjalan di depan, menuntun langkah saya untuk memasuki gang kecil, bernama Gang Gloria –atau yang secara resmi disebut dengan Jalan Pintu Besar Selatan III. Saya mengeluarkan NX Mini dari saku dan bermaksud memotret keadaan sekitar, namun perkataan Fara berikutnya membatalkan tindakan saya. “Sudah nanti saja foto-fotonya.” Dia berkata saat kami melewati berbagai penjual makanan sepanjang gang. “Ohok, sudah nungguin, tuh.”.

Kopi Es Tak Kie

Berikutnya, kami memasuki sebuah kedai kopi yang cukup ramai, dan langsung menuju ke sebuah meja di ujung ruangan. Seorang pria berambut jarang, sedang menikmati kopi gelas kopinya yang tinggal separuh, sementara di depannya terdapat sebungkus rokok yang belum habis. “Ohok!” Panggil Fara, sambil menempati bangku kosong di hadapannya, sementara saya memilih duduk di samping Ohok.

Kopi Tak Kie, erected since 1927.

Kopi Es Tak Kie, erected since 1930.

Kedai Kopi Es Tak Kie, menjadi meeting point kami siang itu. Fara ingin bertemu dengan Ohok, untuk meminjam kamera underwater-nya. Sementara saya, ingin berjalan-jalan di pecinan Kota Jakarta sambil bermain-main dengan kamera Samsung NX Mini.

Categories: DKI Jakarta, Domestic, Survival Kit

Tagged: Gang Gloria, Kopi Tak Kie, NX Mini, Pecinan, Petak Sembilan, Samsung, Vihara Dharma Bhakti, Vihara Dharma Jaya Toasebio, Warteg Gang Mangga

41 Comments

+Read more

Tujuh Panggilan dari Inggris

arievrahman

Posted on May 26, 2014

ARGH!

Saya membanting sebuah buku yang sudah tak keruan bentuknya. Ketika buku tersebut menghempas lantai, puluhan –atau bahkan ratusan rayap keluar dari sela-sela halamannya. Setelah memastikan tak ada rayap yang tersisa, saya memungutnya kembali sambil menahan tangis. Gengsi, masa lelaki sejati kok nangis.

Ratusan halaman buku sudah hancur oleh rayap dan tak dapat diselamatkan, sementara sampul bukunya yang berwarna cokelat –satu-satunya bagian yang masih berwujud, tetap menampilkan senyuman menawan dari empat anak muda yang masing-masing memegang sebuah alat musik. Buku langka itu saya dapatkan di pertengahan tahun 2003, –atau sepuluh tahun sebelum rayap menggerogotinya, pada sebuah toko buku yang hampir bangkrut (dan sekarang, Alhamdulillah, sudah resmi bangkrut) di Sri Ratu Peterongan, Semarang. Buku yang diterbitkan oleh Humaniora Utama Press tersebut, berisi kumpulan lengkap lagu-lagu The Beatles yang senantiasa menjadi semangat dan petunjuk saya dalam bermusik. Kini buku tersebut telah tiada, berganti oleh air mata yang menetes perlahan.

Kini, saya menyadari bahwa untuk sesuatu yang dicintainya, seorang lelaki sejati bisa menangis.

The Beatles!

With The Beatles!

Inggris –di mana The Beatles berasal, adalah negara yang senantiasa mengisi hari-hari saya sedari kecil. Tercatat ada tujuh figur asal Inggris yang membuat saya ingin mengunjungi Inggris, dan berikut ini adalah mereka yang terus-menerus memanggil saya.

1. The Queens’ Guard

Sewaktu duduk di Sekolah Dasar, saya merengek meminta dibelikan Nintendo kepada Papa. Namun alih-alih membelikan, Beliau malah memberikan buku kumpulan cerita pendek Hans Christian Andersen. Memberikan? Iya, buku ini adalah buku bekas milik Om, yang sudah terlalu besar untuk membaca dongeng.

Salah satu cerita yang saya sukai pada buku tersebut berjudul “The Steadfast Tin Soldier”, yang mengisahkan perjuangan seorang prajurit timah. Alkisah, dahulu ada seorang bocah yang berulang tahun dan kepadanya, dihadiahkan satu set prajurit mainan yang terbuat dari timah. Salah satu prajurit tersebut –yang dibuat dari sisa-sisa sendok timah, ternyata hanya memiliki satu kaki. Si prajurit kemudian jatuh cinta kepada gadis balerina yang juga berdiri di atas satu kaki. Namun apa disangka, goblin yang juga menyukai gadis balerina ternyata cemburu dan menyihir si prajurit sehingga terbang keluar jendela. Sebuah kisah cinta segitiga di tahun 1838.

The Steadfast TIn Soldier

The Steadfast TIn Soldier

Walaupun Hans Christian Andersen berasal dari Denmark, namun penggambaran si prajurit yang mengenakan seragam merah, dengan bayonet dan topi hitamnya yang tinggi menjulang senantiasa mengingatkan saya kepada The Queens’ Guard, –prajurit-prajurit gagah yang bertugas menjaga Buckingham Palace di Inggris. Apabila berkesempatan ke Inggris kelak, saya ingin menyaksikan upacara pergantian shift prajurit penjaga di Buckingham Palace yang berlangsung pada pukul 11:30 setiap harinya. Di dunia, mungkin inilah acara pergantian piket yang selalu disaksikan ratusan, –bahkan ribuan orang.

2. Alan Shearer

Categories: England, Events

Tagged: #InggrisGratis, Alan Shearer, Harry Potter, Madam Tussaud, Mister Potato, Royal Family, The Beatles

63 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Panduan Lengkap Mengurus Sendiri Visa Turis Australia
  • 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang

Archives

Blog Stats

  • 5,485,811 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...