backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Panduan Mendapatkan Izin Masuk Bebas Visa Taiwan untuk Wisatawan Indonesia

arievrahman

Posted on February 15, 2017

Ketika mendengar nama Taiwan, hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah serial drama “Meteor Garden”, yang dibintangi oleh Barbie Hsu dan F4 (Jerry Yan, Vic Zhou, Vanness Wu, dan Ken Chu). Serial yang diangkat dari komik Jepang “Boys Over Flowers” atau “Pria-pria Berbunga” ini sempat menjadi serial wajib tonton di Indonesia pada saat saya duduk di bangku SMA.

Sebagai pria tanggung yang polos, pada awalnya, saya tidak tahu-menahu tentang “Meteor Garden”, sebuah topik bahasan yang kerap dibicarakan para gadis-gadis lugu di sekolah. Hingga akhirnya, salah seorang kawan mengatakan bahwa “Meteor Garden” adalah sebuah serial Taiwan yang sedang rutin ditayangkan di Indosiar kala itu. Penasaran, saya mencoba menonton serial yang mengisahkan San Chai, seorang gadis cantik yang terperangkap dalam drama yang terjadi diantara empat orang pria, yang tak kalah cantiknya. Dari yang mulanya skeptis terhadap “Meteor Garden”, hingga akhirnya saya bingung memilih antara Dao Ming Shi dan Hua Zhe Lei, manakah yang lebih ganteng.

Di Indonesia, saking larisnya “Meteor Garden” kala itu, sampai-sampai dibuat sinetron lokal yang dikatakan ‘terinspirasi’ dari “Meteor Garden” berjudul “Siapa Takut Jatuh Cinta” yang dibintangi oleh Leony Vitria Hartanti, Indra Bruggman, Roger Danuarta, Steve Emmanuel, dan Jonathan Frizzy.

F4 Taiwan

Kalau kamu tahu mereka, mungkin kita seumuran.

Sebagai Warga Negara Indonesia yang ingin berwisata ke negeri Meteor Garden, Taiwan (atau dalam bahasa resmi disebut Republic of China), ada satu keuntungan dan kemudahan yang kita miliki, yaitu adanya izin masuk bebas visa yang dapat kita peroleh gratis dengan sebuah persyaratan cukup simpel.

Mengurus Izin Masuk (Bebas Visa) Taiwan untuk Wisatawan Indonesia yang Memiliki Visa atau Izin Tinggal dari Amerika, Kanada, Jepang, Korea, Australia, New Zealand, United Kingdom, dan Uni Eropa (Schengen) yang Masih Berlaku

Ya, apabila kamu memiliki visa atau izin tinggal dari Amerika, Kanada, Jepang, Korea, Australia, New Zealand, United Kingdom, dan Uni Eropa (Schengen) yang masih berlaku, sebenarnya tidak perlu repot untuk mendaftar Visa Taiwan, karena kamu bisa mendapatkan izin masuk ke Taiwan hanya dalam waktu 10 menit, gratis, cukup dengan mengisi formulir online di website National Immigration Agency of Taiwan.

Categories: Survival Kit, Taiwan, Visa, Visa Taiwan

Tagged: Bebas Visa Taiwan, Taiwan, Visa Taiwan

84 Comments

+Read more

Menyusup ke Nusa Kambangan

arievrahman

Posted on February 9, 2017

Perlahan, sebuah kapal kecil milik Departemen Kehakiman dan HAM bergerak menyeberangi Selat Segara Anakan, dari Pelabuhan Wijayapura di Kota Cilacap. Langit yang cerah menambah keyakinan bahwa situasi pagi itu akan baik-baik saja. Di atas kapal bernama Pengayoman tersebut, terdapat saya, Dani, Pak Ponco, dan Bang Edi bersama para penumpang lainnya, juga beberapa buah sepeda motor warna hitam yang ikut menyeberang sebagai penumpang gelap. Tujuan saya pagi itu jelas, “menyusup” ke salah satu pulau terluar Indonesia, yang juga dikenal sebagai Alcatraz-nya Indonesia, yaitu Nusa Kambangan.

Perjalanan menyeberangi Segara Anakan sebenarnya tidak memakan waktu lama, sekitar 15 menit saja, dengan kondisi arus yang tenang, tidak ganas seperti waktu musim hujan di Phuket, namun entah kenapa semakin mendekat ke pulau, semakin berdebar-debar degup jantung saya.

Apakah ini perasaan yang wajar, mengingat Nusa Kambangan adalah pulau tempat penjara/lapas dengan tingkat keamanan maksimal di Indonesia, yang ditujukan untuk para narapidana kelas berat, untuk kasus seperti narkoba, terorisme, hingga pembunuhan berencana. Tidak ada yang dipenjara di sini hanya karena menolak perasaan cinta seseorang.

“Sebentar lagi, kita akan sampai.” Tukas Pak Ponco. Sementara dari kejauhan saya melihat tulisan “PERMASYARAKATAN NUSA KAMBANGAN” di gerbang masuk pulau. Akhirnya, saya akan sampai di sini, setelah pada hari sebelumnya saya gagal tiba karena kesiangan dan tidak mendapat kapal yang menyeberang ke sana.

Untungnya, pada hari sebelumnya, saya mengalihkan kunjungan tersebut ke (pulau) Nusa Kambangan (bagian) Timur, yang memang dibuka untuk umum guna kepentingan pariwisata.


“Meng!” Sebuah suara yang pernah saya kenal, memanggil saya dari belakang. Panggilan Meng, atau Cemeng, yang berarti anak kucing, sempat melekat pada saya dari mulai SD hingga kuliah. Sebenarnya bisa saja saya tidak menoleh, mengingat bisa saja penggilan tersebut ditujukan pada Komeng atau Tao Meng Tse, namun reflek membuat saya seketika berbalik badan, dan melihat sebuah wajah yang familiar.

“Cemeng, to?” Tanya pria tersebut, yang berikutnya saya kenali sebagai Adie, teman SMA saya.

“Lho, kowe tho, Ndes?” Oh, kamu rupanya, kawan? Jawab saya, sedikit kaget, dari sekian banyak tempat di Indonesia, mengapa bisa bertemu dengannya di Nusa Kambangan Timur. Kenapa bukan di Istiqlal, atau Raja Ampat sekalian? “Piye kabare?” Apa kabarmu? Saya bertanya.

“Apik-apik.” Baik-baik, jawabnya. “Kowe piye? Dalam rangka opo mrene, Ndes?” Kamu bagaimana kabarnya, ada gerangan apakah ke sini, wahai pria tampan?

Nusa Kambangan Timur

Berikutnya, saya menceritakan secara singkat, tentang apa yang membawa saya sampai ke Nusa Kambangan Timur. Bagaimana saya yang sebenarnya berencana menyusup ke penjara Nusa Kambangan, namun kesiangan berangkat dari Purwokerto, hingga akhirnya tiba di Nusa Kambangan Timur.

Categories: Domestic, Jawa Tengah

Tagged: Cilacap, Lapas, Nusa Kambangan, Permisan

41 Comments

+Read more

Tokyo

9 Pengalaman Liburan Menakjubkan di Jepang

arievrahman

Posted on January 31, 2017

Lima tahun sudah, sejak pertama dan terakhir kali saya menginjakkan kaki di Jepang, yang kemudian menjadi salah satu destinasi wisata favorit saya di Asia. Saat itu adalah musim gugur, dan selama kurang lebih delapan hari perjalanan, saya bersama kedua orang teman, telah menginjakkan kaki ke beberapa kota di Jepang seperti Tokyo, Kyoto, Osaka, Hiroshima, juga Toyama.

Perjalanan kala itu dimulai dengan mendarat tengah malam di Tokyo, menginap di bandara Haneda, sebelum akhirnya mengunjungi Kawaguchiko. Berikutnya, kami menggunakan bus malam ke Hiroshima, dan menyempatkan untuk mampir ke Miyajima Island, tempat floating torii berada. Setetelahnya, kami berpindah ke Osaka, dan sempat melakukan day trip ke Mie dan Nara, sebelum akhirnya bermalam di Kyoto yang kuno dan cantik. Dari Kyoto, kami kembali lagi ke Tokyo, untuk transit sebelum ke Toyama, dan kembali lagi ke Tokyo di hari berikutnya.

Padat kan? Namanya juga flashpacker.

dscn9120

Baca: 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang
Download Itinerary Jepang di halaman ini

Dalam perjalanan singkat, padat, dan sangat memorable tersebut, saya mengalami banyak sekali peristiwa yang menyenangkan, sekaligus menakjubkan. Mulai dari bertemu ninja, mencicipi sushi langsung dari negara asalnya, mendapat pertolongan dari warga lokal, hingga berfoto bersama gadis-gadis Jepang yang lucu dan kawaii. Berikut ini, saya pilihkan sembilan di antara sekian banyak pengalaman tersebut.

Bertemu Ninja di Mie

Sebagai pembaca Naruto dan penonton setia anime Ninja Hattori serta Rantaro, Kirimaru, dan Shinbei, bertemu ninja adalah impian saya sejak dulu. Sebuah impian yang akhirnya terwujud ketika mengunjungi Jepang pada 2012, dan pergi ke Museum Ninja Iga-ryu di Mie. Tenang, saya tidak perlu mendaki gunung, lewati lembah untuk tiba di sana, melainkan cukup menggunakan kereta dari Osaka, melewati sungai mengalir indah ke samudera. 

Categories: Events, Foreign, Japan

Tagged: HIS Travel Indonesia, Japan, Jepang, Sakura

103 Comments

+Read more

Tentang Memasuki Timor Leste Melalui Udara dan Mudahnya Mendapatkan Visa on Arrival Timor Leste

arievrahman

Posted on January 22, 2017

Setelah mengkhatamkan ASEAN beberapa tahun silam, ada satu negara tetangga yang masih menggelitik nafsu jalan-jalan saya, yaitu Timor Leste. Secara geografis, Timor Leste yang terletak di wilayah Asia Tenggara ini, belum terdaftar  sebagai negara anggota ASEAN, hingga saat artikel ini ditulis. Bahkan secara histori, Timor Leste dahulunya adalah wilayah Indonesia, walaupun sekarang sudah menjadi mantan, yang baik-baik saja.

Orang berkata, ada dua kemungkinan mengapa bisa baik-baik saja dengan mantan. Yang pertama adalah karena masih cinta, sementara yang berikutnya adalah karena memang tidak pernah ada perasaan cinta. Untuk hubungan Indonesia dengan Timor Leste, saya yakin adalah karena masih saling cinta.

Karena peristiwa masa lalu yang kurang mengenakkan antara Timor Leste dan Indonesia, saya sempat sedikit was-was, bagaimana kalau kedatangan saya ke sana justru dianggap sebagai penjajah yang datang kembali. Namun semua berubah, ketika saya justru mendapatkan keramahan dan ketulusan khas wilayah timur Indonesia di sana. Saya sempat bertanya kepada warga lokal, dengan bahasa Indonesia, tentang “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Indonesia?” dan jawabannya sangatlah mengesankan.

“Indonesia adalah saudara kami.” Jawab mereka. Sebuah jawaban yang membawa kesejukan di hati.

Sebenarnya, rencana mengunjungi Timor Leste sudah saya canangkan sejak tahun 2014, namun berhubung minimnya jatah cuti, dan terpakainya tabungan untuk urusan lain (baca: merencanakan pernikahan), maka saya baru bisa mewujudkan rencana tersebut dua tahun kemudian.

Memasuki Timor Leste Melalui Udara

Ada dua metode yang lazim digunakan Warga Negara Indonesia untuk memasuki Timor Leste, yang pertama adalah melalui jalur darat di Atambua, Nusa Tenggara Timur, sementara yang kedua adalah menggunakan jalur udara dengan penerbangan langsung ke Dili, ibu kota Timor Leste.

Saat itu, karena alasan efisiensi waktu, saya dan Neng, memilih menggunakan jalur udara, dengan menunggangi Citilink sebagai sarana transportasinya.

Citilink Timor Leste
Citilink Timor Leste
Catatan: Selain Citilink, ada juga Sriwijaya Air yang melayani penerbangan ke Dili; keduanya sama-sama transit di Denpasar, tidak langsung terbang dari Jakarta.

“Penumpang bisnis, atau ekonomi, Pak?” Tanya seorang petugas di bandara, yang langsung membuyarkan lamunan saya tentang mengapa Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ini masih lebih keren daripada Terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta.

Categories: Foreign, Timor Leste, Visa, Visa Timor Leste

Tagged: Dili, Timor Leste, VOA Timor Leste

89 Comments

+Read more

Cemberlitas Hamami Istanbul: Pilih Mandi Sendiri atau Dimandikan?

arievrahman

Posted on January 15, 2017

Pagi yang dingin itu, saya duduk pada sebuah bangku di Cemberlitas Square sambil memerhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar Column of Constantine –atau lebih dikenal sebagai Burning Column, yang merupakan sisa-sisa kejayaan bangsa Romawi di Turki. Pria-pria bersetelan rapi lewat tergesa, seorang bapak tua beruban sabar menjajakan roti simit, sementara puluhan burung dara asyik terbang dan hinggap sesuka hati mereka di lapangan.

Di belakang saya, berdiri dengan megah Atik Ali Pasha Mosque mendampingi Ali Baba Mausoleum, sementara di seberang jalan, terdapat beberapa buah bangunan dengan fungsinya masing-masing. Ada sebuah kafe yang baru buka, barber shop yang sepertinya sedang melayani pelanggan pertamanya, toko oleh-oleh Turkish Delight yang sudah siap mencari segenggam berlian dan segepok Lira, juga ada sebuah hammam yang kelihatan masih sepi pengunjung.

Sebuah hammam, hamam atau hamami dalam bahasa Turki, adalah sebuah pemandian umum, yang sebenarnya, menjadi tujuan kedatangan saya ke Cemberlitas hari itu. Ehem.

Cemberlitas Hamam

Hamam –Turkish Bath, adalah sebuah pemandian umum yang digunakan penduduk Turki dalam kehidupan sehari-harinya. Nama ‘hammam’ sendiri, berasal dari kata dalam bahasa Arab, yaitu ‘ham’ yang berarti panas, sementara dalam bahasa setempat, Hammam bisa berarti ‘spreader of warmth’. Penyebar kehangatan, ya, bukan pemberi kehangatan seperti selingkuhan.

Melalui sejumlah besar air yang dipanaskan, uap yang terbentuk dari air mendidih tersebut akan bergerak menembus lubang-lubang kecil di dinding dan langit-langit ruangan, sehingga kehangatan dapat menyebar ke seluruh penjuru hammam.

Categories: Foreign, Turkey

Tagged: Cemberlitas Hamami, Hammam, Istanbul, Turkey, Turkish Bath

65 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Ini Rasanya Naik Pesawat Business Class!
  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,637 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...