backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Mamacation, Semuanya Berawal Dari Sini.

arievrahman

Posted on May 28, 2013

Karena setiap kisah pasti ada awal, walaupun tak semua kisah harus berakhir (bahagia).

Semua berawal, dari sebuah foto yang saya jadikan Display picture Blackberry Messenger. Foto saya bersama seorang sosialita Surabaya, dan seorang misterius yang mengenakan kostum mirip Robocop sedang diet karbohidrat. Di foto itu saya memegang sebuah papan bertuliskan: “Travel Package to Singapore”.

IMG-20121121-01783

Congratulation, you have won travel package to Singapore!

Setelah melihat Display Picture terbaru saya, Mama sontak mengirimkan pesan melalui Blackberry Messenger, dan menanyakan:

“Foto apa itu?”

“Foto semalam, Mah.”

“Iya tahu, maksudnya acara apa?”

“Acaranya Singasik, Mah.”

“Singasik?”

***

Semua berawal, dari sebuah telepon yang masuk kemarin, sebuah telepon dari Fara, yang tumben menelepon saya di siang hari yang panas itu.

“Ntar malem, ada acara gak lu?”

“Belum ada sih, tapi kayaknya udah ada janji ketemu sama temen.”

“Udah batalin, dan ikut gue aja.”

“Ke mana?”

“Acaranya Singasik.”

“Wah, gue kan gak diundang.”

“Ya makanya temenin gue, ada undangan buat dua orang nih.”

“Ta..tapi? Gue juga ada janji sama temen gue yang sosialita.”

“Di sana ada makan gratis!”

“OKE!”

Kemudian berangkatlah saya ke Hard Rock Cafe malam itu, berjanji setia selama semalam dengan Fara untuk menemaninya, setelah terlebih dahulu memberi kabar ke teman saya untuk menunda pertemuan menjadi selepas acara Singasik. Singasik sendiri, adalah nama beken dari perwakilan Singapore Tourism Board di Indonesia. Pada event tersebut, mereka me-launch program-program dan wahana terbaru yang berada di Singapura, mengundi kuis berhadiah yang telah diadakan sebelumnya, dan yang paling seru: memberikan kuis dengan hadiah jalan-jalan gratis ke Singapura selama 3 hari 2 malam, untuk tamu undangan yang hadir termasuk saya.

Kemudian, sayalah yang memenangkan hadiahnya.

Lucky me. Saya laki.

***

“Iya Singasik Mah.” Saya menjelaskan kepada Mama. “Yang dulu pernah kasih gratisan ke Singapore juga gara-gara aku menang kuis.”

“Oh, yang itu.”

“Terus itu, menang lagi?”

Nasihat orang tua mengatakan, jangan bohong kepada orang tua, nanti kualat.

“Iya Mah.”

“Terus, mau ke sana sama siapa?”

Curang, nasihat sendiri tapi untuk kepentingan sendiri.

“Umm, anu.. penginnya sih sendirian Ma.”

“ITU KAN TULISANNYA UNTUK DUA ORANG!”

Dasar ibu-ibu, kalau yang gratisan aja cepat tanggap.

“POKOKNYA MAMA MAU IKUT!”

Dan punahlah sudah kesempatan saya untuk berlibur ke Singapura bersama Agnes Monica atau Nia Ramadhani. Berganti dengan seseorang yang telah membesarkan saya selama 17 tahun ke atas. 

… and another Mamacation begins.

***

Semua berawal, dari pertengahan tahun 2009, tepatnya dua minggu setelah ulang tahun Mama. Sebuah peristiwa paling menyedihkan hadir dalam hidup kami, Papa dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sungguh itu merupakan kejutan ulang tahun paling tak terduga bagi Mama, yang hadir langsung dari tangan Tuhan. Sama seperti jodoh, kita tak akan tahu kapan kematian akan datang.

Sejak saat itu tak ada lagi Papa, tak ada lagi pemimpin di keluarga kami, tak ada orang yang mengajak Mama jalan-jalan setiap akhir pekan, dan tak ada lagi yang menenangkan Mama ketika sedang kesal.

Pernah suatu ketika, pada hari Minggu kesekian setelah perkawinan. Mama tiba-tiba cemberut di ruang tengah dengan pakaian dan make up  yang telah rapi, sementara Papa sedang asyik menulis di meja kerjanya. Saya yang masih lugu — hingga sekarang –, mendekati Mama.

“Mama kenapa?”

“Sebel aku, udah kerja dari Senin sampai Sabtu, sekarang hari Minggu masa di rumah aja?” Ucapnya menjelaskan. Memang pada beberapa wilayah di Indonesia, beberapa tahun silam masih menganut paham enam hari kerja. “Huft.”

“Terus kenapa gak pergi?” Tanya saya, retoris.

“Itu, nungguin Papa kamu.” Jawab Mama sambil memonyongkan bibirnya ke arah Papa. “Masih nulis aja dari semalam.”

Papa yang mendengarnya pun segera meletakkan kertas dan pulpen yang dipegangnya, mengangkat kacamata bacanya ke arah dahi, dan berkata lembut ke Mama. “Sebentar lagi kan dzuhur, habis solat kita berangkat ya.”

Mendengar perkataan suaminya, Mama kemudian menahan diri untuk tidak tersenyum. “TAPI KAN PAPA BELUM MANDI!”

DSC01225

Oh Mama Oh Papa, di Taman Bunga Nusantara.

Itu cerita dulu, waktu masih ada Papa.

0.000000 0.000000
Categories: Mamacation, Miscellaneous, Others

Tagged: Bromo, keluarga, Kuala Lumpur, Mamacation, Singapore, Singasik

147 Comments

+Read more

Finding a Place Called Home

arievrahman

Posted on May 21, 2013

.

“Home, is where your heart is.”

Seorang perempuan berdiri berdesakan bersama para penjemput yang lain, sementara kertas bertuliskan sebuah nama dipegangnya erat dengan kedua tangan. Saya melihat ke sekitar, namun tidak menemukan nama yang familiar di situ. Tak ada papan bertuliskan “Selamat datang, Bapak Arif yang tampan.” maupun “Welcome to Balikpapan, Johnny Depp.” di situ. Entah saya yang tak jeli, atau mata saya yang masih belum terbiasa dengan remangnya malam setelah menempuh perjalanan udara selama dua jam dari Jakarta. Pandangan saya pun kembali kepada perempuan tersebut, membaca kata demi kata yang tertulis pada kertas yang dipegangnya.

“WELCOME HOME, MARJI“

2013-05-08 19.36.47

:’)

Huft.

Kepergian saya ke Balikpapan kala itu, adalah merupakan rangkaian perjalanan saya mengunjungi Derawan, di mana saya memutuskan mengambil rute Jakarta – Balikpapan – Tarakan – Derawan – Tarakan – Balikpapan – Jakarta, dengan maksud mengunjungi pacar terlebih dahulu di Balikpapan, sebelum memboyongnya berlibur ke Derawan.

“Kamu mau makan di Kenari apa Dandito?” Tanya Hana setelah memasukkan kertas yang bertuliskan nama Johnny Depp tadi.

Sebelum berangkat, saya telah mencari sedikit informasi tentang Balikpapan. Dan saya pun mengetahui bahwa Balikpapan terkenal dengan masakan kepitingnya. “Umm, coba yang kamu belum pernah yuk.” Dan dua tempat yang paling terkenal adalah Kepiting Kenari dan Kepiting Dandito.

“Okay, berarti kita ke Kenari.” Serunya, sambil mengajak saya berjalan keluar bandara, menuju angkot yang mengarah ke kota. Di Balikpapan, tarif angkot jauh-dekat adalah 3.000 rupiah, dan serunya terkadang angkot bisa mengantarkan kita ke tempat yang seharusnya tidak dilalui rutenya. Jadi peraturan pertama ketika menggunakan angkot di Balikpapan adalah “Tanyakan dulu, apakah lewat ke tempat yang kita inginkan”.

“Kepiting Kenari, lewat Bang?” tanya Hana pada supir, bukan pada Johnny Depp.

Restoran Kepiting Kenari ini letaknya tak jauh dari bandara, dan hampir berseberangan dengan Restoran Kepiting Dandito. Namun jika dijelaskan dalam bentuk soal maka akan menjadi: Jika Bandara –> Dandito = 10 menit dan Bandara –> Kenari = 11 menit, maka siapakah nama pemilik Restoran Kepiting Kenari yang tutup pada malam itu?

Iya, malam itu Kepiting Kenari tutup, dan kami berjalan kaki menuju Dandito, sambil sesekali bergandengan tangan dan beradu pandangan.

Hangat.

2013-05-08 20.08.58

Kepiting saus spesial Dandito – IDR 150K

***

Pagi yang cerah menemani langkah kami ke Lapangan Merdeka Balikpapan, esoknya. Kata Hana, di sanalah tempat warga Balikpapan beraktivitas di hari libur. Mulai dari berjalan-jalan, liburan keluarga, jogging, bermain sepeda, hingga seperti yang kami lakukan. Berpacaran Mencari sarapan.

2013-05-09 07.31.56

Soto Banjarmasin Kuin – IDR 20K

Pilihan kami, jatuh kepada Soto Banjarmasin yang terletak di sudut lapangan. Merupakan perpaduan yang unik, sebab si penjual juga menyediakan es pisang ijo Makasar, selain seutas senyum manis di Balikpapan.

2013-05-09 07.45.26

Hae! :3

“Bu, itu Kuin artinya ratu bukan?” Tanya Hana ke si penjual.

0.000000 0.000000
Categories: Culinary, Domestic, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara

Tagged: Balikpapan, Bekantan, Derawan, Kalimantan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepiting Dandito, Kepiting Kenari, Mangrove, Tarakan

53 Comments

+Read more

Samsung Galaxy S4: My Perfect Travel Companion

arievrahman

Posted on May 5, 2013

Sudah sebulan lebih sejak desas-desus kemunculan pertamanya di dunia, dan setelah menjelajah berbagai negara mulai dari Korea Selatan, Turki, India, Australia, hingga ke Afrika Selatan, kini Samsung Galaxy S4 telah hadir secara resmi di Indonesia. Dan saya, adalah termasuk orang yang beruntung karena dapat melakukan wawancara spiritual dengannya sebelum banyak orang melakukannya.

Simak penuturannya berikut ini.

samsung-galaxy-s-4-reveal-021

Samsung Galaxy S4

Halo, leh nal?

Hah? Maksudnya? Lu siapa?

Wah, pasti bukan anak gaul nih. Gue Arif, nama lu siapa?

Oh, kenalin. Gue Samsung Galaxy S4 dengan Exynos 5 Octa.

Nama lu keren bener bro, emang apaan sih artinya?

Gue itu henpon terbaru keluaran Samsung, yang dilengkapi dengan octa core. Ya kalau lu bingung, singkatnya gue punya dua prosesor quad core, masing-masing berkekuatan 1,6 Ghz dan 1,2 Ghz.

Oalah, lu henpon. Kirain handphone. Abisan sophisticated gitu namanya.

…

Lu punya prosesor keren gitu, emangnya mau dipakai apa?

Gue bisa multitasking, ngejalanin aplikasi-aplikasi berat yang bergrafis ciamik juga bisa karena gue dibekali PowerVR SGX 544MP3 untuk rendering 2D dan 3D yang menawan, dan yang paling penting bisa membantu kehidupan sehari-hari lu.

Oiya, emang lu bisa apa aja? Kehidupan sehari-hari gue itu sebagai seorang traveler loh. Bukan sekadar orang keren yang sudah punya pacar.

Traveler? Cocok! Gue punya beberapa fitur yang bisa lu pakai buat kebutuhan traveling lu. Dan yang pertama-tama, gue bakal jelasin tentang kamera gue dan beberapa fiturnya.

*menyimak*

Sebelumnya, selamat ya udah punya pacar.

WOY!

Mata digunakan untuk menangkap keindahan, dan memori digunakan untuk menyimpan keindahan tersebut. Di Galaxy S4, gue punya kamera berukuran 13 megapixels plus LED flash sebagai mata gue. Selain itu…

What? 13 megapixels? Itu jerawat Syahrini di dalam hidung pun bisa kelihatan jelas.

…sob, tunggu gue selesai ngomong dulu napa.

Ups, sorry. Oke lanjut.

Selain kamera tersebut, gue juga punya banyak fitur keren yang dibenamkan dalam kamera ini. Diantaranya adalah:

  1.  Panorama Shot, untuk mengambil gambar landscape memanjang, sejauh mata memandang. Hey it’s rhyme.
  2. Drama Shot, untuk mengambil gambar-gambar dari objek bergerak dalam beberapa detik, dan menyatukannya menjadi seperti slow motion pada satu frame.
  3. Dual Shot, untuk mengambil gambar dengan kamera depan dan belakang sekaligus. Misal ada pemandangan keren di depan lu sementara lu pengin ngambil muka lu juga. Aktifin aja Dual Shot.
  4. Sound & Shot, untuk mengambil suara yang terekam bersamaan dengan gambar yang diambil, selama maksimal 9 detik.
  5. Eraser Shot, untuk menghilangkan objek tak penting yang lalu lalang. Misalnya ketika foto di Borobudur, lalu tiba-tiba ada tukang bubur ayam melintas di depan lu, maka tukang bubur tersebut dapat dihilangkan dengan fitur ini.

Kasihan tukang buburnya 😦

WOY! Gue becanda doang kali.

Okay, next. Untuk kamera depan, ada juga? Gue kan juga butuh Skype-an sama pacar kalau pas traveling.

Ya ada dong, namanya juga S4 – Sangat Sangat Super Sekali. Kamera depannya 2 megapixels yang bisa membuat komunikasi makin menyenangkan.

Kamera keren, kalau layarnya gak keren sama aja dong.

Eits, jangan salah. Layar gue ini Super AMOLED dengan 16 juta warna, dan yang bikin keren adalah bahannya yang dibuat khusus oleh Corning, yang terkenal dengan Gorilla Glass-nya. So pasti dijamin anti gores, dan aman dipakai waktu traveling.

Hoo…

Selain itu, teknologi air view-nya bisa membantu lu kalau pengin lihat-lihat foto, tapi males cuci tangan. Tinggal arahin tangan tanpa menyentuh layar ke arah album foto atau foto yang dituju, dan air view akan membuka album atau foto itu untuk lu. Bahasa kerennya sih, hovering.

Hmm, not bad. Lalu ada fitur lain yang bisa ngebantu gue waktu traveling?

Categories: Events, Survival Kit

Tagged: Air View, S4, Samsung

32 Comments

+Read more

Mengintip Adult Shop di Jepang

arievrahman

Posted on April 30, 2013

[RATING: NC 17 – NO ONE 17 AND UNDER ADMITTED]

Sebuah pesan singkat masuk melalui kolom Direct Messages Twitter ketika saya berada di Jepang, pesan singkat dari seorang oknum berinisial R yang isinya cukup menggugah jiwa laki-laki saya. Adapun bunyi pesan tersebut adalah: “Lagi di Jepang lu? Gue nitip bokep* dong.”

HANJIS.

***

Pornografi, bukanlah hal yang dianggap sangat tabu di Jepang. Di sana, sangat mudah mendapatkan barang-barang berbau pornografi seperti majalah, komik, hingga DVD. Cukup datang saja ke convenience store seperti Seven Eleven atau Lawson, dan kamu bisa mendapatkan hal-hal tersebut dengan mudah tanpa perlu menunjukkan KTP maupun kartu mahasiswa.

IMG-20121017-01571

Bisa didapatkan di Seven Eleven kesayangan kamu.

Siapa yang tak kenal dengan nama Miyabi, Sora Aoi, ataupun Leah Dizon? Saya. Nama-nama tersebut adalah nama yang cukup dikenal kalangan luas, sebagai pemain film porno Jepang atau yang biasa disebut dengan JAV, Japan Adult Video. Ada juga komik-komik Jepang seperti Peach, City Hunter, juga Golden Boy yang menampilkan beberapa adegan dewasa pada gambar-gambarnya. Belum lagi meluasnya video games dan anime Jepang yang berbau pornografi di Indonesia. Itu adalah sedikit contoh bagaimana industri pornografi Jepang telah menggurita ke berbagai wilayah. Dan lalu mengapa saya mengerti tentang nama-nama dan komik-komik itu? Hanya Tuhan dan hati nurani saya yang tahu.

***

“Ya udah, kalau lu mau beli bokep, sekalian aja.” timpal Osa santai “Kebetulan teman gue, si oknum S, nitip Tenga. Mumpung ke Jepang, katanya. Siapa tahu lebih murah.”

“Hah, Tenga? Apaan tuh?” Tanya saya, penuh rasa ingin tahu, dan ingin jodoh.

“Tenga itu … sigh …” Osa menghembuskan napas panjang, bukan untuk terakhir kalinya “…alat untuk masturbasi.”

WHAT? TERNYATA MASTURBASI PUN ADA ALATNYA, BUKAN SEKADAR TANGAN KOSONG BELAKA.

Saya pun mengangkat bahu, pasrah. “Err.. okay.”

DSCN8766

Adult Amusement Park – Akihabara

Langkah kaki laki-laki kami, menuntun ke salah satu toko gemerlap di sudut Akihabara. Sebuah toko yang bertuliskan Love Merci: Adult Amusement Park. Dengan pertimbangan kami adalah laki-laki dewasa yang penuh dengan cinta dan sedang butuh hiburan, kami pun memasuki taman tersebut dengan perasaan riang pria dewasa, bercampur deg-degan a la ABG yang baru pertama kali nonton bokep.

0.000000 0.000000
Categories: Foreign, Japan

Tagged: dildo, hentai, porno, Sex shop, sex toys, tenga, vibrator

158 Comments

+Read more

Museum Nasional: Solusi Kencan Murah Meriah

arievrahman

Posted on April 24, 2013

“Di Lille ada tiga universitas negeri ya? Kamu yang mana?” Tanya saya malam itu melalui WhatsApp, mencoba lebih akrab dengannya.

“Tebak dong.”

Duh. Ini dia bagian yang susah, menebak rahasia wanita.

“Kalau tebakanku benar, kamu mau kan jalan sama aku pas balik ke Jakarta?” Saya memberikan penawaran, atau lebih tepat jika disebut dengan jebakan. Pada saat itu, satu-satunya clue  yang saya punya adalah bahwa dia sedang melanjutkan kuliahnya di bidang teknik.

“Umm, boleh.”

“Jawabannya Lille 1.”

“Ah curang, kok benar sih? Tuh kan aku kejebak lagi.”

“Hehehe, iya dong.” Jawab saya sambil tersenyum ke layar handphone. “Aku.”

“Emang kalau aku balik ke Jakarta, kamu mau ngajakin aku ke mana?”

Saya berpikir sejenak sebelum menjawabnya, “Umm, gak tahu. Mall?”

“Yah, mall lagi mall lagi. Bosen ah.”

“Lalu, kamu maunya ke mana?”

“Museum Nasional.”

“HAH?”

“Iya, Museum Nasional yang di seberangnya Monas, katanya habis direnovasi jadi keren sekarang.”

MUSEUM? Seumur-umur baru kali ini ada cewek yang mengajak saya ke museum, setelah beberapa teman wanita saya mengajak ke Laris Love Salon, ITC Ambassador, Plaza Senayan, hingga ke Pasar Tanah Abang Blok A. Dan karena museum belum ada di list tersebut, maka saya pun menerima ajakannya dengan hati riang, seriang Tasya yang melangkah sambil bernyanyi anak gembala.

“Okay, let’s make it as our first date.”

Saya menutup layar Wikipedia pada browser di hadapan saya, akhirnya saya berhasil mengajaknya kencan, setelah berhasil menemukan petunjuk pada Wikipedia bahwa Lille 1 adalah universitas yang membawahi bidang teknik.

***

Menurut Wikipedia, cikal bakal Museum Nasional lahir tahun 24 April 1778, pada saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. J.C.M. Radermacher, ketua perkumpulan, menyumbang sebuah gedung yang bertempat di Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya.

Di masa pemerintahan Inggris (1811-1816), Sir Thomas Stamford Raffles yang juga merupakan direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No. 3. Gedung ini digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dahulu bernama “Societeit de Harmonie”.). Pada tahun 1862, setelah koleksi memenuhi museum di Jalan Majapahit, pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung yang hingga kini masih ditempati. Gedung museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1868.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelola menyerahkan museum tersebut kepada pemerintah Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 September 1962. Sejak itu pengelolaan museum dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mulai tahun 2005, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sehubungan dengan dipindahnya Direktorat Jenderal Kebudayaan ke lingkungan kementerian tersebut.

***

“Aku perlu bawa kamera gak besok?” Tanya saya pada malam sebelum kencan.

“Gak usah, besok pakai Tugo aja foto-fotonya.” Jawabnya. Tugo sendiri, adalah nama yang dia berikan pada kamera miliknya, Olympus tipe Tough.

“Umm, okay.” Saya pun mengurungkan niat untuk membawa Peju, namun tetap memasukkan handphone ke dalam list barang yang harus dibawa besok. Waktu itu, saya memang baru saja menggunakan Samsung Galaxy Note 2, sebagai pengganti telepon genggam sebelumnya yang hilang. Dan karena dipersenjatai dengan kamera 8 megapixels yang katanya berkualitas bagus, saya pun jadi semangat ingin segera mencobanya. “Apa lagi?”

“Udah itu aja sih, sampai ketemu besok, Marji.”

Sementara Marji sendiri, adalah nama yang dia berikan pada saya. M-A-R, dari inisial nama saya dan, dari sekian banyak akhiran yang dapat disematkan kepada M-A-R — seperti -cell misalnya — entah mengapa dia memilih -ji. “Karena kamu mirip Narji.” Kelakarnya waktu itu.

Huft Bangedh.

***

“KLIK!” Setelah memastikan helm terpasang dengan benar padanya, kami pun segera berangkat menuju Museum Nasional. Dari hasil browsing kemarin, kami mengetahui bahwa museum buka setiap hari, kecuali hari Senin, dengan jam buka sebagai berikut: Selasa-Kamis: 08:30-14:30 WIBB, Jumat: 08:30-11:30 WIBB, Sabtu: 08:30-13:30 WIBB, dan Minggu: 08:30-14:30 WIBB, sedangkan dari hasil membaca kalender hijriah, kami mengetahui bahwa hari ini adalah hari Sabtu.

“Sabtu, berarti kencan.” Batin saya, yang mungkin akan dibalas dengan “Wekk, bodo amat dengan batin lu.” kalau dia adalah Romi Rafael, yang bisa mendengarkan batin seseorang.

“ADUH!” Pekik saya ketika terperosok ke dalam lubang kecil di dekat parkiran motor yang belum tertutup rapi.

“Makanya, kalau jalan jangan lihat handphone terus.” Jawabnya setelah reflek memegang tangan saya. “Hati-hati.”

“Hahaha, iya, ini kan…” Saya tak sempat meneruskan ucapan saya, ketika mata kami beradu, dan wajah saya memerah.

“Kamu…”

“…apa?”

“Kamu…”

“…apa?”

“Kamu grogi ya, Marji?”

“Enggak kok eng…EH LIHAT ADA GAJAH!”

2013-03-23 10.37.32

Tuh, ada gajah kan!

Categories: DKI Jakarta, Domestic

Tagged: DKI Jakarta, Museum Gajah, Museum Nasional

44 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan
  • Sebuah Perjalanan Menuju Kebebasan

Archives

Blog Stats

  • 5,485,857 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...