Saya masih ingat malam itu, di pertengahan 2015, ketika sebuah pesan masuk ke akun Twitter saya. Pesannya sederhana, tidak meminta sumbangan dengan embel-embel kemanusiaan, tidak menjual akun Netflix atau Spotify dengan harga murah yang ternyata adalah hasil cracking kartu kredit, pun tidak pula menawarkan jasa open BO, melainkan hanya sebuah pertanyaan simpel yang ditujukan kepada saya, yang kurang lebih seperti ini bunyinya: “Setelah ini, mana lagi destinasi yang ingin Mas kunjungi?” Malam itu, saya sedang nongkrong santai di Starbucks Senayan City, sembari mengerjakan pekerjaan online yang saya dapatkan di Twitter ketika pesan tersebut masuk. Sebagai travel blogger dan seorang freelancer, pekerjaan saya saat itu adalah menjawab pertanyaan seputar traveling pada sesi Q&A yang dilakukan oleh sebuah akun Twitter agregator tiket pesawat, ya sebut saja Skyscanner; sehingga rasanya cukup…