Perlahan, sebuah kapal kecil milik Departemen Kehakiman dan HAM bergerak menyeberangi Selat Segara Anakan, dari Pelabuhan Wijayapura di Kota Cilacap. Langit yang cerah menambah keyakinan bahwa situasi pagi itu akan baik-baik saja. Di atas kapal bernama Pengayoman tersebut, terdapat saya, Dani, Pak Ponco, dan Bang Edi bersama para penumpang lainnya, juga beberapa buah sepeda motor warna hitam yang ikut menyeberang sebagai penumpang gelap. Tujuan saya pagi itu jelas, “menyusup” ke salah satu pulau terluar Indonesia, yang juga dikenal sebagai Alcatraz-nya Indonesia, yaitu Nusa Kambangan. Perjalanan menyeberangi Segara Anakan sebenarnya tidak memakan waktu lama, sekitar 15 menit saja, dengan kondisi arus yang tenang, tidak ganas seperti waktu musim hujan di Phuket, namun entah kenapa semakin mendekat ke pulau, semakin berdebar-debar degup jantung saya. Apakah ini perasaan yang…