“Sorry.” Ucap seorang pria yang berada di dalam loket imigrasi Azerbaijan pada hadapan saya. Dengan kumis tebal, mata belo, dan seragam militer yang berwarna hijau lumut siapa saja mungkin gentar apabila berhadapan dengannya. “Indonesian is not allowed to use e-Visa here.” “What?” Saya menatap matanya sekilas, ganteng juga, tapi maaf, saya sudah beristri. “I am sorry?” “Yes, Indonesian is not allowed to enter Georgia, using e-visa.” Ucapnya lagi, sambil mengembalikan paspor milik saya dan Adi, rekan seperjalanan saya kali ini. Dari Azerbaijan, kami berencana untuk meneruskan perjalanan ke Georgia selama dua hari satu malam, sebelum lanjut lagi ke Armenia selama empat hari tiga malam dan kembali ke Indonesia via Iran. Setelah menempuh jalur darat selama sembilan jam dari Baku dan mengantre loket imigrasi sejak…