backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Parade Kuliner di Festival Teluk Jailolo

arievrahman

Posted on August 4, 2014

Begitu menginjakkan kaki di Jailolo, saya dan rombongan media Festival Teluk Jailolo langsung digiring masuk ke dalam bus kecil milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Saya masih tak tahu akan dibawa ke mana –sambil berharap akan dibawa ke kost-kostan putri, hingga akhirnya bus tersebut berhenti pada pelataran sebuah bangunan besar yang nampak seperti sebuah gudang penyimpanan.

Berikutnya, kami dituntun ke sebuah rumah yang terdapat pada ujung gang. Sebuah rumah kayu dengan kolam-kolam yang surut dan pemandangan laut Halmahera di kejauhan yang dilengkapi beberapa ekor burung nuri yang bertengger pada rumahnya. “Ini rumah milik Ibu Fauziah.” Salah seorang pemandu menjelaskan. “Ini akan jadi basecamp kalian selama di Jailolo.” dan dia pun menujuk ke arah meja panjang tempat beberapa wadah makanan lokal disajikan.

“Ayo makan dulu.” Ajaknya. “Habis ini, kalian akan diantar ke homestay, sebelum kumpul lagi di area panggung festival siang nanti.”

Untuk makan lagi.

Gelar Kuliner Halmahera

Di area panggung, saya disambut oleh Kak Ria, yang membagikan lembaran voucher yang dapat ditukarkan ke booth-booth makanan tradisional yang tersedia. Bagai kucing diberi ikan asing, bagai om-om digoda ABG unyu gemetz, dan bagai anak kost-kostan yang jarang makan enak, saya menerima voucher tersebut dengan tangan terbuka, dan masih berharap keajaiban dapat mengubah voucher tersebut menjadi voucher MAP.

Gelar Kuliner Halmahera

Gelar Kuliner Halmahera

Gelar Kuliner Halmahera, merupakan ajang berkumpulnya berbagai elemen masyarakat setempat di sekitar Jailolo yang melibatkan 9 kecamatan dan menampilkan sebanyak 82 kuliner khas Halmahera Barat yang bergizi. Sajian kuliner yang disajikan di sini antara lain adalah Gohu Ikan (ikan mentah yang dipotong dadu dan dicampur dengan bumbu kenari, bawang, dan potongan cabai), Boko Boko (nasi ketan yang dibakar dalam bambu, dan dicampur dengan ikan, singkong, dan kelapa parut), juga pisang mulut bebek (khas Halmahera Barat) yang dimasak dengan santan.

This slideshow requires JavaScript.

“Rif, sudah ketemu Ramon, belum?” Tanya Dina, saat saya masih celingukan mencari apa yang bisa dimakan di sana.

Saya menggeleng “Belum.” Kemudian Dina mengarahkan saya ke arah seorang pria gempal berkaus sport biru dengan jambang, topi, dan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya. Sebuah wajah yang sepertinya tak asing buat saya.

Atau mungkin, jangan-jangan kami adalah saudara jauh.

Categories: Culinary, Domestic, Events, Maluku Utara

Tagged: Festival Teluk Jailolo, Gelar Kuliner Halmahera, Jailolo, kuliner, Maharasa, Orom Sasadu, Pisang Mulut Bebek

35 Comments

+Read more

Mamacation: Ocean Park, Ramadhan, dan Musim Panas di Hong Kong.

arievrahman

Posted on July 20, 2014

Salah satu tantangan bepergian ke luar negeri pada Bulan Ramadhan adalah sulitnya mencari makan sahur. Dan hal itulah yang saya dan Mama alami di Hong Kong pada pertengahan 2013 silam. Hotel The Park Lane tempat kami menginap tidak menyediakan sahur sebagai pengganti sarapan, dan kami tidak mungkin membatalkan puasa hanya gara-gara tidak makan sahur. Terlalu murah iman kami jika digadai dengan itu, tapi boleh lah kalau ditambah dengan sebuah iPad.

Dan solusinya adalah, kami makan di tengah malam, saat restoran-restoran di Hong Kong belum menutup tirai dan menghitung untung yang didapatnya hari itu. Dan pilihan kami jatuh pada sepiring Chili Crab di Temple Street yang melegenda itu.

Chili Crab Temple Street

Chili Crab Temple Street Hong Kong

Lalu bagaimana dengan Bulan Ramadhan yang dipadukan dengan musim panas? Kami menyiasatinya dengan makan sahur di tengah malam dan pergi berwisata ke tempat yang namanya terdengar segar, yaitu Ocean Park.

Dan ternyata siasat kami salah, karena hari itu suhu udara Hong Kong menembus 39ºC.

***

Pagi harinya, kami telah rapi mengantre City Bus Route 629 di halte yang terletak di Admiralty MTR Station. Bus tersebut akan langsung  mengantarkan kami ke Ocean Park, menembus Aberdeen Tunnel. Dan saat kami tiba di sana, telah banyak orang-orang yang berdesakan untuk masuk. Untung saja, sebelumnya saya telah membeli tiket masuk secara online, sehingga kami tidak perlu mengantri di loket untuk membeli tiket seperti P-Project. Tinggal masuk melewati pintu gerbang yang tersedia.

Tapi sebelumnya, tentu saja, kami berfoto dulu di depan Ocean Park.

Ocean Park

Ocean Park’s front gate.

Lalu kami masuk ke Ocean Park, dan ternganga melihat kemegahannya.

Categories: Foreign, Hong Kong, Mamacation

Tagged: Chili Crab, Hong Kong, Ocean Park, Panda, Ramadhan di luar negeri, summer, Temple Street

37 Comments

+Read more

Lima Cara Hipster Menikmati Tokyo

arievrahman

Posted on July 17, 2014

Bagi kebanyakan orang, berwisata ke Tokyo biasanya identik dengan berbelanja di Ginza, mengunjungi teater AKB 48, menyeberang Shibuya, berfoto bersama Hachiko, maupun mengunjungi kuil Asakusa. Namun tahukah kamu, jika Tokyo masih menyimpan berbagai pilihan atraksi untuk dinikmati? Yang tentunya tidak akan sama dengan kebanyakan orang.

Pada kunjungan terakhir ke Tokyo, saya mengesampingkan aktivitas-aktivitas mainstream yang biasa dilakukan banyak orang di Tokyo, dan memutuskan untuk mengubah rencana perjalanan menjadi sebuah rencana yang lebih unik. Sebuah rencana perjalanan yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh kaum urban dewasa yang memiliki ketegasan dalam menentukan rencana perjalanan ke spot-spot wisata tidak umum yang terdapat di Tokyo.

Saya menyebut rencana perjalanan tersebut sebagai, rencana perjalanan seorang hipster yang memiliki semangat decisiveness untuk meninggalkan atraksi mainstream dan memilih melakukan hal-hal yang terbilang tidak umum di Tokyo. Dan inilah 5 (lima) cara hipster menikmati Tokyo, yang tentu saja terdapat dalam rencana perjalanan saya.

1. Mengunjungi Adult Shop

Adult Shop Akihabara

Adult Shop Akihabara

Apabila sebagian orang berpendapat bahwa adult shop adalah tempat yang tabu dan tidak pantas untuk dikunjungi karena porno, maka saya beranggapan bahwa tempat ini adalah sebuah tempat yang mengedukasi (layaknya museum) dan masuk ke dalam must visit destination jika kamu berkunjung ke Tokyo.

Terletak di salah satu sudut Akihabara –di samping SEGA store, bangunan setinggi lima lantai bertuliskan Love Merci: Adult Amusement Park ini memiliki keunikan tersendiri pada tiap lantainya.

  1. Lantai 1, menampilkan koleksi busana-busana cosplay yang sangat seksi dan dapat menggoda iman lelaki apabila dikenakan dengan baik oleh wanita yang tidak baik-baik.
  2. Lantai 2, merupakan lantainya wanita, yang menjual berbagai alat pemuas kebutuhan seks wanita, mulai dari dildo, vibrator, hingga silver bullet.
  3. Lantai 3, merupakan lantainya pria –di mana wanita dilarang masuk, yang menyajikan macam-macam alat pemuas kebutuhan seks pria, seperti tenga, payudara palsu, dan vagina buatan.
  4. Lantai 4, menghadirkan berbagai barang porno untuk dikoleksi, seperti majalah, DVD, hingga yang paling mencengangkan adalah celana dalam wanita curian.
  5. Lantai 5, memajang berbagai boneka wanita berskala 1:1 yang dapat dikustomisasi sesuai keinginan pembelinya, mulai dari warna kulit, panjang rambut, hingga ukuran alat vitalnya.

So, tinggalkan teater AKB 48 yang imut karena mengunjungi adult shop dapat membuatmu lebih dewasa dan teredukasi.

2. Menikmati Sushi Mentah di Pasar Ikan

Categories: Foreign, Japan

Tagged: adult shop, Diver City, Gundam, hotel kapsul, Odaiba, Onsen, Shinjuku Green Plaza, Sushi, Tokyo, Tsukiji Fish Market

59 Comments

+Read more

Mati Kekenyangan di Pekanbaru

arievrahman

Posted on July 12, 2014

Ada tiga usulan ketika saya menanyakan ke beberapa kawan tentang apa saja hal yang bisa saya lakukan di Pekanbaru, usulan yang pertama adalah makan, lalu makan, dan makan. Memang, bagi banyak kalangan, Pekanbaru dikenal sebagai surganya kuliner –selain tempat yang terkena bencana asap beberapa waktu lalu, maupun sebagai pusat industri di Propinsi Riau.

Sesaat setelah Tiger Air Mandala mendarat di Bandara Sultan Syarif Qasim II, saya langsung berkata kepada Mas Kurnia, driver yang akan menemani saya selama perjalanan ini “Ke Rumah Makan Cuik!” alih-alih “To the Bat Cave!“. Rumah Makan Cuik adalah satu diantara banyak rekomendasi yang saya dapatkan mengenai tempat kuliner di Pekanbaru, dan rumah makan kecil yang terkenal dengan gulai baung, ayam kampung goreng, dan udang gorengnya ini sudah tutup pada saat saya tiba di pelatarannya.

Sial.

Tak habis akal, saya menelepon Mbak Hesty yang memang tinggal di Pekanbaru, tujuannya, ya apa lagi selain mencarikan solusi untuk mengisi perut yang memang sudah kelaparan sejak berangkat dari Jakarta tadi. Dan dia menyarankan untuk mengunjungi…

Lontong Ceker Longsor

Tak lama setelah itu, mobil sudah berhenti di sebuah warung kecil di tepian Jalan Sam Ratulangi. Letak warungnya sedikit menjorok ke bawah dari sisi jalan, sementara sebuah spanduk partai yang juga digunakan sebagai penanda warung ini terpampang rapi di depan. Sebuah spanduk bertuliskan “Lontong Ceker ‘Buk Ar’ LONGSOR” yang ditulis dengan font mirip Curlz MT, sementara di bawahnya terpampang foto seorang calon legislatif PPP yang membentuk simbol hati dengan kedua tangannya. Seorang pria berjenggot dan berkumis yang sok imut, yang mengatakan “Indahnya Kebersamaan”.

Saya memesan tiga porsi lontong ceker lengkap kepada sang ibu penjual, satu untuk saya, satu untuk Mas Kurnia, dan satu lagi untuk Agung, videographer yang ikut bersama saya di perjalanan kali ini.

Lontong Ceker Buk Ar Longsor

Lontong Ceker Buk Ar Longsor

Berikutnya, sepiring lontong ceker pun tersaji. Terdiri dari lontong yang dipotong dadu, disiram kuah gulai, yang dicampur mie kuning. Di tepiannya diletakkan beberapa potong cakar ayam yang makin menggoda dengan balutan saus merahnya, sementara kerupuk merah diremas dan ditabur sebagai topping. Masih belum cukup, saya mengambil kerupuk jengkol yang tersedia di toples, dan rasanya, wow, pahit.

Categories: Culinary, Domestic, Riau

Tagged: Bihun Bebek A Hwa, Fifa Pondok Durian, Ikan Bakar Cendana, Kedai Kopi Sahabat, kuliner, Lontong Ceker Longsor, Mi Sei Rempah Rajawali, Pekanbaru, Rumah Makan Cuik, Rumah Makan Pondok Danau, Sate Rusa Era 51, Tiger Air Mandala

89 Comments

+Read more

Travel Blogging untuk Berbagi

arievrahman

Posted on July 5, 2014

Sama seperti tim panser Jerman, saya adalah orang yang lambat panas. Misalnya dalam sebuah pembicaraan, saya harus dipancing terlebih dahulu sebelum ceplas-ceplos berbicara. Lalu dalam sebuah perjalanan, saya biasa memandang situasi sekitar dengan seksama sebelum menjelajahnya. Pun demikian dalam situasi yang mengharuskan saya melakukan public speaking, maka saya harus beradaptasi dengan cara yang kurang sedap dipandang –yaitu, terbata-bata berbicara dan mengeluarkan gerakan-gerakan tak penting, seperti menggaruk rambut, memegang pipi, hingga berjoget poco-poco.

Penampilan public speaking yang saya lakukan terakhir adalah dalam rangkaian acara TravelNBlog: Let’s Blog Better, beberapa waktu silam. Saya yang mengenakan jersey hitam Centenario Parma, tampil canggung di awal, dan alih-alih membuka sesi dengan ucapan syariah “Assalamualaikum”, saya malah mengucap “Sudah makan, belum?”. Untungnya itu terjadi bukan pada bulan puasa.

Sebagai informasi, saya tidak serta-merta tampil dan berbicara di depan umum, karena untuk mendapat kepercayaan ini, saya telah melewati berbagai tahapan kehidupan.

Si Kecil yang Pemalu

Hampir tak ada yang mengenal saya ketika kecil, karena cenderung jarang tampil di muka umum, dan selalu malas kalau disuruh ibu/bapak guru maju ke depan kelas. Mungkin satu-satunya peristiwa yang membuat saya terkenal ketika SD adalah saat buang air besar di celana, dalam kelas, dan langsung pulang dengan alasan sakit yang tak tertahankan lagi. Menerapkan pepatah lempar batu sembunyi tangan dengan sempurna.

Ketika SMA, saya hampir tak pernah berinteraksi dengan lawan jenis. Alasannya sih karena mau rajin belajar, padahal saya selalu gemetar dan keluar keringat dingin kalau mengobrol dengan gadis-gadis desa seusia saya. Jika diingat lagi, satu-satunya masa ketika wali kelas berbicara dengan saya, adalah ketika saya kedapatan mengobrol dengan teman sebangku, dan Beliau berseru “Mas, kalau berisik nyoto saja sana di kantin!”.

Berawal Karena Akademi Berbagi

Semasa kerja dan mulai sering traveling, perlahan-lahan rasa percaya diri itu tumbuh seiring dengan pendapatan yang diterima dan relasi yang makin bertambah. Hingga pada suatu saat, ketika saya mudik ke Kabupaten Semarang, muncul tawaran untuk menjadi narasumber di Akademi Berbagi Semarang.

What? Narasumber? Seperti Pierre Gruno yang ngomongin tata busana atau Tifatul Sembiring yang ngomongin bahaya pornografi padahal Beliau follow akun porno di Twitter, dong? Pikir saya. Namun kenyataannya tidak sekeren itu, karena saya belum sepenuhnya menguasai materi yang akan saya bicarakan, yaitu traveling. 

Akber Pekanbaru Ketika menjadi narasumber Akademi Berbagi Pekanbaru

Categories: Events

Tagged: Akademi Berbagi, Berbagi, public speaking, TravelNBlog

88 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang
  • This Is How FootballTicketNet Ruins My Childhood Dream

Archives

Blog Stats

  • 5,485,805 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...