Saat itu Hari Jumat pukul tujuh malam lewat tiga puluh sekian menit, saat saya sudah selesai menukarkan tiket online dengan tiket fisik kereta api di Stasiun Jakarta Pasar Senen. “Ah, masih ada waktu sekitar setengah jam untuk ke toilet dan membeli cemilan di perjalanan.” Batin saya. Apalagi sebelumnya, Mama sudah mengingatkan untuk membawa bekal, kalau-kalau kereta yang saya tumpangi ini mengalami keterlambatan tiba, karena banjir yang melanda Stasiun Tawang Semarang. “PLAK!” Sebuah tangan menampar lengan saya, saat saya hendak masuk ke Seven Eleven –yang baru saja dibangun– pada komplek stasiun. Saya sontak kaget, takut apabila tangan yang baru saja mendarat di lengan saya adalah milik preman stasiun, atau bencong penguasa daerah tersebut. Saya menoleh dan melihat ke arah pemilik lengan, seorang pria yang duduk di…