backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance
Newcastle United Fans

Cerita ‘Naik Haji’ ke Newcastle (1)

arievrahman

Posted on October 7, 2021

Saya masih ingat malam itu, di pertengahan 2015, ketika sebuah pesan masuk ke akun Twitter saya. Pesannya sederhana, tidak meminta sumbangan dengan embel-embel kemanusiaan, tidak menjual akun Netflix atau Spotify dengan harga murah yang ternyata adalah hasil cracking kartu kredit, pun tidak pula menawarkan jasa open BO, melainkan hanya sebuah pertanyaan simpel yang ditujukan kepada saya, yang kurang lebih seperti ini bunyinya:

“Setelah ini, mana lagi destinasi yang ingin Mas kunjungi?”

Malam itu, saya sedang nongkrong santai di Starbucks Senayan City, sembari mengerjakan pekerjaan online yang saya dapatkan di Twitter ketika pesan tersebut masuk. Sebagai travel blogger dan seorang freelancer, pekerjaan saya saat itu adalah menjawab pertanyaan seputar traveling pada sesi Q&A yang dilakukan oleh sebuah akun Twitter agregator tiket pesawat, ya sebut saja Skyscanner; sehingga rasanya cukup terbiasa juga dengan banyaknya pertanyaan yang masuk pada malam itu.

Termasuk pertanyaan di atas, di mana sambil iseng, saya spontan menjawabnya:

“Pengin ke Newcastle. Untuk menonton bola.”

Ya, pergi ke Newcastle, di Inggris, yang tergabung di UK (United Kingdom of Great Britain) adalah impian masa kecil saya, di mana sudah sejak tahun 1996-1997 saya mengidolakan klub bodoh bernama Newcastle United ini. Iya sekarang bodoh, kalau dulu ya agak pintar karena bisa membuat top skor sepanjang masa Alan Shearer, Faustino Asprilla yang bisa melakukan hattrick melawan Barcelona, hingga Michael Owen di penghujung kariernya untuk bergabung. Menonton langsung pertandingannya di depan mata, rasanya adalah hal yang saat itu ingin sekali saya wujudkan.

Namun tentu saja terbentur biaya. Susah memang menjadi orang susah.

Ariev Rahman Newcastle

Ilustrasi pertandingan Newcastle

Obrolan malam itu berlanjut, dari yang semula saya pikir hanya basa-basi semata, ternyata menjadi lebih serius. Saya langsung mengecek jadwal pertandingan Newcastle United, dan memberikan rencana perjalanan saya kepada sang penanya misterius, ketika dia bertanya “Memangnya kalau mau pergi, rencananya kapan, Mas?” Setelah saya memberikan hal-hal yang diminta, dengan bijak dia menjawab:

“Bismillah ya Mas, kalau memang rezekinya Mas, maka akan jadi rezekinya Mas.”

Categories: England, Foreign

Tagged: FootballTicketNet, Manchester, Newcastle United, Premier League, scam, UK

6 Comments

+Read more

Let Me Tell You A Story, About My (Travel) Life in A Decade (Part Three)

arievrahman

Posted on September 20, 2021

If you are asking me “How come you can become a travel writer?” maybe I can answer that with another story about my life, back in my childhood. Dad was a researcher, and he used to write many things before he sleeps. Things that is related to his work as civil servant, of course, not things that can make him rich. Mom was also a civil servant, but she does not like to write –frankly, her handwriting is uglier than Dad’s, literally and figuratively. Her hobby –yes maybe you can guess, is traveling, or not staying at home.

Almost every weekend she asked Dad to go to Semarang, go to the mall, and I, as the minority shareholder in the house, had no option but to follow them. I remembered a time; I was in elementary school,  when I went to Semarang from Ungaran with my parents, using a motorcycle named Suzuki Crystal, back in 1992. I was a rainy day at the way back home, and I was sitting in the middle, with my Dad in front of me, and my Mom sat behind me. Facing forward, of course. When the rain got heavy, Dad stopped at the sidewalk, and wore the big brown raincoat before continued the journey. Dad used the frontside of the raincoat as a shield, and Mom gripped the backside of the raincoat, pulled it to her back, to protect me from the rain. Sometimes the rain drop into my feet, it was supposedly cold, but somehow, I feel warm inside. It was the love of my parents that kept me warm and also gave me shiver every time I remember that moment.

I grew by watching Dad writes and Mom travels, I learnt how to do those things from them. Dad always spends the night in his desk, writing, never sleep early, but always wakes up early to go to the mosque. Okay, the last part is not so me, now, but the passion for writing, umm, I think I got it from my Dad. Mom taught me about the pleasure of traveling, the enjoyable feeling when you are outside, leaving your comfort zone to experience new things. If you think that my parents is a great combo, think again, because sometimes Mom got mad at Dad, because he was too occupied with his writing things in the weekend. Yep, shopping schedule.

Read my previous story, about my (travel) life in a decade (part two)

Even though, maybe they are not the perfect combination in the world, but the combination of them can make the perfect child. Me. According to them of course. As their only son, I think that I inherited the combination of their true passions, in traveling and writing. A combination that led my way to become a travel writer, until now.

Walking Tour Moshi Tanzania

“Do you get enough money from being a travel writer?” Some people often asked me that question, and I always said that “Corruption will give you more money, or join the ponzi scheme.”. Frankly, I do not get much money from being a travel writer, but it gives me more opportunities to get more income. I can get it from writing competition, forming a travel business, and performing a talkshow about traveling and writing.

“Interesting, tell me more, about how do you fund your trip?”

“Chill, you can read it on my previous post here: Jalan-jalan Terus, Duit dari Mana? I hope it can enlighten you.”

Traveling, for me, it is one of the coolest way to spend the money. The other way, is called marriage.

Categories: Events

Tagged: decade, Travel

5 Comments

+Read more

Rumah Bintaro

Perjalanan Berliku Mencari Hunian Idaman (2) — Hal-hal yang Harus Diperhatikan Ketika Memilih Hunian Idaman

arievrahman

Posted on August 20, 2021

Beberapa bulan lalu, saya baru saja memperpanjang masa sewa rumah kontrakan saya untuk dua tahun ke depan lagi. Bagi saya, saat ini mengontrak adalah pilihan yang paling logis dibandingkan dengan membeli rumah idaman yang masih terlalu mahal harganya. Mengontrak memberikan saya pilihan untuk mencicipi hunian idaman, tanpa perlu memilikinya. Oleh karena itu, seperti halnya PPKM, masa tinggal di hunian idaman juga harus diperpanjang durasinya.

Seperti yang sudah saya ceritakan pada artikel sebelumnya, ternyata perjalanan dalam mencari hunian idaman —mulai dari indekos, membeli apartemen, hingga menyewa rumah, penuh dengan lika-likunya sendiri, juga dengan segala kendala dan pertimbangan yang ditemui di lapangan, eh, di perumahan.

Saat mencari lokasi indekos, saya tidak terlalu repot, cukup dengan mengikuti peribahasa ‘Birds With The Same Feathers Flock Together’, atau tepatnya ikut saja dengan teman satu kantor yang sama-sama berbulu, kakinya, saya sudah mendapatkan tempat yang dicari. Sebuah kamar berukuran 3×3 pada rumah indekos murah meriah dengan tarif 500 ribuan per bulan, termasuk listrik, dengan kamar tidur yang berada di luar kamar mandi.

Mudah memilih lokasi indekos, bukan berarti gampang ketika memutuskan untuk membeli apartemen. Membeli, memerlukan komitmen yang lebih tinggi, dibandingkan menyewa yang bisa dengan seenaknya berganti pilihan tanpa harus ‘dipaksa’ mencintai pilihannya. Saya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk riset, baik secara online melalui rumah.com hingga secara door-to-door mendatangi beberapa apartemen yang masuk ke dalam daftar incaran saya.

sumimasen!

Hampir sama seperti saat membeli apartemen, ketika memutuskan mencari rumah kontrakan akibat apartemen yang dirasa terlalu sempit untuk anggota keluarga yang bertambah, juga tidaklah mudah. Pada titik ini saya merasa, bahwa semakin besar hunian yang akan dicari, maka akan semakin banyak kendala yang ditemui dan pertimbangan yang akan diambil.

Categories: Events, Survival Kit

Tagged: Bintaro, rumah, Rumahcom

5 Comments

+Read more

Puncak Gunung Ungaran

Cerita Pertama Kali Naik ke Puncak Gunung Ungaran

arievrahman

Posted on July 24, 2021

Apabila ada gunung di Indonesia yang akan saya daki untuk pertama kalinya, maka gunung tersebut haruslah Gunung Ungaran –sebuah gunung setinggi 2.050 MDPL (meter di atas permukaan laut) yang senantiasa menjaga dan mengawasi diam-diam kampung tempat tinggal saya sewaktu kecil hingga beranjak dewasa –tanpa kakakku Rani tentu saja, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

“Ngopo kowe munggah gunung?” celoteh Mama, ketika saya bertanya apakah boleh saya mengikuti ajakan teman-teman untuk mendaki Gunung Ungaran ketika libur sekolah. “Aneh-aneh wae, mengko ndak ilang.“

“MAMA YANG ANEH, ANAK SUDAH KELAS SATU SMA KOK MASIH TAKUT HILANG. MEMANGNYA NASKAH ASLI SUPERSEMAR!” Saya balik menjawab, dalam hati, karena takut durhaka.

Saat itu, saya cuma bisa diam, sebelum mengunci diri di kamar dan memandangi poster Alan Shearer, sambil menangis manly. Mungkin karena bagi Mama saya adalah anak satu-satunya, walaupun bagi Dewa 19 kamulah yang satu-satunya. Sejak saat itu, impian untuk naik ke Gunung Ungaran saya kubur dalam-dalam seperti Catacomb di Paris, berganti mimpi untuk sekolah dan kuliah yang benar sesuai harapan orang tua. Agar bisa menjadi PNS, tentu saja.

Akibat peristiwa tersebut, saya menjadi beranggapan bahwa gunung adalah sebuah tempat yang menakutkan –yang bisa membuat orang hilang secara misterius seperti Widji Thukul ataupun dalang pembunuhan Munir.

Ungaran

Dua puluh tahun setelahnya, saya pulang kembali ke Ungaran dengan tujuan yang spesifik, yaitu mendaki Gunung Ungaran. Sebuah hal yang ingin sekali saya lakukan sejak remaja. Tentu saja saat itu, saya pulang setelah mewujudkan mimpi dan harapan orang tua, kuliah sudah rampung, pekerjaan tetap sudah ada, hanya memang mencintaimu yang selalu gagal.

Saya juga merasa, segala persiapan yang saya lakukan sudah cukup. Fisik sudah terbentuk akibat sering berolahraga ketika pandemi, dan perkataan bahwa gunung merupakan tempat yang menakutkan pun sedikit banyak sirna, berkat rajin mencari informasi sana-sini. Selain itu, saya juga menemukan fakta bahwa Gunung Ungaran bisa didaki tanpa perlu menginap di tenda, dan bisa pulang-pergi dalam satu hari. Cocok kan untuk orang-orang sibuk seperti saya dan Elon Musk.

Categories: Domestic, GMT +7, Jawa Tengah

Tagged: Bondolan, Gunung Ungaran, Perantunan, Puncak Botak

13 Comments

+Read more

apartemen pakubuwono terrace rumah.com

Perjalanan Berliku Mencari Hunian Idaman (1) – Dari Kostan, Apartemen, Hingga Perumahan!

arievrahman

Posted on June 17, 2021

Selama 30 tahun lebih hidup, saya sudah berpindah hunian kurang lebih sebanyak tujuh kali. Diawali dengan rumah kontrakan orang tua di Kota Semarang sebelum akhirnya berpindah ke rumah dinas yang kemudian menjadi hak milik setelah dicicil puluhan tahun di Kabupaten Semarang, yang berlanjut indekos di Bintaro semasa kuliah dan dua kali berpindah kostan di Slipi ketika awal-awal bekerja di Jakarta, sebelum akhirnya tinggal pada sebuah apartemen di pinggiran Jakarta Selatan dan sekarang menempati rumah kontrakan di daerah Bintaro.

Bagi saya, menemukan hunian idaman, atau hunian yang cocok untuk ditempati adalah sebuah perjalanan yang berliku. Hunian tersebut harus menyesuaikan kebutuhan aktual saya, harus dekat dengan lokasi tempat belajar atau kerja, serta nyaman untuk ditinggali setidaknya selama beberapa tahun. Bukankah begitu definisi hunian idaman?

Dalam perjalanan mencari hunian idaman, saya juga telah melakukan banyak sekali riset dan survei, baik secara daring melalui situs jual beli properti, bertanya ke pada sahabat dan khalayak, hingga datang langsung ke lokasi properti yang sedang saya incar untuk ditempati.

DUO Balaraja

Sejak dulu, manusia dikenal sebagai bangsa yang nomaden, yang selalu berpindah tempat tinggal dengan menyesuaikan musim dan kebutuhan hidup, yang mungkin baru akan berdiam di suatu tempat setelah mendapatkan kenyamanan atau hal-hal baru yang menguntungkan. Dimulai dari para pengembara di gurun Afrika dan Timur Tengah, lalu berlanjut ke pedagang lintas benua dari keturunan Cina dan Arab, sebelum bangsa Eropa memulai ekspedisinya untuk mencari daerah-daerah yang lebih hangat dan kaya akan sumber daya yang tidak dimiliki di negaranya yang dingin.

Selayaknya Christopher Colombus yang berlayar ke perairan Amerika untuk menemukan dunia baru pada 1492, Cornelis de Houtman yang datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah pada 1596, hingga James Cook yang tiba di Australia pada 1770 untuk mencari tanah yang subur, perjalanan saya mencari hunian idaman juga penuh liku-likunya sendiri.

Categories: DKI Jakarta, Domestic, Survival Kit

Tagged: apartemen, kostan, rumah, Rumahcom

3 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia dengan Bantuan Dwidayatour

Archives

Blog Stats

  • 5,485,364 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...