Pagi yang dingin itu, saya duduk pada sebuah bangku di Cemberlitas Square sambil memerhatikan orang-orang yang lalu lalang di sekitar Column of Constantine –atau lebih dikenal sebagai Burning Column, yang merupakan sisa-sisa kejayaan bangsa Romawi di Turki. Pria-pria bersetelan rapi lewat tergesa, seorang bapak tua beruban sabar menjajakan roti simit, sementara puluhan burung dara asyik terbang dan hinggap sesuka hati mereka di lapangan. Di belakang saya, berdiri dengan megah Atik Ali Pasha Mosque mendampingi Ali Baba Mausoleum, sementara di seberang jalan, terdapat beberapa buah bangunan dengan fungsinya masing-masing. Ada sebuah kafe yang baru buka, barber shop yang sepertinya sedang melayani pelanggan pertamanya, toko oleh-oleh Turkish Delight yang sudah siap mencari segenggam berlian dan segepok Lira, juga ada sebuah hammam yang kelihatan masih sepi pengunjung. Sebuah hammam, hamam…