“Di Lille ada tiga universitas negeri ya? Kamu yang mana?” Tanya saya malam itu melalui WhatsApp, mencoba lebih akrab dengannya. “Tebak dong.” Duh. Ini dia bagian yang susah, menebak rahasia wanita. “Kalau tebakanku benar, kamu mau kan jalan sama aku pas balik ke Jakarta?” Saya memberikan penawaran, atau lebih tepat jika disebut dengan jebakan. Pada saat itu, satu-satunya clue  yang saya punya adalah bahwa dia sedang melanjutkan kuliahnya di bidang teknik. “Umm, boleh.” “Jawabannya Lille 1.” “Ah curang, kok benar sih? Tuh kan aku kejebak lagi.” “Hehehe, iya dong.” Jawab saya sambil tersenyum ke layar handphone. “Aku.” “Emang kalau aku balik ke Jakarta, kamu mau ngajakin aku ke mana?” Saya berpikir sejenak sebelum menjawabnya, “Umm, gak tahu. Mall?” “Yah, mall lagi mall lagi. Bosen ah.” “Lalu,…