backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

Uji Nyali di Manado

arievrahman

Posted on June 29, 2013

Saya memarkir mobil pinjaman di depan bangunan yang nampaknya sudah tak berpenghuni tersebut, kemudian saya mendekati pintu dan melongok ke jendelanya. Nampak tak ada siapa-siapa di dalam. “Kamu yakin di sini tempatnya?” Saya bertanya ke Cicik, teman saya yang mengatakan bahwa ada hotel murah di daerah ini.

“Umm.. Kata temanku sih di sini tempatnya.” Jawab Cicik bingung, sebingung mengapa dia bisa dipanggil Cicik.

Saya melongok ke dalam sekali lagi, ada meja dengan kertas berserakan di atasnya. “Kayaknya bukan ini deh Cik, tempatnya.” Saya berjalan kembali ke arah mobil. “Ini nampak seperti kantor yang sudah tak terurus.”

Cicik berjalan ke arah gerbang depan, memarkir mobil supaya bisa keluar dengan sempurna, sebelum masuk kembali ke mobil “Mungkin, agak ke sanaan lagi ya tempat hotelnya.”

Saya mengangguk.

***

Perjalanan saya ke Manado kali ini, memang untuk kepentingan dinas selama empat hari. Namun, dasar mental traveler yang melekat pada diri saya, saya memutuskan untuk menambah hari liburan menjadi enam hari, dengan menambahkan Sabtu dan Minggu. Dan di dua hari itulah saya ditemani Cicik untuk berkeliling Manado dan sekitarnya, tentunya dengan mobil pinjaman dari kantornya. Terima kasih Cicik.

Beberapa jam sebelumnya, sambil menunggu Cicik pulang dari kantor, saya telah berjalan-jalan keliling Manado ditemani oleh Rindang. Waktu yang singkat itu saya habiskan untuk menyantap Nasi Kuning Seroja, menyusup ke sempitnya Jalan Roda sambil menikmati Pisang Goroho dan Teh Susu di warungnya yang khas, hingga menghabiskan makan siang di Manado Town Square, yang biasa disingkat Mantos, bukan Mantowsqu. Terima kasih Rindang.

DSCN7548

Pisang Goroho Sambal & Teh Susu

***

“Coba belok ke kanan!” Seru Cicik, pada saya yang sedang memegang setir. Saya melihat ke kanan, sebelum memperlambat laju mobil. Di sana ada sebuah bangunan yang mirip dengan bangunan pertama tadi. Cuma dengan keadaan lebih tak terawat. Saya berbelok ke kanan, dan mengarahkan mobil ke bangunan tersebut. Di tembok depannya terpampang tulisan “Horizon Hotel” namun jalan masuknya sudah diblok oleh rangkaian kayu yang dipasang melintang.

“Kamu yakin, ini hotelnya, Cik?”

DSCN7600

Tampak depan Horizon Hotel

“Umm.. Kata temanku sih iya. Karena di sekitar sini, kayaknya cuma ini deh hotelnya.” Nadanya bergetar, Cicik nampak masih ragu dengan jawabannya sendiri.

“Oke, coba kita tanya orang dulu. Omong-omong pintu masuknya mana ya?” Saya menatap kembali pintu depan yang terblokade, sebelum kemudian mengambil jalan menurun yang terletak di samping (bangunan yang kami duga adalah) hotel.

Terdapat sebuah bangunan kecil yang seperti pos satpam, di ujung jalan tersebut. Dan seorang yang tidak kelihatan seperti satpam muncul dari dalam pos tersebut. Tampangnya lusuh, selusuh baju yang dikenakannya. Entah jarang dicuci, atau memang warna putih pada bajunya telah pudar karena terlalu sering dipakai. Pria tersebut mendekati saya, dengan tatapan yang seperti menelanjangi lawan bicaranya, dia berkata “Cari kamar, Mas?”

Categories: Accommodation, Domestic, Sulawesi Utara

Tagged: Hotel Horizon, Jalan Roda, Manado, Pisang Goroho, Ria Rio Kalasey, Sulawesi Utara, Yesus Memberkati

48 Comments

+Read more

Inilah Jawaban Vietnam atas Raja Ampat

arievrahman

Posted on June 25, 2013

Matahari masih merambat malu-malu ketika resepsionis hotel Especen mengabarkan kepada kami bahwa mobil jemputan dari pihak tour telah menunggu di depan hotel. Telah dikabarkan malam sebelumnya, bahwa jemputan akan tiba pukul delapan pagi. Namun kami, sebagai orang Indonesia yang menjunjung tinggi budaya bangsa — yaitu jam karet — tak mengacuhkannya, dan malah memberikan standar deviasi sepuluh menit, hingga akhirnya si resepsionis terpaksa meminta kami untuk segera buru-buru turun.

“Hurry up, you don’t wanna be late for this Ha Long Bay Tour!” Serunya.

Kami bergegas menggendong barang bawaan kami yang terjejalkan dalam ransel, untuk segera memasuki minibus itu. “Okay, remember that we take the deluxe package, not the standard one.” Saya mengingatkan lagi atas pesanan saya kepadanya.

“Sure, no problem. You will get exclusive lunch. And kayaking as compliment.”

“Thanks!”

“Have fun there!” Lambainya kepada kami. Seperti nyiur.

Dan dimulailah petualangan kami hari itu menuju salah satu tempat wisata yang masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site, karena keindahan dan keunikannya. Ha Long Bay.

***

DSCN4401

Bro, minum bro!

Ha Long Bay, adalah sebuah teluk yang terdapat di propinsi Quang Ninh, sekitar 4 jam perjalanan darat dari Hanoi. Yang membuat teluk ini spesial — selain garis pantainya yang membentang sejauh 120 km — adalah terdapatnya ribuan pulau (yang mengelilinginya) yang terbentuk dari batuan karst (kapur) yang tersusun secara magis sejak jutaan tahun lalu di area seluas 1.553 km². Saat ini, Ha Long Bay merupakan rumah bagi sedikitnya 14 spesies flora endemik, dan 60 spesies fauna endemik. (Sumber: Wikipedia)

Secara etimologi, Ha Long Bay berarti  descending dragons atau naga-naga yang turun dari langit. Menurut kepercayaan lokal pada zaman dahulu, ketika Vietnam diserang oleh musuhnya, para dewa mengirimkan naga sebagai pelindung mereka. Naga-naga ini memuntahkan permata dan giok ke lautan, dan secara ajaib permata dan giok ini berubah menjadi pulau-pulau di laut, bersatu membentuk benteng pertahanan yang kemudian menghancurkan kapal perang milik musuh-musuh mereka. Setelah perang usai, naga-naga ini tetap memutuskan untuk tinggal di bumi, di tempat indah dan damai yang kini dikenal dengan nama Ha Long Bay.

***

Untuk menghemat waktu dan suara, kami memutuskan untuk memesan paket one day tour menuju Ha Long Bay dari Hanoi secara online sebelum keberangkatan kami ke Vietnam. Melalui hotel, permintaan kami diteruskan kepada sebuah agen perjalanan yang bernama Ha Long Galaxy Cruise. Kami mendapat harga USD 32 untuk Deluxe Package (yang kemudian saya tawar menjadi USD 30), selisih USD 7 untuk Standard Package yang cuma USD 25. Untuk Deluxe Package, kami dijanjikan akan mendapatkan makan siang yang lebih banyak, dan bisa bermain kayak di Ha Long Bay, nantinya. Sounds nice, right?

Selain menggunakan tur, sebenarnya ada cara lain untuk menuju Ha Long Bay, yaitu menggunakan bus umum atau ojek, kalau ojeknya adalah om kamu sendiri. Namun untuk menghemat waktu, dan membuang recehan, kami memutuskan untuk menggunakan tur.

Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, minibus kami berhenti. Saya heran, padahal belum nampak lautan, tak ada ban yang bocor, maupun ibu-ibu yang pecah ketuban dalam minibus itu. T

Categories: Foreign, Vietnam

Tagged: Ha Long Bay, Ha Long Galaxy Cruise, Hanoi, New 7 Wonders, Vietnam

53 Comments

+Read more

Mau Liburan Gratis ke Raja Ampat?

arievrahman

Posted on June 21, 2013

“BANGUN WOY, SEKARANG GILIRAN LU!” Seru Abdi sambil mencolek tubuh saya dengan gemas. Saya membelalakkan mata, mencoba mengingat di mana saya berada, dengan siapa, dan semalam berbuat apa. “GILIRAN?” Apakah kali ini saya akan digilir? Oleh tante mana lagi, atau justru oleh om-om langganan yang berada di mana lagi. Sementara itu, Jack masih saja sibuk menggambar inci demi inci kemolekan tubuh saya.

Deleted Scene: Titanic  (credit: @imandita)

Deleted Scene: Titanic, by @imandita

***

“Nanti jam berapa, mulai syutingnya?” Tanya saya ke Abdi, siang hari itu, melalui layanan pesan singkat berbayar di telepon genggam saya (Yang biasa disingkat menjadi: SMS).

“Jadwalnya jam 4 sudah mulai.”

“Wah, aku baru jam 5 balik kerjanya. Bisa nego gak?” Dan kemudian negosiasi pun berlanjut, dengan hasil akhirnya adalah, segera menuju ke lokasi setelah jam pulang kantor.

Akhirnya jam pulang kantor tiba, saya bersiap menuju ke lokasi, kemudian hujan turun dengan derasnya.

Atucedih.

Saya mengambil telepon genggam lagi, dan mengetikkan beberapa buah kata. “Abdi, di sini hujan deras. Belum bisa jalan sekarang.”

“Yaaahhh..”

***

Saya tiba di lokasi sekitar pukul delapan malam, setelah menembus perjalanan malam yang dingin selepas hujan. Perjalanan tersebut diwarnai dengan susahnya menemukan tempat parkir sepeda motor di kawasan SCBD, dan setelah mengitarinya sebanyak tiga kali — sambil menoleh kanan dan kiri –, saya pun memutuskan untuk tidak melakukan tawaf, melainkan langsung memarkir sepeda motor di kawasan parkir Bursa Efek Jakarta, depan Pacific Place. Agak jauh ya, iya.

Di depan pintu studio, saya menemukan Alex dan Tasya sedang berbincang, sambil menghapalkan script yang telah diberikan sebelumnya. “Loh, kalian belum mulai?”

“Ya belum, ini lagi ngapalin script–nya.”

“Terus, sekarang giliran siapa?”

“Tuh, masih Ernest sekarang.”

2013-05-30 19.17.22

Itu diapain sih Ernest?

“Umm, terus gue kapan dong?” Tanya saya, penasaran.

“Habis Ernest, terus Tasya, terus gue, terus Bena, terus Chika, dan elu terakhir.” Jelas Alex. “Yah, kira-kira … jam 2 pagi baru mulai lah.”

“HAHAHA… Pasti bercanda, kan, Lex?”

HAHAHAHAHAHA.

***

Saya melirik arloji yang saya kenakan di tangan kiri saya, jarum pendek pada angka 2 dan jarum panjang pada angka 3, pukul 2 pagi lebih 15 menit. Oh shit! 

Categories: Events

Tagged: BebasLiburan, Raja Ampat, XL

10 Comments

+Read more

Semua Karena Cagar Alam Krakatau

arievrahman

Posted on June 13, 2013

“WOY SINI!” Seorang wanita melambaikan tangannya dari meja panjang di sudut restoran, memamerkan deretan giginya yang rapi. Senyumnya sumringah, tak ada tanda-tanda kalau dia habis kesal di hari sebelumnya.

“Wih, udah gak bete nih?” Tanya saya, sambil meletakkan tas saya di bawah meja.

“Lu emang mau gue betein terus?” Jawab Fara, sementara Wandy yang duduk di hadapannya cuma senyum-senyum.

“APA LU?”

…

Pertemuan sore itu, entah merupakan pertemuan kami yang keberapa. Sudah merupakan agenda rutin tiap bulan kami — Saya, Fara, dan Wandy, walau kadang bersama beberapa figuran –, untuk menyempatkan diri bertemu, makan, ngobrol tentang apapun, dan juga foto-foto seperti di bawah ini.

2013-06-06 18.20.19

Me, Fara, & Wandy – Food Court Senayan City

Lalu, bagaimana awal pertemuan saya dengan Fara?

Beginilah kisahnya.

***

Berawal dari malam natal, di musim dingin tahun 2011. Sekelompok muda-mudi bangsa Indonesia berkumpul di pelataran Plaza Semanggi, bukan untuk meresmikan Sumpah Pemuda, melainkan menanti bus yang akan membawa mereka berlibur mengunjungi Anak Krakatau bersama @Tukang_Jalan. Seperti yang sudah kalian duga, salah satu pemuda di situ adalah saya, sementara yang lain, sebut saja pemuda-pemudi lain. Sekitar pukul sembilan lebih, bus yang ditunggu akhirnya tiba, dan kami bergegas menaiki bus tersebut, menuju Merak, sebelum menyeberang ke Bakauheni, untuk menuju Anak Krakatau.

Karena kemacetan ibukota, bus baru merapat di Pelabuhan Merak selepas tengah malam. Setelah bus terparkir rapi di dalam kapal feri, kami diminta turun untuk beristirahat di ruang khusus penumpang pada dek atas. Di sini, saya mengupgrade kelas penumpang menjadi kelas bisnis, supaya bisa merebahkan diri, dan tidur mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya.

DSCN6960

Lampung di kejauhan.

“Daratan!” Sebagian orang berseru sambil menunjuk tulisan “LAMPUNG” yang terpampang jauh di seberang, sementara di dekat saya, ada seorang ibu sedang mencuci anaknya yang muntah akibat mabuk laut di toilet kapal yang baunya aduhai. Setelah para penumpang duduk pada tempat semula, bus melaju menuju Pelabuhan Canti. Canti merupakan batas terakhir perjalanan darat saat itu sekaligus tempat kapal menyeberang ke Pulau Sebesi, pulau yang akan kami pakai untuk tempat menginap pada perjalanan kali ini.

DSCN6965

Pelabuhan Canti

Setelah sarapan di warung pada Pelabuhan Canti, kami pun berangkat menuju Pulau Sebesi. Acara hari pertama ini cukup seru, karena melibatkan snorkeling di Pulau Umang-Umang hingga menikmati sunset di Ujung Seng. Penginapan kami, bertipe homestay, yaitu rumah penduduk yang disewa untuk menginap. Karena bertemakan syariah, maka proporsi penginapan kala itu menjadi: Satu rumah untuk pria, dan satu rumah untuk wanita. Tak ada ranjang bergoyang di situ, karena memang hanya terdapat belasan kasur yang digelar pada lantai keramik yang cukup luas.

DSCN7003

Homestay di Pulau Sebesi

Pulau Umang-Umang sendiri, merupakan pulau tak berpenghuni yang kerap dijadikan lokasi snorkeling, apabila kebetulan sedang berada di sekitar Pulau Sebesi. Walaupun tak terdapat banyak terumbu karang yang menawan, namun acara snorkeling bersama teman-teman baru adalah hal yang mengasyikkan. Sementara, Ujung Seng adalah salah satu tempat terindah untuk memandang sunset di Pulau Sebesi. Untuk mencapainya, kami harus menyewa motor dari penduduk setempat, dan berkendara selama kurang lebih setengah jam melewati perkampungan penduduk, pinggiran pantai, dan menerobos ilalang setinggi hobbits. Di ujung jalan itulah, terdapat hamparan pantai berbatu yang cukup luas, di mana kita bisa menyaksikan matahari turun perlahan dengan cantiknya.

DSCN7040

Nyasar di Pulau Umang-Umang

Lalu, mana Fara?

Jadi beginilah ceritanya.

Categories: Domestic, Lampung

Tagged: FaraFaya, Krakatau, Lampung, Pulau Sebesi, Pulau Umang-Umang, TukangJalan, WandyGhani

44 Comments

+Read more

Numpang Nampang di PergiDulu.com

arievrahman

Posted on June 9, 2013

Setelah beberapa bulan mengelola travel blog serius ini, akhirnya pada akhir tahun lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk diinterview oleh kawan saya, seorangpasang travel blogger (yang lebih) kawakan, yang menamakan diri mereka @PergiDulu.

Dan, berikut ini adalah hasil wawancaranya.

***

KETERANGAN

Cetak Tebal: Pertanyaan

Cetak biasa: Jawaban

Cetak miring: Penjelasan

Cetak Undangan Nikah: Doakan segera ya!

arief

Having fun in Macau

Name? Muhammad Arif Rahman

Cukup jelas.

Twitter? @arievrahman

Jelas banget.

URL? www.backpackstory.wordpress.com

Ini apalagi, pasti sudah pada tahu.

Kota Asal? Kab. Semarang

Okay, itu kabupaten. Bukan kota. My bad. Just remember, when I’m bad, make sure that you’re in bed.

Domisili? Jakarta

Jawaban yang sama akan kamu peroleh untuk pertanyaan: “Apa ibukota Indonesia?” atau “Apa ibukota Jakarta?”

Ceritakan sedikit tentang Arif Rahman!
Saya lahir di Pati kemudian besar di Kabupaten Semarang, sebelum memutuskan (baca: mendapat anjuran orang tua) untuk kuliah dan bekerja di Jakarta. Dan inilah saya sekarang, 26 tahun, sedang menikmati kelucuan dunia dari sudut pandang saya.

Pati terletak di Propinsi Jawa Tengah, sekitar 75 Km dari Semarang, atau 95 Km dari Kab. Semarang. Apabila Ibukota Indonesia terletak di Jakarta, dan saya juga terletak di Jakarta. Lalu di manakah hati saya berada?

arief3

Saint Joseph’s Cathedral, Hanoi, Vietnam

Sekarang lagi sibuk apa sih?
Kesibukan premier adalah kerja di bidang pemerintahan, kesibukan sekunder adalah nulis buku, sedangkan nulis blog, main Twitter, dan jalan-jalan adalah kesibukan tersier.

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa saya termasuk orang yang sibuk. Lalu kapan waktunya mencintai kamu? Ingat, itu adalah kebiasaan, bukan kesibukan.

Ceritakan tentang pengalaman pertama kali traveling!

Categories: Miscellaneous, Others

Tagged: Interview, PergiDulu

20 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan
  • Legenda Restoran Padang Sederhana

Archives

Blog Stats

  • 5,485,852 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...