Matahari masih belum terbit dengan sempurna ketika saya bergerak menuju bibir pantai pagi itu. Di sana, telah bersandar beberapa buah perahu kecil –yang disebut sebagai jukung oleh penduduk setempat– milik nelayan yang akan mengantarkan saya beserta kawan yang lain ke tengah laut, menjanjikan perburuan lumba-lumba yang seru. Saya berdiri di pinggir pantai, menanti para nelayan yang lain datang menjemput, sembari menunggu kawan-kawan yang lain datang berkumpul. Dengan badan yang sedikit menggigil karena angin pagi itu, saya berlatih memainkan senjata yang akan saya gunakan untuk berburu lumba-lumba, karena practice makes perfect katanya. Walaupun Rianti Cartwright gak perlu banyak practice juga sudah perfect.  Tiga puluh menit kemudian, kami telah lengkap. Saya menaiki jukung terakhir yang tersedia setelah membiarkan ibu-ibu dan anak-anak naik terlebih dahulu. Sungguh sebuah aksi yang heroik, seperti yang dilakukan…