backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

7 Tips Traveling Saat Puasa

arievrahman

Posted on July 11, 2015

Saya melirik termometer yang terpasang pada jam digital yang saya kenakan; suhu saat itu menunjukkan 38.1° Celcius, lebih panas daripada suhu rata-rata Jakarta wilayah Mangga Besar. Ah, pantas saja keringat mengucur deras di sekujur tubuh, hingga membuat deodoran yang mempunyai slogan ‘setia setiap saat’ berubah ibarat pria baik-baik yang kemudian berselingkuh.

Saat itu memang sedang musim panas di Hong Kong, dan apabila sedang tidak bertepatan dengan Bulan Ramadan, maka saya pasti akan segera berlari ke penjual es kelapa muda terdekat, memintanya menghidangkan dua gelas penuh es kelapa muda yang dicampur jeruk dan selasih. Itu juga kalau ada penjual es kelapa muda di Hong Kong.

Summertime in Hong Kong

Musim panas di Hong Kong

Traveling ketika berpuasa, sebenarnya susah-susah gampang. Susahnya adalah karena kita ditantang untuk tidak makan dan minum serta menahan hawa nafsu selama kurun waktu yang ditentukan (dari subuh hingga magrib untuk dewasa, dan dari subuh hingga duhur untuk yang masih SD), sementara gampangnya adalah sebenarnya kita semua dapat melakukannya asalkan mempunyai kemauan dan keimanan yang cukup.

Saya teringat sebuah peristiwa di mana saya terakhir kali membatalkan puasa ketika traveling, yaitu dalam perjalanan dari Semarang ke Pati sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, saya tak kuasa menahan sumpeknya bus antar kota yang membawa saya bersama mama, aroma tengik yang bertebaran memenuhi bus pun membuat saya pusing, dan memberanikan diri bertanya kepada Mama.

“Ma, boleh buka puasa? Ehehe ehehe.”

Tapi itu dulu, beberapa tahun silam. Karena sekarang, rasanya malu untuk membatalkan puasa, ya kecuali untuk kondisi-kondisi tertentu. Seperti misalnya ketika sedang berpuasa, tiba-tiba lewatlah Pamela Anderson dalam balutan bikini merahnya, yang membuat saya seketika mematikan televisi dan berhenti menonton Baywatch.

Berikut ini, saya akan berbagi 7 tips traveling ketika puasa, supaya kita dapat kuat berpuasa sekaligus menjadikan puasa kita bermanfaat dan diterima oleh Allah.

1. Pergi ke Punta Arenas

Categories: Miscellaneous, Survival Kit

Tagged: #1Hari1Kebaikan, BEAR BRAND, puasa, susu, susu beruang, traveling ketika puasa

65 Comments

+Read more

Berburu Lumba-lumba

arievrahman

Posted on July 4, 2015

Matahari masih belum terbit dengan sempurna ketika saya bergerak menuju bibir pantai pagi itu. Di sana, telah bersandar beberapa buah perahu kecil –yang disebut sebagai jukung oleh penduduk setempat– milik nelayan yang akan mengantarkan saya beserta kawan yang lain ke tengah laut, menjanjikan perburuan lumba-lumba yang seru.

Saya berdiri di pinggir pantai, menanti para nelayan yang lain datang menjemput, sembari menunggu kawan-kawan yang lain datang berkumpul. Dengan badan yang sedikit menggigil karena angin pagi itu, saya berlatih memainkan senjata yang akan saya gunakan untuk berburu lumba-lumba, karena practice makes perfect katanya. Walaupun Rianti Cartwright gak perlu banyak practice juga sudah perfect. 

Misty morning at Kiluan

Misty morning

Tiga puluh menit kemudian, kami telah lengkap. Saya menaiki jukung terakhir yang tersedia setelah membiarkan ibu-ibu dan anak-anak naik terlebih dahulu. Sungguh sebuah aksi yang heroik, seperti yang dilakukan Peter Parker.

Jukung

Jukung

“Satu jukung diisi tiga sampai empat orang ya!” Demikian instruksi yang didapat dari sang pimpinan regu. Maka di sinilah saya berada, pada jukung sempit, yang tak jauh lebih lebar dari pantat saya, bersama seorang nelayan sebagai pengendali jukung, dua orang figuran sebagai pelengkap cerita, dan sebuah kamera di tangan sebagai senjata. Kemudian berangkatlah kami berempat memburu lumba-lumba.

Teluk Kiluan, September 2014

Ada dua binatang air favorit saya. Keduanya berwarna kelabu, sedikit mengkilap, dan sama-sama menggemaskan. Yang satu bernama lumba-lumba, yang satu bernama lele. Hanya bedanya, saya lebih menyukai lele apabila dia berada di atas piring bersama sambal dan lalapan. Sementara lumba-lumba bukanlah hewan untuk dikonsumsi, melainkan ada untuk dilindungi. Sama kayak kamu.

Jika ada yang patut disalahkan karena membuat saya menyukai lumba-lumba, mungkin dia adalah Bondan Prakoso –yang tanda lahir di lehernya hilang secara misterius seperti layaknya tahi lalat Eno Lerian– yang selalu menghantui masa kecil saya dengan video klip noraknya di televisi. Mungkin satu-satunya video klip, di mana saya hapal semua gerakan penyanyinya (Bondan) saat itu. Maknyus. 

Categories: Australia, Domestic, Foreign, Lampung

Tagged: dolphin, jukung, Kiluan, Lampung, lumba-lumba, Nelson Bay, Port Stephens

56 Comments

+Read more

Review Trip ke Australia bersama Dwidayatour

arievrahman

Posted on June 25, 2015

Jujur saja, ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri bersama dengan sebuah agen perjalanan. Pada awalnya, saya beranggapan bahwa bepergian dengan agen perjalanan adalah hal yang membosankan. Dalam bayangan saya, perjalanan tersebut nantinya akan tidak fleksibel, waktu diatur sana-sini, mampir ke tempat pembelian oleh-oleh (atau mampir ke tempat tabib di Tiongkok dan ‘dianjurkan’ membeli obat seharga jutaan rupiah) supaya menguntungkan si agen perjalanan, hingga foto grup di depan landmark terkenal dengan spanduk besar bertuliskan nama agen perjalanannya.

Wah, ini mau liburan atau demo menentang kenaikan harga BBM di depan istana negara?

Namun, itu dulu. Sebelum sebuah surel masuk di awal Maret 2015 –dari Dwidayatour yang bekerja sama dengan Destination NSW— yang mengundang saya datang ke Sydney untuk mengikuti media trip sehubungan dengan adanya Vivid Sydney. Sebuah surel yang hampir membuat saya melompat dari kursi yang sedang saya duduki. Untung saja saya tidak sedang mengemudikan F-16 Fighting Falcon dengan ejecting seat-nya.

Pergi gratis? Yes.

Pergi ke Australia? Yes.

Pergi dengan agen perjalanan? Umm, aku sih Yes, gak tahu kalau Mas Anang.

Itulah awal mula kepergian pertama saya ke luar negeri bersama sebuah agen perjalanan, bernama Dwidayatour.

Sydney

This is Sydney

Beruntungnya, saya pergi bersama salah satu agen perjalanan terbesar di Indonesia, –Dwidayatour memiliki lebih dari 60 kantor cabang di seluruh Indonesia– yang telah berdiri sejak Juli 1967, dan mempunyai tagline “Making Travel Easy”.

Untungnya lagi, itu bukan hanya sekadar tagline, karena Dwidayatour benar-benar membuat perjalanan saya mudah, dengan pelayanan yang diberikan mulai dari menyiapkan itinerary yang sesuai kebutuhan, membantu proses pengurusan visa, hingga menyediakan akomodasi yang sangat layak.

Berikut ini adalah hal-hal yang saya dapatkan selama kepergian saya bersama Dwidayatour dan DestinationNSW.

Itinerary

Sebagai orang yang terbiasa membuat itinerary (dan hidup) sendiri, pada awalnya saya merasa kurang nyaman kalau dibuatkan itinerary oleh pihak lain, karena bisa saja jadwal yang disiapkan kurang cocok untuk saya. Namun setelah membaca lagi itinerary yang disusun oleh pihak Dwidayatour dan Destination NSW, saya merasa tidak keberatan dan tidak perlu diet. Karena apa yang saya cari semua ada di sana.

Itinerary DNSW

Itinerary from Dwidayatour and DNSW

Pilihan destinasi yang menarik, kuliner yang beragam, penginapan yang nyaman, semua ada di dalamnya. Bahkan ada nama Rianti Cartwright dalam itinerary tersebut, wow! 

Categories: Australia, Foreign, Miscellaneous

Tagged: australia, DestinationNSW, Dwidayatour, Qantas, Sydney

68 Comments

+Read more

Mudahnya Mengurus Visa Australia dengan Bantuan Dwidayatour

arievrahman

Posted on June 21, 2015

Hampir setiap kali bepergian ke negara-negara yang mensyaratkan visa untuk masuk, saya selalu mengurus sendiri permohonan visanya seperti misalnya Amerika Serikat, India, dan Jepang. Tercatat, saat ini hanya dua negara di mana saya menggunakan jasa pihak ketiga untuk mendapatkan visa. Yang pertama adalah China, yang kedua adalah Australia.

Ketika mengurus visa China di akhir 2011, saya menggunakan jasa calo, di mana saya hanya memberikan paspor yang masih berlaku, foto berwarna, sejumlah uang, dan surat pengantar dari kantor. Sementara formulir isian dan sebagainya, diurus oleh si calo. Ketika visa saya jadi, si calo berkata, “Wah, Bapak beruntung, karena sekarang syarat pembuatan visa China dipersulit. Jadi gak bisa kayak kemarin lagi.”

Iya saya beruntung, sekaligus sial. Karena dipanggil ‘Bapak’.

Kemudian pengalaman berikutnya, ketika mengurus visa Australia baru-baru ini, dengan bantuan dari Dwidayatour. Ternyata, mengurus visa Australia cukup mudah, karena dapat diwakilkan oleh agen, sehingga tidak perlu datang langsung ke kedutaan untuk wawancara, melakukan pemindaian sidik jari dan retina, maupun uji sampel DNA untuk menentukan anak siapakah yang berada dalam kandungan Riana Rara Kalsum.

DSCF4658

Untuk mengurus visa Australia menggunakan jasa Dwidayatour, sebenarnya tidak susah, justru sangat mudah karena kamu tinggal menghubungi nomor hotline Dwidayatour di (021) 500383 atau langsung datang ke cabang Dwidaya terdekat (sebagai anak mall, saya sih biasanya mengunjungi cabang Dwidayatour yang berada di Grand Indonesia) untuk menanyakan persyaratan apa sajakah yang harus disiapkan dalam pembuatan visa Australia.

Berikut ini adalah syarat-syarat yang dibutuhkan untuk membuat visa Australia:

1. Paspor yang masih berlaku minimal 7 bulan terhitung sejak tanggal keberangkatan ditambah paspor lama.

Iya, paspor adalah syarat utama yang dibutuhkan apabila ingin bepergian ke luar negeri. Bukan KTP atau Kartu Pelajar/Mahasiswa yang biasa kamu gunakan untuk dapat harga diskon. Siapkan paspormu yang masih berlaku, dan lampirkan paspor lamamu apabila sudah mengalami pergantian paspor.

Belum punya paspor? Buat dong!

Gak mau ribet ketika mengurus paspor? Coba minta bantuan Dwidayatour.

Categories: Australia, Survival Kit, Visa, Visa Australia

Tagged: australia, Dwidayatour, Visa, Visa Australia

471 Comments

+Read more

11 Tempat Asyik untuk Menikmati Vivid Sydney

arievrahman

Posted on June 14, 2015

Apa yang pertama kali terbersit pada pikiranmu ketika mendengar kata ‘Vivid’? Sebuah rumah produksi film di Amerika Serikat yang mempopulerkan nama Asia Carrera dan Tera Patrick? Atau sebuah simulasi film pada kamera mirrorless keluaran Fujifilm? Tenang, kamu tak sendirian. Karena saya pun memikirkan pilihan jawaban yang pertama ketika pertama kali mendengar tentang Vivid Sydney.

“Wah, jangan-jangan saya bisa menjadi bintang di Vivid Production cabang Sydney nih.” Begitu pikiran saya saat itu, ketika mendengar bahwa Sydney, kota yang akan saya kunjungi bersama Dwidayatour, sedang menggelar sebuah event bernama Vivid Sydney.

Namun ternyata dugaan saya salah, karena Vivid Sydney bukanlah sebuah event buatan rumah produksi film tersebut, melainkan sebuah pergelaran tahunan di Sydney yang menampilkan pertunjukan cahaya, musik, dan ide.

Vivid Sydney 2015: Light, Music & Ideas

Vivid Sydney 2015

Melanjutkan kesuksesan Vivid Sydney 2014, yang berhasil menjaring 1.430.000 pengunjung (jumlah yang lebih tinggi dari UMR provinsi Nusa Tenggara Barat) untuk datang dan menikmatinya, kali ini Destination NSW kembali dengan sebuah helatan yang lebih megah, lebih akbar, dan lebih spektakuler!

Total akan ada lebih dari 60 instalasi cahaya yang dihadirkan tiap malam selama 18 hari, mulai dari pukul 18.00 hingga tengah malam, mulai dari Harbourside ke Martin Place, Darling Harbour, Pyrmont dan The Star, hingga ke University of Sydney, yang membuatnya menjadi salah satu event terbesar di Australia saat ini.

Lalu di mana sajakah tempat yang asyik untuk menikmati Vivid Sydney 2015? Berikut 11 di antaranya.

1. George Street

Ditasbihkan sebagai jalan pertama di Australia dan masuk ke daftar Sydney’s Heritage Walk, kini George Street yang mempunyai panjang kurang lebih tiga kilometer ini dikenal sebagai salah satu jalan tersibuk di Sydney. Pada ruas jalan yang melewati kawasan The Rocks dan Chinatown ini berdiri beberapa bangunan penting di Sydney, seperti St. Andrew’s Cathedral, Sydney Town Hall, juga Queen Victoria Building (sering disingkat QVB supaya kekinian) yang sekarang menjadi salah satu pusat perbelanjaan paling cantik di dunia, juga paling mahal.

Ketika Vivid Sydney, beberapa bangunan di sini akan berubah menjadi bangunan penuh lampu beraneka warna, seperti yang dialami oleh Sydney Town Hall berikut.

Sydney Town Hall

Sydney Town Hall

Saran saya, habiskan siangmu untuk berbelanja di QVB apabila mampu –atau kalau tidak mampu tinggal menyeberang ke Woolworths (biasa disebut Woolie oleh anak zaman sekarang) dan memborong Kit-Kat dan Tim-Tam untuk sanak saudara di Indonesia–,  nikmati soremu segelas Flat White di Workshop, sebelum memanjakan mata dengan lampu-lampu khas Vivid Sydney di malam harinya.

2. Darling Harbour

Categories: Australia, Events, Foreign

Tagged: Bridge Climbing, Qantas Folding Space, Sydney, Sydney Opera House, Vivid Sydney

80 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Mengurus Sendiri Visa Inggris (UK)
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Panduan Lengkap Mengurus Sendiri Visa Turis Australia
  • 7 Cara Seru Menikmati Musim Gugur di Jepang

Archives

Blog Stats

  • 5,485,757 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...