Tak ada pendingin udara pada bus bekas perang dunia ke-II tersebut, hanya mengandalkan jendela yang kacanya dibuka separuh sehingga udara luar bisa masuk ke dalamnya. Saat itu pukul setengah enam pagi waktu Bagan, di mana suhu udara sedang dingin-dinginnya. Saya meringkuk, mencoba mencari kehangatan dari memeluk tubuh sendiri, namun gagal. Sweater biru lusuh yang saya kenakan pun tak banyak membantu pada udara seperti ini.
Bus mulai berbelok meninggalkan jalan beraspal, masuk ke jalur yang bukan semestinya tidak dilalui kendaraan bermotor, melewati Shwesandaw Paya, tempat saya melihat sunset kemarin. Namun ini masuk lebih jauh lagi, dengan jalanan yang semakin tak karuan, dan tanpa penerangan sedikit pun. Apabila ini tahun 1945, saya pasti sudah mengira bahwa saya sedang diculik ke Rengasdengklok. Namun ini tahun 2014, dan saya sedang di Bagan, menuju landasan balon udara, Balloons Over Bagan.
Seorang kru meminta kami semua untuk turun dari bus, dan menikmati secangkir teh atau kopi hangat (atau dua jika kurang, bahkan tiga jika ada yang tak tahu malu), sambil menyaksikan persiapan balon udara sebelum lepas landas.
Lidah api disemburkan ke udara, oleh mesin yang membakar propana cair bercampur udara. Sebuah pemandangan menakjubkan pada pagi hari, ketika itu menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi saya. Tak berapa lama, setelah peralatan dipastikan siap dan berjalan dengan baik, kami dipanggil satu persatu oleh seorang bule yang kemudian saya ketahui adalah pilot balon udara saya.
Kami menurut, bagai kerbau dicocok hidungnya.






