backpackstory
  • Home
  • Domestic
    • Aceh
    • Bali
    • Banten
    • DKI Jakarta
    • Jawa Barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
    • Kalimantan Timur
    • Kalimantan Utara
    • Kepulauan Bangka Belitung
    • Kepulauan Riau
    • Lampung
    • Maluku
    • Maluku Utara
    • Nusa Tenggara Barat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Papua
    • Papua Barat
    • Riau
    • Sumatera Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Utara
    • Sulawesi Selatan
  • Foreign
    • Armenia
    • Australia
    • Azerbaijan
    • Belgium
    • Bhutan
    • Brunei Darussalam
    • Cambodia
    • China
    • England
    • France
    • Georgia
    • Hong Kong
    • India
    • Iran
    • Italy
    • Japan
    • Kenya
    • Laos
    • Macau
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Nepal
    • Netherlands
    • North Korea
    • Philippines
    • Russia
    • San Marino
    • Singapore
    • Scotland
    • South Korea
    • Taiwan
    • Tanzania
    • Thailand
    • Timor Leste
    • Turkey
    • United States of America
    • Uzbekistan
    • Vietnam
  • Mamacation
  • Events
  • Miscellaneous
    • Accommodation
    • Culinary
    • Others
    • Survival Kit
    • Transportation
  • Visa
    • Visa Amerika
    • Visa Armenia
    • Visa Australia
    • Visa Azerbaijan
    • Visa Cina
    • Visa Georgia
    • Visa India
    • Visa Iran
    • Visa Jepang
    • Visa Kenya
    • Visa Korea Selatan
    • Visa Myanmar
    • Visa Nepal
    • Visa Rusia
    • Visa Schengen
    • Visa Taiwan
    • Visa Tanzania
    • Visa Timor Leste
    • Visa Turki
    • Visa UK
  • About
    • Achievements
    • Clients Portfolio
    • Country List
    • Stage Performance

11 Hal Kece yang Bisa Dilakukan di Belitung

arievrahman

Posted on March 4, 2014

Belitung (atau disebut Belitong dalam bahasa setempat, yang menurut Wikipedia diambil dari nama sejenis siput laut), perlahan-lahan terangkat pamornya sejak Andrea Hirata menjadikan tempat indah ini sebagai setting dalam novel tetralogi laris (saya tidak menyebutnya sebagai international bestsellers, karena dapat memicu kontroversi hati dan konspirasi kemakmuran.) miliknya. Sejak saat itu, orang-orang berbondong-bondong datang ke Belitung untuk mengkonversi apa yang dibaca di buku dan dilihatnya dalam layar lebar, menjadi keindahan yang dapat dirasakan langsung dengan jiwa dan raga. Tidak terkecuali saya. 

Dan berdasarkan pengalaman saya, inilah 11 hal kece yang bisa kamu lakukan di Belitung.

1. Menikmati Sunrise di Pantai Tanjung Kelayang

IMG_5098

Sunrise at Tanjung Kelayang

“The early bird catches the worm.” mungkin adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan mengapa kamu harus bangun pagi supaya dapat menikmati sunrise di Belitung. Saksikan sendiri bagaimana matahari perlahan muncul dari arah timur di Tanjung Kelayang, meninggalkan refleksi keemasan di laut yang dapat membuat nelayan-nelayan yang tertidur di kapal terbangun dan beraktivitas (atau menekan tombol snooze lagi) pada hari itu.

Yang harus diingat adalah, be the early bird not the early worm, because the early worm will be eaten by the early bird.

2. Bersantai di Pantai 

IMG_4855

Tanjung Kelayang Beach

Lebih siang sedikit, kalau kamu masih malas melakukan apa-apa walaupun telah menekan tombol snooze pada alarm berulang kali. Maka bersantai di pantai adalah pilihan yang tepat. Terdapat banyak pantai/tanjung di Belitung, seperti misalnya Tanjung Pendam yang merupakan pantai tempat warga setempat berkumpul dan beraktivitas, Pantai Batu Itam yang sepi, Tanjung Kelayang yang mempunyai pasir putih panjang dengan nyiur yang melambai (juga sebagai tempat nelayan menyandarkan kapal-kapalnya), hingga Tanjung Tinggi yang fenomenal dengan batuan-batuan raksasa yang tersusun artistik secara misterius.

So, santai saja kayak di pantai, guys.

3. Island Hopping

0.000000 0.000000
Categories: Culinary, Domestic, Events, Kepulauan Bangka Belitung

Tagged: Belitung, Bukit Berahu, explorACECORE, Laskar Pelangi, Mercusuar Pulau Lengkuas, Mie Atep, Pulau Lengkuas, Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi

79 Comments

+Read more

Apa yang Kamu Cari di Tanjung Bira?

arievrahman

Posted on March 1, 2014

Laut biru yang berpadu dengan kerumunan nyiur hijau menyambut dari kejauhan, saat mobil kami memasuki wilayah Tanjung Bira yang membuat saya sontak menurunkan kaca jendela di samping kiri untuk menikmati udaranya. Setelah kurang lebih dua jam perjalanan dari Jeneponto, termasuk mengunjungi perkampungan pinisi di Bulukumba, akhirnya tibalah kami pada destinasi utama kami yang terletak di ujung paling selatan pulau Sulawesi. Tanjung Bira.

Pasir Putih Sehalus Bedak 

Mas Wahyu —driver kami– membelokkan mobilnya menuju jalanan menurun ke arah pantai yang kami lihat dari kejauhan tadi, tak ada aspal pada jalan tersebut, hanya jalan setapak yang terbentuk dari pasir yang mengeras karena sering dilalui. Di sekitarnya terdapat beberapa penginapan yang menghadap laut, bercampur dengan permukiman penduduk.

Kami segera menghambur keluar setelah Mas Wahyu memarkir mobil di pinggiran pantai, pantainya yang putih dan halus bagai bedak anti jamur membuat kami tak sabar untuk merasakannya dengan telanjang kaki. Dan kalau boleh jujur, inilah pantai terindah yang saya temukan selama perjalanan saya di Tanjung Bira.

IMGP1838

Pasir putih sehalus bedak

Phinisi Raksasa di Pantai Panrang Luhu

Selama perjalanan, Mas Wahyu telah menginformasikan bahwa ada beberapa pinisi yang juga dibuat di Panrang Luhu. Menariknya, kapal pinisi yang dibuat di sini –pesanan dari warga Eropa– berukuran raksasa, berkali lipat dari yang saya lihat di Bulukumba sebelumnya.

“Sayang, ini sedang libur Idul Adha.” Jelas pria kecil itu. “Kalau gak libur, kamu bisa lihat para pekerja pinisi bergelantungan mengerjakan tugasnya.” Tambah Mas Wahyu ketika kami naik ke salah satu kapal (yang nantinya akan bernilai miliaran Rupiah) yang belum jadi tersebut.

“Psst, sisipkan uang seikhlasnya untuk yang jaga kapal.” Imbuhnya lagi.

IMGP1844

Pembuatan pinisi di Pantai Panrang Luhu

Penginapan yang Tak Siap

0.000000 0.000000
Categories: Accommodation, Domestic, Sulawesi Selatan

Tagged: d'Perahu Resto, Makassar, Panrang Luhu, Pantai Bara, Pinisi, Pulau Liu Kang Loe, Salassa Guesthouse, Tanjung Bira

114 Comments

+Read more

Tips Praktis Mandi a la Traveler

arievrahman

Posted on February 24, 2014

Bau kurang sedap tercium dari dalam shuttle bus yang membawa saya dari Colmar Tropicale menuju Berjaya Times Square, Kuala Lumpur. Saat itu hanya ada enam orang di sana, empat orang turis di jok belakang, saya, dan si supir di depan saya. Empat orang di belakang saya cantik-cantik (termasuk si pria), sehingga saya berpikir tidak mungkin cantik-cantik kok bau. Si supir yang tampil dandy dan necis, duduk agak jauh di depan. Maka praktis, tinggallah saya sendiri yang duduk sebagai tersangka.

Duh. Bau tersebut semakin terasa dekat ketika saya mengangkat tangan ke atas.

Oh shit, ternyata akumulasi tindakan lari-larian –demi mengejar jadwal shuttle bus— dari Bukit Bintang ke Berjaya Times Square tadi siang ditambah joget-joget –karena saya ditarik ke panggung oleh salah seorang penari– di Colmar Tropicale telah membuat badan saya berkeringat dan mengeluarkan bau kurang sedap.

Seusai turun dari shuttle bus, saya segera bergerak menuju Sunshine Bedz, hostel tempat saya menitipkan backpack, sebelum berkemas dan bertolak kembali menuju Low Cost Carrier Terminal (LCCT). Malam itu saya berencana menginap di bandara, karena early flight keesokan harinya dijadwalkan akan membawa saya terbang ke Myanmar.

Lantas, bagaimana dengan masalah bau badan yang saya katakan di atas? Inilah beberapa tips praktis (mandi a la traveler) untuk mengatasinya.

1. Cari Kamar Mandi

Langkah pertama adalah mencari kamar mandi, ya, karena seorang traveler haruslah tetap menjadi orang yang bermartabat dengan tidak mandi di sembarang tempat seperti di pasar, di dalam bus, ataupun di depan patung Merlion. Kamar mandi dapat ditemukan pada tempat-tempat umum, seperti restoran, terminal, maupun pemandian umum/onsen apabila kamu kebetulan berkunjung ke Jepang. Namun apabila kepepet, maka toilet pun dapat digunakan untuk mandi asalkan ada air yang tersedia (saya tidak membahas mengenai mandi kucing di sini).

Saya sangat menghargai bandara yang menyediakan kamar mandi untuk para pelancong yang singgah, dan saya girang bukan kepalang ketika menemukan shower room di LCCT yang disediakan secara gratis. Sepanjang pengamatan saya, ada dua buah shower room –untuk pria– di LCCT, satu di toilet luar (sebelum masuk gerbang keberangkatan) dan satunya lagi di toilet pada boarding room.

Karena jumlahnya yang terbatas, maka kita harus sabar ketika ingin menggunakan kamar mandi pada tempat umum, dan karena peminatnya banyak, maka kita harus mandi sesingkat dan sepraktis mungkin. Urusan menggosok gigi, bisa dilakukan pada wastafel, dan tidak harus dilakukan di kamar mandi. Sementara urusan menyanyi, dapat dilakukan di tempat karaoke.

2. Telanjang

0.000000 0.000000
Categories: Survival Kit

Tagged: disposable underwear, handuk microfiber, Mandi, Original Source, OriginSourceID

55 Comments

+Read more

Jomblo-Jomblo Hari Valentine

arievrahman

Posted on February 19, 2014

Sebuah Nissan New March putih membawa kami dalam kegelapan Kelapa Gading, melewati jalan yang telah dilalui sebelumnya, dan membuat saya bertanya kepada si pengemudi “Mas, salah jalan ya?” Si pengemudi kemudian menoleh dan tertawa kecil “Hehehe, iya nih. Tadi salah ikut mobil yang di depan.” Ucapnya.

Saya, Mbak Nunu, dan Valen pun bengong.

Senayan Trade Centre – 11:00

“Jomblo tapi Valentine.” adalah quote yang dikatakan Mas Acel, untuk membuka acara hari itu. Pada salah satu ruangan Chill Cafe, telah terkumpul beberapa pria dan wanita yang mengaku jomblo. Mereka adalah pemenang dari kontes #NarsisNissan, yang diadakan oleh Nissan dan Polimoli beberapa hari sebelumnya. Inti dari acara tersebut adalah memasangkan para jomblo-jomblo beruntung, sehingga dapat mengubah paradigma yang terdapat pada masyarakat saat ini, yaitu “Jomblo kok Valentine?”

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” [QS. Adz Dzariyaat (51) : 49]

Berikutnya, dilakukan undian untuk memasangkan tiap-tiap pria dan wanita tersebut. Jomblo dipasangkan dengan jomblo, pria dipasangkan dengan wanita, dan saya (berdoa setiap hari supaya) dipasangkan dengan Asmirandah. Setelah perkenalan singkat, mereka diarahkan untuk menikmati makan siang bersama dengan pasangan yang telah ditentukan sebelumnya, sebelum mengikuti fashion coaching class.

Acara santap siang tersebut berlangsung cukup khusyuk, walaupun ada beberapa pasangan yang masih canggung dan bersemu-semu.

P1060458

Awkward lunch

Chill Cafe – 13:00

Tak kurang dari tujuh pasang pria dan wanita berkumpul kembali, menyimak dengan seksama kata demi kata yang dituturkan dengan semangat oleh Pierre Gruno, sang pengajar kelas fashion coaching. Ya, kamu tak salah baca, Pierre Gruno yang dikenal sebagai om-om menggairahkan aktor layar lebar tersebut, ternyata memiliki dunia lain, yaitu sebagai pengajar etika berbusana. Hilang sudah bayangan Letnan Wahyu yang gagah dalam film The Raid ketika Om Pierre dengan luwesnya

0.000000 0.000000
Categories: DKI Jakarta, Domestic, Events

Tagged: Chill Cafe, NarsisNissan, Nissan New March, Polimoli, Uniqlo, Valentine, Warung Pasta

20 Comments

+Read more

28 Cool Things I Have Done Before Turned 28

arievrahman

Posted on February 17, 2014

28 years ago, a cute, handsome, and charming boy was vacuumed out from his mother’s womb instead of crawling out by himself. It was the reason why that boy’s head looks like a crushed pentagon than a perfect oval. Then years passed, that boy experienced and did many cool things (no, am not talking about how he failed in many love stories or how he amazingly pressed elevator button with his elbow) that related to traveling.

And these are 28 cool things I –or you can say that cute, handsome, and charming boy according to his Mom– have done before turned 28. 28 cool things that related to traveling.

1. Make Passport

If people said that book is a window of the world, I said that passport is the key to the world. With passport, I can go anywhere in the world, except the country that requires a visa too (Should I thank God because I am Indonesian?). There is one good quote from St. Augustine “The world is a book and those who do not travel read only one page.“. And am sure, that I’m the one who wants to finish the book, with my passport.

So the question is, is book a window of the world, or the world itself is a book? Never mind.

2. Ride Yellow Taxi in Calcutta

As a 90’s kid, I grew up with many cool songs. And one of the uncool songs is Calcutta by Dr. Bombay. The verse of that song really irritated my brain with its lyric “Calcutta, taxi taxi taxi iiin, Calcuttaaaa ~” and it kept playing in my head for years.

Then I visited Calcutta, and saw how taxi works there. The yellow taxi –same like the one I see in Dr. Bombay video clip– that was driven by an old man (whose age is maybe twice older than his car) transferred me from the airport to the station; by passed the dusty street without closing the window, used shortcut via one way narrow alley and honked the horn loudly, before took the tram way. Crazy. In an empty street, the taxi stopped, and the driver came out. Peed.

DSCN1615

Calcutta, taxi taxi taxi iiin, Calcuttaaaa ~

3. Swim with Jellyfish in Kakaban

As far as I know, there are two places in Indonesia that have non stingy jellyfish in their lake, one in Kakaban and one in Togean. There, you can swim with hundreds –or thousands, I forgot to count– non stingy jellyfishes. I experienced once in Kakaban, as a part of my Derawan trip. Jellyfishes there are so friendly, they won’t bite you, they won’t hurt you. It’s because they’re jellyfish.

PS: You can read my full Derawan article, here.

4.

0.000000 0.000000
Categories: Domestic, Foreign

Tagged: Autumn in Toyama, Balut, Calcutta's Yellow Taxi, Disneyland Hong Kong, Iga Ryu Ninja Museum, Kakaban's Jellyfish, Karimunjawa's Shark, Simon Cabaret, Sunrise at Angkor Wat, Tomohon's Animal Market, Trekking MacRitchie Reservoir, White Sand Dunes Muine

87 Comments

+Read more

« Older entries    Newer entries »


post title here

Banners for Blog Indonesia Terbaik 2019


Travel Blogs Award 2018

Travel Blog Awards 2017 – Winners

Top Posts & Pages

  • Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
  • Panduan Lengkap Membuat Visa Korea Selatan
  • Kisah Drukpa Kunley dan Desa Penuh Phallus di Bhutan
  • Langkah-langkah Mengurus Visa Amerika
  • Legenda Restoran Padang Sederhana

Archives

Blog Stats

  • 5,485,827 serious hits

Donate to Backpackstory

Donate Button with Credit Cards

Enter your email address to become a serious reader and receive notifications of new posts by email.

Join 6,295 other subscribers
Follow backpackstory on WordPress.com

Recent Comments

aaa's avataraaa on Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria…
Grass field's avatarGrass field on Langkah-langkah Mengurus Visa…
dutatrip's avatardutatrip on Ramadan di Singapura
Lombok Transport's avatarlombokwisata.toursan… on Terjebak di Museum of Sex…
lacasamaurilio1990's avatarlacasamaurilio1990 on Kejutan Demi Kejutan di G…

Twitter Updates

Tweets by arievrahman

Official Facebook Page

Official Facebook Page
  • View arievrahman’s profile on Facebook
  • View arievrahman’s profile on Twitter
  • View arievrahman’s profile on Instagram
  • View arievrahman’s profile on LinkedIn
  • View arievrahman’s profile on YouTube
  • View arievrahman’s profile on Google+
  • View arievrahman’s profile on Tumblr

Return to top

© Copyright Backpackstory 2012-2021

Website Powered by WordPress.com.

  • Subscribe Subscribed
    • backpackstory
    • Join 2,646 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • backpackstory
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...