backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Demi Jembatan Suramadu dan Bebek Sinjay

arievrahman

Posted on July 1, 2016

Sejak kecil, nama Madura mungkin sudah melekat dekat dengan saya. Bagaimana tidak, Papa selalu membawa saya potong rambut ke tukang cukur Bangkalan – Madura yang lokasinya tepat berada di seberang sekolah, sementara Mama biasa membelikan Sate Ayam Madura yang terletak di Alun-alun Ungaran untuk makan malam. Sewaktu bekerja di Jakarta, saya juga mengetahui bahwa kebanyakan pengepul barang bekas dan pekerja jasa bongkaran rumah adalah orang Madura.

Namun, bukan hal-hal itu yang menjadi alasan saya mengunjungi Madura pada Maret 2014 silam. Ada dua alasan penting kala itu, yang pertama adalah Jembatan Suramadu, sementara berikutnya adalah Bebek Sinjay yang fenomenal.

Pernah suatu malam, Mama bercerita bahwa Beliau kemarin mengunjungi Jembatan Suramadu, dan terpesona akan kemegahan jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura itu, “Wah, jembatannya ada di atas laut. Panjaaaang banget.” Ceritanya kala itu, mengagungkan Suramadu. Saya yang belum pernah ke sana cuma bisa membayangkan, bengong, apa iya ada jembatan di atas laut. Itu jembatan apa Nabi Musa, kok membelah laut?

Kemudian tentang bebek, saya adalah seorang pengagum bebek, tentunya untuk dimakan, bukan untuk dinikahi. Bahkan, kekaguman saya pada bebek, mengalahkan kekaguman saya pada unggas lain, seperti ayam, soang, dan burung kuntul. Maka tak heran, begitu seorang kawan menawarkan untuk membawa saya ke Bebek Sinjay Madura –di sela-sela kunjungan ke Surabaya, saya pun langsung mengiyakan tawaran tersebut.

Bebek Sinjay

Sebenarnya, sudah lama saya mendengar tentang legenda Bebek Sinjay ini, berhubung banyak yang berkata seperti “Kamu harus cobain Bebek Sinjay kalau ke Madura”, “Belum ke Madura kalau belum makan Bebek Sinjay”, “Bebek Sinjay enak binggo Ya Allaaaahhhh.“, maka mau tak mau, saya pun menjadi penasaran.

Namun ternyata, perjuangan mendapatkan Bebek Sinjay yang mungkin saja merupakan hidangan bebek paling laris di dunia, tidak semudah mengunjungi Surabaya dan menyeberang ke Madura melalui Jembatan Suramadu.

Categories: Culinary, Domestic, GMT +7, Jawa Timur, Miscellaneous

Tagged: Bebek Sinjay, Madura, Suramadu

71 Comments

+Read more

Pengalaman Mengurus Visa Schengen di Kedubes Belanda

arievrahman

Posted on June 15, 2016

Apabila ada satu visa yang sedikit membuat saya lebih repot dari biasanya, maka itu tak lain tak bukan adalah Visa Schengen yang saya dapatkan dari Kedutaan Belanda. Bukan, bukan karena saat itu saya mengurusnya bersama Neng, dan wanita dikenal sebagai mahkluk yang merepotkan. Namun, karena saya terpaksa harus berkorespondensi langsung dengan staf kedutaan yang berlokasi di Kuala Lumpur via email, hingga mengakibatkan jadwal pengambilan visa saya menjadi mundur.

Loh, kok bisa? Iya, semua karena saya gaya-gayaan tidak melampirkan surat pengantar dari kantor, yang ternyata memegang peranan penting dalam pengajuan Visa Schengen ini.

Begini ceritanya.

Visa Schengen

Bermula dari tiket murah ke Eropa yang saya dapatkan dari Qatar Airways –seharga empat jutaan pulang-pergi, yang akhirnya  menjadi tiket bulan madu, karena hanya jeda beberapa hari setelah tanggal pernikahan saya dan Neng, maka mau tak mau kami pun harus mengurus Visa Schengen untuk dapat masuk ke Eropa, atau tepatnya 26 negara di Benua Eropa.

Dari artikel-artikel yang dibaca, saya mendapatkan informasi bahwa mengurus Visa Schengen ini harus dilakukan di kedutaan/perwakilan negara tempat kami mendarat pertama kali di Eropa, atau di negara tempat kami “berencana” menghabiskan waktu paling lama di perjalanan.

Pilihan tersebut akhirnya mengerucut menjadi Belanda dan Italia. Belanda karena merupakan pintu masuk kami, sementara Italia karena kami berencana menghabiskan 6 hari di sana, dari rencana perjalanan selama 11 hari. Dari hasil survey online lagi, banyak yang mengatakan bahwa untuk mengurus Visa Schengen paling mudah dilakukan melalui Kedutaan Besar Belanda.

Gagasan yang langsung dituruti oleh saya yang polos ini.

Categories: Foreign, Netherlands, Survival Kit, Visa, Visa Schengen

Tagged: Belanda, Schengen, Visa

347 Comments

+Read more

25 Alasan Melakukan Road Trip Flores

arievrahman

Posted on May 29, 2016

Seorang kawan sempat mengejek ketika mengetahui bahwa perjalanan saya mengunjungi Flores pada tahun 2012 silam, cuma berlangsung selama tiga hari, itupun cuma seputar Labuan Bajo, dan Pulau Komodo. “Ngapain lu ke Flores, kalau cuma tiga hari?” Ucapnya kala itu. “Flores, bukan cuma tentang Komodo dan Labuan Bajo.”

Sebuah ucapan yang langsung menohok saya, yang saat itu masih polos. “Memangnya ada apa saja di Flores, Bang?”

Kawan saya itu terkekeh, “Banyak yang bisa dikunjungi di Flores. Misalnya, kalau mau ngopi lu bisa ke Bajawa. Kalau mau ketemu suku asli Flores, lu bisa ke Bena atau Wae Rebo. Belum kalau lu sampai ke Kelimutu dan Maumere.”

“Kalau ketemu jodoh, Bang?” Kawan saya langsung terdiam. Dia tahu, itu adalah pertanyaan yang susah untuk dicari jawabannya saat itu.

Sejak malam itu, Flores tak lagi sama di mata saya. Flores, adalah sebuah tanah yang harus saya jelajahi inci demi inci demi menikmati kecantikan dan pesonanya. Pada kunjungan yang kedua pada tahun 2016, saya menemukan bahwa Flores bukan cuma tentang Komodo dan Labuan Bajo.

Sepanjang perjalanan bersama kawan-kawan dari Ende menuju Labuan Bajo selama sembilan hari kemarin, saya menemukan setidaknya 25 alasan mengapa kamu harus melakukan road trip di Flores.

1. Bung Karno

Bung Karno dan Pohon Sukun

Bung Karno dan Pohon Sukun Keramat

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa founding father negara kita, Bapak Ir. Soekarno –saya sebut sebagai Bung Karno supaya lebih akrab, pernah tinggal di Ende selama empat tahun selama 1934-1938. Saat itu, Beliau ‘diasingkan’ oleh Belanda karena aktivitasnya di Partai Nasional Indonesia yang dianggap membahayakan pemerintahan Hindia Belanda.

Di Ende, kamu bisa napak tilas ke tempat-tempat yang memiliki arti penting bagi Bung Karno. Seperti misalnya Rumah Pengasingan di mana Bung Karno diasingkan bersama istrinya Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami dan Ibu Mertuanya, Amsi; Katedral Ende di mana Bung Karno dulu membangun relasi dengan para pastur; juga Taman Perenungan Rendo, yang merupakan tempat favorit di mana Bung Karno suka merenung di bawah pohon sukun bercabang lima, yang kelak hasil renungannya ini melahirkan butir-butir mutiara kebangsaan yang menjadi pokok pikiran Pancasila, yang merupakan dasar negara Indonesia.

Categories: Domestic, GMT +8, Nusa Tenggara Timur, Transportation

Tagged: Bajawa, Bena, Ende, Flores, Kelimutu, Labuan Bajo, NTT, Riung, Wae Rebo

148 Comments

+Read more

Legenda Asal-Usul Kampung Wae Rebo

arievrahman

Posted on May 13, 2016

Ini adalah sebuah legenda, yang mungkin tak semua orang yang berkunjung ke sana mengetahuinya. Sebuah legenda turun-temurun yang aku dapatkan langsung dari generasi ke-19 keturunannya. Sebuah legenda tentang kampung di atas awan bernama Wae Rebo, atau tepatnya, sebuah legenda tentang seorang pria yang berasal dari Tanah Minang, bernama Maro.

[Tanah Minang? Tapi bukankah Wae Rebo itu terletak di Manggarai, Flores?]

Nah, itulah bagian menarik dari legenda ini yang akan aku kisahkan, mohon sabar dulu kawan, karena kisah ini akan segera dimulai. Dan, sama seperti legenda-legenda yang lain, aku akan memulai kisah ini dengan kalimat pada suatu hari.
Wae Rebo

Pada suatu hari, di Tanah Minangkabau yang subur, tersebutlah seorang pemuda tampan, pintar, dan karismatik yang bernama Maro. Maro yang saat itu sedang mencari jati diri, mempunyai sebuah hobi yang cukup keren di masanya, yaitu melakukan taruhan adu kerbau. Sebuah hobi yang katanya kalau kalah berarti dosa, namun kalau menang, ya Alhamdulillah. 

Di pertarungan terakhirnya, dikisahkan bahwa kerbau milik Maro memenangi pertandingan dengan menang KO setelah membuat kerbau milik lawannya tersungkur mencium tanah. Lawan yang kalah ternyata tak terima; dia menuduh Maro bermain curang, dan setelah mendapat dukungan dari orang-orang sekampung, dia mengancam akan membunuh Maro.

Maro yang terdesak, kemudian memutuskan untuk melakukan sebuah hal yang biasa dilakukan pemuda Minang yang beranjak dewasa: Merantau, dan mungkin saja berencana mendirikan Rumah Makan Padang di daerah tujuannya.

[Merantau, atau kabur nih?]

Tepatnya, Maro pergi berlayar demi keselamatannya.

Dalam perjalanannya ke arah timur, atau berlawanan dengan Kera Sakti yang bergerak ke arah barat, Maro sempat singgah di Gowa, Sulawesi, sebelum berpindah lagi ke arah selatan, menuju sebuah Pulau bernama Flores. Di Flores, Maro singgah di Bajo, kemudian Wara Loka, sebelum memutuskan untuk berlayar ke selatan pulau karena tidak kerasan, dan berdiam ke suatu daerah bernama Nangapaang, yang lokasinya saat ini berada di dekat Dintor.

Hingga pada suatu hari, Maro melihat asap dari arah gunung.


Dintor

Road to Wae Rebo from Dintor

Pada sebuah siang yang sangat terik, saya berangkat beserta ketujuh teman perjalanan saya yang imut-imut itu ke Wae Rebo, sebuah kampung yang terletak di balik pegunungan di Manggarai, Flores, pada ketinggian sekitar 1.200 meter dari permukaan laut.

Perjalanan tersebut ternyata tidak dapat dibilang mudah, karena kami harus berpindah-pindah moda transportasi, mulai dengan menggunakan mobil sewaan dari Ruteng menuju Dintor yang melewati Kampung Todo, berpindah lagi dengan menggunakan truk lokal menuju Denge, sebelum akhirnya berjalan kaki menuju Wae Rebo sejauh kurang lebih 5 kilometer dengan kondisi trek yang terjal menanjak, menyusuri rain forest di selatan Flores.

Categories: Domestic, GMT +8, Nusa Tenggara Timur

Tagged: Flores, NTT, Wae Rebo

108 Comments

+Read more

Double Mamacation: Waktunya ke(m)Bali

arievrahman

Posted on May 7, 2016

Sejak Papa meninggal, ada satu cita-cita yang selalu ingin saya wujudkan tiap tahunnya, yaitu melakukan Mamacation, atau mengajak Mama jalan-jalan ke tempat yang belum pernah Mama kunjungi, sekaligus sebagai kado ulang tahunnya. Sebelum-sebelumnya, saya sempat mengajak Mama ke Singapura, Malaysia, dan Thailand. Namun, pada awal 2014, saya dilanda kebimbangan, tahun ini ajak Mama ke mana lagi ya?

Sebenarnya kalau dana dan jumlah cutinya banyak, saya tak akan menjadi masalah. Mengajak Mama ke Djibouti pun hayuk! Namun pada saat itu, saya dilanda kebimbangan: Dana yang menipis, karena terlalu banyak foya-foya dan jumlah cuti yang mepet karena keseringan dipakai untuk jalan-jalan sendiri.

Saya yang bingung, mulai memutar otak, berpikir bagaimana caranya menggunakan sumber daya yang terbatas untuk membahagiakan orang tua. Hingga sya tiba pada sebuah keputusan, tak perlu lah jauh-jauh ke luar negeri, yang penting Mama senang. Hingga pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengajak Mama ke Bali dengan bermodal tiket pesawat murah, dan voucher hotel bintang lima gratisan di pinggir pantai yang saya dapat karena pekerjaan.

Untuk menambah tantangan dan keseruan, saya mengajak pula Ibunya Mama (berikutnya akan disebut ‘Ibu’), dengan harapan Ibu akan senang apabila diajak jalan-jalan, dan kami (saya dan Mama, bukan saya dan Ibu.) akan mendapat pahala dan kasihnya.

Dan, dimulailah perjalanan ‘Double Mamacation’ ini dari lobi hotel mewah gratisan.

 

Double Mamacation

Double Mamacation is about to begin~

Bali, tak dapat dipungkiri adalah destinasi wisata paling mainstream di Indonesia. Siapa sih orang Indonesia yang tak pernah ke Bali? Banyak. Bahkan study tour SD saya saja sudah ke Bali. Namun anehnya, walaupun sering dikunjungi, banyak yang tak pernah bosan untuk selalu ke(m)Bali.

Bahkan, bagi saya, selalu ada yang baru ketika mengunjungi Bali.

Categories: Bali, Domestic, GMT +8, Mamacation

Tagged: Bali, Huawei, Mamacation

64 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!
  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,706 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...