Malam telah tiba begitu saya dan Neng tiba di Paris Nord, setelah dua jam perjalanan dengan Thalys yang nyaman dari Antwerp. Finally we are here! Di kota paling romantis di dunia, kata mereka yang selalu mengagung-agungkan Paris dan kecantikannya. Menara Eiffel, yang dinobatkan sebagai ‘The Most Famous Tower in The World’ juga dianggap sebagai simbol keromantisan Paris, yang membuat gadis-gadis desa (dan kota) di Indonesia menjadikannya sebagai destinasi impian mereka.

Uh, aku pengin banget foto di depan Eiffel.” Kata mereka. Mereka yang belum tahu bahwa mungkin Paris tidak selalu secantik impian mereka.

Setelah mengambil koper dari rak di atas kepala, kami bergegas turun dari kereta dan segera menuju lobi stasiun, sebelum menyadari bahwa stasiun ini terlalu besar untuk kami, dengan beberapa lantai ke bawah lagi. Tidak secantik Antwerpen Centraal yang mendapat gelar sebagai salah satu dari ‘The Most Beautiful Train Station in The World’, juga tidak serapi dan sebersih Amsterdam Centraal, karena di sini saya menemukan beberapa sudut dengan sampah yang tergeletak, dengan banyaknya orang yang lalu lalang. Sebagian kulit putih, sebagian kulit hitam, dan sepasang orang Indonesia yang sedang berbulan madu, saya dan Neng yang kebingungan.

Perlu waktu beberapa saat sebelum kami akhirnya menemukan cara untuk menuju hotel yang telah kami pesan sebelumnya, termasuk sekali salah turun stasiun, dua kali bertanya kepada orang yang kami temui di perjalanan, dan beberapa kali mondar-mandir karena salah membaca peta. Ini adalah malam pertama kami di Paris, dan saya sudah merasa bahwa Paris sepertinya tidak seindah apa kata orang.

Selain langit kelabu yang menemani perjalanan winter kami di Paris, berikut ini adalah hal-hal menyebalkan yang mungkin akan kamu temukan juga di Paris.

1. Hotel dengan view Eiffel yang overpriced

Le Parisien

Siapa sih, yang tidak suka dengan pemandangan jendela kamar yang langsung mengarah ke Eiffel? Tentunya sebagai pasangan yang berbulan madu, kami sangat menginginkan hal itu. Berpelukan sambil begituan pada kamar gelap yang hanya disinari oleh cahaya lampu Eiffel, adalah life goal saya.

Namun ternyata, cahaya lampu di Eiffel hanya menyala sampai tengah malam, dan harga yang harus dibayar untuk kamar tersebut tidak bisa dibilang murah. Sebagai gambaran, saya mendapat harga kamar dua jutaan rupiah per malam, untuk sebuah kamar yang tak terlalu luas, dengan lift yang mengenaskan dan tanpa sarapan. Plus, dengan ukuran Eiffel yang terlihat kecil di jendela.

2. Peminta Sumbangan di Sekitar Eiffel Tower

Asking For Donation

“Assalamualaikum.” Sapa seorang wanita berhijab kepada Neng, ketika kami menyusuri Champ de Mars pagi itu. Seorang wanita berkulit putih bersih, agak gempal, dengan hidung mancung dan mata belo, mirip Nabila Syakieb yang gagal diet.

Dengan ramah, Neng menjawab, “Waalaikumsalam. Da pa neh klw leh tw?” dan sedetik kemudian, wanita itu menyodorkan sebuah kertas dengan tabel-tabel berisikan nomor, nama, jumlah donasi, dan tanda tangan.

LOH KOK JADI MIRIP SUMBANGAN MASJID DI INDONESIA? Tentu saja, hal tersebut kami tolak dengan manis. “No, thank you.” Walaupun wanita itu tetap kekeuh meminta dengan mengeluarkan jurus puppy eyes miliknya. Untung saja saya bawa istri, jadi tidak tergoda.

3. Penjaja Suvenir Menara Eiffel

One Euro for Five

Walaupun pada awal berdirinya di tahun 1889 Eiffel Tower mendapat kritik dan cercaan, namun seiring berjalannya waktu, kini Eiffel telah tumbuh menjadi sebuah menara dengan jumlah kunjungan wisatawan tertinggi di dunia. Sekitar 6,91 juta orang memanjatnya di tahun 2015 lalu. Bandingkan dengan Monas, di mana Anas Urbaningrum saja batal gantung diri di sana.

Ketika Eiffel semakin laris, suvenirnya pun menjadi banyak diburu wisatawan yang berkunjung, terutama gantungan kunci Made in China yang dihargai 1 Euro untuk 5 keping dan bisa dicampur-campur warnanya. Yang membuat sebal sebenarnya cara berjualan para penjualnya, yang cenderung menempel para calon pembelinya.

“SATU EURO DAPAT LIMA, SATU EURO DAPAT LIMA! MURAH MURAH!” Teriak mereka, dengan bahasa Melayu yang patah-patah. Lucunya, apabila kamu datang dari arah Champ de Mars, maka penjualnya kebanyakan adalah orang-orang beretnis India, sementara apabila kamu datang dari arah Jardins du Trocadero, maka penjualnya kebanyakan adalah orang-orang Afro.

Sekadar informasi, harga gantungan kunci yang dijual oleh mereka, justru lebih murah daripada harga di toko-toko suvenir lainnya.

4. Con-artist di Sepanjang Jalan Menuju Sacré-Cœur

Con-Artist

Pada perjalanan menuju Sacré-Cœur, saya sempat menyaksikan oleh beberapa orang yang bergerombol mengelilingi sebuah permainan yang dilakukan di jalanan. Permainannya simpel, berupa ‘tebak-di-mana-bolaku-berada’ di mana si bandar akan meletakkan sebuah bola dalam sebuah gelas tertutup, dan mengacaknya beserta dua gelas lainnya. Tugas peserta lain, adalah menebak di manakah bolanya berada setelah si bandar selesai melakukan acakan. Apabila benar, maka bandar akan memberikan uang kepada peserta, dan apabila salah, maka uang peserta akan menjadi milik bandar.

Menarik ya? Iya, kalau bisa menang. Dosa ya? Tergantung, kalau kalah ya dosa, menang apalagi.

“Are you speak English?” Tanya si bandar kepada saya yang memperhatikan permainan tersebut “C’mon, where’s the ball?” Tanyanya sambil menunjuk-nunjuk gelas di bawahnya. “Here, or here?”

Saya yang curiga bahwa ini adalah permainan tipu-tipuan, karena sepertinya mereka adalah sebuah komplotan yang bekerja menjebak para turis, langsung pura-pura bego dan menggelengkan kepala. “Maaf, aku gak bisa, Mas.”

5. Lucky Charm di Sacré-Cœur

Lucky Charm Sacré-Cœur

Ketika mendaki tangga ke arah Sacré-Cœur, tiba-tiba tangan saya ditarik oleh seorang pria kulit hitam tinggi besar yang dengan sigapnya berupaya memasangkan sebuah gelang tali ke tangan saya, “Lucky charm.” Katanya.

Saya yang kaget langsung menampik tangannya sekuat tenaga, dan berusaha untuk segera kabur dari tempat itu, “No! No!”. Namun apa daya, pria tersebut tetap mengejar saya dan terus memaksa untuk memasangkan gelang tersebut ke tangan saya.

“Hey, where are you from?” 

Saya menjauh dari pria itu.

“Are you afraid of black people? Hey!”

“Sorry, I have to go, my wife is waiting downstairs.” 

Berikutnya, saya segera ngacir meninggalkan tempat itu. Asem.

6. Para Penjual Tongsis

Selfie Stick Seller

Oke, penjual tongsis mungkin tidak terlihat menyebalkan, namun bagi kebanyakan orang Indonesia yang pergi jalan-jalan, biasanya mereka sudah membawa tongsis/selfie stick/monopod sendiri, sehingga tidak perlu untuk membelinya lagi. Namun ternyata, tidak semua penjual paham tentang hal ini, sehingga mereka selalu bersemangat untuk menjualnya kepada kami.

“Selfie, selfie!” Begitu ucap si pria kulit hitam berjaket tebal dengan tongsis berwarna biru muda nan imut di tangannya.

“Sorry, but no thanks.” I prefer to use my Go Pro instead.

7. Turis

Turis bagi sebuah negara, sebenarnya bisa dikatakan bagai pisau bermata dua. Di satu sisi akan mendatangkan devisa bagi negara tersebut, sementara di sisi yang lain dapat juga menyebabkan berbagai masalah, seperti misalnya kebersihan dan kerapihan suatu kota.

Di Paris, kamu akan dapat menjumpai turis-turis di setiap sudut kota, mulai dari Menara Eiffel, Gereja Notre Dame, Museum Louvre, bahkan di stasiun-stasiun bawah tanah. Akan sedikit menyebalkan apabila para turis ini berbuat sesuatu yang tidak enak dilihat, seperti misalnya membuang sampah sembarangan, tidak mau mengantre, dan berlama-lama mengambil foto pada sebuah objek wisata yang ramai, dan tidak mempedulikan orang-orang yang menanti giliran di belakangnya.

Tapi, kalau istri saya yang minta difoto, pasti saya gak berani menolaknya, ya daripada gak bisa makan enak selama setahun. Sebal.

8. Mereka yang Tidak Mau Difoto

Parisian

Berkebalikan dengan para turis yang suka difoto, ada juga penduduk lokal yang tidak mau difoto, seperti misalnya para pedagang buku dan lukisan di pinggiran Sungai Seine, yang kerap menyodorkan telapak tangannya sambil berkata “No Photo!” ketika mendapati saya membidikkan lensa kepadanya.

Ya kalau kamu mau nekat tetap memfoto mereka, gunakan saja lensa tele, dan ambil dari jarak jauh. Eh.

9. Pengemis Jalanan

Beggar in Paris

Walaupun dikenal sebagai negara maju, ternyata Perancis juga memiliki pengemis jalanan! Sebuah hal yang patut membuat Indonesia bangga, karena agak sejajar dengan Perancis dalam masalah kemiskinan. Namun bedanya, pengemis di Perancis lebih necis, berkulit bersih, dan seperti terawat. Bandingkan dengan pengemis di Indonesia yang compang-camping, mengenaskan, berdaki, dan menyerupai ayah kandung Marshanda. Walaupun memang, di Indonesia, ada yang mengemis sebagai profesi, bukan karena keadaan.

Sebuah hal yang kerap membuat pelancong sebal, karena membuat keindahan sebuah tempat menjadi berkurang. Seperti halnya yang saya lihat di Rue de Rivoli, yang seharusnya rapi dengan toko-toko yang cantik tanpa kehadiran mereka.

10. Antrean yang Panjang 

Angelina Paris

Namanya juga destinasi traveling sejuta umat, jadi wajar apabila pada beberapa titik-titik turisme terkenal ditemui antrian panjang yang mengular. Seperti misalnya, antrian naik Menara Eiffel yang membuat kami urung naik dan antrian masuk Angelina Paris, sebuah ‘tea house’ yang direkomendasikan oleh dua orang teman saya, Alex dan Febby.

Sebuah rekomendasi yang membuat Neng langsung mendesak saya untuk mencicipi sajian menu makanan dan minuman di Angelina. Saran Alex, “Cobalah minum Chocolat L’Africain dan ngemil pastry Mont Blanc di sana.”.

Angelina Paris

Setelah mengantre selama hampir satu jam, akhirnya kami berhasil masuk di ruangan cantik bergaya renaissance tersebut sebelum memesan menu yang direkomendasikan teman-teman. Dan, dasar lidah ndeso, hot chocolate-nya terasa terlalu ‘dark‘ untuk saya, sementara si Mont Blanc malah lebih mirip getuk lindri di lidah saya.

11. Orang-orang yang Memadu Kasih

Lover in Paris

Namanya kota romantis, maka diharap maklum kalau kamu akan menemukan banyaknya pasangan-pasangan memadu kasih di Paris. Baik yang berbeda gender, ataupun yang sejenis. Baik yang satu ras, maupun yang berbeda ras. Baik yang bermesraan dengan binal, termasuk melakukan french kiss di depan umum, hingga yang masih malu-malu. Baik yang mengenakan pakaian tebal berlapis-lapis, hingga yang seperti kekurangan bahan.

Seperti misalnya contoh di bawah ini.

Lover in Paris

Namanya juga Paris, kota romantis impian setiap orang. Jadi wajar kan kalau kami bermesraan di sana.

Jangan sebal!

 

Advertisements